Thursday, August 30, 2012

Marshall Plan; Konsep, Klaim, dan Kontroversi



Abstraksi
Pasca Perang Dunia II ekonomi dunia ambruk. Negara-negara Eropa  tidak memiliki kapasitas untuk membangun kembali perekonomiannya. Di saat itulah Amerika Serikat menawarkan program bantuan untuk proses recovery ekonomi Eropa. Program yang terkenal dengan sebutan Marshall Plan tersebut diberikan kepada 16 negara Eropa Barat. Hasilnya, ekonomi Eropa mencetak pertumbuhan luar biasa. Sejumlah pihak menyebutnya keajaiban. Akan tetapi keberhasilan Marshall Plan tak luput dari kritik. Oleh kritikusnya, Marshall Plan tidak berpengaruh signifikan terhadap kebangkitan Eropa. Justru negara Eropa sendirilah yang sebenarnya mendorong kebangkitan mereka. Marshall Plan hanya kedok bagi Amerika untuk memasarkan produknya di Eropa. Tulisan ini ingin menunjukkan bahwa Marshall Plan, bersama sejumlah faktor pendukung lainnya  turut serta berkontribusi memicu pertumbuhan ekonomi Eropa, walaupun tidak seperti klaim pendukungnya yang percaya bahwa Marshall Plan adalah keajaiban.


Kekacauan Ekonomi Dunia Pasca PD II
 Berakhirnya Perang Dunia II ditandai dengan kolapsnya ekonomi dunia. Perang Dunia II telah mengeksploitasi banyak tenaga kerja, modal, dan biaya perang sehingga ketika perang berakhir keadaan perekonomian sangat berantakan. Di Inggris persediaan makanan sangat menipis sementara permintaan semakin meningkat. Di Jerman lebih parah lagi. Di negara yang mengalami kekalahan pada perang tersebut masyarakatnya banyak menderita kelaparan karena kelangkaan bahan pangan. Ditambah dengan musim dingin mematikan pada tahun 1946-1947 menyebabkan kematian banyak warga Jerman.
Selain kelangkaan bahan pangan, kerusakan paling krusial adalah terputusnya infrastruktur transportasi seperti jalan raya, rel kereta api, pelabuhan dan jembatan. Infrastruktur tersebut hancur lebur karena menjadi target utama serangan pasukan udara selama perang berlangsung. Kerusakan jalur transportasi tersebut menyebabkan banyak kota dan desa terisolasi dari dunia luar. Akibatnya, roda perekonomian berhenti berputar dan rakyat semakin menderita.
Usainya PD II menghasilkan dua negara superpower yang muncul sebagai pemenang perang. Kedua negara adidaya tersebut sama-sama berusaha menjadi single leader yang memimpin dunia. Ambisi dari kedua kekuatan tersebut kemudian memicu perang dingin diantara Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet (US). Kedua Negara yang pada awalnya bersekutu untuk mengakhiri perang dunia II ternyata memiliki perbedaan kepentingan dan politik, dimana AS adalah  negara demokratis, sedangkan US berlandaskan komunisme.
Pada masa perang dingin diantara kedua negara adi daya tersebut, AS menjalankan misinya untuk menciptakan perdamaian dunia dengan berusaha untuk menciptakan negara-negara demokrasi. Sedangkan US terus melakukan pendekatan dengan negara-negara Eropa Timur dan membentuk blok komunis. Hasilnya, Eropa pada saat itu seolah terbagi menjadi dua bagian, yakni Eropa Timur dengan dominasi negara-negara komunis dan Eropa Barat dengan negara-negara demokratisnya.
Lahirnya dua kekuatan adidaya setelah perang dunia dengan sendirinya telah menyebabkan sistem ekonomi dunia terbelah menjadi dua. Sistem ekonomi dunia setelah Perang Dunia II terdiri atas sistem ekonomi kapitalis dan sistem ekonomi sosialis. Sistem ekonomi kapitalis cenderung dipimpin oleh Amerika Serikat. Sistem ekonomi sosialis cenderung berkiblat dan didominasi oleh Uni Soviet.
Hancurnya perekonomian dunia menyebabkan Amerika Serikat dan Uni Soviet sebagai negara adidaya tampil memberikan bantuan ekonomi. Namun, kedua negara adidaya itu tidak sekadar memberi bantuan ekonomi. Dibalik pemberian bantuan ekonomi tersebut, kedua negara adidaya juga berupaya memperluas pengaruh ideologinya.

Marshall Plan
Sesaat setelah dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat, Harry S. Truman mengeluarkan doktrin Truman. Doktrin Truman yang dikeluarkan tahun 1947 berisi Amerika Serikat harus membantu rakyat merdeka yang ditindas oleh pihak militer atau pihak asing. Militer dan pihak asing yang disebut Truman jelas mengacu pada Uni Soviet. Penerapan Doktrin Truman sendiri ada pada Marshall Plan, yaitu bantuan yang diusulkan oleh George Marshall, menteri luar negeri pada masa Truman, kepada negara-negara yang membutuhkan, terutama negara-negara sekutu AS di Eropa yang berlandasakan demokrasi. Oleh karena itu, konsep ini dikenal dengan Marshall Plan. Jadi, Marshall Plan adalah  suatu program unilateral berencana yang dilakukan untuk membantu dan membangun kembali ekonomi Negara lain, khususnya Eropa barat pada saat itu. George Marshall dalam pidatonya di Universitas Harvard mengatakan bahwa “Kebijakan kami ditujukan bukan untuk melawan negara atau doktrin tertentu, tetapi untuk melawan kelaparan, kemiskinan, keputusasaan dan huru-hara” (Cowen, 1985).
Negara-negara Eropa Barat yang menerima bantuan ekonomi melalui Marshall Plan harus bersedia bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk meningkatkan produksi secara maksimal, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan volume perdagangan. Program yang dibawahi oleh Paul Hoffman ini berlangsung antara April 1948 dan Desember 1951. Untuk koordinasinya dibentuk Committee of European Economic Cooperation yang diketuai Inggris.
Total dari program yang dicetuskan pada tanggal 5 Juli 1946 tersebut adalah sebanyak US$17 miliar bagi enam belas negara dalam periode empat tahun. AS memberikan sejumlah makanan, bahan bakar, pupuk, alat-alat pertanian dan pertambangan, dan bahan-bahan mentah ke sejumlah negara di Eropa. Program bantuan tersebut berbentuk 70 % grant dan 30% loan yang dibayarkan ke World Bank tergantung kemampuan negara penerima. Alokasi dari pemberian dana tersebut digunakan untuk meningkatkan kemampuan industri dan pertanian, menstabilkan nilai tukar mata uang, menurunkan hambatan yang menghalangi perdagangan antar negara, membendung pengaruh komunis, dan menyebarkan pengaruh AS ke seluruh penjuru sekaligus membentuk aliansi sebanyak-banyaknya.
Tujuan dari Marshall Plan sendiri adalah membantu negara-negara Eropa untuk merekonstruksi negaranya yang hancur karena Perang Dunia II, dan juga untuk membendung pengaruh Komunis. Hal itu dilakukan karena Komunis biasanya muncul dari keadaan miskin dan tidak stabil. Marshall Plan pertama diberikan kepada Yunani dan Turki sebanyak US$400 juta, karena terjadi pemberontakan yang diduga dilakukan oleh kaum Komunis. Setelah itu, Amerika Serikat juga berusaha agar Jerman tidak jatuh pada Uni Soviet, karena menurut Amerika Serikat bila Jerman jatuh maka akan menjadi awal jatuhnya Eropa pada Komunis. Saat itu Berlin, ibukota Jerman, dibagi empat, dengan dua kekuatan besar Amerika Serikat menguasai Berlin barat dan Uni Soviet menguasai Berlin timur.
Adapun Presiden Harry S. Trauman (yang menggantikan Roosevelt), dalam pidato pelantikannya (1949), mencetuskan Point Four Program, yaitu:
1.       AS akan mendukung PBB dan berperan dalam pengambilan keputusan
2.       AS akan melanjutkan program perbaikan ekonomi dunia
3.       AS akan melindungi kemerdekaan dan  kedamaian penduduk seluruh dunia dari agresi
4.       AS akan mencanangkan program moderenisasi dan ivestasi capital.
Konsep dunia ketiga versi Mashall Plan dalam Point Four Program, yakni bahwa lebih dari setengah manusia di dunia hidup dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Mereka tidak cukup makan dan terjangkit berbagai penyakit. Kehidupan ekonomi mereja primitf fan stagnan. Kemiskinan menjadi ancaman bagi dirinya dan kesejahteraan wilayahnya.
Pada dasarnya, hal yang melandasi terbentuknya Marshall Plan (dan juga Point Four Program) adalah  membantu perekonomian Eropa dan “menyelamatkan” Eropa dari komunisme). Namun, secara garis besar dan  global, tujuan dari Marshall plan adalah untuk mengurangi penderitaan melalui penanaman modal yang ditunjang dengan memasukkan persediaan barat yang melimpah dalam bidang pertanian, perdagangan, industri, dan kesehatan.
Negara-negara Eropa Barat dengan memperoleh bantuan ekonomi melalu Marshall Plan secara bertahap berhasil menata kembali keadaan perekonomiannya. Bahkan, masyarakat Eropa Barat akhirnya dapat membentuk suatu badan kerja sama ekonomi yang disebut European Economic Community (EEC) pada tanggal 25 Maret 1957 di Roma, Italia.
Di dalam pertemuan di Roma digariskan tujuan pembentukan Masyarakat Ekonomi Eropa, antara lain:
a. meningkatkan perekonomian negara anggota melalui kerja sama yang harmonis;
b. memperluas bidang perdagangan;
c. liberalisasi dalam perdagangan;
d. menjaga keseimbangan perdagangan di antara negara anggota;
e. menghapus semua rintangan yang menghambat laju perdagangan antaranggota;
f. memperluas kerja sama perdagangan dengan negara lain.
Pada awalnya Masyarakat Ekonomi Eropa beranggotakan negara Jerman Barat, Prancis, Italia, Belgia, Belanda, dan Luksemburg. Namun, pada konferensi EEC di Brusel, Belgia pada tanggal 22 Januari 1962 keanggotaannya bertambah dengan masuknya Inggris, Irlandia, Denmark, dan Norwegia.
            Amerika Serikat juga berusaha memperluas paham ideologinya ke wilayah lainnya. Misalnya, Amerika Serikat juga berusaha mendekati negara Yunani dan Turki agar bersedia bergabung dalam ideologi liberalisme kapitalisme. Negara Turki dan Yunani setelah berakhirnya Perang Dunia II mengalami kehancuran bangunan dan keadaan ekonomi yang parah luar biasa. Kebetulan dana yang besar itu dimiliki oleh Amerika Serikat yang cepat tanggap menghadapi situasi seperti itu.
Melihat aksi Amerika Serikat, Uni Soviet sebagai kekuatan adidaya lainnya mencoba memberi perhatian kepada negara-negara sekutunya di wilayah Eropa Timur dalam bentuk bantuan ekonomi. Bantuan ekonomi yang maksudkan untuk membendung meluasnya pengaruh liberalisme yang digagas oleh Menteri Luar Negeri Uni Soviet, Molotov. Oleh karena itu, paket bantuan ekonomi dari negara Uni Soviet untuk negara-negara Eropa Timur disebut Molotov Plan. Dengan bantuan ekonomi tersebut, negara-negara di Eropa Timur berusaha menata kembali keadaan ekonominya. Pada perkembangan selanjutnya, negara-negara di Eropa Timur membentuk lembaga kerja sama ekonomi yang disebut Commintern Economi (Comicon).

Klaim Keberhasilan Marshall Plan
Dampak dari Marshall Plan terhadap proses recovery ekonomi Eropa sangat besar. Tahun-tahun 1948-1952 melihat masa tercepat pertumbuhan dalam sejarah Eropa. Marshall Plan mengubah situasi ekonomi di Eropa sebagai hasil dari liberalisasi kebijakan perdagangan di benua tersebut. Hal ini menciptakan situasi di mana perdagangan dapat dilakukan secara bebas dan  ini akhirnya meningkatkan ekonomi mereka. Kemiskinan dan kelaparan di tahun-tahun sesudah Perang Dunia II hilang.  Standar hidup masyarakat meningkat dramatis. Situasi ekonomi di Eropa Barat mencatat pertumbuhan signifikan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Marshall Plan juga berperan dalam proses rekonstruksi Jerman. Sepanjang tahun 1947-1948 ekonomi Jerman merangkak naik. Keberhasilan Jerman menumbuhkan ekonomi mereka dianggap sebuah keajaiban, mengingat kekalahan Perang Dunia II menghancurkan seluruh sektor ekonomi negara itu. Di Yunani, misi Amerika untuk bantuan ke Yunani memberikan sekitar USD 5 miliar bantuan darurat. Dana tersebut digunakan untuk merepatriasi 670.000 pengungsi, membentuk sistem pemilihan nasional baru, membersihkan dan membangun kembali Corinth Canal; membangun infrastrukrutur transportasi baru di seluruh kota, memberantas malaria, dan menghidupkan kembali sistem pertanian.  Marshall Plan dimulai sebagai sebuah program darurat, tetapi kemudian memberikan kontribusi berkelanjutan pada sektor pertanian dan keuangan. Marshall Plan berhasil meletakkan dasar untuk keajaiban ekonomi Yunani tahun 1950-an (Machado, 2007).
Kebijakan recovery ekonomi tersebut sukses memberi stabilitas atmosfer politik di Eropa Barat. GNP negara-negara Eropa Barat meningkat 32 %, produksi sektor pertanian naik 11 % daripada sebelum perang, hasil industri melampaui hasil tahun 1938 dengan surplus 40 %. Sementara Marshall Plan telah mencanangkan inisiatif pemulihan ekonomi yang penting dalam mendorong perubahan-perubahan ekonomi makro jangka panjang. Kebijakan Marshall Plan ini, tidak hanya menguntungkan negara recipient, tetapi Amerika selaku donor juga mencetak pertumbuhan ekonomi cukup signifikan (Kunz, 1997).
Selain itu, efek politik dari Marshall Plan mungkin sama pentingnya dengan ekonomi. Bantuan Marshall Plan memungkinkan bangsa-bangsa di Eropa Barat yang mulai bangkit ekonominya untuk menikmati stabilitas politik. Dengan stabilitas tersebut, pengaruh komunis di Eropa Barat sangat berkurang, dan seluruh wilayah partai-partai komunis memudar popularitasnya di tahun-tahun setelah Marshall Plan. Sebaliknya bagi negara-negara Eropa Timur, keberhasilan Marshall Plan ini berarti  memukul pertumbuhan ekonomi negara-negara Blok Komunis (Kindleberger, 1968).
Marshall Plan juga memainkan peran penting dalam proses integrasi Eropa. Marshall Plan membantu pembentukan  institusi regional dengan menghapuskan larangan-larangan perdagangan di tingkat regional. Langkah tersebut kemudian menstimulasi pola hubungan perdagangan diantara negara-negara Eropa Barat. Marshall Plan membuka kesadaran baru negara-negara Eropa; membantu mereka menolak mindset nasionalisme dan otoritarianisme, mempromosikan interdependensi antar negara di kawasan, membantu koordinasi kebijakan ekonomi bersama, membuktikan betapa absurdnya konflik dagang dan finansial diantara negara-negara tetangga. sejarahwan Tony Judt, mengatakan “(pertumbuhan) dollar kurang penting bila dibandingkan (pertumbuhan) efek psikologis” (Geremek, 2008).
Harry Truman selaku Presiden AS memberikan apresiasi besar kepada George C. Marshall atas ide yang ia cetuskan, “Kredit sedalam-dalamnya atas kontribusi brilian Mr. Marshal dalam memformulasikan langkah-langkah mencetuskan program bantuan AS” (Bryan, 1991).

Kritik terhadap Marshall Plan
Sebagian kalangan menganggap bahwa motif utama pemberian bantuan dalam Marshall Plan murni bersifat altruistik, seperti pernyataan terkenal Winston Churchil ‘It is the most unselfish act in History’. Namun demikian klaim kesuksesan dan ‘ketulusan’ AS dalam memberikan bantuan mendapat oposisi dari banyak kalangan. Alan Milward, ekonom dan sejarahwan Inggris memunculkan kritik terkait urgensi dan efektifitas Marshall Plan. Dalam buku The Reconstructon of Western Europe dia menyatakan bahwa European Recovery Program (ERP) yang merupakan bagian dari Marshall Plan hanya memainkan sedikit peran dalam kebangkitan Eropa (Milward,1984). Menurut Milward, bangsa Eropa sendiri lah yang berperan dalam kebangkitan mereka.
Pendapat Milward tersebut disokong oleh sejarawan ekonomi Jerman Werner Abelshauser yang menegaskan bahwa krisis ekonomi Jerman, terutama di musim dingin 1946-1947 pada dasarnya adalah krisis sistem transportasi, produksi dan kapasitas institusional. Setelah krisis ini telah diatasi, pemulihan Jerman Barat telah dimulai sebelum kedatangan dana ERP, sehingga bantuan asing sebenarnya tidak diperlukan untuk memulai program pemulihan (Abelshauser, 1989 dalam Berghahn, 2008).
            Tyler Cowen, seorang ekonom, mengatakan bahwa negara-negara yang menerima bantuan yang paling banyak dari Marshall Plan seperti Britania, Swedia, Yunani memiliki tingkat pertumbuhan lebih lambat sepanjang periode 1947-1955. Sementara bangsa-bangsa yang menerima lebih sedikit seperti Austria  justru mencatat pertumbuhan paling tinggi. Cowen menemukan bahwa pemulihan ekonomi Perancis, Italia, dan Belgia, dimulai sebelum Marshall Plan. Belgia menggantungkan diri pada kebijakan ekonomi pasar bebas setelah liberalisasi tahun 1944, dan mencetak pemulihan tercepat. Belgia memulai kebijakan fiskal deflasi untuk memperbaiki ekspansi moneter Nazi pada masa perang. Selain itu mereka juga memiliki kebijakan impor liberal dan kebijakan fiskal konservatif. Belgia membuat regulasi minimalisasi kontrol harga pangan dan rumah. Belgia juga tidak memiliki pengalaman kekurangan stok makanan seperti yang terjadi di negara-negara lain di Eropa (Cowen, 1985).
            Terkait motif humanitarian yang melandasi pemberian bantuan AS disebut oleh Cowen sebagai mitos. Faktanya AS selalu mempunyai kepentingan tertentu dalam memberikan bantuannya. Cowen memberikan contoh, Perusahaan Tembakau Virginia mempunyai pengaruh terhadap sejumlah keputusan yang diambil ECA. Ketika misalnya Eropa membutuhkan alat-alat pertanian, ECA hanya mengirimkan sejumlah $ 40 juta dollar, dan malah mengirimkan tembakau senilai $ 111 juta dollar. Perusahaan minyak AS juga diuntungkan oleh Marshall Plan. Pemerintah AS mendorong untuk mengurangi penggunaan batu bara sebagai sumber energi dan mendorong upaya impor minyak dari AS. Sebagai hasilnya, komoditi minyak ini kemudian menyumbang 11 % dari keseluruhan bantuan AS ke Eropa (Cowen, 1985).
Selain itu, kritik juga datang dari musuh ideologi AS, Uni Soviet. Pemerintah Kremlin menyatakan proklamasi doktrin ini berarti bahwa pemerintah Amerika Serikat telah bergerak ke arah penolakan langsung prinsip-prinsip kerjasama internasional, serta berupaya memaksakan kehendaknya pada negara-negara merdeka. Sementara pada saat yang sama Washington menggunakan sumber daya ekonomi yang didistribusikan sebagai bantuan ke negara-negara yang membutuhkan sebagai instrumen tekanan politik. Ini jelas bertentangan tajam dengan prinsip yang diungkapkan oleh Majelis Umum dalam resolusi 11 Desember 1946, yang menyatakan bahwa pasokan bantuan ke negara lain "harus ... dalam kondisi apapun tidak digunakan sebagai senjata politik" (Vyshinsky, 1947)

Menimbang Marshall Plan
Marshall Plan sering dianggap sebagai contoh bagaimana bantuan ekonomi besar dapat menghasilkan kemakmuran. Namun, beberapa kalangan menilai bahwa rekonstruksi pasca-perang di Eropa adalah masalah yang mudah. Dalam kasus Eropa, meskipun sudah hancur akibat perang, masih ada infrastruktur fisik yang signifikan disertai dengan ketrampilan teknis penduduknya.
Kesuksesan kebangkitan Ekonomi Eropa memang mengundang decak kagum. Namun seberapa besar peran bantuan Marshall Plan dalam pemulihan ekonomi Eropa masih diperdebatkan. Marshall Plan tidak bisa mengklaim semua seluruh tersebut murni atas inisiatifnya. Kesuksesan Marshall Plan disebabkan karena pertemuan bantuan finansial dan modernisasi AS dengan sistem ekonomi Eropa.
Namun yang harus dicatat adalah Marshall Plan memberikan dukungan urgen yang memungkinkan kondisi-kondisi yang mempercepat pemulihan Eropa. Bisa dibilang kehadiran Marshall Plan tidak secara otomatis memacu pertumbuhan ekonomi makro, namun ia berhasil menstimulasi impor barang penting, mengurangi kemacetan produksi mendorong tingkat pembentukan modal yang lebih tinggi, dan membantu menekan inflasi. Semua efek ini mengakibatkan keuntungan produktivitas, perbaikan dalam perdagangan, daqn kemakmuran sosial dan perdamaian yang paling bertahan lama di masa Eropa modern.
Cowen (1985) mengatakan bahwa pengaruh Marshall Plan terhadap proses recovery Eropa sangatlah sedikit. Problem utama Eropa ketika itu bukanlah “dollar-shortage” seperti yang selama ini dikira. Kebijakan ekonomi yang buruk adalah akar permasalahan utama dari krisis Eropa. Pemberlakuan kembali kebijakan liberal, stabilitas fiskal dan moneter, kepercayaan terhadap sektor bisnis, keinginan bersama untuk melaksanakan program pembangunan kembali pasca perang serta integrasi ekonomi kawasan, itu semua merupakan faktor-faktor terpenting dibalik kebangkitan ekonomi Eropa.
Kehadiran Marshall Plan ibarat meminyaki gear mesin yang sudah aus. Sesaat setelah diminyaki mesin otomatis bisa langsung berputar. Orang-orang Eropa bukannya orang yang tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika krisis. Di Eropa Barat selama berabad-abad sudah dikenal aturan hukum, demokrasi, dan hak milik pribadi. Orang-orang Eropa telah berpengalaman melakukan perdagangan antar benua, sehingga memudahkan pembangunan kapasitas institusi pendukung. Mereka tahu bagaimana caranya menghadapi situasi kritis. Mereka juga tahu arti pentingnya demokrasi dan pasar bebas, sehingga pemerintah AS tidak perlu susah-susah mengajari mereka dan berkampanye tentang arti pentingnya Marshall Plan. Yang kurang dari Eropa saat itu hanyalah modal, kekuatan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. Sehingga dengan kehadiran Marshall Plan dapat langsung memicu geliat roda ekonomi.
            Jadi bisa dikatakan bahwa Eropa Barat adalah negara-negara yang telah memiliki struktur ekonomi dan politik yang mumpuni. Negara Eropa sendiri ketika itu sudah memiliki rencana pemulihan ekonomi sendiri. Sejumlah negara malahan sudah mencatat grafik pertumbuhan ekonomi meningkat sebelum kedatangan Marshall Plan. Akan tetapi tetap saja hal itu tak lantas menyepelekan peran Marshall Plan. Porsi terbesar pada Marshall Plan yang ada pada agenda politiknya. Agenda ini berpusat pada keinginan AS mengembangkan kerjasama ekonomi yang lebih besar di benua ini. Kerjasama tersebut tidak dalam kerangka hubungan bilateral dua negara saja. Akan tetapi kerjasama ini meliputi sejumlah besar negara di Eropa. Dampaknya, negara Eropa melepas atribut nasionalisme sempit dan mulai menjalankan tipe kerjasama antar beberapa negara sekaligus. Marshall Plan membangun kesadaran bersama untuk bersiap-siap menghadapi ancaman bersama, khususnya bahaya komunisme ketika itu. Kesadaran tersebut dipupuk dengan membangun keinginan, tujuan, dan langkah-langkah strategis di antara negara Eropa dan AS, seperti membangun iklim demokrasi dan perdagangan bebas di antara mereka.
            Tidak dapat dipungkiri bahwa kerjasama antar negara sekawasan seperti yang diprakekkan Marshall Plan telah mendorong mereka membentuk the Organisation for European Economic Co-operation (OEEC). Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal persatuan negara-negara Eropa dalam wadah Uni Eropa seperti yang kita lihat sekarang.

Kesimpulan
            Marshall Plan sering dipahami sebagai satu-satunya faktor yang berpengaruh cukup signifikan dalam memacu pertumbuhan ekonomi Eropa yang porak poranda pasca Perang Dunia II. Pemahaman tersebut mendapatkan momentum dengan masifnya propaganda yang mengelu-elukan Marshall Plan tanpa kritisisme sama sekali. Sejumlah orang bahkan secara hiperbolik menganggap Marshall Plan adalah sebuah keajaiban dan contoh besar bagaimana motif kepedulian sosial dijadikan landasan utama kebijakan suatu negara.
Memang benar, di satu sisi Marshall Plan turut menyumbang andil bagi pertumbuhan ekonomi Eropa. Akan tetapi adalah sebuah kesalahan menganggap Marshall Plan satu-satunya faktor krusial. Jika memang demikian, maka fenomena negara-negara yang menerima jumlah bantuan dana besar justru menikmati pertumbuhan ekonomi lebih lambat dari negara yang menerima sedikit dana menjadi tidak dapat dijelaskan. Marshall Plan harus ditempatkan pada posisinya yang tepat, yaitu ‘hanya’ sebagai salah satu faktor yang mendorong kebangkitan Ekonomi Eropa. Sedangkan faktor menentukan lain cukup variatif, seperti kebijakan ekonomi yang sehat, perdagangan, ketersediaan sumber daya, dan sebagainya.
Juga, keberhasilan Marshall Plan tidak dapat dilepaskan dari keunikan situasi Eropa pada saat itu. Kenyataan bahwa bangsa Eropa adalah bangsa yang telah akrab dengan demokrasi, pasar bebas, struktur ekonomi kapitalis, industrialisasi, serta kapasitas masyarakat mereka merupakan faktor determinan yang sangat menentukan proses implementasi Marshall Plan. Itulah mengapa pada kasus-kasus lain -khususnya di negara-negara berkembang di Asia, Afrika, Amerika Latin- pemberian dana bantuan tidak dapat mendongkrak tingkat perekonomian suatu negara. Sehingga dengan demikian, kurang tepat kiranya apabila dianggap Marshall Plan adalah sebuah keajaiban dan contoh sukses bagaimana bantuan luar negeri bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Lebih tepat jika disebut Marshall Plan beroperasi seperti oli yang melumasi mesin yang sudah aus. Jadi Marshall Plan tidak bergerak dari nol. Marshall Plan hanya bersifat stimulan bagi kapasitas institusional yang telah tersedia di Eropa.        Akhirnya, Marshall Plan dapat kita jadikan salah satu studi kasus bagaimana fenomena pengucuran dana bantuan luar negeri dipengaruhi oleh kondisi-kondisi tertentu sehingga menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan.





   
Referensi
Kindleberger, Charles, P. 1968. “the Marshall Plan and the Cold War”, International Journal, Vol. 23, No.3, pp.369-382
Kunz, Diane B. 1997. “the Marshall Plan Reconsidered: a Complex of Motives”, Foreign Affairs, Vol.76 No.3, pp.162-170
Hertz, Noreena. 2004. “It’s Politics, Stupid”, dalam the Debt Threat, New York: Harper Collins Publisher Inc., pp.23-39
Bryan, Ferald J. 1991. “George C. Marshall at Harvard: a Study of the Origin and Construction of the Marshall Plan Speech”, Presidential Studies Quarterly, Vol. 21, No. 3, pp. 21-38
Machado, Barry 2007, In Search of a Usable Past: The Marshall Plan and Postwar Reconstruction Today, George C. Marshall Foundation, Lexington, VA. Pp. 51-63
Milward, Alan S. 1984, The Reconstruction of Western Europe, 1945-1951, Methuen, London.
Berghahn, Volker R. 2008, The Marshall Plan and the Recasting of Europe’s Postwar,
Industrial Systems, dalam The Marshall Plan Lessons Learned for the 21st Century, OECD, pp. 29-43
Geremek, Bronislaw. 2008, The Marshall Plan and European Integration, dalam The Marshall Plan Lessons Learned for the 21st Century, OECD, pp. 43-51
Vyshinsky, Andrei. 1947. A Soviet Criticism of the Truman Doctrine and Marshall Plan September 18, 1947 dalam http://slantchev.ucsd.edu/courses/nss/documents/vyshinsky-criticism-of-truman-doctrine.html
Cowen, Tyler. 1985, U.S. Aid to the Developing World; A Free Market Agenda, The Heritage Foundation, Massachusets Aveneu, Washington, D.C. pp.61-74