Thursday, August 30, 2012

Revolusi Islam Iran: Rujukan Khusus kepada Imam Khomeini dan Ali Shariati



Pendahuluan
Pada era perang dingin, ketika kutub Komunis berhadapan face to face dengan rejim Kapitalis, menciptakan dua polar dalam konstelasi politik dunia. Masyarakat internasional baik atas inisiatif sendiri ataupun tuntutan situasi, mau tidak mau harus memilih salah satu diantara dua blok tersebut. There’s no other option. Tiba-tiba muncullah di belahan bumi Timur, di wilayah yang tidak diperhitungkan sebelumnya, dengan slogan “Tidak Timur Tidak Barat, Melainkan Islam”. Slogan tersebut, berhasil menarik dukungan massa, jutaan rakyat Iran berkumpul dalam satu komando, berjalan dengan satu tujuan; menggulingkan rejim otoriter Shah Reza Pahlevi, mengubur hidup-hidup pemerintahannya yang korup, melawan barisan angkatan bersenjata lengkap, dan memaksa Shah untuk mundur, kemudian  pergi meninggalkan negaranya tanpa pernah kembali. Demikianlah sekilas gambaran kejadian fenomenal di abad 20. Revolusi Iran.

Revolusi tersebut, oleh banyak pengamat merupakan revolusi terbesar suatu bangsa terhadap hegemoni rejim penguasa. Kebesaran revolusi Iran pantas disejajarkan dengan revolusi Perancis dan revolusi Kaum Bolshevik di Rusia. Pengaruh dari revolusi tersebut tak hanya sebatas di dunia Islam, melainkan ke seluruh dunia. Di kawasan Timur Tengah, khususnya Arab Saudi dan negara-negara Teluk banyak pemimpin negara cemas, hal yang sama menimpa negara mereka, mengingat sistem monarki yang otoriter masih dipertahankan. Mereka khawatir semangat revolusi Iran yang berhasil menggulingkan rejim desposit menular ke nagara mereka. Spirit Revolusi Iran juga menginspirasi banyak gerakan-gerakan perlawanan di berbagai belahan dunia lain, seperti di Nikaragua, perjuangan penghapusan politik Apartheid di Afrika Selatan serta gerakan Mujahidin melawan dominasi Komunis di Afghanistan.
Revolusi Iran terjadi secara tiba-tiba. Peristiwa tersebut mengejutkan banyak kalangan, karena terjadi di tengah ketegangan kekuatan Blok Barat dan Timur. Demikian pula revolusi tersebut menjadikan agama sebagai basis moral dari gerakan massa. Krisis tersebut dipicu gerakan Westernisasi dan Sekularisasi massif yang dipromosikan besar-besaran oleh rejim Shah. Gerakan tersebut tentu saja bertentangan dengan jiwa rakyat Iran yang kental dengan semangat religiusitas. Semangat tersebut memuncak pada sosok pemimpinAgung Revolusi Islam Iran, Ayatollah Mousavi Khomeini.

Sketsa Biografis Khomeini
Ruhollah Musavi Khomeini lahir pada 24 September, 1902 di Khomeyn , Provinsi Markazi . Ia dibesarkan oleh ibunya Hajieh Agha Khanum setelah pembunuhan ayahnya Sayyid Mostafa pada tahun 1903. Saat itu Khomeini masih berusia lima bulan. Ruhollah mulai mempelajari Al Qur'an dan kebudayaan Persia pada usia enam. Tahun berikutnya, ia mulai menghadiri sekolah lokal, di mana dia belajar agama, dan mata pelajaran tradisional lainnya.  Sepanjang masa kecilnya, ia melanjutkan pendidikan agamanya dengan bantuan keluarganya, termasuk sepupu ibunya, Ja'far, dan kakaknya, Morteza Pasandideh.
Ia ditempatkan di bawah pimpinan Ayatullah Abdul Karim Haeri Yazdi . Pada tahun 1920, Khomeini pindah ke Arak dan memulai studinya. Tahun berikutnya, Ayatullah Haeri Yazdi dipindahkan ke seminari Islam di kota suci Qom , barat daya Teheran, dan mengundang murid-muridnya untuk mengikuti. Khomeini menerima undangan itu, ia ikut pindah dan mengambil tempat tinggal di Dar al-Shafa sekolah di Qom. Studi Khomeini termasuk hukum Islam ( syariah ) dan yurisprudensi ( fiqh ), tetapi pada saat itu, Khomeini juga memiliki ketertarikan pada puisi dan filsafat ( irfan ). Jadi, saat tiba di Qom, Khomeini meminta bimbingan Mirza Ali Akbar Yazdi, seorang sarjana filsafat dan mistisisme. Khomeini mempelajari Filsafat Yunani dan dipengaruhi oleh filosofi dari Aristoteles , yang  dianggap sebagai pendiri logika, dan Plato, yang master "di bidang keilahian". Di antara filsuf Islam, Khomeini terutama dipengaruhi oleh Ibnu Sina dan Mulla Sadra.
Perjalanan Ruhollah Khomeini kemudian sebagai seorang dosen di Najaf dan Qum seminari selama puluhan tahun sebelum dia dikenal di panggung politik. Dia segera menjadi seorang sarjana terkemuka dalam kelompok Syiah Islam. Ia mengajar filsafat politik, sejarah Islam dan etika. Beberapa murid-muridnya (misalnya Morteza Muthahhari ) kemudian menjadi filosof Islam terkemuka dan juga marja. Sebagai seorang ulama dan guru, Khomeini menghasilkan tulisan-tulisan banyak tentang filsafat Islam, hukum, dan etika, selain juga menunjukkan kapasitasnya di bidang seperti filsafat dan mistisisme.
Ujian pertamanya dalam panggung politik tiba pada tahun 1962 saat pemerintahan Shah mengesahkan RUU yang memberikan beberapa kekuasaan pada dewan provinsi dan kota. Sejumlah pengikut Islam keberatan pada perwakilan yang baru dipilih. Mereka membuat sebuah UU kontroversial seperti tak diwajibkan bersumpah pada al-Qur'an namun pada tiap kitab suci yang dipilihnya. Khomeini marah besar dan mengatur pemogokan di seluruh negara yang menimbulkan penolakan pada RUU itu.
Khomeini menggunakan posisi yang kuat ini untuk menyampaikan khotbah dari Faiziyveh School yang mendakwa negara berkolusi dengan Israel dan mencoba "mendiskreditkan al-Qur-an." Penangkapannya yang tak terelakkan oleh polisi rahasia Iran, SAVAK, memancing kerusuhan besar-besaran dan reaksi kekerasan yang mengakibatkan kematian ribuan orang di tangan pihak keamanan.
Pada Januari 1963, di Qum terjadi ledakan kekecewaan dan amarah ulama.Benturan dan kerusuhan berdarah yang terjadi merupakan tantangan bagi Syah,dan akhirnya menyebabkan ditahan dan dibawanya Khomaeni ke Teheran, sebab Khomaeni tidak lagi dipandang sebagai salah seorang Ayatulloh terkemuka semata, namun juga sebagai seorang Ayatulloh yang pemimpin politik. Akibat sikap kritisnya terhadap pemerintahan Syah akhirnya ia dibuang. Kepergian Khomaeni pertama ke Turki dan kemudian ke Irak, bagi syah berarti hilangnya rintangan utama pembaruannya, dan juga hilangnya sumber penting penentangan terhadap pemerintahannya.
Khomeini terus mengalami tekanan selama tahun-tahun berikutnya dan pada peringatan pertama kerusuhan pasukan Shah bergerak ke kota Qom, menahan Imam sebelum mengirimnya ke pembuangan di Turki. Ia tinggal sebentar di sana selama sebelum pindah ke Irak di mana ia tetap memonitor perkembangan pergolakan yang menuntut jatuhnya rejim Shah. Pada 1978 pemerintahan Shah meminta Irak untuk mengusirnya dari Najaf,  lalu ia menuju Paris.
Selama masa perjuangan melawan Shah, gerakan masa dengan mantap menunjukkan peningkatan dan masyarakat Iran menjadi semakin teradikalisasi. Tiga juta orang turun ke jalan dalam mobilisasi massa terbesar sepanjang sejarah Iran. Dihadapkan dengan sebuah gerakan masa dengan skala sebesar itu, Shah beserta kaki tangannya yang terlihat seperti rejim yang kuat, kolaps. Hanya dalam waktu semalam, keseluruhan situasi mengalami perubahan yang tajam. Shah dipaksa turun untuk kemudian meminta suaka ke Amerika Serikat pada Februari 1979. Tak lama kemudian, Khomeini kembali dari pengasingan dan disambut gegap gempita rakyat Iran. Disambut ratusan ribu rakyatnya di bandara dan jutaan lainnya yang berjajar sepanjang jalan kembali ke Teheran. Khomeini kemudian didaulat menjadi pemimpin tertinggi Pemerintahan Republik Islam Iran yang baru terbentuk. Revolusi Islam Iran telah berhasil mencapai cita-citanya.[1]
Sebagaimana diktum terkenal Raymond Aare, ‘tidak ada seorang pun yang dapat mengerti arah kebijakan suatu negara (pemerintahan) sampai mereka memahami terlebih dahulu filosofi dari penguasa negara tersebut’.[2] Pada bagian berikut, kita akan mendiskusikan pemikiran brilian Khomeini yang memancing rasa penasaran dunia.

Pemikiran Khomeini
            Dalam pandangan Khomeini, konsep kepemimpinan suatu negara adalah di tangan para ulama. Prinsip ini dipegangnya dengan teguh. Khomeini berargumen bahwa dorongan utama dalam mendirikan negara adalah untuk melaksanakan kewajiban menegakkan agama Allah serta mengembalikan hak-hak orang tertindas (mustadhafin) oleh penguasa zalim. Terdapat relasi saling berkaitan antara agama dan politik dalam Islam menurut Khomeini. Konteks Islam haruslah dimaknai sebagai agama pembebasan, agama yang membebaskan mereka yang tertindas oleh kekuatan imperialis, agama yang memerdekakan pemeluknya dari bentuk-bentuk penghambaan kepada selain Allah. Dari proposisi dasar tersebut, -bahwa Islam tak hanya sebuah agama yang mengurusi masalah kerohanian semata- seluruh rancang bangun pemikiran Khomeini diturunkan. Dalam bagian berikut kita akan membahasnya satu per satu.

Pemikiran Politik Ruhullah Khomeini
            Sebagai Pemimpin Tertinggi rakyat Iran, Khomeini dikenal sebagai ahli strategi ulung. Manuver-manuver yang ia lakukan dalam konteks perpolitikan seringkali membingungkan. Khomeini tak segan mengeluarkan dua pernyataan kontradiktif. Oleh banyak peneliti, hal itu disinyalir sebagai langkah politik Khumeini untuk mencapai tujuan yang ia kehendaki. Misalnya, sekali waktu dia berjanji bahwa pemerintahan para ulama hanyalah bersifat sementara, namun yang terjadi kemudian dia memberi mereka posisi tinggi di parlemen. Khomeini sekali waktu memprotes kebijakan Shah yang mendorong perempuan berpartisipasi dalam pemilu. Akan tetapi ketika revolusi terjadi dia mendorong permpuan untuk berimprovisasi mendukung jalannya revolusi. Di lain kesempatan setelah revolusi, Khomeini melarang perempuan untuk duduk di kursi parlemen. Apapun tafsiran para peneliti, namun penulis percaya bahwa manuver-manuver politik yang dilakukan Khomeini adalah sebentuk respon terhadap perubahan situasi. Asumsi penulis, Khomeini tak benar-benar meninggalkan kepercayaannya tentang keabsahan Islam sebagai agama paripurna. Hal ini bisa kita lihat dari seluruh manuver yang dilakukannya, Khomeini tetap berkeyakinan bahwa Islam adalah agama yang lebih dari sekedar agama ritual belaka. Islam mesti menjadi spirit bagi pemeluknya untuk merumuskan langkah progresif tanpa harus meninggalkan ajaran agama mereka.

Wilayatul Faqih
Ayatollah Khomeini merupakan pembawa gagasan Velayat e-Faqih di era kontemporer. Pada tahun 1970 memberikan serangkaian kuliah yang kemudian dibukukan dengan judul, Islamic Government: Governance of the Jurist.  Gagasan ini didasarkan pada preposisi bahwa selama masa Keghaiban Besar (Ghaybiyat Kubra) Imam Mahdi, harus ada pengganti para imam (nuwab al-imam) yang menggantikan mereka mengurusi masalah umat. Menurutnya, untuk membangun masyarakat yang kuat dan mendapat ridho Tuhan, mereka harus dipandu oleh orang-orang yang paling tahu mengenai urusan agama. Dan para faqih-lah yang dipandang Khomeini sebagai orang paling pantas melaksanakan ide-ide tersebut. Adapun wilayah otoritas seorang faqih yang ditunjuk meliputi urusan sosial masyarakat dan kenegaraan. Sistem monarki, yang dianut Iran ketika itu dipandang tidak islami. Suatu negara Islam yang sejati haruslah dipimpin oleh mereka yang mempunyai pengetahuan luas mengenai hukum Islam (faqih) yang melampui semua orang dalam hal pengetahuan islam dan kecerdasan administratif serta memiliki kecakapan dalam memimpin. Dalam tradisi Iran, orang seperti ini dikenal sebagai marja’.
Model pemerintahan Velayat e-Faqih ini merupakan yang pertama di dunia. Konsep tersebut berlainan dengan model demokrasi Barat sekaligus berbeda dengan model monarki yang banyak dianut negara-negara Timur Tengah. Velayat e-Faqih yang menjadi konstitusi resmi negara di Iran menggabungkan kedua konsep; demokrasi dan teokrasi. Demokrasi dalam hal pemilihan langsung Kepala Negara, dan Teokrasi dengan bentuk kekuasaan absolut Pemimpin Tertinggi yang mempunyai hak istimewa dan absolut. Menurut Khomeini, kesetiaan, dalam ketiadaan Imam Keduabelas, harus diberikan kepada Pemimpin Tertinggi (Vali e-Faqih) saat ini. Sebagian kalangan, terutama para pengusung demokrasi liberal secara peyoratif menyebut model pemerintahan di Iran dengan sebutan Mullahcracy, Pemerintahan oleh para Mullah (Ulama).
Secara hierarkis, kedudukan Pemimpin Tertinggi lebih kuat dari Presiden Iran. Pemimpin mempunyai otoritas menunjuk kepala divisi, komandan angkatan bersenjata , direktur radio nasional dan jaringan televisi , para kepala yayasan agama, para khatib dan pemimpin doa di masjid-masjid kota, dan anggota dewan keamanan nasional yang berhubungan dengan pertahanan dan urusan luar negeri. Dia juga menunjuk hakim ketua , kepala jaksa, pengadilan khusus, dan bersama dengan ahli hukum dari Dewan Garda (Guardian Council) yang berwenang memutuskan siapa yang mungkin mencalonkan diri sebagai presiden atau anggota parlemen. Pemimpin Tertinggi juga berhak  memberhentikan Presiden apabila dianggap menyalahi konstitusi, membangun misi diplomatik dengan negara lain, serta mengumumkan deklarasi perang dan damai.[3]
Mengikuti keberhasilan Revolusi Iran dan institusionalisasi konsep Velayat e-Faqih, Khomeini berusaha mengekspor ide tersebut ke negara-negara Islam lainnya. Sosok Khomeini yang kharismatik, dan gagasan Velayat e-Faqih yang dipandang sebagai satu alternatif konsep yang mampu mengakomodasi nilai-nilai modernitas tanpa harus meninggalkan religiusitas. Tak heran gagasan tersebut menjadi inspirasi masyarakat muslim lain di sejumlah negara termasuk muslim Sunni.[4]

Pemikiran Irfan dan Hikmah Khomeini
Selain mempelajari masalah fiqih dan hukum di Qum, Khomeini juga mempelajari dua tradisi Islam yang sangat tidak lazim yaitu 'irfan dan hikmah. Pelajaran inilah yang kemudian sangat besar pengaruhnya pada corak pemikiran dan pandangan Imam Khomeini mengenai dirinya dan dunia. 'Irfan (gnositisme), merupakan tradisi spiritual yang terdapat terutama di dunia Syi'ah. 'Irfan dalam beberapa hal sejajar dengan tasawuf. Hikmah (teosofi) yang diwarnai oleh sistem pemikiran yang sepenuhnya logis dan skolastik, dan juga oleh eksplorasi tentang hakikat realitas puncak, memberikan arus intelektual utama 'irfan.
Perhatian khusus Imam Khomeini terhadap filsafat Islam, teosofi (hikmah), dan gnosis ('irfan), sangat besar demikian tulis Gregory Rose. Menurut Rose, terlambatnya Imam Khomeini diterima sebagai faqih panutan (marja' taqlid) aalah karena minatnya kepada filsafat dan 'irfan. Memang demikian, keengganan kepada filsafat dan 'irfan adalah lazim di kalangan para fuqaha Syi'ah. Yang pasti, Imam Khomeini adalah (figur yang) langka di kalangan para fuqaha Syi'ah dalam hal meperlakukan secara sama 'irfan dan filsafat Islam dengan fiqih diantara ilmu keagamaan." Meskipun teori politik Khomeini memang tidak sepenuhnya terpola oleh pengaruh-pengaruh 'irfan seperti teori-teori sebagian ulama Syi'ah namun terdapat cukup indikasi adanya pengaruh neo-Platonik dalam pemikiran Khomeini.
Dalam mempelajari kedua ilmu tersebut Imam Khomeini banyak dipengaruhi oleh para pemikir dan ulama terkemuka terutama dari kalangan Syi'ah, seperti; Nashiruddin Thusi, yang dengan tulisan-tulisannya membela tulisan–tulisan metafisis Ibnu Sina terhadap serangan teolog; Ibnu Arabi yang karya-karyanya mencerminkan aspek mistis dari hikmah. Shadruddin Syirazi atau yang lebih dikenal dengan Mulla Shadra (w. 1641) dengan konsep kearifan trensenden (al-Hikmah al-Muta'aliyah) dalam kitab al-Asfar al-Arba'ah, kemudian sumbangsih syair mistis penyair Persia, Jalaludin Rumi (w. 1273) dan Hafiz Syirazi (w. 1390), yang merupakan mata rantai penghubung antara 'irfan dan hikmah.
Kendati pandangan-pandangan Imam Khomeini didasarkan pada ilmu 'irfanya, namun sejalan dengan kajian rasional dan tekstual agama. Sebab 'irfan Imam Khomeini pada dasarnya bersumber pada al-Qur'an dan para ahlul bayt, dan dijembatani oleh akal atau demonstrasi. Meski begitu, ketajaman rasional dan kedalaman tekstualnya tampak lebih lugas. Karenanya dalam mengungkapkan pandangan-pandangannya Imam Khomeini biasa menulis dengan gaya bahasa yang sederhana. Tulisan mistisnya senantiasa dibungkus dengan bahasa simbolik.[5]

Ali Shariati
            Menyimak proses terjadinya ‘revolution en massre’ di Iran, memang tak lepas dari sosok Khomeini yang ada di belakang gerakan massa terbesar di perempat abad terakhir ke-20 tersebut. Namun selain Khomeini, terdapat satu nama lain yang memberikan kontribusi signifikan pada keberhasilan proses revolusi Iran. Sosok tersebut adalah Ali Syariati. Gagasan-gagasan cemerlang, ceramah-ceramah bersemangat, ide-ide revolusioner, buku-buku inspiratif hasil refleksi Ali Syariati-lah yang berhasil memikat hati jutaan rakyat Iran untuk menggerakkan revolusi. Pengaruh Syariati bahkan sampai terbawa pada slogan-slogan revolusi. Slogan terkenal seperti “Setiap hari adalah Asyura, setiap bulan adalah Muharram, dan setiap jengkal tanah adalah Karbala” merupakan buah gagasan Syariati yang dikumandangkan rakyat Iran semasa demonstrasi menggulingkan Syah. Sehingga patut kiranya jika kedua tokoh tersebut kerap disandingkan sebagai dua orang tokoh utama revolusi Iran.
Biografi Ali Shariati
            Ali Shariati lahir pada tanggal 24 November 1933 di Mazinan, sebuah desa dekat Masyhad, Iran. Shariati lahir dari keluarga Syiah taat. Ayahnya, Muhammad Taqi’ Shariati terkenal sebagai pribadi religius yang taat mengamalkan ajaran agamanya. Selain itu, Muhammad Taqi merupakan seorang yang gemar terhadap ilmu pengetahuan. Ia merupakan seorang guru agama dan mujahid besar pendiri Markaz Nasyr Haqaiq al-Islamiyah. Dari ayahnya, Ali Shariati diajarkan mencintai ilmu pengetahuan dan kebenaran, serta menempatkan keduanya di atas segala-galanya.
            Ali Shariati sudah mengenal buku-buku filsafat dan mistisisme semenjak remaja. Selain itu ia juga menaruh minat besar pada karya sastra, syair dan kemanusiaan. Shariati muda melihat sendiri kondisi bangsanya yang melarat oleh despotisme rejim Shah. Shariati lalu pergi ke Tehran dan mulai mengajar di Institut Hosseiniye Ershad. Kuliah-kuliahnya sangat populer di antara mahasiswa-mahasiswanya dan akibatnya berita menyebar dari mulut ke mulut hingga ke semua lapisan ekonomi masyarakat, termasuk kelas menengah dan atas yang mulai tertarik akan ajaran-ajaran Shariati.
Shariati kemudian bergabung di sejumlah organisasi pergerakan untuk menyuarakan keprihatinannya. Aktifitas organisasinya mulai mengarah ke bidang politik ketika ia bergabung bersama kelompok pro-Mosaddeq, tokoh oposisi rejim penguasa. Selain itu ia juga bergabung dengan Gerakan Perlawanan Nasional (National Revolution Movement), dan mendukung upaya nasionalisasi industri minyak Iran. Atas aktifitas politiknya tersebut, Shariati sering mendapat tekanan dari penguasa, termasuk dijebloskan ke penjara.
            Setelah merampungkan pelajarannya di Masyhad, Shariati kemudian mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Universitas Sorbonne, Paris. Di Paris inilah, kemampuan intelektualnya semakin terasah. Minatnya pada ilmu-ilmu modern yang berkembang di Barat mendapatkan ladang subur dengan banyaknya buku-buku yang belum sempat ia pelajari di Iran. Shariati juga berkenalan dengan berbagai macam disiplin ilmu, lengkap berikut cendekiawan-cendekiawan yang ahli di bidangnya. Di Perancis, ia bertukar pikiran dengan para tokoh semisal Henry Bergson, Albert Camus, Jean Paul Sartre, Chandell, Frantz Fanon, Jean Berck, Louis Massignon, dan banyak lagi. Shariati juga sangat dipengaruhi oleh pemikiran Maulana Jalaluddin Rumi dan Muhammad Iqbal. Dari mereka, Shariati menyerap cakrawala pemikiran baru yang kemudian ia padukan dengan kerangka pemikirannya sendiri hasil dari ekspedisi intelektualnya sebelumnya.
            Selama di Perancis, ia juga aktif terlibat dalam Gerakan Kebebasan Iran (Nehzat e- Azadi). Gerakan ini mencurahkan perhatiannya pada usaha untuk menyadarkan bangsa Iran atas agar melawan pemerintahan tiran Shah Reza. Dalam Gerakan tersebut, Shariati sempat menerbitkan jurnal berbahasa Persia sebagai kontra argumen atas pemberitaan pemerintah Iran ke luar negeri yang dinilainya bias kepentingan penguasa. Melalui pesan-pesannya di jurnal tersebut, Shariati seakan melengkapi dan meneruskan perjuangan bangsa Iran di dalam negeri.
            Pada bulan September 1964, Shariati memutuskan kembali ke negara asalnya. Ia berniat untuk mengabdikan diri pada bangsanya. Akan tetapi usaha tersebut dicegat oleh pemerintah. Shariati ditangkap seketika tiba di Bazargan, daerah perbatasan Iran-Turki dan dijebloskan ke penjara. Ia dituduh melakukan aktivitas politik menentang pemerintah selama berada di Perancis. Setelah dibebaskan Shariati tetap berjuang menyuarakan ide-idenya. Berkali-kali Shariati mendapatkan tekanan begitu besar dari Pemerintah agar menghentikan kegiatannya tersebut, namun Shariati tidak menghiraukan. Pada bulan Mei 1977, Shariati memutuskan ke luar negeri dan pindah ke Inggris. Selang sebulan setelah itu, Shariati ditemukan tewas secara misterius di Inggris. Sejumlah pihak menduga bahwa kematiannya didalangi oleh SAVAK, badan intelejen bentukan Shah Reza Pahlevi untuk membungkam suara Shariati. Ia dikebumikan di Damaskus, Syria, dekat makam Sayyidah Zaenab, saudari Imam Husein.[6]

Pemikiran Ali Shariati.
            Sepanjang ekspedisi intelektualnya yang tak lama, Shariati menghasilkan sejumlah karya tulis yang monumental. Karya-karya tersebut ia dituliskan sebagai hasil refleksi pandangan dunia yang ia yakini dengan kenyataan masyarakat Iran yang membuatnya prihatin. Membaca karya Syariati, terpancar jelas gejolak hati yang berkobar, kecewa dengan apa yang ada di hadapannya, keterbelakangan masyarakat, kebodohan, pengebirian agama oleh pemerintah dan ulama bayaran negara, ketidak adilan dalam masyarakat, dan hegemoni paham materialistis Barat. Misi utama dalam karya-karya Ali Shariati bisa dibilang kembali ke ajaran asli Islam Syiah. Syiah Ali dan para Imam Ahl Bait, dan bukannya Syiah Dinasti Safawi ataupun Pahlevi. Syiah yang revolusioner terhadap ketidakadilan dan penindasan, dan bukannya Syiah formalitas tanpa ruh ala penguasa.

Ideologi Islam Revolusioner
            Shariati melihat ada problem besar terkait dengan kolonialisme dan imperialisme Barat. Ia memandang bahwa Barat telah sukses membuat umat Islam bodoh dan merasa inferior terhadap warisan tradisinya senidiri. Saat ini kebanyakan negara berkembang terlalu melihat ke Barat dan menganggapnya sebagai sebuah prototype peradaban ideal. Mereka, telah dihinggapi penyakit tergila-gila kepada segala sesuatu yang berbau Barat (Westoxication). Bagi Shariati, ini adalah sebuah kesalahan besar.
            Untuk bangkit dari keterpurukan peradaban, menurut Shariati jawabannya bukan pada Liberalisme, Kapitalisme maupun Sosialisme, tetapi Islam. Bagi Shariati, Islam-lah yang merupakan satu-satunya solusi yang menyelamatkan negara-negara Muslim dari penindasan. Shariati melihat bahwa di masyarakat Iran, Islam telah mengakar kokoh sedemikian kuatnya. Namun Syiah yang ada ketika itu adalah Syiah produk Dinasti Safawi dan Pahlevi yang mengamputasi semangat revolusioner yang ada dalam ajaran Syiah. Shariati ingin mengubah itu semua dan menjadikan ajaran Syiah sebagai akar dari perubahan menuju revolusi Islam. Untuk itu, Shariati berupaya memperlihatkan watak revolusioner dari ajaran Islam, terutama Syiah.
Masyarakat Islam setelah bersentuhan dengan peradaban Barat terbagi menjadi beberapa kecenderungan. Pertama adalah mereka yang western-centris. Mencoba meniru apa saja yang berasal dari barat. Kecenderungan inilah yang coba dipraktekkan oleh penguasa Shah di Iran. Sedangkan yang kedua adalah sebagai antitesa dari kecenderungan pertama, dengan mencoba mempertahankan pemahaman tradisional atas agama, dan pro status quo. Kedua kelompok ini, menurut Shariati sama-sama tidak progresif dan kurang menampung nilai-nilai Islam yang sejati. Di tengah kedua kutub ekstrim diatas, terdapat golongan ketiga yang menggali watak dasar Islam yang progresif untuk kemudian dikontekstualisasikan untuk menghadapi problem aktual yang terjadi di masyarakat. Golongan ini diperankan oleh Jamaluddin al-Afghani, Abduh dan beberapa pemikir seperti mereka. Meskipun dianggap mewakili semangat Islam, namun menurut Ali Shariati, jumlah mereka sangatlah kecil. Masyarakat awam masih sangat sulit mengikuti ide-ide brilian mereka[7].
Untuk itulah, Shariati berupaya membuktikan bahwa Islam adalah agama yan progresif, dan vokal menentang penindasan. Untuk menarik dukungan massa banyak, Shariati juga menunjukkan bahwa dalam masyarakat Iran Syiah telah lama mendarah daging, untuk itu mereka hanya perlu menggali kembali ajaran revolusioner dalam Islam. Untuk memperkokoh landasan bagi keyakinan Islam, Shariati mensyaratkan pemahaman yang benar tentang tauhid.             Bagi Shariati, tauhid adalah dasar pijakan dalam bergerak, ia merupakan pandangan dunia bagi seorang muslim.[8]
Selanjutnya, Shariati menjadikan doktrin kesyahidan sebagai manifestasi penyerahan diri yang total, baik berupa pengorbanan jiwa, dan fisik, demi tercapainya tujuan mulia.[9] Semua langkah yang diperkenalkan Shariati sejatinya mengerucut pada satu tujuan, yaitu pembaharuan Islam. Menurut Shariati, masyarakat Islam membutuhkan reformasi religius seperti yang terjadi pada sejarah Eropa, ketika gerakan Protestanisme berhasil meruntuhkan dominasi gereja. Demikian pula dengan Islam, harus mampu melewati situasi yang sama untuk bergerak dari fatalisme menuju sebuah perwujudan dinamis suatu ideologi revolusioner. “Apa yang kita butuhkan sekarang ini adalah karya-karya manusia seperti Luther dan Calvin, karena mereka berhail melakukan transformasi etika katolik ke dalam suatu gerakan dan kekuatan baru yang kreatif”, ujar Ali Shariati.[10]

Empat Penjara Yang Menghalangi Manusia Bereksistensi
Shariati menilai bahwa secara umum, ada 4 penghalang bagi manusia untuk dapat menjadi manusia sejati, yaitu; ketidaksadaran sebagai manusia (al-insan), tidak adanya kesempatan untuk memilih, tidak adanya kreatifitas, dan terakhir sekaligus yang terburuk adalah egoisme manusia. Keempat penghalang tadi merupakan penjara yang mencerabut manusia dari esensi kemanusiaannya. Untuk itu manusia perlu mengerahkan daya usahanya memberontak dari keempat penjara tadi.
Pertama adalah manusia harus menyadari eksistensi dirinya sendiri sebagai manusia. Shariati membuat pembedaan tipe manusia sebagai al-basyar dan al-insan. Manusia sebagai al-basyar digambarkan Shariati tak ubahnya seperti hewan. Mereka adalah makhluk yang gemar bertengkar. Memakan bangkai saudaranya sendiri, menumpahkan darah, suka dengan peperangan, dan menjadikan bumi sebagai rimba raya, siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Manusia yang hanya menuruti hawa nafsunya adalah manusia model al-basyar. Ia terperangkap dalam kungkungan materialisme, sehingga semua yang dia lakukan tak lepas dari dorongan materi dan syahwati. Sedangkan tipe al-insan adalah manusia yang menyadari bahwa dirinya adalah pancaran dari Tuhan. Ia adalah makhluk yang dianugerahi akal dan hati sehingga mampu membedakan mana yang baik dan buruk. Manusia jenis ini sadar akan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi sehingga selalu berupaya menebarkan kebaikan dan kasih sayang sesama makhluk.
Kedua adalah kebebasan memilih. Shariati mengungkapkan bahwa esensi dasar dari manusia adalah memilih. Ia membandingkan diktum terkenal Descartes, Cogito ergo Sum (Aku berpikir maka Aku ada), pernyataan Andre Gide “Aku merasa maka Aku ada”, dan Albert Camus “Aku memberontak maka Aku ada”. Dari ketiga diktum diatas, tidak ada yang salah dari ketiganya. Namun menurut Shariati, diktum yang ketiga-lah yang menperlihatkan proses ‘menjadi’ dengan sangat dramatis. Konsep Camus mengenai pemberontakan melawan alam, masyarakat dan kebiasaan-kebiasaan adalah dilandasi oleh keinginan manusia untuk memilih bagi dirinya sendiri. Ia memberontak untuk menyatakan eksistensi dirinya. Dengan kesadaran akan eksistensi diri, manusia selalu berupaya untuk memilih apa yang terbaik bagi dirinya sendiri. Demikian esensi dari pemberontakan.
Ketiga adalah kreatifitas. Menurut Shariati, manusia yang menjadi, atau manusia sejati adalah manusia tiga dimensional, manusia dengan kesadaran akan tiga talenta: kesadaran, kemampuan iradah dan daya cipta. Ketiga sifat diatas merupakan atribut Tuhan, oleh karena itu manusia juga memiliki kualitas-kualitas tertentu dari Tuhannya. Dengan adanya ketiga unsur diatas, manusia dapat menciptakan berbagai barang-barang dengan berbagai bentuk untuk mengisi kebutuhannya. Manusia sadar bahwa alam tidak dapat menyediakan semua yang ia butuhkan, untuk itu ia perlu berpikir kreatif untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan demikian. Dengan adanya daya kreatifitas, manusia sanggup menunjukkan jati diri yang dikehendakinya. Dan daya cipta inilah yang membedakan manusia dengan seluruh makhluk lainnya.
Keempat adalah yang terburuk dari semuanya, yaitu egoisme manusia. Ia menjadi penjara terburuk menurut Shariati adalah karena dinding yang memperangkap diri manusia ini ada pada dirinya sendiri. Jika ketiga penjara diatas adalah penjara eksternal maka yang terkahir ini merupakan penjara internal, manusia terkurung dalam dirinya sendiri, oleh dirinya sendiri, sangat absurd. Absurditas ini diilhami upaya manusia untuk melakukan segala sesuatu yang memuaskan keinginannya. Setelah keinginan-keinginan itu terpenuhi, pikirannya kemudian, dipenuhi keinginan-keinginan lain, demikian seterusnya. Sampai pada suatu titik ia sadar bahwa keinginan tersebut adalah hampa belaka. Kenyataan bahwa manusia yang terlampau jauh jatuh dalam jurang materialistis seperti yang kita temukan di abad modern ini tidak menjadikan manusia sadar akan dirinya sendiri, sebaliknya manusia menjadi semakin teralienasi dari dirinya sendiri. Dia menjadi bingung, lesu, dan linglung karena tak tahu apa yang sebenarnya ia cari. Akhirnya jatuhlah dia pada lubang kesia-siaan.[11]

Rausyan Fikr, Manusia Ideal dan Aktor Revolusioner
            Manusia yang sanggup melewati keempat rintangan diatas adalah manusia ideal, atau dalam bahasa Ali Shariati, Rausyan Fikr. Manusia jenis ini adalah manusia yang memiliki pengertian yang jelas mengenai pandangan hidup, ideologi, dan pemikiran yang dapat membantunya mengembangkan suatu pola pemikiran yang progresif kepada masyarakat. Rausyan Fikr juga memiliki keyakinan kuat untuk menumbangkan status quo dalam sebuah revolusi. Manusia tercerahkan ini sanggup untuk memimpin gerakan progresif dalam sejarah dan menyadarkan umat terhadap kenyataan kehidupan. Ia akan mempelopori gerakan revolusioner untuk merombak stagnansi, sebagaimana rasul-rasul selalu muncul untuk mengubah sejarah dan menciptakan sejarah baru melalui sebuah revolusi.[12]
            Bagi Shariati, Rausyan fikr merupakan kunci pemikirannya karena tidak ada harapan untuk sebuah gerakan perubahan tanpa melalui perantaraan mereka. Mereka terbedakan dari para intelektual yang cukup nyenyak berada di menara gading intelektualitasnya sembari abai terhadap kenyataan yang berlaku di masyarakat. Sebaliknya, Rausyan fikr adalah mereka yang turun ke jalan bersama-sama para umat dengan membawa ide-ide langit hasil kontemplasinya. Mereka bertindak sebagai katalisator yang mampu menggerakkan massa untuk dapat mencapai loncatan kreatif menuju sebuah peradaban baru yang lebih ideal.

Kesimpulan
            Revolusi, sebuah perubahan tatanan status quo menuju sebuah tatanan baru yang lebih baik tidak mungkin muncul tanpa adanya orang-orang hebat di baliknya. Sebuah proses revolusi selalu membutuhkan katalisator, motor penggerak yang menawarkan ide-ide baru menggantikan kekuasaan kuno yang desposit, korup, dan acuh terhadap masyarakat.
            Revolusi Iran, sebuah revolusi yang menggoncangkan dunia dan menumbangkan rejim Shah, ternyata muncul dari ide-ide yang berkembang di pengajian-pengajian Khomeini, dan ceramah-ceramah Shariati. Keduanya, memainkan peranan besar dalam mendorong masyarakat Iran menemukan jati diri mereka yang selama ini disumbat tangan besi kekuasaan. Keduanya berhasil meyakinkan masyarakat Iran bahwa Islam bukanlah agama ritus ibadah belaka. Islam adalah agama progresif-revolusioner yang mendorong umatnya untuk selalu adaptif terhadap jaman, pun concern terhadap ketidakadilan sosial. Ketika ide keduanya mendapat sambutan masyarakat Iran, maka yang terjadi kemudian adalah sebuah revolusi Islam yang menggetarkan dunia.


Daftar Pustaka
Basyir Musa Nafi’, al-Islamiyun, (Beirut: Arab Scientific Publisher)
Ali Rahnema (ed.), Para Perintis jaman Baru Islam, terj. (Bandung: Mizan, 1997)
Firdaus Syam, Pemikiran Politik Barat, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007)
R.K. Ramzani, Revolutionary Iran, (Baltimore dan London: The John Hopkins University Press, 1988)
Mohsen M. Milani, The Making of Iran’s Islamic Revolution, (Oxford: Westview Press, 1994)
Eko Supriyadi, Sosialisme Islam: Pemikiran Ali Syariati, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003)
Ali Shariati, Tugas Cendekiawan Muslim, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995)