Thursday, August 30, 2012

Pembaharuan Islam Syah Waliullah al-Dihlawi dan Syed Ameer Ali



Pendahuluan
Islam pada masa kerajaan Mughal adalah negeri yang melimpah dengan hasil pertanian. Kekayaan alam yang demikian besar inilah kemudian mengundang bangsa-banga Eropa untuk melakukan transaksi perdagangan. Di awal abad ke-17, tepatnya pada tahun 1611, Inggris melalui kongsi dagangnya British East Indian Company (BEIC) mendapatkan izin dari penguasa Mughal untuk berdagang di sana. Tak berapa lama, Belanda juga mendapat izin yang sama pada tahun 1617.

Awal abad ke-18, Kerajaan Mughal mulai memasuki era kemunduran. Perang saudara diantara pembesar kerajaan seringkali terjadi. Persatuan umat Islam yang tadinya terbina baik menjadi terbelah akibat ketegangan politik yang semakin meruncing. Dalam keadaan seperti ini, golongan Hindu yang sebelumnya di bawah kekuasaan Dinasti Mughal mengadakan pemberontakan berusaha melepaskan diri. Golongan Sikh di India Utara mengobarkan pemberontakan dari kekuasaan Mughal. Di bawah pimpinan Banda, golongan Sikh berhasil merebut kota Sadhaura. Golongan Maratha di bawah pimpinan Baji Rao juga berhasil merampas Gujarat dan membunuhi penduduk Muslim yang mereka temui. Daerah kekuasaan Kerajaan Mughal semakin lama semakin berkurang.[1]
Keadaan chaos demikian dimanfaatkan oleh Inggris untuk semakin menancapkan kekuasaannya di India. Setelah beberapa lama menghimpun kekuatan, Inggris mulai berusaha menguasai wilayah India bagian Timur. Pada pertempuran Plassey tahun 1757, Penguasa-penguasa lokal berusaha memberikan perlawanan kepada Inggris, namun akibat kalah teknologi persenjataan, akhirnya wilayah-wilayah Oudh, Bengal, dan Orissa, jatuh ke tangan Inggris. Semakin memperoleh angin, Inggris bahkan memperluas kekuasaannya dan berhasil menaklukkan ibukota kerajaan Mughal, Delhi pada tahun 1857. Terusirnya Raja terakhir Mughal dari istana di Delhi, menandakan berakhirnya era Dinasti Mughal, dan dimulainya era pemerintahan kolonial Inggris di anak Benua India. Pada tahun 1879, Inggris berusaha menguasai Afghanistan. Kemudian tahun 1899, Kesultanan Muslim Baluchistan berhasil dikalahkan. Wilayah tersebut kemudian disatukan dengan wilayah kolonial Inggris di India.[2]
 Dalam kehidupan sosial dan keagamaan, Kaum Muslim India dihadapkan pada berbagai macam persoalan. Konflik sektarian, kemiskinan, moral rendah masyarakat, kurangnya pemahaman mengenai al-Quran, dan kebodohan dalam Islam menjadi masalah pelik yang sulit diselesaikan. serta konflik politik yang berlaku situasi. Periode disintegrasi politik tersebut diikuti juga merosotnya nilai-nilai agama Islam. Nasib menyedihkan kaum Muslimin pada periode ini memantik kalangan umat Islam terpelajar dan memiliki hati nurani untuk memulai gerakan kebangkitan kembali Islam di India. Ada dua arah gerakan yang mereka pilih, yaitu melalui jalur pendidikan dan sebagian lain memilih lewat gerakan perlawanan politik.
Dua gerakan ini bermaksud untuk membendung kekuasaan komunitas Sikh, Maratha, dan penguasa Inggris yang terus berkembang. Selain itu mereka berupaya memberi inspirasi pada umat Islam dengan cara memberi mereka pengetahuan sejati al-Qur'an dan Sunnah yang memungkinkan mereka untuk mengingat khazanah berharga yang hilang dan kembali ke kultur dan tradisi mereka. Pemimpin dari gerakan ini adalah Maulana Shah Waliullah.

Biografi Shah Waliullah (1703-1762)
Nama lengkap Nya Shah Waliullah Qutbuddin Ahmad dan dia lahir di Phulat, sebuah kota di Muzaffarnagar , Uttar Pradesh , India pada tanggal 21 Februari 1703. Shah Waliullah adalah keturunan dari suku Arab Quraisy. Dari pihak ayah  silsilahnya dapat ditelusuri sampai kepada khalifah kedua Islam, Umar . Ayahnya, Shah Abdur Rahim , menamai anaknya Qutbuddin Ahmad. Dia dijuluki sebagai 'Shah Waliullah' yang berarti "sahabat Allah", karena kesalehan yang ia miliki. Dia adalah pengikut dari Ahlus Sunnah wal Jamaah dan penganut mazhab fikih Hanafi.  Konon dia juga merupakan keturunan Ulama besar India Mujaddid Alfi Sani Syeikh Ahmad Sirhindi. Banyak kalangan genius lahir dari keluarga ini yang merupakan para Ulama dan tokoh Sufi dan yang telah mewarnai kehidupan Islami Muslim India.                                                            
Dia seorang yang cerdas. Di masa muda dia belajar pada ayahnya di Madrasah Rahimiyya dan kemudian pada banyak sarjana Delhi. Dia memulai studinya di usia lima tahun dan menyelesaikan bacaan dan hafalan dari Al-Qur'an pada usia tujuh.Setelah itu, ia memulai pelajaran dasar di Persia dan Arab , yang diselesaikan dalam setahun. Kemudian, ia mempelajari tata bahasadan sintaks dari Persia dan Arab. Ia menyelesaikan studinya di filsafat dan teologi pada usia lima belas.  Dia belajar sastra Arab dan Persia dan juga mempelajari ilmu sosial dengan mengkaji Sejarah Dunia-nya Ibnu Khaldun termasuk juga mempelajari politik. Inilah mengapa, kendatipun dia seorang sarjana dan ulama konservatif besar, tulisan-tulisannya mengandung gagasan politik segar dan pandangan tajam dalam menganalisa problema politik India dan dunia Islam. Setelah itu, ia dilantik sebagai guru pembimbing umat melalui tradisi bay'at oleh ayahnya, ia diijinkan untuk memberikan bimbingan rohani untuk sesama Muslim selain juga menjadi seorang ahli Hadits. Pada saat kematian ayahnya, Shah Waliullah berusia 17 tahun dan menggantikan ayahnya sebagai pengajar di madrasah Rahimiyah. Dia menjadikan madrasah Rahimiya itu menjadi institusi ideal dengan pengajaran yang berdedikasi dan sistem pendidikan yang direformasi. Dia memegang posisi ini selama dua belas tahun.
Kemudian, pada 1731, Shah Waliullah melakukan Haji . Dia mencapai Makkah pada 21 Mei dan melakukanhaji , setelah itu ia melanjutkan perjalanan ke Madinah . Di sana, ia menghadiri majelis hadist yang diampu Syaikh Abu Tahir Muhammad bin Ibrahim Kurdi Madani. Shah Waliullah juga mempelajari Kutub al-Sittah, dan Muwatta’ Imam Malik, . Setelah itu, ia kembali ke Makkah , dan kembali melakukan Haji. Di Mekkah, ia kembali  mempelajari Al-Muwatta Imam Malik untuk kedua kalinya di bawah bimbingan Shaikh Wafadullah Maliki Makki , dan menghadiri majelis Kutub al-Sittah Syaikh Tajuddin Hanafi Qala'i Makki. Kemudian, ia diijinkan untuk mengajar semua kitabs dari hadits oleh Syaikh Tajuddin.Setelah itu, Shah Waliullah kembali ke India . Perjalanan kembali ke India berlangsung enam bulan dan ia mencapai Delhi pada tanggal 1 Januari 1733.
Sekembalinya ke Delhi , ia memulai pekerjaannya sebagai pengajar dengan sungguh-sungguh. Ini terjadi pada periode ketika umat Islam di India sedang melewati fase paling kritis dari sejarah mereka. Seluruh tatanan sosial, struktur politik, ekonomi dan spiritual masyarakat Muslim India hancur berkeping-keping. Setibanya di Delhi, ia mulai mengajar murid-muridnya berbagai pengetahuan Islam. Misinya adalah memberi mereka pencerahan akan ajaran sejati Islam. Dia memulai pada tugas karya authoring standar pada Islam dan mampu menyelesaikan sejumlah karya tentang Islam.
Shah Waliullah naik menjadi ulama terkemuka dari studi Islam . Ia adalah tokoh intelektual terkemuka yang memiliki misi mereformasi umat Islam yang dilihatnya telah jauh meninggalkan agama mereka. Kegiatannya tidak terbatas pada bidang spiritual dan intelektual saja. Ia hidup di masa sulit dan menyaksikan sejumlah pergolakan politik dan pergantian kekuasaan di Delhi. Dengan wawasan yang tajam politiknya, ia mengamati kerusakan kekuasaan Islam di India dan menulis kepada sejumlah tokoh politik untuk mencoba untuk meningkatkan kehidupan politik umat Islam di India. Dia mendirikan beberapa cabang Madrasah Rahimiyah di Delhi agar dapat secara efektif menyebarkan pengetahuannya.
Pada tahun 1737 dia menterjemah Quran ke bahasa Persia untuk pertama kalinya di India. Karena hal ini para Ulama Delhi berkampanye menentangnya dan dia terpaksa meninggalkan Delhi untuk sementara. Putranya, Abdul Qodir, menterjemah Quran ke Urdu untuk pertama kali di India. Berdasarkan terjemahan Urdu inilah Girish Chandra Sen dari Bengal menterjemahkan Quran ke bahasa Bengal untuk pertama kalinya.
Tetapi Shah Waliullah tidak lupa pada situasi politik yang sedang terjadi di sekitarnya. Dinasti Mughal kehilangan kendali mereka dengan cepat, kelompok Sikh, Maratha, dll mulai bangkit, sedang Inggris dan Prancis mulai menanamkan kekuatannya - semua ini membuatnya tidak tenang. Dia khususnya merasa malu melihat kejatuhan Muslim secara politis, agama dan sosial, dan karenanya dia berpidato dan berceramah untuk mendorong Muslim melakukan jihad sebagai bangsa yang bermartabat. Dua dari bukunya yang penting dalam hal ini yaitu 'Fuyuz al-Haramayn' (Kemenangan Makkah dan Madinah) dan 'Tafhima al-Ilahiya' (Memahami Tuhan) adalah buah karyanya hasil refleksi keprihatinannya terhadap nasib umat Islam yang menyedihkan.
 Ide-idenya yang berapi-api inilah yang kemudian memberi inspirasi, ketika sejumlah reformis Muslim tampil di India untuk mengingatkan umat Islam untuk berjuang menentang kejahatan. Dia sepakat atas kepedulian kalangan Wahabi dari Saudi Arabia untuk membasmi segala bentuk bid'ah dan tradisi Hindu yang mengakar di kalangan Muslim. Pada waktu itu tidak ada figur yang seperti dia, yang dapat mengajak umat Islam dengan memberi penafsiran Quran dan Hadits secara benar. Dia memberikan penjelasan tentang jihad dan mengilhami umat Islam seluruh India untuk berjuang menentang kejahatan dan penindas.

Pemikiran Syah Waliullah
Pemikiran Syah Waliyullah amat berpengaruh lama dunia Islam. Di India sendiri, pengaruhnya disebarkan menerusi murid dan anak-anaknya, terutama anak sulungnya, Syah Abdul Aziz. Shah Waliullah mengikuti tradisi Al-Ghazali dan Imam Shatibi dalam mengkombinasikan esensi Syariah, pengertiannya, perkembangan dan interpretasinya pada isu-isu dan berbagai problema kehidupan. Dia sebagaimana Al-Ghazali menggunakan akhirat sebagai poin penjelasan atas hubungan antara eksistensi duniawi dan Akhirat. Bagi Waliullah, urusan dunia tidak dapat disepelekan begitu saja, akan tetapi harus diseimbangkan dengan akhirat. Mengikuti al-Ghazali, dunia ditempatkan sebagai jalan (wasilah) menuju akhirat. Mengamini pendapat al-Shatibi, Waliullah memandang agama bukan sekedar simbol formalitas belaka. Di balik semua ritus formal yang kaku, ada banyak hikmah-hikmah diturunkannya syariat (maqashid syariah), dan itulah yang esensi sesunggunya ajaran Islam. Afiliasinya ke ordo sufistik juga mempengaruhi Waliullah untuk tidak semata-mata melihat agama dari kacamata formalis yang rigid dan kaku.  
            Sebagai seorang intelektual yang hidup di masa kemunduran umat Islam, Waliullah berupaya untuk membangkitkan kembali kesadaran umat Islam. Krisis multidimensional yang melanda umat Islam membuat mereka terpuruk nyaris di seluruh lini kehidupan. Kelemahan umat Islam, menurut Waliullah terletak pada ketiadaan persatuan diantara umat. Perpecahan yang timbul di kalangan umat Islam adalah akibat banyaknya sekte-sekte dan mazhab-mazhab yang melakukan upaya monopoli kebenaran. Dari klaim kebenaran absolut yang dikumandangkan sekte-sekte tersebut terjadilah pertentangan dan pertumpahan darah diantara sesama muslim. Pertentangan antara Syiah melawan Sunni, Muktazilah dengan Asyariyah dan Maturidiyah, kaum sufi dan kalangan formalis adalah beberapa contoh pertentangan yang memperlemah kedudukan umat Islam. Untuk mengatasi hal tersebut, Waliullah menyerukan persatuan seluruh umat Islam, tidak peduli apapun sektenya. Karena itu, Waliullah menerima eksistensi kaum Syiah di tengah-tengah umat Islam lainnya. Meskipun mendapat banyak kecaman dari kalangan konservatif , Ia tetap menegaskan pandangannya bahwa mereka (Syiah) memiliki kedudukan yang sama dengan Sunni dalam tradisi Islam.[3] Prestasi lain Waliullah adalah keberhasilannya mendamaikan pandangan wahdatul wujud Ibnu Arabi, dan wahdatul syuhud Ahmad Sirhindi.[4] Upayanya tersebut didorong oleh pandangannya yang enggan melihat gerakan sufi yang terlampau ekstrim. Afiliasinya kepada ordo sufistik ortodoks membuatnya membenci tarekat sufi yang menyimpang maupun pandangan sufi yang ekstrim. Baginya, tasawuf harus dikembalikan kepada batasan-batasan yang diberikan oleh al-Quran.[5]
            Sebab lain yang membuat kemunduran umat Islam adalah masuknya adat istiadat bukan Islam  yang kemudian dianggap bagian dari ajaran Islam. Menurutnya, umat Islam India banyak sekali dipengaruhi adat-istiadat Hindu. Oleh karena itu ia sependapat dengan Muhammad bin Abd al-Wahab bahwa keyakinan umat Islam harus dibersihkan dari tahayul, bid’ah dan khurafat semacam itu.[6] Syah Waliullah menyajikan Islam dalam bentuknya yang otentik –seperti Islam pada 2 abad pertama dari kemunculannya- dan membuang semua tambahan (bid’ah) tak perlu yang muncul pada abad-abad sesudahnya.
Mengikuti jejak dua pemikir besar Islam, al-Ghazali dan Ibnu Taimiyah, Syah Waliullah sangat menentang taklid dan menganjurkan untuk melakukan optimalisasi fungsi akal. Dengan melakukan taklid, umat Islam tidak akan menemukan solusi keluar dari krisis multidimensi, karena hanya mengekor pendapat ulama terdahulu yang memiliki konteks sejarah dan tantangan zaman yang berbeda dengan umat Islam di India ketika itu. Untuk memecahkan persoalan ini Waliullah menyerukan dibukanya pintu ijtihad agar umat Islam terdorong menggunakan akalnya untuk memahami al-Quran dan dalam rangka memecahkan problema sosial yang dihadapi. Untuk memahami al-Quran, perlu mempelajari latar belakang sosial masyarakat Arab ketika itu, disamping juga memperhatikan sebab-sebab khusus diturunkannya suatu ayat (asbab al-nuzul) untuk kemudian dikontekstualisasikan dengan realitas dimana umat Islam tinggal. Tanpa ijtihad, semua itu tak akan pernah tercapai.[7]
Dalam rangka mensukseskan gerakan purifikasi agama yang ia canangkan, Syah Waliullah memberikan pembedaan epistemologis antara dua bentuk Islam; universal dan lokal. Menurutnya, Islam universal mengandung konsepsi umum, dasar-dasar pokok dan esensi dasar dari ajaran islam. Sementara itu Islam lokal adalah bentuk Islam yang kental dipengaruhi corak lokal. Keduanya bukanlah dua entitas yang berbeda, sebaliknya dengan adanya lokalitas, ajaran Islam lebih mudah dipahami karena diadaptasikan dengan kulur lokal yang akrab di telinga masyarakat. Dan inilah sesunggunya keunggulan Islam.[8] 
Untuk lebih memberikan pemahaman kepada masyarakat lokal, Waliullah mengambil inisiatif untuk menerjemahkan al-Quran ke dalam bahasa Persia yang banyak dipakai di kalangan Islam terpelajar di India ketika itu. Meskipun dikecam banyak kalangan karena penerjemahan al-Quran ketika itu masih dianggap tabu, Waliullah tetap dalam misinya tersebut. Baginya, sia-sia belaka apabila umat Islam membaca sesuatu yang tidak ia pahami kandungannya.[9]
Di bidang sosial-ekonomi, Waliullah memiliki konsep yang membela kaum miskin tertindas. Gagasan inti konsep tersebut terpusat pada distribusi kekayaan negara secara merata. Ia menolak keras praktek monopoli yang menyebabkan larinya kekayaan ke tangan segelintir orang, sementara sebagian besar lainnya berada di bawah garis kemiskinan. Dengan konsep ini Waliullah berharap fenomena ketimpangan dan ketidakadilan sosial dapat teratasi.
Shah Waliullah memiliki seorang putra dan 5 putri dari istri pertamanya. Istri keduanya memberinya empat putra: Shah Abdul Aziz Muhaddis Dehlvi, Shah Rafiuddin, Shah Abdul Qadir, dan Shah Abdul Ghani. Pada tanggal 20 Agustus 1762, Shah Waliullah meninggal dan dimakamkan di pemakaman Munhadian, di samping pusara ayahnya. Perjuangannya kemudian dilanjutkan oleh putranya, Syah Abdul Aziz (1746-1824), dan cucunya Ismail (1781-1831).

Biografi Syed Ameer Ali (1849-1928)
Ia lahir pada 6 April 1849 di Cuttack di Orissa sebagai anak keempat dari lima bersaudara. Ia berasal dari keluarga Syiah. Garis keturunannya bersambung sampai Imam Syiah ke-8, Ali Reza. Ayahnya, Syed Saadat Ali memboyong keluarganya  pindah ke Calcutta , dan kemudian ke Chinsura dimana mereka tinggal diantara kalangan elite ashraf. Keluarganya bekerja di lingkungan Istana Mughal.
 Pendidikannya ia peroleh dari perguruan tinggi Muhsiniya, dekat Kalkuta. Di sana ia belajar Bahasa Arab, dan kemudian bahasa dan sastra Inggris serta hukum Inggris. Dia lulus dari kampusnya tersebut pada tahun 1867. Dua tahun kemudian ia meneruskan studinya ke Inggris untuk mempelajati hukum. Selesai studi tahun 1873, ia kembali ke India untuk kemudian bekerja sebagai pegawai pemerintah Inggris, pengacara, hakim. Dan guru besar dalam hukum Islam. [10]
Pada tahun 1877, ia membentuk National Mohammedan Association, sebagai wadah persatuan umat Islam India. Tujuan utama dari gerakan ini adalah untuk membela kepentingan unmat Islam dan mengembangkan kesadaran mereka dalam bidang politik. Perkumpulan ini mempunyai 34 cabang di seluruh India. Pada tahun 1883, ia diangkat menjadi anggota The Viceroy’s Council (Dewan Raja Muda) di India, sebagai satu-satunya anggota Muslim dalam majelis itu. Dia meninggalkan India dan menetap di Inggris pada tahun 1904. Dua tahun kemudian, dia diangkat menjadi anggota The Judicial Commitee of Privacy Council (komite Kehakiman Dewan Raja) di London. Dia adalah orang India pertama yang menduduki jabatan tersebut.[11]
Di tahun yang sama (1906) Ameer Ali mendirikan cabang Liga Muslimin India di London. Ameer Ali memandang bahwa umat Islam perlu mendekati Inggris untuk mendapat manfaat dari kemajuan yang didapat dari pemerintah kolonial tersebut. Karena kedekatannya dengan Inggris, Ameer Ali mengundurkan diri dari Liga Muslimin terkait tuntutan rakyat India untuk mendirikan “pemerintahan sendiri untuk India”.

Pemikiran Ameer Ali
Ameer Ali dikenal di  dunia Barat karena tulisan-tulisannya yang apologetik kapada keyakinan Islam. Dalam tulisannya, Ameer Ali kerap melakukan advokasi terhadap Islam sekaligus juga membanggakan kejayaan Islam masa silam. Ia ingin membuktikan bahwa Islam adalah baik, dan rasional, buktinya adalah kegemilangan peradaban Islam di masa lampau. Ia ingin mengajak umat Islam untuk menelusuri warisan klasik peradaban mereka dan menelisik bagaimana leluhur mereka dulu mampu membuat peradaban yang menguasai dunia. Ia berusaha menunjukkan bahwa satu-satunya jalan untuk membangkitkan kegemilangan masa silam adalah dengan melakukan pembahruan pemikiran keagamaan.
Dalam buku Spirit of Islam, Ameer Ali mengatakan upaya pembaharuan tersebut tidak bisa dilakukan kecuali dengan didasarkan pada rasionalitas. Islam adalah agama kemajuan yang sarat dengan nilai-nilai rasionalitas. Umat Islam ketika itu terpuruk adalah akibat mengabaikan ajaran agama mereka sendiri. Untuk itu ia menganjurkan umat Islam agar kembali kepada nilai-nilai rasionalitas yang diajarkan agama mereka. Dalam buku yang dicetak pertama kali tahun 1891 tersebut, Ameer Ali dengan berapi-api menerangkan ajaran Islam mengenai tauhid, ibadah, hari kiamat, kedudukan wanita, perbudakan, sistem politik, disamping ia juga memberi penjelasan tentang ilmu pengetahuan, pemikiran rasional dan filosofis yang ada dalam sejarah Islam. Dia menguraikan Islam sebagai kekuatan progresive besar yang potensial untuk menggapai kesuksesan dalam  menghadapi tantangan modernitas.[12] Dia menggambarkan Islam sebagai “Agama yang mengajarkan bertindak benar, berpikir benar, berbicara benar, dibasisi oleh kekuatan cinta, kebaikan universal, persaudaraan manusia, dan atas nama Tuhan”.[13]
Metode yang ia pakai adalah perbandingan dengan agama lain untuk kemudian diberi penjelasan rasional. Ameer Ali membandingkan Islam dan menerangkan kelebihannya dibandingkan agama-agama lain. Hal ini juga nampak ketika Ameer mengulas masalah perbudakan dan membandingkan keadaan budak dalam konsepsi Islam lebih baik daripada yang ditemukan pada masa Yunani, Romawi Kristen, Yahudi dan peradaban lain. Atas pernyataannya tersebut, Ameer Ali bahkan dianggap Majid Fakhry sebagai sosok intoleran terhadap kepercayaan lain.[14]  
Kembali lagi ia menekankan pentingnya posisi akal dalam Islam. Ia kecewa dengan kondisi umat Islam saat itu yang menyisihkan rasionalitas dan menaruhnya pada posisi yang marginal. Selanjutnya ia menunjukkan bahwa semangat pengembangan ilmu pengetahuan dimiliki oleh Rasulullah dan generasi awal umat Islam. Rasulullah menempatkan posisi akal di tempat yang tinggi.[15] Selanjutnya ia menceritakan kisah kejayaan peradaban Islam klasik adalah hasil dari kerja keras umat Islam dalam optimalisasi fungsi akal.[16]
Semangat rasionalistik itu kemudian harus pula diikuti dengan keyakinan kebebasan kehendak manusia. Paham qadariyah inilah yang kemudian membuat aktifitas penalaran menjadi semarak, karena manusia dituntut untuk berbuat, dan bertanggung jawab atas perbuatan mereka sendiri. Mereka yang berprestasi baik akan mendapatkan reward dari Tuhan sebaliknya yang berbuat buruk mendapatkan balasan buruk pula. Dengan konsep berpikir yang demikian, maka umat Islam akan berlomba-lomba ke arah progresifitas, tidak lagi diam terpaku menunggu pertolongan Tuhan.[17] Umat Islam menjadi umat pasif dan tidak bersemangat, menurut Ameer Ali adalah akibat dominasi paham Asy’ariyah yang berhasil mengalahkan kaum rasionalis di era al-Mutawakkil. Mulai dari era itulah, umat Islam perlahan mulai mengalami kemunduran dan stagnasi akut.[18]
Kekalahan dari peradaban Kristen-Barat bukan malah menyadarkan umat Islam, malahan mereka seakan malas mengejar dan cenderung lari dari kenyataan dengan menjadi pengikut ordo sufistik yang kemudian banyak bermunculan di dunia Islam. Ameer Ali sebenarnya tidak menentang sufisme per se. Sebaliknya sufisme menurut Ameer Ali adalah suatu idealisme yang mulia, bintang penunjuk jalan, dan ungkapan hangat cinta Illahi. Yang menjadi ganjalan dalam benak Ameer Ali adalah bagaimana kemudian sufisme digunakan para pemalas dan bodoh sebagai justifikasi kemalasan mereka belajar dengan berpaling ke dunia mistik. Ironis sekali apabila mendengar bahwa para petani meninggalkan sawahnya untuk mengikuti laku suluk dan bertingkah layaknya orang yang mencapai makrifat.[19] 

Kesimpulan
Pembaharuan di anak benua India pertama kali dikumandangkan oleh Syah Waliullah. Bersama para pengikutnya, Waliullah berupaya membangunkan kembali kesadaran umat Islam terhadap agamanya. Seruan persatuan antar seluruh umat Islam India dalam melawan kaum Hindu dan pendudukan kolonial Inggris mendapat sambutan hangat dari umat Islam dan sejumlah tokoh Muslim yang kemudian meneruskan tongkat estafet perjuangannya. Salah satu diantara penerus Waliullah adalah Syed Ameer Ali yang mengusung rasionalitas untuk menggerakkan umat Islam.   
Munculnya Liga Muslimin India pada tahun 1906 yang menyuarakan konsep komunalisme semakin mendekatkan umat Muslimin India dengan cita-cita pendirian negara Islam, terlepas dari India yang Hindu. Cita-cita tersebut akhirnya terwujud dengan terbentuknya Republik Islam Pakistan pada tahun 1947.



Referensi
Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996).
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1997).
Ashgar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, terj. (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2000).
Rasihan Anwar, Ajaran dan Sejarah Islam untuk Anda, (Jakarta: PT. Dunia Pustaka jaya, 1979).
Syah Waliullah al-Dihlawi, Pengetahuan Suci, terj. (Surabaya: Risalah Gusti, 2002).
Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, Cet. 4 (Bandung: Mizan, 1998).
Syed Ameer Ali, The Spirit of Islam, terj. (Yogyakarta: Navila, 2008).
Majid Fakhry, A History of Muslim Philosophy, Cet. 2, (New York: Columbia Uni-Press, 1983).