Friday, August 31, 2012

Manusia dan Ilmu; Sebuah Refleksi Filosofis terhadap Makna Dasariah Manusia


Manusia adalah makhluk multidimensional. Sebagai produk sejarah, manusia adalah makhluk yang lahir, berkembang, berketurunan, berkebudayaan dan kemudian mempunyai sejarah. Manusia juga makhluk materialis, sebab ia terikat oleh hukum-hukum yang berkenaan dengan materi. Sama seperti benda-benda material lainnya, manusia terkenai gaya gravitasi bumi, hukum kekekalan energi, hukum kausalitas dan sebagainya. Namun demikian, menurut Plato manusia  ternyata juga makhluk spiritual, yang selalu rindu akan realitas adi kodrati. Meskipun raga wadagnya terkungkung dunia material namun jiwanya acap terbang ke alam transendental. Manusia menurut Aristoteles adalah makhluk yang berpikir (animal rationale). Ia adalah makhluk yang berbahasa (animal loquens), seru Louis Leahy, Makhluk pertanda (animal symbolicum) kata Ernst Cassirer, Makhluk yang berkehendak (volo/aku ingin) ujar Mains de Biran.

Banyak definisi lain yang muncul untuk merumuskan karakteristik khas dari makhluk bernama manusia. Ia adalah an ethical being, an aestethical being, a metaphysical being, dan a religious being. Manusia berwajah plural. Sebagai makhluk etis ia dihadapkan pada persoalan baik-buruk, dan moralitas yang layak-tak layak. Dari sisi estetika, manusia diklaim sanggup mengenali entitas indah-buruk, bernilai rendah-tinggi. Sekalipun mempunyai dimensi material, ia sekaligus juga makhluk religius, dimana realitas tertinggi selalu menjadi terminal terakhir dari perjalanan hidupnya.


Watak pluridimensional tersebut membawa kita pada satu kenyataan, bahwa untuk menjadi manusia yang utuh dan sejati, ia harus berani mempertanyakan sengkarut realitas sosial, mendendangkan fantasi ilmiah, sanggup mengenali hakikat terdalam dari dunia di sekelilingnya dan lantang meneriakkan ide-ide revolusioner baru yang fungsional sekaligus bernilai tinggi bagi masyarakat.

Hasrat ingin tahu adalah bagian tak terpisahkan pada diri manusia. Sejak dulu manusia kerap berfantasi terbang seperti burung, menyelam ke kedalaman samudera layaknya ikan, dan melakukan ekspedisi menembus sekat-sekat ragawi bumi. Ia tertarik mengkatalogkan alam semesta yang rumit dan kompleks dengan teori-teori universal yang sanggup memberi penjelasan terhadap cara kerja  semesta.

Konseptualisasi dan formulasi metodologi riset ilmiah bermula dari sini. Dari sebuah penghayatan filosofis yang mendalam, pertanyaan-pertanyaan kritis yang jujur dan alam semesta yang terus menerus dipersoalkan membawa manusia berhasrat untuk mengetahui apa yang seharusnya terjadi? Apa yang dimaksud dengan ‘mengetahui’, ‘pengetahuan’, dan ‘yang bisa diketahui’? Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan? Apa yang bisa dilakukan dengan pengetahuan tersebut dan apa untungnya buatku?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut nampak sederhana, namun berimplikasi luar biasa bagi perkembangan keilmuan di masa selanjutnya. Di sini filsafat ilmu berusaha menjelaskan hakikat terdalam dari alam semesta dengan bermacam ragam pendekatan yang dimaksudkan untuk menelurkan pengetahuan yang bersifat ilmiah, kredibel, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Will Durant mengamsalkan posisi filsafat ilmu sebagai pasukan marinir yang merebut pantai musuh untuk pendaratan pasukan infanteri. Pasukan infanteri inilah yang dikenali sebagai pengetahuan. Dari tamsil diatas dapat dipahami bahwa posisi filsafat ilmu adalah sebagai landasan berpijak bagi pengetahuan dimana ilmu termasuk di dalamnya. Apabila tempat berpijak itu kokoh, maka pengetahuan yang dibangun diatasnya akan mempunyai karakteristik yang kuat serta mempunyai kemampuan survive yang cukup baik. Sebaliknya, bangunan pengetahuan yang didirikan diatas pondasi yang lembek akan runtuh dengan mudahnya.

Pengetahuan adalah kepercayaan dalam diri yang bertalian erat dengan fakta di luar. Pengetahuan tak melulu didapat dari proses berpikir yang sistematis dan ilmiah. Terkadang pengetahuan didapatkan dari sumber-sumber lain seperti pewahyuan (revelation), epos cerita, dan tradisi adat. Sementara ilmu menjadi bagian dari pengetahuan karena wataknya yang khas, yaitu harus didapatkan melalui prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, dan cara teknis sistemik, logis, koheren, metodologis dan ilmiah. Oleh karenanya perlu dibuat diferensiasi terma antara pengetahuan (knowledge) dan ilmu (science). Ilmu adalah titik puncak dari seluruh aktifitas khas manusiawi, berpikir.
Dalam rangka mengenali pengetahuan ilmiah, terdapat dua pola umum yang banyak digunakan. Pertama adalah rasionalisme. Pola kerja metode ini didasarkan pada aksioma ‘idea’ adalah sesuatu yang jelas, tegas, dan pasti yang terintregasi secara fitriah dalam alam pikiran manusia. Dalam diri manusia sudah ada ‘idea’ bawaan tersebut. Tugas manusia yang utama adalah menemukan kembali ‘idea’ tersebut. Proses penemuan kembali ‘idea’ yang hilang itu tidak didapatkan melalui pengalaman dan observasi, melainkan sistematisasi alam pikiran dan refleksi filsafati.

Plato merupakan orang mula-mula yang mengenalkan teori idea (nadzatiah al-mutsul) ini. Teori Plato ini dapat dimengerti dalam sebuah amsal terkenal tentang Manusia  yang menghabiskan sepanjang hidupnya di dalam Gua. Untuk mengetahui dunia luar Manusia tersebut tidak harus beranjak keluar gua dan melihat dengan mata telanjang keadaan di luar. Semua gambaran tersebut telah ada dalam benaknya. Yang harus dilakukan cukup menganalisa keadaan gua yang merupakan bagian dari alam luar. Dari sinar matahari yang menembus sela-sela gua, ia dapat mengerti bahwa disana ada matahari yang merupakan sumber kehidupan bagi seluruh makhluk. Dari suara gemericik air ia dapat menyimpulkan bahwa ada mata air bawah tanah yang mengalir di sana.

Demikianlah metode rasionalisme yang menegasikan faktor observasi fakta-fakta empiris dalam mengambil suatu konklusi ilmiah. Semuanya telah terangkum dalam ‘idea’ yang menjadi bawaan manusia semenjak kelahirannya. Filosof Renaissance Eropa, Rene Descartes adalah pengibar panji rasionalisme di era modern dengan diktumnya yang terkenal; Cogito, ergo Sum (Aku berpikir maka Aku ada).

Pendekatan rasionalisme yang menegasikan peran fakta empiris ini tak pelak mengundang kritik banyak kalangan. Metode ini dianggap gagal menguak hakikat sesungguhnya dari fakta-fakta karena didasarkan pada idea abstrak yang tidak dapat dilihat dan diraba. Ia bukanlah benda fisik obyektif melainkan hanya ide abstrak yang tak semua bisa merabanya. Selain gagal dalam menjelaskan perubahan dan penambahan pengetahuan manusia, proses penalaran dari eksistensi idea ini sendiripun berbeda-beda pada setiap manusia, tergantung akan kecerdasan dan background sosio-kultural masing-masing individu.

Untuk mengakomodir kegagalan usaha rasionalisme dalam menjelaskan kebenaran, muncullah metode Empirisme yang menitikberatkan pada usaha manusia yang terjun langsung mengamati benda-benda, melakukan observasi dengan indera untuk menemukan fakta-fakta tersembunyi dan menganggap pengalaman, sebagai satu-satunya parameter absolut akan kebenaran. Kaum Empiris percaya bahwa manusia dilahirkan seperti kertas putih (tabula rasa) yang tak mengetahui apapun sampai ia merasakan sendiri melalui pengalaman.

Dalam contoh manusia gua diatas, Kaum Empiris adalah mereka yang percaya bahwa untuk mengetahui dunia luar manusia gua tersebut harus beranjak keluar gua, dan melihat keadaan luar dengan mata kepalanya sendiri. Singkatnya, Kaum Empiris adalah mereka yang bersikeras percaya bahwa pengalaman adalah satu-satunya cara untuk mendekati kebenaran. Secanggih dan sekuat apapun asumsi-asumsi, hipotesa-hipotesa, analisa-analisa yang diperdengarkan tak akan berarti apa-apa tanpa pengalaman.

Kengototan Kaum Empiris akan peran pengalaman mendapat kecaman cukup keras. Makna ‘pengalaman’ sendiri terlalu rumit untuk didefinisikan, apalagi digeneralisasi pada cakupan yang lebih universal. Ia nampak berbeda bagi setiap individu. Kita harus pula menginsyafi bahwa panca indera kita sangat terbatas dan lemah untuk mengerti utuh tentang hakikat fakta-fakta. Pun juga sebenarnya fakta yang cukup kompleks itu sendiri tidak sanggup berbicara apa-apa tanpa uluran tangan manusia. Penamaan, konsep, teori, observasi adalah aktifitas yang dilakukan manusia untuk menjelaskan alam. Manusialah yang menjelaskan alam, bukan sebaliknya.

Menyadari kekhilafan dua pendekatan diatas dalam menemukan konklusi yang benar, ramai khalayak mengajukan satu  metodologi keilmuan yang merupakan gabungan dua pendekatan tersebut dalam mencerap pengetahuan. Metode ini berupaya menemukan titik temu antara dua konsep ekstrem diatas. Ia merupakan kegiatan beranting antara penalaran logis kaum rasionalis dan petualangan kaum empiris yang sarat dengan pengalaman.

Dalam metode keilmuan ini, seorang pengamat mula-mula terjun langsung melihat relitas faktawi, mengumpulkan dan memulung data-data yang terserak. Kemudian ia mulai melakukan sistematisasi data, merumuskan deduksi dan mengajukan hipotesis berkenaan dengan data tersebut. Hipotesis yang telah diajukan tersebut kemudian ditelaah menggunakan rumusan-rumusan teori yang ada untuk kemudian dilihat kecocokan dan implikasinya secara empiris. Setelah melalui beragam  proses uji validitas data, hipotesis ini kemudian dicoba terapkan di beragam kondisi yang berbeda untuk diukur tingkat keabsahannya guna ditarik konklusi universal yang layak dijadikan parameter bagi pengetahuan-pengetahuan berikutnya.

Metode keilmuan ini, meskipun pada era modern merupakan metode yang diterima dan diakui para ilmuwan sebagai metode paling tepat dalam mendekati pengetahuan, namun tidak menutup pintu akan adanya kelemahan-kelamahan epistemik. Di tangan Para kritikusnya,  metode keilmuan dituding membatasi begitu saja terhadap apa yang bisa diketahui oleh manusia kepada objek-objek inderawi belaka. Sementara objek non-inderawi dan  realitas metafisika tidak dapat diketahui menggunakan metode keilmuan, karena ia berada jauh diluar jangkauan indera dan rasio manusia. Metode keilmuan juga hanya menjelaskan tentang prinsip-prinsip kausalitas antar benda-benda namun mandul kala menyajikan hakikat benda-benda. Di samping itu pengetahuan keilmuan bukan merupakan pengetahuan yang statis dan universal sepanjang masa. Selalu saja ada kasus-kasus anomali yang terjadi terhadap hukum-hukum pengetahuan yang selama ini dianggap mapan. Sehingga dengan ini dapat dikatakan bahwa sifat metode keilmuan adalah dinamis, terus berubah-ubah dan tidak pernah selesai. Hilang satu metode lawas digantikan oleh yang baru. Metode yang baru pun kelak akan digantikan oleh yang paling anyar demikian seterusnya tidak akan pernah ada kata akhir untuk menjelaskan pengetahuan. Sepanjang eksistensi manusia di muka bumi, sepanjang itu pula metode keilmuan dan ilmu pengetahuan terus bermetamorfosa, berevolusi, dan menampakkan bentuknya yang baru.

Sejatinya kelemahan-kelemahan ini berpangkal dari watak alami manusia sendiri sebagai entitas yang tak sempurna. Namun dari ketidaksempurnaan inilah segalanya bermula. Manusia tidak akan pernah puas atas apa yang telah ia dapat. Ia akan terus berusaha  memandang tiap kolong langit, menyelami tiap jengkal samudera, menjelajahi tiap bagian semesta demi memuaskan hasratnya akan ilmu pengetahuan. Maka di sini pantas kiranya Tuhan menyematkan gelar ‘Khalifah’ pada makhluk-Nya yang paling unik bernama manusia. Wallah A’lam bi Ash-Shawab.