Thursday, August 30, 2012

Proyek Emiratisasi Dan Pengaruhnya Terhadap Proses Menuju Masyarakat Kosmopolitan Di Dubai



 
Seiring dengan semakin meluasnya globalisasi menyebabkan manusia semakin terikat satu sama lain. Orang-orang dari seluruh penjuru dunia dapat saling berkomunikasi dan berinteraksi berkat perkembangan massif dunia informasi dan mode transportasi hal ini kemudian semakin menegasikan peran negara dalam membangun masyarakat yang homogen. Masyarakat suatu negara yang tadinya memiliki keunikan identitas dan kultur semakin terancam dengan kedatangan para imigran dari berbagai latar belakang budaya berbeda. Dalam satu wilayah yang ditinggali manusia dari seluruh penjuru dunia maka meniscayakan percampuran semua kebudayaan. Dalam masyarakat kosmopolit seperti itu berkembanglah kemudian pergumulan kebudayaan antara budaya pribumi dan pendatang.

Dalam makalah kecil ini penulis ingin mendiskusikan posisi Dubai yang berkembang menjadi salah satu kota yang dianggap cosmopolitan di dunia. Apakah benar Dubai dapat dianggap sebagai kota cosmopolitan? Fenomena social apa sajakah yang terjadi dalam kota yang dianggap sebagai ikon kota masa depan dunia ini? Bagaimanakah hubungan minoritas-mayoritas dalam konstruksi social masyarakat Dubai modern? Serta bagaimanakah peranan yang dimainkan pemerintah Dubai menyikapi fenomena baru tersebut?


Dubai, Kota Masa Depan

Booming minyak yang terjadi pada decade 1960 an membawa perubahan sigifikan kondisi Dubai. Daerah yang semula masyarakatnya terkenal sebagai masyarakat nomaden badui dan nelayan mutiara berubah drastis menjadi daerah industri yang berkembang cukup pesat hanya dalam kurun waktu 4 dekade saja. Sejak dulu masyarakat Dubai memang sudah berinteraksi dengan beberapa komunitas pendatang, seperti dari Iran, dan Afrika. Namun ledakan mampu lebih banyak menarik orang-orang pendatang dari lebih banyak negara daripada yang pernah disaksikan negara tersebut.

Hari ini Dubai sangat terkenal sebagai salah satu daerah paling kaya di dunia. Dengan pendapatan nasional yang didapat dari minyak bumi dan gas alam mampu menghasilkan $ 37 miliar pada tahun 2006. Belum lagi ditambah pendapatan dari sektor lain seperti real estate dan konstruksi yang menyumbang 22,6% dari pendapatan nasional. Dubai telah menarik perhatian dunia dengan berbagai proyek ambisius yang megah dan inovatif. Proyek menara burj Dubai dan burj khalifah merupakan menara tertinggi dunia, hotel bintang tujuh pertama di dunia, ski indoor terbesar di dunia dan mall terbesar di dunia, belum lagi ditambah pulau buatan (palm Jumaerah) dan banyak lagi terobosan baru yang sangat menakjubkan sehingga menjadikan Dubai sebagai kota idaman masa depan.

Dubai Kota Kosmopolitan?
Menurut Orion Kriegman, salah satu kategori suatu masyarakat di satu wilayah dapat digolongkan sebagai masyarakat cosmopolitan, selain terdiri dari komposisi etnis dan bangsa yang bermacam-macam adalah adanya satu kesadaran bersama sebagai bagian dari keluarga manusia, dengan memiliki tanggung jawab satu sama lain. Tanggung jawab tersebut sama seperti yang mereka miliki terhadap negara, keluarga asal, dan etnis mereka sendiri. (2006) Pertanyaan yang mengemuka kemudian, apakah Dubai dengan segala macam kemewahannya, dengan berbagai budaya orang-orang yang dating kesana layak dilebeli sebagai masyarakat cosmopolitan?

Dengan berbagai proyek supermewahnya, Dubai berhasil menarik banyak tenaga kerja di seluruh dunia. Sekarang, komposisi demografis penduduk Dubai terdiri dari 83 % pendatang dan hanya 17% penduduk lokal. Dari pendatang tersebut, terdiri dari etnis India (51%), Pakistan (15%), Bangladesh (9%), Philipina dan para ekspatriat Eropa (3%). Dengan banyaknya pendatang yang memenuhi Dubai tersebut maka tak heran jika etnis lokal semakin terdesak. Dominasi budaya pendatang nampak pada banyak area seperti makanan, gaya hidup, bahasa, dan banyak aspek kehidupan lain. Hal itu dapat terlihat pada penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa  yang dipakai pada banyak urusan di Dubai, mengalahkan bahasa Arab sebagai bahasa resmi negara.


Untuk melindungi eksistensi penduduk pribumi dan budaya lokal sembari tetap menjaga Dubai sebagai kota kosmopolitan, pemerintah Dubai di satu sisi banyak mensponsori kampanye toleransi dan penghormatan kepada masyarakat lain. Namun di saat yang sama menyadari keberadaan etnis emirati yang semakin terdesak di negara sendiri, pemerintah Dubai berinisiatf memberikan hak-hak istimewa yang melindungi mereka dari ekspansi budaya pendatang.

Proses pertumbuhan Dubai sebagai kota kosmopolitan dengan beragam budaya yang masuk didalamnya mendapat reaksi keras dari kalangan penduduk dubai hal ini semakin memperkuat tesis Anthony D. Smith bahwa imigrasi dan percampuran kebudayaan dapat memantik reaksi berlawanan dari penduduk pribumi yang merasa terancam kehilangan kebudayaannya. Program emiratisasi yang digalakkan pemerintah Dubai dapat dijadikan contoh kasus.

Pemerintah memberlakukan program yang disebut emiratisation, dimana program itu ditujukan untuk mendorong penduduk local menempati posisi-posisi penting di sector publik dan privat Pemberian hak privilege tersebut meliputi pemberian subsidi dari pemerintah dan hak-hak medapatkan fasilitas istimewa dalam negara. Kebanyakan warga emirate tinggal di vila-vila mewah terpisah dari penduduk lainnya. Mereka hidup nyaman dengan berbagai fasilitas melimpah pemerintah di wilayah Jumeira, Um Suqeim, dan Garhoud. Sementara para ekspatriat bule tinggal juga tak jauh dari wilayah yang ditempati penduduk asli, namun interaksi diantara mereka jarang sekali terjadi. Penduduk emirate hidup dengan sesamanya sendiri dan membentuk komunitas eksklusif berbeda dari penduduk lainnya. Sedangkan penduduk dari asia selatan atau asia tenggara menempati tempat-tempat pinggiran di wailayah old Dubai. Kondisi mereka boleh dibilang memprihainkan karena kerap mendapatkan diskriminasi sosial tanpa memiliki payung perlindungan hukum yang memadai.

Konklusi
Dari pembahasan singkat diatas terbukti bahwa proses menuju cosmopolitanisme tidak akan pernah mudah. Gesekan-gesekan antar kebudayaan dapat dipastikan akan selalu ada, terlebih penduduk pribumi yang merasa terancam dengan desakan mayoritas pendatang.dalam kasus Dubai diatas, terlihat sekali bahwa meskipun didalamnya hidup berbagai budaya namun tidak ada interaksi intim diantara mereka. Demografi penduduk Dubai cenderung bisa dikategorikan sebagai ‘salad bowl’ dimana berbagai kebudayaan tersebut cenderung berjalan sendiri-sendiri, acuh terhadap yang lain.

            Jadi dalam kasus Dubai diatas penulis menarik kesimpulan bahwa masyarakat Dubai belum dapat digolongkan sebagai masyarakat kosmopolitan. Itu disebabkan tidak adanya kontak intim antar kebudayaan, dan adanya tanggung jawab bersama diantara komunitas yang ada. Penggalakan program emiratisasi yang memberikan privilege kepada minoritas pribumi semakin menunjukkan bahwa pemerintah Dubai kurang mendukung proses menuju masyarakat kosmopolitan.


Referensi :
-          Featherstone, Mike (ed) Global Culture, Nationalism, globalization and modernity, London, Sage Publication 1990
-          Kriegman, Orion, Dawn of the Cosmopolitan, the hope of the global citizen movement, Boston, Tellus Institute, 2006