Thursday, August 30, 2012

Pengetahuan Sufistik Dzun Nun Al-Mishri



Aku meminta dengan nama-Mu yang menciptakan keajaiban-keajaiban penciptaan, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang berpikir, orang-orang yang melihat kebesaran-Mu, orang-orang yang pandai mengambil pelajaran, orang-orang yang melihat dengan mata hati mereka, sehingga mereka mendengar firman-Mu, hati mereka terpaut akan akhirat hingga hilanglah syahwat mereka pada dunia seisinya, tersinarilah mereka dengan cahaya hikmah yang menerangi gelapnya kelalaian pada-Mu,dan mereka yang memanjangkan dzikir mereka untuk memuji-Mu. (Dzun Nun)



Dalam diskursus sufisme, terkenal 2 aliran utama yang mewarnai peradaban Islam, tasawwuf sunni, dan tasawwuf falsafi. Pertentangan di antara ke dua aliran ini sungguh sangat tajam. Para penganut tasawwuf sunni menuduh mereka yang beraliran sufi-falsafi sebagai pembuat bid’ah, terpengaruh budaya-budaya asing-kafir, keluar dari ajaran Islam orthodoks. Konsekuensinya, mereka kerap diburu, dikejar-kejar bahkan tak jarang menemui ajal di tangan para musuh-musuh ideologisnya. Sebaliknya, pengikut kategori sufi falsafi sering memicingkan sebelah mata kepada mereka yang mengikuti ajaran tasawuf sunni. Kaum lawan ini oleh para pengikut sufi falsafi dipandang sebagai orang-orang yang kurang memiliki kepekaan hati, kaum tekstual (dhahiri), dangkal keilmuan serta penjilat penguasa.

Sejatinya, apabila ditarik garis ke belakang, geliat gerakan tasawwuf falsafi mulai nampak pada sekitar abad 2 H. Pada masa itu, kekuasaan Islam sudah sangat luas membawahi kawasan-kawasan sekitar. Pemeluk Islam sendiri sudah sangat plural tidak hanya dari bangsa Arab saja, melainkan etnis-etnis lain yang disambangi dakwah Islam, seperti Berber, Persia, Koptik, Nubean, dan lain-lain. Dengan datangnya dakwah Islam, mereka yang sudah memiliki peradaban cukup maju mulai melakukan asimilasi budaya dan sinkretisasi pemikiran. Alam bawah sadar mereka tidak dapat begitu saja meninggalkan kearifan lokal yang sudah diwariskan nenek moyang mereka selama bertahun-tahun. Apalagi mengingat ajaran Islam sendiri lebih banyak membicarakan topik-topik yang bersifat global, sehingga membuka kesempatan luas bagi pewaris kebudayaan kuno untuk menafsiri Islam sesuai pandangan mereka tentang dunia (weltanschung).
Terma-terma seperti; makrifat, wihdatul wujud, nasut, lahut, hulul, ittihad, merupakan segelintir dari pengaruh kebudayaan-kebudayaan kuno yang terserap oleh tradisi Islam. Oleh beberapa kalangan, ajaran-ajaran yang bersumber dari peradaban kuno tersebut memberikan ekses negatif terhadap ajaran Islam murni. Ia dituding sebagai pintu gerbang utama kemungkaran, bid’ah dan penodaan agama sehingga layak diberangus. Namun di sisi lain, banyak yang tak sependapat dengan pandangan tersebut. Kelompok pendukung ini memandang bahwa justru produk-produk pemikiran dari kebudayaan kuno tersebut dapat menambah khazanah kebudayaan Islam. Mereka berapologi bahwa selama Islam tidak memberikan batasan-batasan final mengenai ruang interpretasi itu berarti ruang penafsiran akan selamanya terbuka bagi pendapat-pendapat oposisi.
Salah seorang sufi yang dipandang sebagai peletak batu pertama penafsiran-penafsiran sufistik dengan kecenderungan filosofis adalah Dzun Nun Al-Mishry. Keahliannya sebagai seorang ahli kimia dan kemahirannya menguasai bahasa Suryani, Koptik serta pengetahuannya akan tradisi kuno bangsa Mesir merupakan faktor determinan yang membuat corak tasawuf Dzun Nun ditengarai ‘berbau’ filsafat. Masa sebelum Dzun Nun, tasawuf hanya dimaknai sebatas ritual-ritual ibadah yang mengarahkan hamba kepada Tuhannya. Tasawuf dipahami sebagai seperangkat metode-metode latihan jiwa seperti yang dicontohkan Nabi dan generasi salaf al-salih. Kecenderungan praksis pada diskursus sufisme demikian terus berlangsung hingga era Dzun Nun. Baru pasca munculnya Dzun Nun, mulai marak tradisi baru dalam tasawuf, yaitu kecenderungan teoritis. Jika sebelumnya tasawuf hanya menekankan dimensi praksis, mulai periode ini suluk-suluk sufi diberi pemaknaan secara teoritis. Pengertian hal, maqam, hub Illahi, makrifat, dan sebagainya merupakan sebentuk upaya teoritisasi ajaran tasawuf.  Manfaat dari teoritisasi ini adalah semakin memahamkan para salik terkait tujuan dan metode yang mereka tempuh dalam mendekati Tuhan.
Upaya Dzun Nun meperkenalkan konsep makrifat, memberikan pengertian tentang maqam dan ahwal merupakan langkah progresif dalam pengembangan ilmu tasawuf. Bisa dibilang usahanya tersebut sebagai bentuk pertama peralihan tradisi tasawuf suni menuju tasawuf falsafi. Dr. Abdul Qadir, seorang pemerhati kajian sufisme menjuluki Dzun Nun sebagai ‘mata rantai utama’, ‘jembatan penghubung’ yang mengkoneksikan ajaran tasawuf tradisional dengan tasawuf falsafi.


1. Pendahuluan
Jalan sufi adalah jalan panjang nan berliku. Ia dipenuhi berbagai duri dan onak tajam. Tak mudah untuk melakoninya. Namun buah agung niscaya akan didapat, bagi mereka yang dengan tekun menapakinya tanpa lelah; Pertemuan dengan Tuhannya. Pertemuan itu tak melulu harus menunggu saat kelak di akhirat. Hal itu dapat terjadi di dunia ini, saat para sufi terbuai dalam ekstase, saat itu pula tersingkap hijab alam  malakut dan terpancar jelas ‘wajah’ Tuhan di hati para penghasrat-Nya. Tuhan menampakkan diri  pada hamba-Nya yang saleh. Sebagaimana tersebut dalam hadis qudsi ‘Langit dan bumi tak mampu untuk mewadahi-Ku, hanya hati hamba-Ku yang mukmin yang sanggup mewadahi-Ku’.
Para Sufi memiliki hasrat tak terbendung untuk mendapatkan pengetahuan mengenai Tuhannya. Ia disebut-sebut sebagai pengetahuan tertinggi diatas segala pengetahuan yang ada. Ia tidak dapat dikenali dengan indera telanjang, pun juga dengan rasio manusia yang terbatas itu. Pengetahuan itu tidak didapatkan melalui jalan belajar, menuntut ilmu dan melakukan riset. Hanya melalui hati, yang diberkati dengan terang cahaya  illahi pengetahuan itu dapat teridentifikasi. Wa man yuridillahu an yahdiyahu yasyrah shadrahu lil islam. Barang siapa yang dikehendaki Tuhan untuk mendapatkan petunjuk-Nya, maka dilapangkan hatinya untuk menerima Islam.
Pengetahuan hakiki hanya bisa didapatkan dengan menjalani laku suluk, karena sebagaimana wejangan Al-Ghazali; ‘Para Sufi adalah mereka yang melakoni ritual-ritual sufistik, dan bukan mereka yang hanya pandai berkata-kata’.[1] Laku suluk merupakan satu-satunya jalan para sufi untuk menemukan pengetahuan hakiki. Dalam usahanya untuk itu para sufi terbiasa melakoni serangkaian mujahadah, mulazamah kepada Allah, dan memilih pola hidup asketis (zuhud). Hal itu dilakukan terus-menerus dan berkesinambungan. Dengan hal itu dimaksudkan untuk mengikis syahwat-syahwat badani; makan, tidur, hubungan seksual, dan penyakit-penyakit hati; tamak, dengki, amarah, iri hati, dsb.
Ketika ritual demikian telah dilakukan maka hasilnya adalah sucinya hati dari segala kotoran penyakit yang menggerogotinya. Tatkala hati itu telah bersih, itu berarti ia telah siap untuk menerima sapaan Nur Illahi. Pada saat itulah sang sufi akan masuk dalam tingkat makrifat, yaitu menemukan pengetahuan sejati yang bersumber dari Dzat Maha Terpuji, Allah Ta’ala.

2. Jalan Hidup Dzun Nun Al-Mishri
Nama lengkapnya adalah Abu Faidh Tsauban bin Ibrahim Dzun-Nun Al-Misry Al-Akhmimy. Ia lahir di Ekhmim, Sohag sebuah daerah di Mesir pada 796 H. Selain dikenal sebagai salah seorang palang pintu sufi, Dzun Nun juga mahir dalam bidang kimia.
Nama Dzun Nun yang disematkan padanya merujuk pada suatu peristiwa unik yang terjadi kepadanya. suatu ketika Dzun Nun menumpang sebuah kapal saudagar kaya. Tiba-tiba saudagar itu kehilangan permata yang amat berharga. Dzun Nun dituduh mencurinya.Dzun Nun disiksa dan dianiaya serta dipaksa untuk mengembalikan permata yang hilang itu. Dalam keadaan tersiksa dan teraniaya itu, ia menengadahkan kepalanya ke langit sambil berdo’a “Wahai Tuhan, Engkaulah Yang Maha Tahu. Mendadak muncullah ribuan ekor ikan Nun ke permukaan air mendekati kapal sambil membawa permata yang lebih besar dan indah di mulut masing-masing ikan. Dzun Nun lalu mengambil salah satu permata dan menyerahkannya ke saudagar tersebut. Sejak peristiwa aneh itu, ia digelari Dzun Nun, artinya yang empunya ikan nun.
Riwayat hidup Dzun Nun al Mishri tidak banyak diketahui, namun riwayatnya sebagai seorang sufi banyak dibicarakan. Dikatakan, Ayah Dzun Nun adalah seorang dari suku Nubean. Ia dibesarkan di lingkungan masyarakat Koptik Mesir. Dari pergaulannya inilah ia memahami bahasa Koptik dan mampu menjelaskan simbol-simbol rahasia tradisi Kristen di Mesir. Ia juga dikenal pandai membaca tulisan mesir kuno (hieroglyph).
Dzun Nun dalam perjalanan hidupnya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Ia pernah menjelajahi berbagai daerah di Mesir seperti Jabal Muqattam, Pesisir Nil, Barabe, Fusthat, Makkah, Hijaz, Syiria, Pegunungan Libanon, Antiokia, Gunung Nisan dan lembah Kan’an. Hal ini memungkinkan baginya untuk memperoleh pengalaman yang banyak dan mendalami sejumlah ilmu. Beliau berguru hadist pada Imam Malik bin Anas di Madinah, dan sering bertemu dengan Ahmad bin Hambal, Ma’ruf al Kakhy, Sirri al Saqathi dan Bisri al Hafi. Semuanya adalah tokoh-tokoh tasawuf terkemuka pada jaman itu. Adapun yang pernah mengambil riwayat darinya adalah al Hassan ibn Mush’ib an Nakha’i, Ahmad bin Shobih Al-Fayumi, Hasan bin Mush’ab, Junaid bin Muhammad, dan seorang sufi masyhur, Sahl al-Tustari, . Sedangkan gurunya di bidang tasawuf adalah syarqam al Abd atau Israfil al Maghribi sehingga memungkinkan baginnya untuk menjadi seorang yang ‘alim, baik dalam ilmu syari’at maupun tasawuf.
Dzun Nun terhitung salah seorang punggawa ilmu syariat sekaligus pemimpin para ulama tasawuf. Ia mumpuni dalam bidang fiqih, pandai dalam tasawwuf serta menguasai ilmu-ilmu Kimia. Sehingga dari kepandaiannya dalam bidang Kimia inilah ia digolongkan dalam thabaqat ulama Kimia, sejajar dengan Jabir bin Hayyan, Kimiawan Muslim terkemuka. Dalam bidang Kimia ia memiliki beberapa kitab diantaranya; “Kitab Ar-Rakn Al-Akbar”, “Kitab Al-Tsiqoh fi Al-Shon’ah”, dan “Kitab Al-‘Ajaib”.
Karena kemahirannya dalam bidang kimia serta pengetahuannya mengenai rumus-rumus Kekristenan, Pada tahun 829 M Dzun Nun dikirim ke Khalifah Al-Mutawakkli di Baghdad karena dianggap melakukan bid’ah dan ia dituduh zindiq. Namun setelah dikonfirmasi oleh Khalifah Dzun Nun dinyatakan bersih dari tuduhan. Bahkan ia sempat memberi khalifah wejangan dan nasehat yang membuatnya meneteskan air mata. Akhirnya Dzun Nun dibebaskan dengan rasa hormat. Ia kembali ke Mesir sampai wafatnya pada 245 H di Giza dalam usia 90 tahun. Diantara karomahnya, konon saat pemakamannya tersebutlah burung-burung beterbangan di atas keranda jenazahnya, mengepakkan sayap-sayap mereka seolah hendak turut mengantar kepergian sang Arif Billah.

Pengetahuan Sufistik (Al-Ma’rifah Al-Shufiyah)
Dzun Nun Al-Mishri dikenal sebagai punggawa para Sufi, sampai-sampai menurut Abdurahman Al-Jami seluruh gerakan tasawuf mesti disandarkan kepadanya. Dzun Nun adalah orang pertama yang memberikan tafsiran tentang isyarat-isyarat tasawuf, walaupun ada sejumlah guru sufi sebelumnya. Ia orang pertama Mesir yang berbicara tentang maqamat (jenjang-jenjang spiritual) dan ahwal (kondisi-kondisi spiritual), orang yang pertama memberikan definisi tentang tauhid dengan pengertian bercorak sufistik. Ia mempunyai pengaruh besar terhadap pemikiran tasawuf. Dengan demikian tidaklah mengherankan kalau sejumlah penulis menyebutnya sebagai salah seorang peletak dasar-dasar tasawuf di dunia Islam.
Dzun Nun juga sosok yang pertama kali memperkenalkan konsep makrifat di kalangan para ahli tasawuf. Sebelum era Dzun Nun, konsep makrifat memang beberapa kali muncul, namun Dzun Nun-lah orang yang mula-mula memperkenalkan terma makrifat dengan sentuhan tasawuf.
Menurut Dzun Nun Makrifat terdiri dari 3 bagian[2];
1.         Makrifat kaum awam
2.         Makrifat para teolog dan filosof
3.         Makrifat para sufi dan wali Allah.
Yang terakhir ini adalah makrifat yang sesungguhnya. Karena ia tidak didapatkan melalui jalan belajar, berpikir namun melalui ilham, dan mukasyafah yang dipancarkan Allah pada hati hambanya sehingga membuat sang hamba mengenal Tuhannya oleh sebab karunia Tuhannya. Perkataannya yang sangat terkenal :
عرفت ربي بربي لولا ربي ما عرفت ربي
“Aku mengenal Tuhanku karena Tuhanku, Apabila tidak karena Tuhanku aku tak akan mengenal Tuhanku”
Dzun Nun mengatakan; ada 3 macam cara yang dapat digunakan untuk mencapai makrifat, yakni dengan Qalb (hati), Ruh, dan Sirr (perasaan).  Sedangkan tanda-tanda yang dimiliki seorang Sufi bila sudah sampai tingkatan makrifat adalah;
a)      Selalu memancar cahaya makrifat padanya dalam segala sikap dan perilakunya. Karena itu, sikap wara’ selalu ada pada dirinya.
b)      Tidak menjadikan keputusan pada sesuatu yang berdasarkan fakta yang bersifat nyata, karena hal-hal nyata menurut ajaran tasawwuf belum tentu benar.
c)      Tidak menginginkan nikmat Allah yang banyak untuk dirinya, karena hal itu bisa membawanya kepada perbuatan yang haram.
Sedangkan makrifat itu sendiri ada tiga macam;
a)      Makrifat lisan, yaitu pengakuan
b)      Makrifat hati, yaitu pembenaran
c)      Makrifat jiwa, yaitu penyucian
Makrifat pada tingkatan pertama adalah makrifatnya orang awam, yaitu pengakuan akan kebesaran Allah dan kerendahan manusia. Ini juga dilandasi dengan pengakuan akan dosa-dosa dan kekotoran yang telah diperbuat seorang hamba. Dengan melakukan pengakuan ini si hamba juga seharusnya bertobat dari semua kekotoran duniawi.
Makrifat pada tingkatan kedua merupakan makrifat para khawas. Yaitu ditandai dengan pembenaran pada hati akan kemahakuasaan dan keagungan Allah. Dengan membenarkan dan menumbuhkan kesadaran bahwa ia bukanlah apa-apa dibanding kebesaran Allah akan menimbulkan sikap pasrah dan tak berdaya di hadapan Sang Khalik.
Sementara tingkatan makrifat tertinggi adalah makrifat para khawash al-khawaash. Yaitu mereka para sufi yang mengabdikan hidupnya pada Allah semata. Mereka senantiasa melakukan penyucian jiwa terus menerus dari segala hal yang melalaikan dari mengingat Allah. Tidak ada tempat di hati mereka selain Allah. Maka tidaklah mengherankan apabila para sufi yang telah sampai pada tingkatan ini merasa seakan-akan telah lebur jiwanya kepada Allah. Karena memang tidak ada lagi yang tersisa di hatinya selain Allah.
Dzun Nun berkata; “Makrifat pada hakikatnya adalah firman Tuhan tentang cahaya ruhani kepada kalbu-kalbu kita yang mendalam”. Tuhan menyinari hati manusia dan menhjaganya dari ketercemasan, sehingga semua makhluk tidak memiliki arti lagi, walaupun itu dirinya sendiri. Dalam keadaan ekstase yang demikian tersebut maka tidak ada artinya lagi segala sesuatu selain Allah. Eksistensinya akan fana (hancur) dan  ‘bersatu’ dengan Allah. Ia akan melihat dengan penglihatan Allah, mendengar dengan pendengaran Allah, melangkah dengan langkah Allah, berkata-kata dengan kata-kata Allah.
Pada saat inilah seorang ahli makrifat, berada di puncak kebahagiaan yang tak mampu dilukiskan dengan kata-kata, seperti dilukiskan Abu Bakr Wasithi; terputus dari segala sesuatu, bahkan ia bisu; tidak sanggup berkata-kata sesuatupun bahkan semuanya sifatnya sirna. Seperti keadaan Rasulullah ketika beliau dalam keadaan ketidakhadiran (ghaybat), bersabda; “Akulah yang paling fasih diantara orang Arab dan bukan Arab. Tetapi bilamana Allah bersamaku Aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan pujian kepada-Mu”. Jawaban datang; “Wahai Muhammad, jika engkau tidak berbicara, Aku akan berbicara. Jika engkau mengira dirimu tidak pantas memuji-Ku, Aku akan membuat jagat raya wakilmu, sehingga semua atomnya bisa memuji-Ku atas namamu”.[3]

3. Kontroversi seputar Konsep Makrifat Dzun Nun
Ada banyak kontroversi seputar pemikiran Dzun Nun Al-Misri. Di satu sisi apabila kita merujuk pada kitab Thabaqat Al-Shufiyah karya Al-Sulamy, maka disitu digambarkan sosok Dzun Nun yang seorang Sufi Sunni tulen. Perkataan-perkataannya yang dimuat dalam kitab tersebut menegaskan bahwa pemikirannya tidaklah jauh berbeda dengan mainstream umat islam. Seperti contoh ungkapannya mengenai hakekat seorang arif billah (ahli makrifat);
Sesungguhnya tanda-tanda seorang arif adalah; cahaya kemakrifatannya tidak memadamkan kewarakaannya, tidak meyakini apabila ilmu-ilmu batin dapat menganulir hokum-hukum dhahir, dan tidak mempercayai bahwa banyaknya nikmat Allah yang diberikan berupa makrifat-Nya dapat membatalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah.’
 Ungkapannya lagi mengenai mahabbah; ‘diantara tanda-tanda pencinta Allah adalah mengikuti segala tindak-tanduk kekasih Allah dalam akhlaknya, sunnahnya, perbuatannya, dan perintahnya. Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah terdapat orang-orang yang meninggalkan dosa karena malu atas kebesaran Allah, setelah mereka meninggalkan dosa karena takut akan siksa-Nya[4].
Dari teks yang dikemukakan diatas nampak bahwasanya Dzun Nun sama seperti para Sufi Sunni yang lain. Tidak terlihat ada kecenderungan pola piker filsafat dan gnostis di sini. Namun apabila kita mengikuti uraian-uraian yang dipaparkan Al-Mas’udi, Al-Qafthi, Al-Athar, maupun orientalis Nicholson maka akan kita dapati hal yang lain. Menurut mereka, Dzun Nun disinyalir merupakan sosok Sufi muslim pertama yang terkena pengaruh pemikiran filsafat Neo Platonisme dan Mistisisme Timur kuno. 
Al-Qafthi dalam bukunya Akhbar Al-Hukama bi Akhbar Al-Hukama menyatakan bahwa Dzun Nun termasuk jajaran kimiawan terkemuka seperti Jabir bin Hayyan. Bahkan ia termasuk salah satu murid jabir bin Hayyan yang paling cemerlang. Selain itu Dzun Nun juga terbukti mendalami mistisisme kuno dan ilmu filsafat. Dzun Nun sempat berdiam lama  di daerah Berba yang merupakan salah satu pusat kebudayaan kuno. Disana terdapat banyak sekali gambar-gambar menakjubkan, symbol-simbol agama kuno, dan Dzun Nun menguasai itu semua.[5]
Al-Mas’udi juga mengamini pendapat Al-Qafthi. Menurutnya, Dzun Nun menempuh jalan tersendiri dalam agama. Ia mengerti rumus-rumus mistisisme kuno. Sementara menurut Nicholson, selain mempunyai pengetahuan mumpuni terkait ilmu kimia dan rumus-rumus mistisisme kuno, Dzun Nun juga mempunyai keterkaitan hubungan dengan rahasia-rahasia agama Mesir kuno. Lebih lanjut Nicholson menuduh Dzun Nun mencampur tasawufnya dengan sihir yang didapatkan dari hieroglyph di Piramida, yang konon ditulis oleh Akhnuk (Hermes) orang pertama yang membangun Piramida dan kota-kota Mesir kuno. Jadi Kimia yang dimaksudkan disini oleh Nicholson bukanlah ilmu kimia seperti yang kita kenal sekarang, melainkan kimia yang digunakan para tukang sihir dan ahli nujum.[6]
Dr. Abdul Qadir Mahmud, seorang cendekiawan Mesir mengkritik pernyataan Nicholson diatas. Menurutnya, konklusi yang dikemukakan Nicholson terlalu prematur. Ia juga nampak berlebihan dalam mengaitkan antara keterlibatan Dzun Nun dalam kegiatan ilmiah dengan sihir dan ahli nujum. Tidak dapat dipungkiri bahwa Dzun Nun merupakan seorang ahli kimia.  Namun mengaitkan  kimia dengan karomah para sufi dan sihir sangatlah berlebihan.[7]
Menurutnya, Dzun Nun adalah seorang yang menekuni suluk sufi. Perkenalannya dengan filsafat, khususnya Neo Platonisme dan pengetahuannya akan tradisi mistisisme kuno membuatnya memilih jalan khusus dalam laku suluknya. Jika demikian halnya maka dapat dikatakan Dzun Nun merupakan orang pertama yang mewarnai perilaku suluk sufi dengan pemahaman-pemahaman dan tafsiran-tafsiran filsosofis.
Seperti tatkala ia membedakan antara makrifatullah dengan akal pikiran dan makrifat seorang sufi. Dzun Nun menyebutkan bahwa makrifat hakiki adalah makrifat yang digapai dengan menggunakan hati (musyahadah qalbiah). Makrifat Shufiyah, berbeda dengan aqliyah adalah satu bentuk makrifat yang dibenamkan Allah kepada manusia sejak jaman azali yang berguna menghubungkan kita, manusia di alam imanen dengan Allah yang transenden.
Mengenai makrifat, lagi Dzun Nun mengatakan  -seperti dikutip Al-Qusyairi, Al-Athar, Ibnu Nadim, Al-Thusi dan lainnya- ‘Sesungguhnya makrifatullah sebenarnya bukanlah pengetahuan akan keesaan Tuhan seperti jamak diketahui orang-orang beriman. Ia juga bukanlah ilmu-ilmu burhan dan aqliah seperti dipahami para filosof, teolog dan sastrawan, akan tetapi makrifatullah adalah pengetahuan sifat-sifat Allah yang dimiliki oleh para wali Allah. Sebab merekalah yang menyaksikan Allah dengan hati mereka dan tersingkaplah apa-apa yang tidak nampak kepada hamba Allah yang lain’.
Di lain kesempatan ia juga mengatakan “ Senantiasa seorang hamba mendekat kepada Allah sehingga terasa hilang dirinya, lebur (fana) dalam kekuasaan-Nya, para arif billah telah lebur jiwa mereka, mereka tidak dapat berdiri sendir, merasa hamba, bergerak karena digerakkan oleh Allah, bicara dengan ilmu yang telah diletakkan oleh Allah pada lidah mereka, melihat dengan penglihatan Allah, dan berbuat dengan perbuatan Allah.
Menurutnya juga, antara si hamba dan Tuhan harus terdapat cinta yang bersambutan, barang siapa yang hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Tuhannya maka akan nampak baginya dzat Tuhan dan ia menjadi Arifin muqorrobin, yang bersatu dengan Tuhannya. Dari pemikiran-pemikiran yang demikian inilah nampak tasawuf Dzun Nun mendapat pengaruh dari ajaran-ajaran Gnostis Ismailiyah, Mistisisme Timur, dan filsafat Neo Platonisme. Dr. Abdul Qadir Mahmud mengatakan bahwa pemikiran Dzun Nun tersebut merupakan jembatan penghubung antara tasawuf murni sunni dengan tasawuf falsafi yang banyak mendapat pengaruh dari ajaran-ajaran asing. Tasawuf Dzun Nun juga bias disebut batu loncatan pemikiran-pemikiran seperti ittihad, dan wihdatul syuhud.

4. Maqam dan Ahwal menurut Dzun Nun
1.      Maqam
Maqam menunjuk pada “keberadaan” seorang salik di jalan Allah, dan  ia dikenai kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan terkait dengan maqam itu. Seorang salik tidak boleh melalaikan tanggung jawabnya akan maqam yang ia tempati dan juga diharuskan menjaga maqam itu sehingga mencapai tahap kesempurnaan dalam suluk sufi. Jadi, maqam pertama adalah taubat, kemudian menyusul merubah sikap (inabat), kemudian zuhud lalu tawakkal kepada Tuhan, dan seterusnya. Setiap maqam harus ditapaki menurut tingkatannya, dari yang terendah hingga puncak maqam. Jadi, seorang salik tidak diperkenankan berubah sikap tanpa bertobat terlebih dahulu, atau zuhud tanpa berubah sikap, dan seterusnya.
Dzun Nun ditanya mengenai orang-orang lalai dan jalan untuk mengubahnya. Ia menjawab;  “Mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui jalan kepada Allah, dan tidak mau mengetahuinya”. Adapun cara untuk mendekat kepada Allah adalah; “ Pertama kali adalah engkau mencari-Nya, niscaya engkau akan mengetahui-Nya dan menemukan-Nya”. Ini adalah jalan inabah, yaitu seorang salik berusaha mencari Allah dengan mengubah perilakunya dari kebiasaan tercela menjadi terpuji. Maka ketika sang salik mulai mencari-Nya yang tersisa hanyalah harapan agar mendapatkan uluran inayah dan hidayah dari-Nya.
الله يجتبى من يشاء ويهدى اليه من ينيب
“Sesungguhnya Allah memilih orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi hidayah orang-orang yang kembali (ke jalan-Nya)”. (QS: Al-Syura 13)
Jadi ada 2 jalan untuk menggapai hakikat, yaitu jalan inabah, dan  ijtaba. Berkata Dzun Nun; “Pemberian-pemberian Tuhan adalah anugerah, sedangkan ketaatan adalah perbuatan yang diusahakan oleh hamba”.
Menurut Dzun Nun Manusia terbagi menjadi 2 macam; Darij, yaitu mereka yang meniti jalan iman, dan Washil, mereka yang melangkah dengan kekuatan makrifat. Tanda-tanda iman adalah ilmu sementara tanda-tanda makrifat adalah Allah Ta’ala.
Dzun Nun melukiskan jalan menggapai kebahagiaan hakiki dengan ungkapannya; “Seorang mukmin jika beriman kepada Allah den menancap imannya, maka ia akan takut kepada-Nya. Apabila ia telah takut pada-Nya lahirlah dari ketakutan itu rasahormat. Dari rasa hormat itu muncullah sifat taat. Ketika ketaatan sudah dilakukan, yang akan muncul selanjutnya adalah pengaharapan pada Allah. Setelah pengharapan itu timbullah perasaan cinta Illahiah yang diikuti dengan rasa rindu yang mendalam. Dari rindu itu kemudian mengantarkan ia pada taraf kelembutan (unss) pada Allah yang berbuah ketenangan (ithmi’an) kepada Allah. Barang siapa yang telah mencapai tingkatan ini maka malam-malamnya akan penuh dengan kenikmatan (na’im) tiada tara, demikaian pula dalam siangnya, di kala kesendiriannya, serta saat ia di tengah hiruk pikuk keramaian”.[8]
Jadi secara ringkas dapat dikatakan, untuk meniti jalan sufistik maka seorang penghasrat Tuhan harus; “mencintai Dzat yang Maha Indah (Al-Jalil), membenci dzat yang fana’ dan sedikit (Al-Fani Al-Qalil), mengikuti wahyu yang diturunkan (Al-Tanzil), dan takut akan berubahnya niatan penyucian dirinya (Al-Tahwil)”. [9] Kesemua itu terangkum dalam ayat Al-Qur’an: ففرواالى الله
“Kembalilah kalian kepada Allah”
Dari  sini dapat kita mengerti bahwa awal maqam yang harus ditempuh para pencari Tuhan adalah “kembali” kepada Allah, bertaubat dari perbuatan keji serta menyingkirkan segala hal yang dapat menyibukkan diri kepada selain Allah. Sedangkan titik akhir dari maqam adalah na’im.

2. Ahwal
Dalam Kasyful Mahjub, Al-Hujwiri menjelaskan ahwal adalah sesuatu yang turun dari Tuhan ke hati manusia tanpa mampu ia menolaknya bila datang, atau meraihnya bila pergi dengan ikhtiarnya sendiri. Ia merujuk kepada anugerah Tuhan kepada hamba-Nya yang tidak berkaitan dengan amalan perbuatan hamba, melainkan semata-mata karena kemurahan-Nya.[10]
Menurut Dzun Nun al Mishri, setiap maqam memupunyai permulaan dan akhir. Diantara keduanya terdapat aneka ahwal. Setiap maqam mempunyai symbol, dan setiap hal ditunjuk oleh isyarat. Penjelasan ini menunjukkan bahwa maqam berlangsung lebih lama dari ahwal. Maqam bersifat tetap, dan ahwal silih berganti, datang dan pergi. Walaupun demikian, seorang arif billah adalah mereka yang selalu bersama Allah kapanpun dan bagaimanapun ia berada. Perbedaan tingkatan maqam dan hal adalah perbedaan dalam tataran lahiriah, hanya terkait pada intensitas kedekatan pada Allah. Intinya Allah selalu dalam sanubari, meskipun dengan level bermacam-macam tergantung pada jenjang maqam dan hal yang ditapaki.





Daftar Pustaka

Al-Ghazali, Al-Munqidz min Al-Dhalal
Abdul Halim Mahmud, Dzun Nun, Kairo: Dar al-Rasyad, 2004
Al-Hujwiri, Kasyful Mahjub, Bandung: Mizan, 1982
Abu Abdurrahman Al-Sulamy, Thabaqat Al-Shufiyah, Kairo: Maktabah Al-Khanji, 1986
Al-Qafthi, Akhbar Al-Ulama bi Akhbar Al-Hukama’, Beirut
Nicholson, Fi Al-Tashawuf Al-Islami, Kairo: Darul Maarif, 2002
Abdul Qadir Mahmud, Al-Falsafah Al-Shufiyah fi Al-Islam, Kairo: Darul Fikr, 1967