Thursday, August 30, 2012

Strategi dan Stratejis; Mourinho, Sosok Stratejis Sepak Bola



Strategi adalah cara yang dilakukan manusia untuk mencapai tujuannya. Pada era klasik, studi strategi sering dikaitkan dengan peperangan. Bagaimana memenangkan perang dan menekan angka korban dari pihak kita sesedikit mungkin. Sun Tzu memaknai strategi sebagai seni memenangkan peperangan. Pendekatan klasik seperti ini sering berpatokan pada konsep realis yang cenderung pesimis dalam memaknai manusia. Pada esensinya, menurut pandangan kaum realis manusia merupakan makhluk egois, bangga akan dirinya dan senang berperang demi memuaskan hasrat pribadinya. Alpanya hukum internasional dan tidak adanya otoritas pemerintah di level global acap dijadikan alasan pembenaran demi kepentingan dan kekuasaan. Makna strategi yang demikian membuat banyak kalangan menyebut strategi sebagai seni para jenderal, karena mau tak mau memang para jenderal lah yang menyiapkan strategi dan memimpin peperangan secara langsung.

            Banyak kritik dialamatkan pada studi strategi dengan pendekatan klasik seperti ini. Ia dianggap hanya fokus kepada konflik dan peperangan saja, sehingga melupakan aspek-aspek interdisipliner seperti isu politik, etis, sosial dan budaya. Pendekatan ini juga dipandang terlalu state-centric dan tidak ilmiah. (Gray, 1982)
Kecenderungan yang military-oriented demikian terus berlangsung hingga paruh kedua era perang dingin. Setelah munculnya kesadaran bahwa strategi dapat diaplikasikan di berbagai ranah, sehingga sangatlah sayang untuk diperuntukkan bagi para jenderal saja. Dalam sebuah artikel 'Strategy as Science' Bernard Brodie (1949) menyerukan pendekatan metodologis untuk mempelajari strategi  serupa dengan yang diadopsi oleh ilmu ekonomi. Apa yang dimaksudkan Brodie adalah aplikasi dari formasi yang lebih  sistematis dalam menganalisa isu-isu strategis daripada menggunakan pendekatan sempit yang diadopsi militer yang hanya terbatas pada penggunaan taktik dan teknologi. (Baylis,2007)
Pemikiran tersebut timbul setelah perang (konflik) tak lagi melulu soal militer dan kontak senjata. Faktanya, esensi dari strategi sebagai sebuah aktifitas untuk memuluskan tujuan dapat terjadi di bidang ekonomi, politik, bisnis hingga olahraga. Tuntutan untuk melewati situasi sulit dalam waktu sempit membutuhkan kejelian seorang ahli dalam mengambil kebijakan strategis. Dalam keadaan demikian, menurut Brodie (1949) seorang strategis harus mempelajari strategi dari perspektif interdisipliner. Manajemen strategi yang hebat membutuhkan pengetahuan-pengetahuan tentang politik, ekonomi, psikologi, soisologi, geografi, dan juga teknologi, struktur kekuatan serta taktik.
Dekade 1950-an, dua profesor kebijakan bisnis di Harvard, George Albert Smith Jr. and C. Roland Christensen mengajari siswanya untuk mempertanyakan apakah strategi sebuah perusahaan sesuai dengan iklim kompetitif di masa itu. Ini adalah titik balik perluasan studi strategi yang merambah bidang manajemen bisnis. Beberapa saat setelahnya, muncullah banyak konsultan strategi bisnis, seperti The Rise of Strategic Consulting, pada tahun 1960-an, dan The Boston Consulting Group yang didirikan pada tahun 1963.
Setelah persinggungan pertama dengan disiplin ilmu diluar militer, mengemuka isu yang memperdebatkan apakah teori-teori yang dimunculkan para ahli strategi relevan dalam memecahkan persoalan yang dihadapi para praktisi di lapangan. Isu ini mengemuka paska banyaknya ahli strategi yang diangkat sebagai penasihat pemerintahan. Para ahli strategi dikritik karena dianggap hanya duduk manis di menara gading dan bermain-main dengan teori yang mereka buat, mengajukan revisi teori mereka dan lebih mendorong keluarnya  teori  sekunder daripada aplikasi primer. Sehingga jelas, karena tidak ada korelasi intens antara teori dan realitas, permasalahan yang terjadi tidak pernah terselesaikan dan teori-teori itu kehilangan nilai guna.
Kasus ini dapat terpecahkan apabila para strategis itu juga terjun langsung ke periferi pembuat kebijakan atau berharap para praktisi membaca tulisan-tulisan mereka. Seperti disinggung Brodie, bahwa satu pertanyaan yang selalu mengemuka terkait strategi adalah “Apakah ide ini akan berhasil?”. Strategi adalah suatu ruang dimana kebenaran dinilai dengan mempertimbangkan apakah ide tersebut dapat memecahkan permaslahan. (Betts,1997)
Untuk menjembatani kesenjangan antara teori brilian namun miskin aplikasi, kita bisa mempelajari cara yang digunakan John Boyd, perwira Amerika legendaris. Digelari dengan banyak julukan seperti ‘Gengis John’, the ‘Mad Colonel’ karena kehebatannya dalam meracik strategi yang sukses diterapkan di lapangan. Menurut Boyd, kemenangan dalam pertempuran bukanlah soal sebanyak apa kita membunuh atau menghancurkan musuh, namun ‘decision cycle dominance’. Sejauh mana kita melihat cela kelemahan musuh, sehingga bisa terus mendominasi mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan observing (observasi), orienting (orientasi), deciding (memutuskan), dan acting more than your opponent (berbuat lebih daripada musuhmu). Keempat hal tersebut diulang terus-menerus (loop) sehingga bisa mencapai hasil maksimal.

Jose Mourinho, Sosok Stratejis Sepak Bola
Nama yang sangat melegenda dalam dunia sepak bola. Pelatih jenius dengan komentar-komentar kontroversial yang kerap meluncur dari bibirnya. Dibenci lawan, namun disegani anak buah dan koleganya. Sosok yang pedas dalam berkata namun sarat dengan prestasi. Pelatih yang sekarang menukangi raksasa Spanyol, Real Madrid ini adalah seorang strategis ulung dalam sepak bola. Ia mampu mengkombinasikan racikan taktik jitu di lapangan, dengan pembentukan karakter pemain, penanaman disiplin, motivasi semangat tim, melakukan pendekatan kekeluargaan, dan gaya kharismatik kepemimpinannya yang tak bisa dihalangi siapapun.
 Pria kelahiran Setubal, Portugal 49 tahun silam ini banyak memberikan prestasi bersama klub-klub yang ditanganinya. Mourinho dua kali membawa Porto, Chelsea dan Inter Milan menjadi juara liga serta mengantarkan gelar Liga Champions dan Piala UEFA bagi Porto dan gelar Liga Champions pertama selama hampir setengah abad bagi Inter Milan. Belum lagi sederet prestasi lainnya seperti memenangi Piala Portugal (2002-2003) bersama Porto, FA Cup (2006-2007) dan Community Shield (2005) untuk Chelsea, Coppa Italia (2009-2010) dan Super Coppa Italia (2008) dengan Inter Milan serta Copa Del Ray (2010-2011) bersama klub yang ditukanginya saat ini. Selain bersama klub yang ditangani Mourinho tercatat lebih dari 15 kali mendapatkan penghargaan individual dari berbagai kalangan. Tak heran jika Ia tiga kali dinobatkan sebagai pelatih sepak bola terbaik dunia oleh International Federation of Football History & Statistics (2004, 2005, dan 2010).
Banyak sisi menarik dari strategi sepak bola ala Mourinho. The Special One ini sering dikritik karena menampilkan permainan negative football, mengacu pada kegemaran Mourinho melakukan segala cara untuk memenangkan pertandingan, result oriented, tak peduli bagaimana cara bola itu dimainkan, sepanjang itu dapat memenangkan pertandingan maka itulah strategi terbaik. Strategi sepak bola ala pria yang tidak memiliki karir bagus saat menjadi pemain ini sangatlah fleksibel. Ia gemar melakukan gonta-ganti formasi tergantung pada lawan yang dihadapi. Mourinho dikenal sebagai orang yang sangat rinci mempelajari kekuatan dan kelemahan lawan. Ia dengan cerdas kemudian mampu menyiapkan tim untuk secara efektif meredam kekuatan lawan dan mengeksploitasi kelemahan lawan secara maksimal.
Misalnya, dalam semifinal Liga Champions edisi 2009-2010 melawan Barcelona, Mourinho yang kala itu membesut Inter Milan, mengejutkan banyak pihak dengan strateginya. Pada pertandingan itu Inter Milan yang kehilangan Thiago Motta akibat mendapatkan kartu merah di menit 27 membuat Mourinho segera menarik mundur seluruh pemainnya. Namun model pertahanan yang digunakan Mou sedikit berbeda dengan yang biasa di peragakan tim lain. Pemenang Ballon d’Or 2010 ini menginstruksikan anak buahnya untuk membiarkan Barcelona terus memegang bola, memberikan sedikit kelonggaran tapi terus menerus menutup lubang aliran bola yang dialirkan pemain-pemain Barcelona. Pasca ditarik keluarnya striker jangkung Zlatan Ibrahimovic, Mourinho menginstruksikan anak buahnya untuk fokus di tengah lapangan, karena tahu Barcelona tidak akan melakukan serangan dari sayap. Sepanjang pertandingan Barcelona yang menguasai ball possesion hingga 73% dibuat mati kutu dan akhirnya harus mengakui keunggulan Inter dengan skor aggregat 3-2.
Mourinho juga sosok yang bertanggung jawab dari bersinarnya bintang-bintang baru. Nama-nama seperti Frank Lampard, John Terry, Angel di Maria, Mesut Oezil, Carvalho, Deco adalah sederetan pemain yang mengkilap penampilannya pasca dibesut oleh tangan dingin Mou. Ia juga melakukan pembelian pemain yang strategis, tak mesti mahal namun sesuai dengan karakter pemain yang dibutuhkan oleh tim.
Selain jenius dalam meramu strategi jitu dalam pertandingan, ayah dua anak ini juga pandai dalam membangun sebuah tim yang kokoh. Sisi psikologis dan mental pemain, yang jarang diperhatikan pelatih lain juga tak luput dari sentuhan Mou. Dengan melakukan pendekatan persuasif dan kekeluargaan Mourinho mampu membentuk tim yang solid. Itulah mengapa semua pemain hormat kepada Mou, karena menganggap sosok kontroversial ini merupakan pelatih jenius yang memperhatikan mereka. Mou adalah sosok yang familiar, perhatian, dan mampu memberikan rasa percaya diri kepada anak asuhnya sehingga mampu mengeluarkan kemampuan terbaik mereka.
"Mourinho seperti ayah bagi saya. Dia adalah guru yang hebat, karakter yang kuat dan merupakan sosok pelatih yang memperhatikan semua pemainnya," puji bintang internasional Jerman, Mesut Oezil[1].
“Mourinho adalah pelatih terkuat yang saya tahu. Dia sangat luar biasa,” puji Thiago Motta.[2]
"Dia berperan besar dalam karir saya. Saya ingat pertemuan pertama tim dengan Mourinho, dia mengumpulkan semua pemain dan berkata, 'dengar semuanya, kalian belum pernah memenangkan apapun, kalian belum berbuat apa-apa, jika kalian mengikuti saya kita akan memenangkan liga, April nanti'," papar mantan anak asuh Mourinho di Chelsea, Joe Cole[3].
"Bahkan, ketika saya tidak bermain di akhir musim 2005-06, saya masih memiliki hubungan yang baik dengan dia. Pemain selalu marah ketika mereka tidak bermain, tetapi Mourinho tetap dapat memberikan suasana kondusif di klub. Bahkan pemain yang tak bahagia menjadi bahagia karena dia. Saya belum pernah melihat itu sebelumnya," Alexy Smertin.[4]
Ia dikenal dengan karakternya yang tanpa kompromi. Bagi Mou, dalam tim yang ia latih sosok yang paling berkuasa adalah dirinya. Semua pemain dalam pandangan si family man ini adalah sama. Asalkan dia disiplin, mau menerima instruksinya, dan menunjukkan performa terbaik maka starting eleven akan menjadi jaminan. Tidak ada istilah ‘anak emas’ atau ‘megabintang’ dalam kamus Mourinho. Dengan pendekatan demikian Mou mampu meredam ego para superstar yang berpotensi merusak keseimbangan tim. "Hal terpenting bukanlah bagaimana selalu bisa mencetak gol. Tetapi bagaimana bisa bermain sebagai sebuah tim dan bisa menjadi sebuah kolektifitas."[5]
Kedisiplinan merupakan salah satu ciri khas Mou. Penanaman kedisiplinan menurut Mou adalah salah satu kunci sukses sebuah tim. Mou dikenal selalu datang lebih dahulu dari pemainnya. ia mewajibkan semua pemain untuk tepat waktu dalam sesi latihan. Telat sedetik saja, tak segan-segan Mou melarang pemain tersebut mengikuti sesi latihan bersama. Mou juga tak risih memarkir pemain bintang akibat melanggar aturan yang ia buat. Mario Balotelli dan Adriano pernah menjadi korban saat tak dimainkan Mou karena tidak disiplin dan melanggar instruksi Mou[6].
Demi mengukuhkan kesolidan sebuah tim, dan melindungi mereka dari sasaran kritik Mourinho tak ragu melakukan segala cara. Ketika menderita kekalahan peraih dua kali treble winner bersama Porto dan Inter ini tak pernah menyalahkan pemainnya[7], bahkan ia mempunyai cara lain untuk mengalihkan kritikan media kepada dirinya. Mou menghadapi media seorang diri dengan mengeluarkan statement kontroversial, dan kadang membuat panas kuping lawan Mourinho seakan ingin melindungi pemainnya dari perhatian awak media. Mou juga kerap menyalahkan fans yang tidak memberikan dukungan semestinya kepada klub kesayangannya. Mou menganggap suporter adalah salah satu elemen kunci untuk mengangkat moral pemain.[8][9]
Sisi menarik dari sosok Mou, meskipun ia banyak dihujani kritik dan caci maki dari berbagai pihak luar, namun di dalam klub yang ia bela, Mou selalu mendapatkan dukungan penuh. Ia pernah terlibat perseteruan dengan pelatih lawan. Sir Alex Ferguson, Arsene Wenger, Rafael Benitez, Carlo Ancelotti, hingga Pep Guardiola adalah beberapa nama yang pernah cek-cok dengan Mou. Tak ketinggalan pihak lain seperti UEFA, komisi liga Italia, dan offisial pertandingan hingga fans lawan tak luput dari menyerang Mou. Namun menariknya, Hubungan Mourinho dengan pemain[10][11][12], asisten, jajaran direksi[13], presiden dan fans klub[14] yang ia bela hampir bisa dikatakan sangat mesra. Ia sangat dekat dengan Florentino Perez, Presiden Real Madrid. Ia juga menjalin hubungan mesra dengan Abramovich, pemilik Chelsea dan Massimo Moratti, presiden Inter semasa menukangi kedua klub tersebut, bahkan hubungan baik itu masih terus berjalan hingga saat ini[15]. Ia melakukan semua yang dibutuhkan klub meraih sukses, meskipun sering ia memancing kemarahan klub atau pihak lain akibat komentar pedasnya.  
“Saya kira kesempatan untuk melatih Madrid merupakan kesempatan emas bagi karir saya untuk masuk dalam jajaran pelatih terbaik. saya senang punya kesempatan untuk melatih klub luar biasa seperti Madrid", Saya dan klub memiliki projek dan ambisi yang sama. Bagi saya, menjadi bagian dari klub sehebat Madrid merupakan pengalaman yang tidak akan bisa dilupakan. Madrid adalah klub terbesar di dunia dan saya bahagia berada di sini." tutur Mou[16][17]. Mourinho selalu mempunyai komitmen kuat pada klub asuhannya. Dalam pandangan Mou, untuk membuat sebuah tim yang solid dibutuhkan membangun hubungan yang dengan semua pihak yang mendukung kejayaan klub. Sehingga tak heran, pendukung klub yang pernah ia besut masih meneriakkan namanya meskipun ia sudah hengkang.[18]

Konklusi
Untuk menjadi seorang strategis, dibutuhkan keahlian interdisipliner. Seorang tidak akan bisa menjadi seorang ahli strategis yang handal jika hanya menguasai satu bidang saja. Karena pekerjaan seorang strategis adalah bagaimana memenangi pertarungan dengan tanpa menggunakan banyak tenaga dan pengorbanan yang besar. Seorang strategis diharapkan mampu untuk  mengamati kondisi lawan, menganalisa cela-cela kelemahan, mengambil keputusan strategis dan dalam tempo singkat, sehingga mampu bertindak lebih cepat dari lawan yang di hadapi.
Ulasan singkat mengenai sosok Jose Mourinho diatas, meyakinkan penulis bahwa Jose Mourinho merupakan sosok strategis dalam sepak bola. Disamping cerdik meramu strategi dan membaca permainan lawan, The Special One juga handal dalam membentuk sebuah tim yang solid. Hal tersebut ia lakukan dengan menerapkan kedisiplinan, memperhatikan dan melindungi pemain, menjadi motivator untuk mengembangkan kepercayaan diri mereka, menjalin relasi yang baik dengan semua pihak yang turut andil membesarkan klub. Di luar semua kontroversi yang menyelimuti, sosok Mourinho layak ditempatkan sebagai salah satu jenius sepak bola.