Friday, August 31, 2012

Strategi Nuklir Pakistan dalam Konfrontasi dengan India


 
Pendahuluan
Dalam bentuknya yang klasik, strategi kerap dikaitkan dengan perang. Sun Tzu seorang penasihat kerajaan yang hidup di masa China kuno mengaitkan strategi sebagai seni para jenderal. Hal itu dapat dimaklumi karena konsep dasar strategi saat itu adalah ajang adu kecerdikan para jenderal untuk mencapai kemenangan, yang kebanyakan ditentukan di medan perang. Carl Von Clausewitz, seorang ahli strategi Prusia yang hidup di era Napoleon mengatakan bahwa strategi adalah alat untuk mencapai tujuan. Strategi digunakan dalam peperangan sebagai alat mencapai tujuan-tujuan politis. Perang sebagai alat, tidak dapat dipisahkan dari tujuan utamanya, yaitu pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan oleh para pembuat kebijakan. Dengan demikian kemenangan dalam pertempuran tidak dapat dianggap kemenangan apabila tidak mampu mencapai tujuan politis yang lebih tinggi.  Pada perkembangan selanjutnya, Michael Porter mengembangkan studi strategi ke medan bisnis. Melalui bukunya, What Is Strategy? Porter menjelaskan bahwa startegi adalah bagaimana menggunakan cara yang berbeda dengan rival untuk memenangkan sebuah kompetisi. 
Dengan kata lain studi strategi mengalami perubahan dari masa ke masa.. Dari evolusi konsep strategi diatas, bisa dikatakan bahwasanya dalam bentuknya yang lebih luas, inti dari studi strategi adalah sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan lebih tinggi menghadapi perubahan dunia yang ambigu dan tak menentu.
Peristiwa besar yang terjadi pada perang dunia II mengubah pandangan dunia tentang strategi. Dua bom atom ‘Little Boy’ dan ‘Fat Man’ yang dijatuhkan awak pesawat tempur Amerika Serikat, secara telak meluluh lantakkan Hiroshima dan Nagasaki menyadarkan dunia bahwa era baru dimulai, era Nuklir. Pada masa yang disebut nuclear age ini, terjadi perubahan cara berfikir dan metode analisis tentang perang yang telah beralih dari perang konvensional menuju ke arah perang nuklir. Dengan daya hancurnya yang luar biasa, kehadiran nuklir bisa menjadi instrumen penting yang dapat mempengaruhi arah kebijakan luar negeri suatu negara. Hadirnya nuklir, mampu menciptakan Balance of Power yang menekan terjadinya perang. Hal ini disebabkan masing-masing negara yang memiliki teknologi nuklir ini akan berpikir ribuan kali untuk mulai menyerang negara lain yang mempunyai  kemampuan nuklir yang setara. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet saat perang dingin membuktikan hal ini. Sadar akan efek nuklir yang mengerikan, keduanya menggunakan prinsip deterrence yang mengandalkan kemampuan mereka untuk menahan diri untuk tidak menyerang terlebih dahulu.
Dari gambaran sekilas mengenai perkembangan studi strategi dari masa klasik hingga di era nuklir serta perbedaan substansial diantara keduanya, muncul kemudian pertanyaan; Apakah ada strategi nuklir?



Strategi Nuklir di Masa Perang Dingin
Perang dingin yang terjadi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet membawa dunia ke suatu bentuk perang yang baru, yaitu perang nuklir. Perang nuklir adalah perang yang terjadi antara negara yang sama-sama memiliki kekuatan nuklir dan menggunakannya sebagai senjata utama untuk menekan pihak lawan. Dengan ketegangan yang terjadi saat perang dingin, kedua negara adidaya tersebut berlomba-lomba mengembangkan senjata nuklir. AS memulainya terlebih dahulu, kemudian disusul Uni Soviet yang baru pada tahun 1949 menyadari pentingnya senjata nuklir. Keberhasilan Uni Soviet melakukan uji coba peledakan nuklirnya pada tahun 1949 menimbulkan kecemasan Amerika Serikat sehingga membuat negara tersebut mencari cara mengembangkan senjata tandingan. Amerika berhasil menciptakan bom hidrogen yang memiliki daya ledak jauh lebih dahsyat dibandingkan bom yang dikembangkan Uni Soviet. Namun keberhasilan Amerika Serikat tersebut tak lama diikuti Uni Soviet, yang pada tahun 1953 berhasil menyusul Amerika dalam pengembangan bom hidrogen.
Dengan peta kekuatan yang relatif berimbang tersebut kedua negara itu menggunakan nuklir sebagai instrumen penangkalan (deterrence) daripada instrumen untuk memenangkan perang. Meskipun sama-sama memiliki senjatar nuklir, namun kedua superpower itu tidak sampai menggunakannya dalam tindakan ofensif. Sadar akan kekuatan nuklir yang menimbulkan skala kehancuran yang mengerikan, maka kedua negara itu hanya saling menggertak satu sama lain. Nuklir digunakan sebagai alat untuk memperlihatkan kapasitas mereka. Mereka berlomba mengembangkan teknologi nuklir dan rajin melakukan ujicoba untuk membuat gentar pihak lawan.  
Dengan posisi perang nuklir yang demikian berbeda dengan perang konvensional membuat pola strategi yang digunakan menaklukkan lawan berbeda sama sekali dengan strategi pada masa klasik. Kehadiran nuklir pada perang dingin yang melibatkan AS dan US membawa konsekuensi perubahan strategi klasik ke strategi nuklir. Diantara beberapa perubahan penting strategi dalam era nuklir adalah (1) Dari serangan yang bersifat agresif menjadi konsep pertahanan yang lebih efektif. (2) Dari strategi penyerangan (offense) ke strategi pencegahan (deterr). (3) Rasionalitas dan mirror-image, yaitu berpikir pihak lawan memikirkan hal yang sama. (4) Dari strategi penangkalan (defense) ke arah penyerangan balasan (counter-attack) (5) Mutually Assured Destruction (MAD) yaitu keyakinan bahwa pihak yang diserang akan membalas dengan serangan serupa atau lebih besar.

Strategi Nuklir Pakistan
Berakhirnya perang dingin membuat tensi tinggi akibat perlombaan nuklir antara dua kekuatan besar AS dan US sedikit mereda. Lebih lanjut, setelah perang dingin berakhir, pada Konferensi Perlucutan Senjata tahun 1996 telah dihasilkan rancangan Traktat Pelarangan Menyeluruh Uji Coba Nuklir (Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty) yang pada pokoknya bertujuan untuk mengurangi senjata nuklir secara global melalui usaha-usaha yang sistematis dan progresif dengan tujuan menghapuskan senjata nuklir dan perlucutan senjata nuklir secara umum di bawah pengawasan internasional yang tegas dan efektif.  
Keyakinan bahwa era nuklir telah usai pasca perang dingin ditolak sebagian kalangan. Mereka menyandarkan pendapatnya pada kenyataan bahwa setelah perang dingin beberapa rogue states mengembangkan senjata nuklir yang dapat menjadi ancaman terhadap dunia internasional. Uji coba nuklir yang dilakukan India dan Pakistan pada tahun 1998 dan kepemilikan senjata nuklir oleh Iran, Korea Utara mengindikasikan bahwa nuklir masih menjadi ancaman. Rogue states sering disebut sebagai aktor irasional, karena tindakan yang mereka lakukan tidak hanya mengancam pihak-pihak yang bersengketa dengan mereka namun juga dapat membahayakan seisi planet. Salah satu pertikaian yang dapat membawa pelakunya ke arah perang nuklir adalah konflik India-Pakistan.
India dan Pakistan adalah negara yang mempunyai sejarah pertikaian yang panjang. Mereka sudah bermusuhan sejak Pakistan memutuskan berpisah dari India pada tahun  1947. Beberapa isu politik, seperti isu Kashmir, konflik militer, hingga persaingan persenjataan yang melibatkan senjata nuklir mengiringi hubungan antara dua negara bertetangga tersebut. India melakukan ujicoba nuklir pertamanya pada tahun 1974. Dengan operasi yang diberi sandi Smiling Buddha tersebut India meyakinkan pemerintah Pakistan bahwa India berusaha mendominasi kawasan. Dari sini Pakistan terdorong untuk melakukan hal serupa. Pada Mei 1998 Pakistan berhasil melaukan uji coba nuklir pertamanya dengan codename Chagai I.
Setelah itu, kedua negara berlomba-lomba memperbanyak hulu ledak nuklirnya. Pengembangan senjata nuklir Pakistan didirikan sebagai respon terhadap proyek serupa yang dilakukan India yang dianggap mengancam  keamanan nasional Pakistan. Perdana Menteri Pakistan, Benazir Bhutto menggelar pertemuan di Multan pada tahun 1972 yang membicarakan pengembangan senjata nuklir nasional. Pada pertemuan tersebut Bhuto tercatat sebagai arsitek program senjata nuklir yang ditujukan sebagai alat pertahanan negara.
Untuk menyaingi kemampuan militer India, Pakistan menggunakan strategi flexible response. Strategi ini intinya terletak pada keluwesan Pakistan menghadapi ancaman India dengan cara meningkatkan kapasitas persenjataannya, termasuk senjata nuklir. Saat ini Pakistan diketahui memiliki 100-110 hulu ledak nuklir sedangkan India tercatat mempunyai 80-100 hulu ledak.
Dengan peta kekuatan persenjataan India dan Pakistan yang relatif seimbang, konsep strategi yang paling populer dari kebijakan penggunaan nuklir sebagai sebuah instrumen politik maupun militer adalah dalam penggunaannya sebagai sebuah alat untuk mencipatakan kondisi deterrence. Secara umum, deterrence dapat diartikan sebagai ancaman yang berpotensi menimbulkan lebih banyak kerugian dibandingkan keuntungan apabila suatu pihak melakukan serangan, sehingga membuatnya memutuskan untuk tidak melakukan serangan tersebut. Kondisi ini hampir saja mengarah ke perang nuklir, ketika tensi ketegangan kedua negara ini mencapai puncaknya pada perang Kargil pada tahun 1999.
Selama perang tersebut Pakistan berkali-kali berupaya menggunakan senjata nuklirnya. Sekertaris Luar Negeri Pakistan Shamsad Ahmad membuat pernyataan bahwa meningkatnya ekskalasi konflik akan membuat Pakistan akan mengerahkan seluruh senjata yang ada di gudang persenjataannya. Senat Pakistan pada saat itu juga berkomentar bahwa tujuan dari program pengembangan senjata akan sia-sia jika tidak digunakan pada saat dibutuhkan. Pernyataan tersebut ditafsirkan sebagai ancaman Pakistan untuk juga menggunakan senjata nuklir. Pernyataan ini kemudian dikuatkan dengan pengakuan Pemimpin militer Pakistan bahwa ia tidak perlu meminta ijin Presiden untuk melakukan serangan nuklir ke India.
Dari pernyataan petinggi Pakistan tersebut dapat dilihat bahwa Pakistan menggunakan nuklir sebagai strategi memenangkan pertempuran dengan India. Mereka mengembangkan strategi massive retaliation. Strategi ini menyatakan bahwa kekuatan nuklir strategis dan taktis Pakistan digunakan tidak saja untuk menangkal serangan India melainkan juga untuk melakukan serangan balasan serupa atau bahkan lebih besar dari apa yang dilakukan India. Motif Pakistan mengembangkan program senjata nuklir digunakan untuk menghambat kemungkinan invasi negara lain ke Pakistan, terutama India. Presiden Muhammad Zia-ul-Haq menyimpulkan itu pada tahun 1987 ketika ia mengatakan kepada Perdana Menteri India Rajiv Gandhi: "Jika pasukan Anda menyeberangi perbatasan kita satu inch saja, kami akan memusnahkan kota Anda".[1]
Pernyataan Zia-ul-Haq tersebut menyiratkan bahwa Pakistan akan menempuh strategi countervalue, yang akan melakukan balasan kepada semua sasaran baik militer ataupun non-militer jika India melakukan pelanggaran tapal batas teritorial. Melalui strategi nuklirnya, Pakistan berusaha mewujudkan Balance of Power di kawasan Asia Selatan untuk mencegah dominasi India. Pakistan berusaha menyamai pencapaian India dalam segala bidang, termasuk dalam perlombaan persenjataan nuklir. Hal ini ditunjukkan misalnya pasca peluncuran uji coba nuklir India pertama, Perdana Menteri Pakistan Zulfikar Ali Bhutto bersumpah bahwa ia tidak akan  bisa menerima “Nuclear Blackmail” ataupun menerima hegemoni atau dominasi India di anak benua India.[2] Ketua Badan Energi Atom Pakistan, Munir Ahmed Khan berkata bahwa Pakistan akan mengembangkan senjata nuklir milik mereka sendiri.[3]
Pakistan juga menolak menandatangani Traktat Non Proliferasi Nuklir (NPT). Pakistan telah berulang kali menolak panggilan untuk inspeksi internasional terhadapa aktivitas pengayaan uranium. Munir Ahmad Khan, Ketua Badan Energi Atom Pakistan mengembangkan program persenjataan nuklir secara diam-diam. Sementara senjata dikembangkan tidak dipublikasikan, profil ilmuwan yang terlibat dijaga sangat rahasia, dan sama sekali tidak diketahui publik.[4]
Penolakan Pakistan tersebut didasari alasan bahwa mereka akan tetap dalam posisi wait and see jika India melakukan hal serupa.Pakistan hanya akan bersedia menandatangani NPT hanya apabila India memutuskan ikut dalam perjanjian non-proliferasi nuklir tersebut. Sikap Pakistan yang demikian membuat Badan Pengawas Atom Internasional (IAEA) tidak dapat mengetahui semua lokasi fasilitas program nuklir Pakistan berada.

Kesimpulan
            Konsep  strategi dalam bentuknya yang paling luas dapat dikatakan sebagai cara-cara yang diperlukan untuk mengantisipasi perubahan-perubahan dan ketidakpastian yang terjadi di dunia sehingga potensi ancaman terhadap kepentingan kita dapat diatasi. Dengan potensi ancaman yang begitu besar pada era nuklir ini, studi strategis sangat diperlukan untuk mengamankan kepentingan suatu negara. Sebagai senjata pemusnah masal, keberadaan nuklir sangat krusial bagi perkembangan dunia internasional. Daya destruktifnya yang masif membuat negara pemilik nuklir harus berpikir panjang sebelum menggunakan senjata ini, terlebih negara yang dihadapi adalah negara yang sama-sama memiliki kekuatan nuklir. Untuk itu strategi dalam penggunaan senjata nuklir diantaranya dengan memanfaatkan keberadaannya untuk membuat gentar dan menakut-nakuti lawan, sehingga tujuan nasional yang dikehendaki dapat tercapai.
            Pada ketegangan India-Pakistan, pemerintah Pakistan mengembangkan nuklir sebagai strategi pencegahan atas dominasi India di subcontinent. Dengan memiliki persenjataan nuklir, Pakistan dapat memaksakan Balance of Power sehingga menaikkan posisi tawar mereka di hadapan India. Pakistan selalu berusaha mengimbangi prestasi persenjataan nuklir India sebagai pesan kepada negara tetangganya tersebut untuk tidak melakukan pelanggaran teritorial, agresi, tindakan provokatif, dan persengketaan terhadap isu-isu internasional dan kawasan. Tindakan yang dilakukan Pakistan tersebut adalah dalam rangka melindungi kepentingan nasionalnya terhadap kemungkinan invasi atau intervensi negara asing, terutama India.

Referensi:
Clausewitz, Carl Von. 1984. “Strategy”, in On War, edited and translated by M.Howard and P. Paret, Princeton: Princeton University Press, pp. 177-183        
Porter E. Michael. 1991. “Toward a Dynamic Theory of Strategy”, Strategic Management Journak, Vol. 12, pp. 95-117
Tzu, Sun, 1998. The Art of War. Hertfordshire: Worrdworth Classic of World Literature, pp. 10-53
Murray, Williamson and Mark Grimsley. 1994. “Introduction: On Strategy”, dalam Williamson Murray, Mcregor Knox and Alvin Bernstein, ed., The Making of Strategy: Ruler, States and War. Cambridge: Cambridge University Press, pp. 1-23
http://www.expressindia.com/latest-news/Lankan-Muslims-in-Dubai-supplied-Nmaterials-to-Pak-A-Q-Khan/514870/
http://www.nti.org/e_research/profiles/Pakistan/Nuclear/chronology_1974.html/
http://www.iiss.org/publications/strategic-dossiers/nbm/nuclear-black-market-dossier-a-net-assesment/pakistans-nuclear-programme-and-imports-/?locale=en
http://www.pakdef.info/nuclear&missile/homage.html






[1] http://www.expressindia.com/latest-news/Lankan-Muslims-in-Dubai-supplied-Nmaterials-to-Pak-A-Q-Khan/514870/
[2] http://www.nti.org/e_research/profiles/Pakistan/Nuclear/chronology_1974.html/
[3]http://www.iiss.org/publications/strategic-dossiers/nbm/nuclear-black-market-dossier-a-net-assesment/pakistans-nuclear-programme-and-imports-/?locale=en
[4] http://www.pakdef.info/nuclear&missile/homage.html