Thursday, August 30, 2012

Tasawwuf Islami; Pengertian dan Asal-Usul Sejarah



Pembahasan tasawuf adalah pembahasan yang sangat luas. Ia mencakup semua aspek yang ada dalam kehidupan manusia. Barangkali apabila kita bicara tasawuf, berarti kita akan melibatkan semua aspek yang ada dalam agama. Tasawuf sendiri merupakan spirit dari agama, karena semua bangunan ilmu agama bermuara kepadanya. 
Dalam diskursus keagamaan sendiri, terma tasawuf memiliki pemaknaan yang tak tunggal. Dimensi pluralitas makna tasawuf seringkali terdistorsi pada satu atau dua definisi tertentu, yang tentu saja merupakan simplifikasi dari permasalahan. Sebenarnya, akan jauh lebih baik apabila kita membeberkan karakteristik tasawuf dan mendeskripsikan eksistensinya daripada berputar-putar pada tataran asal kata tasawuf dan perdebatan-perdebatan mengenai makna linguistik dari kata tasawuf sendiri. Namun demikian, pada tulisan ini penulis akan sedikit memberikan gambaran sekilas mengenai asal kata tasawuf dan sejarah perkembangan gerakan sufi dalam tradisi Islam. Hal ini penulis lakukan mengingat terma tasawuf merupakan terma yang relatif baru dalam Islam dan tidak dikenal pada periode awal perkembangan Islam. Jadi kita akan dapat melihat filosofi dari asal kata tasawuf dan penggunaannya dalam tradisi Islam.


Makna Tasawuf
Para penstudi bersilang pendapat mengenai asal kata tasawuf. Pendapat-pendapat tersebut demikian banyaknya sehingga membuat para sarjana kerap kali terlalu bertele-tele berkutat pada makna tasawuf sehingga melupakan esensi dari tasawuf. Dari banyak pendapat tadi dapat dikerucutkan menjadi beberapa pendapat yang mengasalkan kata tasawuf dari akar kata (Sh-w-f), (Sh-f-w), (Sh-f-f). Dan dapat diturunkan menjadi ‘shuf’, ‘shafa’, ‘shaf’, ‘shuffah’, ‘shufa’,’shufanah’,’sofia’.
            Seorang orientalis peminat kajian tasawuf, Nicholson berpendapat bahwa kata tasawuf berasal dari ‘shafa’ yang berarti ‘murni’. Dinamakan demikian karena mengacu pada kemurnian hati dan keikhlasan para sufi dalam mendekati Tuhannya. Pendapat Nicholson ini dikuatkan oleh pernyataan Basyar bin Harits; ‘Para sufi adalah mereka yang memurnikan hatinya kepada Allah’.[1]
Pendapat lain menyatakan bahwa mereka dinamakan ‘sufi’ karena kedekatan sifat-sifat mereka kepada orang-orang ahli shuffah. Mereka adalah sekelompok orang miskin yang tinggal di samping kediaman Nabi di Madinah. Mereka meninggalkan daerah asal mereka, harta dan semua kekayaannya hanya untuk berada di dekat Rasul. Mereka terbiasa lapar di siang hari, tidak makan kecuali sekedar untuk menjaga kelangsungan hidupnya, dan pada malam hari melakukan qiyamul lail mendekatkan diri pada Allah Ta’ala. Atas sifat-sifat Ahlu Shuffah yang demikianlah mengapa kata shufi dinisbatkan pada mereka.
Al-Qusyairi menyebutkan, diantara para peneliti ada yang menyatakan kata shufi berasal dari kata shaff dalam shalat. Dinamakan demikian karena mereka di hadapan Allah selalu berada di barisan terdepan dalam kebaikan, seperti orang-orang shalat yang berada di shaf paling awal.[2]
Pendapat selanjutnya menisbatkan kata sufi dari seseorang bernama ‘shufa’. Disebutkan oleh Al-Thusi “Bahwa sebelum Islam, tersebutlah seorang yang dipanggil Shufa. Ia datang ke Mekkah untuk menunaikan haji, dan sangat tekun dalam beribadah. Ia thawaf di depan Ka’bah ketika tak seorang pun melakukannya. Ia Shalat di masjidil haram di saat orang-orang sibuk dengan urusan duniawinya. Ia banyak dikenal oleh penduduk Makkah sehingga dari namanya lah dinisbatkan sifat-sifat kesalehan dan keutamaan. [3]
Berbeda dari pendapat lain, Al-Biruni mengemukakan pandangan yang menyatakan kata tasawuf berasal dari akar Yunani, ‘sofia’ yang berarti kebijaksanaan. “orang-orang Yunani kerap melihat bahwa tidak ada eksistensi yang hakiki kecuali sang causa prima saja. Hal ini disebabkan karena Dia tidak butuh pada eksistensi yang lain, sebaliknya semua eksistensi bergantung kepada-Nya. Inilah kebijaksanaan tertinggi. Sehingga tidak salah apabila kita menyebut orang-orang yang begitu bersemangat menggeluti hikmah dengan filosof, pecinta hikmah”.[4]
Selain pandangan yang tersebut diatas, ada beberapa kalangan yang mengatakan bahwa asal kata sufi ialah ‘sufanah’, sejenis tumbuhan merambat yang lazim tumbuh di padang pasir. Sufanah adalah tumbuhan sebagai simbolisasi dari kezuhudan hidup di dunia, karena para sufi tidak mau menikmati makanan yang lezat dan hanya menyantap tumbuhan tersebut.
Sementara mayoritas penstudi lebih condong mengatakan bahwa asal kata tasawuf ialah ‘shuuf’ yang bermakna wol. Disebut demikian karena galibnya para sufi menggunakan pakaian yang kasar terbuat dari kain wol sebagai wujud perilaku zuhud di dunia. Mereka enggan memakai pakaian mewah yang berpotensi melalaikan mereka dari Allah Ta’ala. Tradisi pemakaian kain wol ini juga warisan dari kebiasaan para Nabi sebelumnya yang cenderung menghindarkan diri dari kemewahan dunia.
Selain sebagai simbol pengasingan dari dunia, penisbatan pada kata shuuf juga didasari bahwa para sufi bukanlah orang-orang yang spesialis dalam bidang ilmu tertentu, seperti penamaan fuqaha pada mereka ahli fikih, muhadtis ahli hadist, mufassir ahli tafsir. Seorang sufi juga tidak bisa disifati dengan keadaan-keadaan (ahwal) dan maqam tertentu, karena mereka kerap berpindah dari hal dan maqam satu ke yang lainnya, atau dalam istilah Al-Suhrawardi; ‘ Al-Shufi Ibnu Waqtihi’, para sufi adalah anak dari zamannya. Jadi penisbatan nama dengan pakaian yang dikenakan merupakan penisbatan yang bersifat umum, yang mencakup karakteristik paling menonjol dari para sufi yang membedakan mereka dari golongan lainnya.
Pendapat inilah yang paling banyak mendapat sambutan dari para pakar tasawwuf, sehingga tak kurang dari orang-orang seperti Al-Ghazali, Al-Thusi, Al-Suhrawardi, Ibnu Khaldun, hingga para sarjana kontemporer Abu Wafa Al-Tiftazani, Abdul Halim Mahmud, Zaki Mubarak, Mushtofa Abdur Raziq dan dari kalangan orientalis Margoliouth.[5]
Ada yang perlu digarisbawahi dari pembahasan kita mengenai asal kata dari tasawuf. Sampai saat ini bisa dikatakan masih belum ada satu definisi mengenai makna tasawuf secara jami’mani’. Hal ini semata-mata disebabkan bahwa cakupan makna tasawuf sendiri yang membawahi keseluruhan ilmu dalam tradisi Islam. Pun juga dengan kenyataan sulitnya mengenali hal dan maqam para sufi yang meliputi keseluruhan sifat-sifat terpuji yang dianjurkan agama. Diskursus sufi adalah diskursus intuisi, yang terkonsentrasi dalam hati sehingga merupakan suatu hal sulit untuk membawanya ke ranah rasional. Para sufi kerap berbicara mengenai keadaan hatinya, sementara tidak semua perasaan dalam hati dapat terwakili oleh bahasa. Sejauh yang dapat kita ketahui ialah sebatas upaya pendekatan makna dilihat dari karakteristik unik tasawuf yang membedakan dengan ilmu-ilmu lain.

Tasawwuf; Sejarah dan Perkembangannya
Para sarjana membagi perkembangan tasawwuf menjadi 4 periode. Pertama adalah periode kemunculan yang terjadi pada abad 1-2 Hijriah. Kedua ialah masa kematangan tasawuf yang berada pada rentang waktu ke-3 dan 4 Hijriah. Ketiga merupakan perkembangan tasawuf selanjutnya pada abad ke 5 dan keempat adalah tasawuf di abad ke 6 dan 7.

Periode Pertama (Abad 1-2 H), Masa Kemunculan
Perkembangan tasawwuf dalam tradisi Islam dapat dikatakan bebarengan dengan kemunculan Islam itu sendiri. Dalam maknanya yang luas, kegiatan laku sufi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mendekatkan diri pada Allah, dengan meniadakan segala keinginan syahwati yang membisiki hati dari berpaling dari-Nya. Dari perspektif ini, kita bisa mendedahkan pernyataan bahwa Nabi SAW adalah seorang yang mula-mula memprektekkan laku ini. Dari perilaku dan kehidupan Nabi yang tak sedikitpun berkeinginan untuk menjadikan dunia sebagai tujuan kita dapat menemukan akar tasawuf pada dirinya. Untuk membuka selubung penutupnya dari makrifat kepada Tuhan, Nabi seringkali memperpanjang ibadahnya. Aisyah, isterinya yang paling tersayang menuturkan bahwa Nabi kerap shalat hingga memar kakinya, akibat terlalu lama. Tak jarang Nabi juga tidak menemukan sesuatupun untuk dimakan, yang membuatnya mengganjal perutnya dengan batu. Sifat tidur Nabi beralaskan pelepah kurma sehingga membuat punggungnya memerah.
Semua kesalehan dan kebaikan Nabi, termasuk kepada musuh-musuhnya juga merupakan satu tauladan yang layak diikuti oleh pengikutnya. Tradisi Nabi yang demikian saleh lantas dilanjutkan oleh generasi sahabat. Laku tasawuf yang dijalankan para salaf al-salih ini berpondasikan hikmah-hikmah Illahiyah yang tertera dalam Al-Quran dan Hadist. Saat itu masyarakat Islam awal belum banyak bersentuhan dengan peradaban lain, sehingga kemungkinan masuknya pengaruh asing terhadap diskursus tasawuf sangat kecil sekali. Orang-orang generasi pertama mendapatkan ajaran pengendalian hawa nafsu, pendekatan diri pada Tuhan, pendermaan harta demi kejayaan agama, itu semua mereka dapatkan dari Kitabullah, Sunnah Nabi dan tradisi para sahabat. Preposisi ini berlaku bagi kalangan yang mengasalkan tasawuf dalam Islam bersumber dari tradisi-tradisi asing seperti Persia, India, Yunani, Kristen, Yahudi dan lain-lain. Perbincangan mengenai hal itu akan kita kupas pada bab selanjutnya.
Ali Sami Nasyr, cendekiawan Mesir kontemporer membagi golongan pelaku tasawuf dalam periode ini menjadi 2 bagian, yaitu golongan zahid dan sufi. Ia tak sendirian dalam tipologisasinya ini. Sebelumnya, ulama klasik juga melakukan hal yang sama. Tercatat Ibnu Jauzi dalam Talbis Iblis dan Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya juga membagi umat Islam periode awal menjadi 2 golongan. Ibnu Jauzi menuturkan bahwa yang berkembang mula-mula ialah golongan zahid, dengan makna zahid yang ia maksud dinisbatkan kepada mereka yang beriman kepada Nabi yang melakukan segala yang diperintah Nabi dan menjauhi larangannya. Terma zahid pada era ini dapat disematkan kepada hampir mayoritas umat Islam (sahabat). Meskipun tidak semua dari mereka terkenal dengan kesalehannya, namun mengingat kedudukan mereka yang hidup bersama Nabi mendapat pujian berkali-kali dari Allah. Seperti disitir dalam hadist yang sangat legendaris bahwa golongan yang paling baik adalah mereka yang hidup di zaman Nabi (sahabat), kemudian diikuti golongan sesudahnya (tabiin) dan sesudahnya (tabi al-tabiin).
Sedangkan golongan kedua (tasawuf) adalah mereka yang menempuh jalan dan metode-metode latihan khusus dalam rangka beribadah kepada Allah. Mereka juga memiliki pandangan yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya sehingga membuat mereka memilih menjauh masyarakat, tidak tersibukkan dengan urusan dunaiwi, memutuskan untuk hidup semata-mata untuk Allah. Mereka inilah yang merupakan cikal bakal tasawuf dalam tradisi Islam. Pendapat Ibnu Jauzi diatas juga diamini Ibnu Khaldun yang menyatakan bahwa tasawuf selalu dimulai dari zuhud.[6] Lebih lanjut Ibnu Khaldun menambahkan bahwa di kalangan ahli tasawuf mempunyai ilmu khusus yang membedakannya dengan golongan lain. Sementara ahli fikih, hadist, dan tafsir mengembangkan keilmuannya masing-masing maka golongan tasawuf memiliki keilmuan tentang mujahadah, pembersihan hati, pendekatan diri kepada Tuhan, Cinta kepada Tuhan dan lain lain.[7]
Meskipun, seperti disinggung oleh Ibnu Khaldun di atas, pembagian kedua golongan tadi menggunakan kalimat ‘tasawuf’, namun sebenarnya pada masa itu kalimat tasawuf belum dikenal oleh masyarakat. Mereka mempunyai kalimat tersendiri untuk menamakan beberapa golongan tertentu di kalangan mereka. Secara umum, mereka yang beriman dan hidup bersama Nabi disebut dengan sebutan sahabat. Dan gelar ini merupakan gelar yang paling mulia karena berasal dari Allah dan Rasul-Nya sendiri. Bagi mereka yang hidup setelah generasi ini mendapat sebutan tabiin dan generasi berikutnya lagi dijuluki tabii al-tabiin. Sementara para ahli tafsir dan Al-Quran disemati gelar qurra, mereka menjuluki para pakar hukum dengan fakih. sedangkan orang-orang yang menempuh jalan khusus untuk mendekati Tuhan biasa disapa zahid ketika itu.
Istilah tasawuf dan sufi pertama kali muncul pada generasi  tabiin. Hasan Al-Bashri, seorang tabiin terkemuka mengatakan: “Aku melihat seorang sufi sedang thawaf mengitari baitullah, aku memberinya sedikit perbekalan namun dia menolaknya seraya berkata aku masih memiliki persediaan”.[8] Dari riwayat ini menunjukkan bahwa terma tasawuf adalah terma yang baru dalam tradisi Islam, karena tidak dikenal oleh generasi muslim pertama. Namun bukan berarti lantas dapat dikatakan bahwa tasawuf dalam Islam merupakan impor dari tradisi asing dan tidak memiliki akar teologis dalam tradisi Islam. Dari perilaku, etika, moral, pandangan hidup sebagian besar umat Islam generasi awal dapat dikatakan bahwa meskipun penyematan nama sufi datang belakangan namun secara de facto laku sufi sudah dipraktekkan oleh umat Islam sejak mula-mula, diawali oleh sang Penghulu Agama, Muhammad Saw.

Periode Kedua (Abad 3-4 H), Masa Kematangan
Secara kasat mata tidaklah mungkin menarik garis pemisah secara tegas periodesasi perkembangan tasawuf dalam Islam. Ini dikarenakan perkembangan tasawuf dalam Islam saling mempengaruhi dan terjadi tumpang tindih pemikiran diantara para sufi yang berbeda zaman. Terkadang seorang sufi yang hidup di periode ke dua dapat digolongkan masuk kepada periode pertama. Pembagian periode perkembangan tasawuf ini didasarkan atas kecenderungan utama yang berkembang pada zaman itu. Pada masa-masa awal tasawuf masih dimaknai secara lugu. Ia hanyalah jalan khusus untuk berada lebih dekat dengan Tuhan dan pemutusan hubungan dengan urusan duniawi. Namun pada fase selanjutnya tasawuf mendapatkan interpretasinya dengan lebih kompleks dan rumit. Nampaknya, invasi peradaban Islam ke wilayah-wilayah sekitarnya meniscayakan adanaya interaksi budaya asing yang tak terelakkan. Ide, tradisi, nilai, pandangan hidup warisan peradaban asing perlahan mulai merasuk ke benak umat Islam. Hasilnya jelas, pandangan hidup mereka pun ikut berubah sehingga dari sini pemahaman mereka memandang diskursus tasawuf juga ikut bergeser.
Dr. Abu Wafa Tiftazani mengatakan bahwa pada fase ini merupakan fase kematangan ilmu tasawuf. Para tokoh-tokoh fenomenal tasawuf semisal Al-Muhasibi, Al-Junaid, Al-Hakim Al-Tirmidzi dan Al-Hallaj hidup di masa ini.[9]
Pada masa ini, pemahaman terhadap makna tasawuf bisa dikatakan mulai tergabung antara aspek teoritis dan praksis, meskipun tidak dapat dikatakan bahwa para sufi sudah mulai meninggalkan Al-Quran dan Hadist. Hanya saja pemahaman mereka terhadap petuah-petuah Al-Quran mulai dikembangkan dengan ilmu-ilmu baru hasil persinggungan mereka dengan budaya asing. Pada masa ini, para tokoh-tokoh sufi mulai berani menyeru kepada khalayak ramai terkait pandangan-pandangan sufistik mereka. Pandangan itu kemudian dipadu dengan penekanan pada sisi ilmiah untuk melunakkan keyakinan massa. Mereka mengajak untuk meninggalkan dunia karena tidak ada yang abadi di dunia ini, karena akhirat merupakan rumah abadi. Mereka menganjurkan untuk hidup zuhud karena dengan perilaku zuhud dapat mengurangi hawa nafsu yang menjauhkan manusia dari Tuhannya.
Jaman ini juga dikenal dengan jaman pertama sistematisasi teori-teori sufi dan penyusunan kitab-kitab induk ilmu tasawwuf. Pembahasan-pembahasan para sufi yang berdiskusi terkait akhlak manusia secara tidak langsung membawa mereka untuk mempelajari lebih dalam aspek psikologis dari manusia, sisi hewani dan metode-metode tertentu untuk mengobatinya. Disamping juga berkembang pembahasan mengenai alam metafisika, realitas transenden, dan bagaimana manusia yang imanen untuk memasuki alam transenden. Dari pembahasan inilah kemudian muncul pembahasan mengenai ahwal, maqamat rahasia-rahasianya, serta cara-cara untuk membawanya ke arah akhlak terpuji. Tasawuf pada fase ini tak ubahnya sebagai ilmu khusus yang berdiri sejajar dengan ilmu tafsir, hadist, fiqh yang lebih dahulu berkembang.
Seperti dikatakan oleh Ibnu Khaldun “Ketika ilmu-ilmu dalam Islam mulai disusun dan disistematisasikan, para fuqaha menyusun kitab-kitab fiqih dan ushulnya, demikian pula para muatakalimin, mufasir dan lain-lain. Para ahli tariqat ini (Sufi) juga mengarang kitab-kitab mengenai wara’, mujahadah nafs, dan sebagainya sehingga menghasilkan apa yang kita kenal dengan ilmu tasawuf, ilmu yang berubah menjadi ilmu yang ilmiah dan sistematis setelah sebelumnya hanya sebagai jalan ibadah saja. Sehingga dengan demikian ilmu syariat bercabang menjadi 2, ilmu dhahir yang membahas masalah ibadah, adat, muamalah dan ilmu bathin yang mendiskusikan masalah mujahadah, muhasabah, dan berbicara mengenai hati, cara mengaturnya, penyakit-penyakit serta obat yang menyembuhkannya, serta istilah-istilah yang memberikan gambaran mengenai keadaan hati”[10]
Karakteristik lain yang membedakan fase ini adalah masuknya pengaruh asing akibat semakin meluasnya kekuasaan Islam. Akibat interaksi antar kebudayaan yang sangat intens, maka kemudian banyak sekali masuk pemikiran-pemikiran dan pandangan asing ke dalam benak umat Islam. Maraknya gerakan penerjemahan buku-buku asing di Baitul Hikmah semakin menambah majemuk kompleks pemikiran umat Islam. Setelah pada abad-abad berikutnya mereka terkenal dengan kepolosan dan keluguan cara berpikir khas suku-suku padang pasir, maka sekarang mereka menghadapi tantangan baru.
Sejak paruh terakhir abad ketiga Hijriah marak berkembang kelompok-kelompok tarekat sufi. Masing-masing kelompok dipimpin oleh seorang mursyid yang memiliki aturan-aturan dan metode-metode khusus. Bagi para murid, mencapai kesempurnaan ilmu dan amal, mereka diwajibkan mematuhi dan mengikuti apa yang ditunjukkan oleh mursyidnya tersebut. Diantara tarekat-tarekat awal tersebut adalah al-Saqathiyah; dinisbatkan kepada pemimpinnya Abi Sara Al-Saqathy, Al-Thaifuriyah; dari Abi Yazid Thaifur Al-Busthomy, Al-Junaidiyah, nisbat kepada Junaid Al-Baghdadi, An-Nuriyah dari Abi Husain An-Nuri dan masih banyak tarekat lain yang bermunculan pada zaman ini.
Beberapa pandangan baru dalam tasawuf diperkenalkan pada periode ini. Diantaranya adalah pandangan mengenai al-hubb al-ilahy (cinta kepada Tuhan) yang dipopulerkan oleh Sufi wanita terpandang, Rabiah Adawiyah dengan perkataannya yang khas: “Kalaulah aku menyembahMu karena menginginkan surgaMu, maka jauhkan aku darinya. Jika aku menyembahMu karena takut dengan nerakaMu maka masukkan aku ke dalamnya. Akan tetapi apabila aku menyembahMu karena menginginkan cintaMu maka janganlah Kau halangi aku darinya”. Selain Rabiah ada juga pandangan mengenai makrifat yang dikenalkan oleh Dzun Nun Al-Mishry. Perkataannya yang terkenal: “Aku mengetahui Tuhanku oleh Tuhanku. Kalaulah tidak karena Tuhanku aku tidak akan mengetahui Tuhanku”.
Abu Wafa Tiftazani menuturkan bahwa pada zaman ini tasawuf telah menjadi jalan menuju makrifat setelah sebelumnya menjadi jalan untuk ibadah saja. Dari kitab-kitab yang disusun para punggawa sufi Risalah Qusyairiyah, al-Luma’ al-Thusi, al-Thabaqat milik Al-Sulamy, Al-Ta’aruf karya Al-Kalabidzi, menunjukkan bahwa era ini merupakan era permulaan tasawuf teoritis. Kita juga menggaris bawahi bahwa pada fase ini muncul 2 kecenderungan berbeda aliran tasawuf. Pertama adalah aliran mu’tadilin yang masih berpegang pada ajaran Al-Quran dan Sunnah. Tasawuf mereka lazimnya menekankan pada aspek etika yang berhubungan langsung dengan Tuhan. Sedangkan kecenderungan kedua ialah mereka yang terkontaminasi dengan peradaban asing. Di kalangan mereka mulai dibicarakan masalah-masalah baru seperti konsep hulul, ittihad, dan fana’. Eksesnya jelas, semakin banyak sufi yang kerap melontarkan celetukan (shathhaat) aneh yang apabila dilihat secara dhahir bisa mengakibatkan mereka keluar dari agama.[11]   Sebagai sufi kelompok pertama mungkin kita bisa memasukkan nama-nama seperti Abu Harist Al-Muhasibi, Al-Hakim Al-Turmudzi, dan Al Junaid. Sementara kecenderungan kedua dapat diwakili oleh Sufi eksentrik, Al-Hallaj.

Tasawwuf Di Fase Ketiga (Abad 5 H)
Setelah pada fase sebelumnya kita mengenal 2 kecenderungan gerakan sufi; yaitu gerakan mu’tadil yang masih memegang Kitab dan Sunnah dan gerakan sufi falsafi yang banyak keluar dari pemahamahan mainstream umat Islam, pada fase ini kita dapat melihat bentuk perkembangan selanjutnya dari kedua aliran tersebut. Pada abad ke-5 H, aliran mu’tadil nampak berkembang sangat pesat sementara golongan kedua terlihat kehilangan tokoh-tokoh utamanya. Pada abad ini kita mengenal 2 orang yang merupakan tokoh sufi paling besar yang dimiliki peradaban Islam, yaitu Al-Qusyairi dan Al-Ghazali. Barangkali yang menjadi faktor utama kemunduran golongan sufi falsafi disebabkan ketika itu dominasi Ahlu Sunnah Wal Jamaah sangat kuat.
Golongan Sunni yang didukung oleh penguasa dan banyak masyarakat memenangi pertarungan ideologi dengan gerakan-gerakan oposisi yang memiliki pemahaman di luar mainstream. Puncak dari kemenangan ideologi Sunni dapat dikatakan ada pada dua momen. Pertama ketika Abu Hasan Al-Asyari, seorang Muktazilian yang membelot ke Ahlu Sunnah gencar melontarkan kritik-kritik tajam kepada ideologi lain, tak terkecuali pemikiran-pemikiran yang dianut oleh para sufi yang dikatakan ‘menyimpang’ seperti Al-Hallaj, Al-Bushtami dan sebagainya.
Puncak kemenangan kedua dan yang lebih gilang gemilang ada pada saat Al-Ghazali dengan berbagai macam pendekatan keilmuan melakukan kritik mematikan bagi ideologi dan paham non-Sunni. Dalam diskursus tasawuf, Al-Ghazali dengan cerdas mampu menjelaskan ajaran-ajaran tasawuf dan menghubungkannya dengan tauhid, sehingga di tangannya, tasawuf tidak hanya bermakna jalan untuk beribadah, khalwat, taqarub ila Allah, Mujahadah, riyadhah, saja akan tetapi juga seruan untuk memperhatikan sisi psikologis dari manusia, ajakan kepada golongan awam dengan pendekatan yang sesuai dengan kadar berpikir mereka serta mampu mengintegrasikan tasawuf sebagai ilmu yang memiliki aspek teoritis sekaligus praktis. Selain itu, dengan dukungan oleh kekuasaan perdana menteri Nizhamul Muluk serangan Al-Ghazali ini praktis membuat pengaruh kaum non-sunni turun sampai ke titik nadir.

Tasawuf Di Fase Ke Empat (Abad 6-7 H)
Periode ini dikenal dengan masa keemasan tasawuf falsafi yang sempat redup di fase ketiga. Meskipun tidak sebanyak pengikut tasawuf sunni, pada masa ini tasawuf falsafi begitu berkembang pesat, karena memiliki tokoh-tokoh yang mumpuni seperti Ibnu Arabi. Tasawuf falsafi sendiri berarti tasawuf yang mengkombinasikan antara pengalaman intuisi mereka dengan pemahaman rasional yang coba mereka kembangkan dalam memaknai celetukan-celetukan hati. Tasawuf ini banyak mendapat pengikut dari kalangan Syiah di Persia. Lantaran tradisi rasionalitas yang telah membumi sejak era Persia purba sehingga memungkinkan tasawuf falsafi lebih mudah diterima oleh masyarakat Persia.
Beberapa karakteristik yang membedakan tasawuf falsafi dengan tasawuf sunni adalah; Mujahadah nafs yang dilakukan dengan penekanan utama pada pembersihan dan penyucian hati dari selain Allah, penyingkapan-penyingkapan hakekat keIlahian dan alam ghaib seperti arsy, kursi, ruh, malaikat, stratifikasi wujud, munculnya karomah-karomah yang menyalahi adat yang muncul di tangan para wali dan sufi, keluarnya celetukan-celetukan sufiah yang nampak aneh dan menyalahi syariat, munculnya banyak teori-teori sufi baru yang belum dikenal umat Islam sebelumnya, seperti wihdatul wujud, hulul, ittihad, nur muhammadi, wihdatul adyan dan lain sebagainya.

Kesimpulan
Barangkali apabila kita bicara tasawuf, berarti kita akan melibatkan semua aspek yang ada dalam agama. Tasawuf sendiri merupakan spirit dari agama, karena semua bangunan ilmu agama bermuara kepadanya.  Dalam diskursus keagamaan sendiri, terma tasawuf memiliki pemaknaan yang tak tunggal. Dimensi pluralitas makna tasawuf seringkali terdistorsi pada satu atau dua definisi tertentu, sehingga kurang bisa menampung seluruh makna yang terkandung dalam kata tasawwuf. Sampai saat ini bisa dikatakan masih belum ada satu definisi mengenai makna tasawuf secara jami’mani’. Hal ini semata-mata disebabkan bahwa cakupan makna tasawuf sendiri yang membawahi keseluruhan ilmu dalam tradisi Islam.
Perkembangan tasawwuf dalam tradisi Islam dapat dikatakan bebarengan dengan kemunculan Islam itu sendiri. Dalam maknanya yang luas, kegiatan laku sufi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mendekatkan diri pada Allah, dengan meniadakan segala keinginan syahwati yang membisiki hati dari berpaling dari-Nya. Dari perspektif ini, kita bisa mendedahkan pernyataan bahwa Nabi SAW adalah seorang yang mula-mula memprektekkan laku ini.
Istilah tasawuf dan sufi pertama kali muncul pada generasi  tabiin. Namun bukan berarti lantas dapat dikatakan bahwa tasawuf dalam Islam merupakan impor dari tradisi asing dan tidak memiliki akar teologis dalam tradisi Islam. Dari perilaku, etika, moral, pandangan hidup sebagian besar umat Islam generasi awal dapat dikatakan bahwa meskipun penyematan nama sufi datang belakangan namun secara de facto laku sufi sudah dipraktekkan oleh umat Islam sejak mula-mula, dimulai dari Nabi Muhammad.



Referensi
Reynold Nicholson, Fi al- Tasawwuf Islami wa Tarikhuhu,( Lajnah Ta’lif wa Tarjamah wa Nasyr, 1956)
Abdul Mu’thi Bayumi, dkk., Al-Tasawuf Al-Islami, Nasyatuhu wa Judzuruhu wa Madarisuhu, (Kairo:Maktabah Al-Iman, tt)
Abu Wafa Al-Tiftazani, Madkhal ila Al-Tasawuf Al-Islami, (Cairo: Dar Al-Tsaqafah, 1979)
Ali Sami Nasyar, Nasy’ah al-Fikr Al-Falsafi, v.3, (Kairo, Dar Al-Maarif, 1977)