Thursday, August 30, 2012

Pengaruh Globalisasi terhadap Kebangkitan Kembali Identitas Berber di Maroko



Pendahuluan
Berber adalah etnis grup yang hidup tersebar di kawasan Afrika Utara, mulai dari oasis Siwa di Mesir, sepanjang garis pantai Mediterania, Gunung Atlas di Maroko, di sepanjang sungai Niger, hingga di Kepulauan Canary. Keberadaan mereka ditemukan sebelum kedatangan orang-orang Arab di wilayah tersebut. Pasca penaklukan oleh Arab yang membawa Islam, proses asimilasi dan akulturasi kebudayaan dimulai. Masyarakat Berber berduyun-duyun masuk Islam dan mulai mengadopsi Bahasa Arab menggantikan dialek lokal mereka. Orang Berber-Islam bahkan sempat mendirikan dinasti Islam Al-Moravid dan Al-Mohed yang memerintah dari daerah Maghrib (Maroko) hingga Semenanjung Iberia (Portugal) dan Andalusia (Spanyol).
Di era post-kolonial, pemimpin yang berkuasa di wilayah tersebut memproklamirkan negara mereka sebagai negara Arab dan hanya mengakui Bahasa Arab sebagai satu-satunya bahasa resmi negara. Identitas Berber semakin terpinggirkan. Di Libya, Pemerintahan Khadafi melarang menggunakan Bahasa Berber atau memberi nama anak dengan nama Berber. Di Maroko,  identitas Berber tidak pernah diakui oleh pemerintah, kendati mayoritas orang Maroko beretnis Berber. Sementara di Aljazair terjadi bentrokan hebat antara kalangan Islamis yang berasosiasi kepada Arab dan kelompok masyarakat yang menuntut pengakuan pemerintah atas warisan kebudayaan mereka.
Laju Globalisasi 2 dekade terakhir membawa angin segar bagi para aktivis Berber.  Perkembangan teknologi informasi, khususnya internet membuat mereka leluasa menyebarkan pesan-pesan mereka ke seluruh dunia. Para aktivis tersebut menyatakan bahwa identitas mereka bukanlah Arab seperti yang selama ini banyak disangka. Mereka juga mempromosikan budaya Berber dan memperjuangkan hak-hak mereka melalui situs-situs internet. Sebelum era teknologi global, identitas Berber masih menjadi urusan internal masing-masing negara, dalam artian komunitas Berber di Maroko tidak mengenal ‘saudara’ mereka di Aljazair, Libya, Tunisia, atau Mali. Mereka terkotak-kotakkan menjadi sub grup yang terpencar-pencar (seperti Riffians, Shluh, Tuareg, dan Kabyle) dan tidak memiliki signifikansi terhadap komunitas Berber lainnya.
Pandangan umum yang beredar adalah bahwa globalisasi membawa dampak negatif mengabaikan dan menekan budaya lokal hingga titik terendah.  Akan tetapi tulisan ini mencoba menampilkan efek positif dari booming-nya globalisasasi terhadap kemunculan kembali budaya lokal yang telah lama terpinggirkan. Apakah identitas lokal Berber dapat bangkit kembali di era globalisasi sekarang ini? Ataukah ia tetap pada posisinya semula, terpinggirkan oleh dominasi penguasa Arab?


Kajian Teoritik
Castells (1997) merumuskan identitas sebagai sumber makna dan pengalaman seseorang atau kelompok masyarakat. Identitas digunakan sebagai batas pembeda antara diri (self) dengan yang lain (others). Proses pembangunan identitas bersumber dari pengalaman aktor (individu/masyarakat) dalam memaknai atribut cultural yang berbeda dengan orang lain untuk kemudian diinstitusionalkan melalui sebuah lembaga resmi yang berkuasa. Castells (1997) membagi bentuk dan asal dari identitas menjadi 3 macam; (1) Legitimizing identity; adalah identitas yang diperkenalkan oleh institusi dominan dalam masyarakat untuk melebarkan dan merasionalisasikan dominasi mereka atas aktor social lainnya. (2) Resistance Identity yang dibawa oleh aktor sosial yang selama ini posisinya mendapat stigma negatif dari penguasa dan dimarjinalkan. Mereka memunculkan identitas yang berbeda dengan penguasa sebagai wujud perlawanan atas dominasi yang dipraktekkan penguasa. (3) Project Identity yang digunakan para aktor sosial untuk membentuk identitas baru demi menunjukkan posisi mereka di tengah masyarakat. Project Identity dikenal sebagai aktor perubahan sosial yang menginginkan transformasi struktur sosial dalam masyarakat ke arah yang mereka anggap ideal.
Dalam kasus Amazigh ini, dapat dianggap sebagai wujud identitas dalam bentuknya yang kedua dalam teori diatas. Menurut formulasi Etzioni (1993 dalam Castells 1997) resistence identity adalah bentuk identitas yang paling jamak ditemui saat ini. Identitas ini terbentuk oleh kesamaan letak geografis, sejarah, atau keturunan genetis yang  telah eksis sejak lama. Dominasi pihak penguasalah yang membuat identitas mereka terpinggirkan. Jadi, identitas ini dibentuk sebagai moda perlawanan atas tekanan yang diberikan penguasa. Mereka bersikukuh menolak identitas yang diberikan penguasa dan mencoba memunculkan identitas yang berbeda. Dalam bahasa Castells (1997) dikatakan, the exclusion of the excluders by the excluded.

Pembahasan
Sebagaimana dinyatakan oleh Giddens (1991 dalam Castells 1997) bahwa periode akhir modernitas (late modernity) ditandai oleh munculnya globalisasi yang membawa implikasi meningkatnya interkoneksi antara 2 keadaan ekstrim, intensionalitas dan ekstensionalitas yang menjadikannya titik sentral dari pembangunan identitas diri (self-identity). Dialektika antara tradisi lokal dengan pandangan global memunculkan dua efek sekaligus, negatif dan positif. Untuk efek yang pertama, pandangan global dituding sebagai tersangka utama penyebab lunturnya nilai-nilai tradisional. Sedangkan untuk efek positif, globalisasi berperan sebagai instrument penyampai pesan masyarakat lokal yang selama ini terpinggirkan. Dengan hadirnya globalisasi, eksistensi budaya lokal, dengan segenap tradisi, budaya, bahasa dan kepercayaannya dapat dikenal lebih luas oleh komunitas internasional.
Dalam kasus Maroko, dengan jumlah populasi komunitas Berber yang mencapai 60%(dikenal juga dengan nama Amazigh atau Imazighen yang berarti orang merdeka)  telah sekian lama melakukan diskriminasi terhadap tradisi yang telah eksis sejak masa sebelum kedatangan Islam (Sadiqi 1997 dalam Almasude 1999). Maroko didominasi budaya Arab sejak abad ke-7 ketika penaklukkan bangsa Arab mencapai Afrika Timur dan Utara atas nama Islam. Sejak itu, tradisi dan budaya Amazigh terpinggirkan oleh proyek Arabisasi yang dicanangkan penguasa. Masyarakat yang masih menggunakan Amazigh sebagai bahasa komunikasi sehari-hari terdesak ke daerah-daerah pinggiran dan pegunungan (kecuali Marakesh yang memiliki populasi etnis Berber dalam jumlah besar). Sedangkan di wilayah perkotaan didominasi oleh unsur budaya dan Bahasa Arab.
Sepanjang perjalanan sejarahnya setelah penaklukan Islam, identitas Berber semakin termarjinalkan. Proses akulturasi yang berlangsung hampir di semua lini kehidupan membuat sebagian masyarakat Berber amnesia tentang identitas mereka sendiri. Mereka lebih merasa bagian dari bangsa Arab ketimbang masyarakat tribal di Afrika. Perkembangan selanjutnya, kata Berber identik dengan masyarakat pinggiran kelas dua yang tak tersentuh modernitas dan masih memegang nilai-nilai tradisional; hidup nomaden di padang pasir, mengenakan pakaian jubah tradisional, dan anti kemajuan.  
Sesaat setelah kemerdekaan, konstitusi Maroko mendeklarasikan Maroko sebagai bagian dari dunia Arab dan mengumumkan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi menggantikan kedudukan Bahasa Perancis (Put 2011). Hasilnya, Tamazight (Bahasa Amazigh) tersingkir dan etnis Amazigh Maroko yang tidak mengerti Bahasa Arab harus mempelajari bahasa tersebut di sekolah atau universitas. Para penutur Amazigh tidak mendapatkan kesempatan belajar bahasa mereka di negara mereka sendiri. Hal inilah yang menjadi salah satu factor tingginya angka buta huruf di Maroko (mencapai 50% dari total populasi), sebab mereka diwajibkan menggunakan bahasa Arab yang merupakan bahasa asing dalam benak mereka (Smith 2009). Seringkali ditemukan kasus anak sekolah terpaksa Drop Out dari sekolahnya lantaran tidak mengerti apa yang dikatakan gurunya.
Selain itu, pemerintah Maroko juga melarang pemberian nama Amazigh seperti Jugurtha dan Messina (nama raja Berber kuno) kepada anak-anak Maroko, dan hanya nama Arab seperti Ahmed atau Hassan saja yang diperkenankan. Langkah tersebut juga diikuti oleh keharusan penulisan dokumen resmi menggunakan Bahasa Arab dan penyiaran program televisi yang menampilkan Bahasa Arab dan Perancis. Kebijakan-kebijakan tersebut semakin meminggirkan eksistensi identitas Amazigh di tanah mereka sendiri. “Lebih dari 40 tahun setelah merdeka dari Perancis, pemerintah masih enggan mengajarkan bahasa Amazigh, memelihara atau mempromosikan kebudayaannya” kata Ahmed Lachgar Agwilal, Perwakilan Komisi Amazigh untuk Pengembangan dan Hak Asasi Manusia di Amerika. (www.sfgate.com 2001)

Globalisasi dan Pengaruhnya terhadap Kebangkitan Kembali Identitas Amazigh
            Dengan semakin berkembangnya teknologi internet pada tahun 1990-an, serta banyaknya etnis Amazigh yang belajar di berbagai perguruan tinggi di Barat, etnis Amazigh mendapatkan kesempatan lebih luas untuk menunjukkan eksistensi mereka ke masyarakat internasional. Pada tahun 1992 misalnya, terbentuk komunitas Amazigh yang menjadikan mailist Amazigh-net sebagai wadah menyalurkan aspirasi mereka (Bouzida 1994 dalam Almasude 1999). Dari pendirian jaringan online pertama yang mengangkat isu Amazigh tersebut, bermunculan kemudian banyak situs sejenis yang mengakomodir ide-ide dan aspirasi masyarakat Amazigh agar mendapat perhatian lebih dari pemerintah Maroko. Situs-situs seperti http://www.temehu.com, http://www.berber-cultural-center.fr.gd, http://www.cmamazigh.com/, http://www.amazighworld.org, http://www.mondeberbere.com/ dapat menjadi media efektif penyalur aspirasi perjuangan komunitas Amazigh.
            Melalui  internet pula, komunitas Amazigh menjadi mengenal ‘saudara’ mereka di berbagai negara seperti, Mali, Tunisia, Mesir, Libya, Aljazair, dan orang Amazigh yang hidup diantara masyarakat Barat seperti di Perancis, Inggris dan Amerika. Isu Amazigh yang semula dianggap sebagai sentimen lokal di masing-masing negara, melalui media internet terangkat menjadi isu internasional. Pertengahan 1990-an, untuk pertama kalinya dikembangkan software komputer yang menampilkan abjad Tifinagh, jenis tulisan yang dipakai dalam Bahasa Amazigh.
            Tahun 1993 digelar pertemuan pertama National Coordination of Amazigh Associations, sebuah wadah perkumpulan budaya dan politik Amazigh di Maroko. Setahun berikutnya, delegasi masyarakat Berber menghadiri pertemuan tahunan yang diselenggarakan United Nations Working Group on Indigenous Peoples di Jenewa, Swiss. Dengan mengikuti pertemuan tersebut, berarti eksistensi Berber sebagai masyarakat pribumi diakui oleh PBB. Dengan pengakuan tersebut, memungkinkan komunitas Berber mendapatkan hak-hak dasar seperti yang diatur dalam konvensi PBB, termasuk hak menggunakan bahasa mereka dan hak mendapatkan perlakuan yang sama dengan etnis grup yang lain.
Perjuangan masyarakat Amazigh Maroko menuntut pengakuan identitas mereka sedikit demi sedikit mulai membuahkan hasil. Musim panas 1994, Raja Maroko saat itu, Hassan II mengumumkan pengakuan kebudayaan dan bahasa Amazigh sebagai identitas nasional Maroko. Dalam pidatonya, Raja Hassan II mengatakan pentingnya mengintegrasikan Thmazight dalam kurikulum sekolah (Ennaji 1997 dalam Almasude 1999). Kebijakan tersebut kemudian diikuti mengudaranya program televisi pertama yang mengudara menggunakan Tamazight di TV Nasional Maroko. Setelah momen tersebut asosiasi, organisasi massa, program televisi dan radio, koran, majalah, serta situs-situs yang mengangkat identitas Berber semakin meningkat.
            Perjuangan aktivis Berber semakin terbuka setelah naiknya Mohammed VI menjadi raja menggantikan ayahnya, Hassan II yang meninggal tahun 1999. Setelah naik tahta, Mohammed VI memperkenalkan kebijakan reformasi yang salah satunya mengenai status identitas Amazigh. Dalam program reformasi yang dicanangkannya, Mohammed VI mengijinkan pengajaran Tamazight di sekitar 15 % sekolah dasar di Maroko. Kementrian Pendidikan Maroko sendiri menargetkan agar pengajaran Tamazight ini diperluas ke seluruh sekolah dasar di Maroko pada tahun 2013. Pencapaian ini kemudian juga diikuti pengakuan Abjad Tinifagh sebagai salah satu bahasa dunia oleh International Organization of Standardization (ISO).
            Mengikuti keberhasilan Arab Uprising 2011 yang terjadi di beberapa negara Arab, komunitas Berber di Maroko menuntut pemerintah untuk melakukan reformasi konstitusional. Salah satu poin tuntutan para demonstran adalah pengakuan Tamazight (Bahasa Berber) sebagai salah satu bahasa resmi Maroko. Pemerintah mengabulkan permintaan ini dan mencantumkan Tamazight sebagai bahasa resmi dalam konstitusi Maroko bersama-sama dengan Bahasa Arab.

Kesimpulan
Seperti dikatakan Giddens (1991 dalam Castells 1997) diatas, dialektika antara tradisi lokal dan nilai-nilai global memberikan dua efek sekaligus, negatif dan positif. Dalam kasus Maroko, pandangan global yang menekankan pentingnya pengakuan kesetaraan bagi seluruh umat manusia dan pemenuhan hak-hak masyarakat pribumi mendapat sambutan dari komunitas Berber yang selama ini kerap dimarjinalkan oleh pemerintah Maroko.
Kemunculan globalisasi yang memasuki semua lini kehidupan masyarakat kontemporer dimanfaatkan komunitas Berber Maroko untuk menyuarakan aspirasi mereka ke dunia internasional. Perjuangan para aktivis ini muncul sebagai wujud resistance identity terhadap proyek Arabisasi dan diskriminasi yang dilakukan pemerintah. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi komunitas Berber Maroko berhasil menarik simpati masyarakat internasional untuk mengakui eksistensi mereka. Bermodalkan dukungan dunia internasional, para aktivis ini sukses menjadikan identitas budaya dan bahasa Berber diakui secara konstitusional oleh pemerintah Maroko.



Daftar Pustaka
Almasude, Amar, 1999. “The New Mass Media and the Shaping of Amazigh Identity”, dalam Jon Reyhner et, al. (ed.), 1999. Revitalizing Indigeneous People. Northern Arizona University.
Manuel Castells, “Communal Heavens: Identity and Meaning in the Network Society”, in The Power of Identity, Oxford: Blackwll, 1997, pp 5-67
http://news.bbc.co.uk/2/hi/africa/8233812.stm