Thursday, August 30, 2012

Keadilan Sahabat; Konsep, Kontroversi, dan Kritik dalam Tinjauan Ahlus Sunnah wal Jamaah



Abstraksi
Sebenarnya keadilan sahabat (adalah al-sahabat) adalah diskursus klasik. Embrionya sudah ada pada akhir pemerintahan khalifah ke-empat, Ali bin Abi Thalib. Pasca peristiwa arbritase yang kontroversial tersebut umat Islam benar-benar tersekat dalam selubung ideologi dan politik kepentingan. Tiap-tiap kelompok memiliki perspektif tersendiri dalam memandang fenomena, dan masing-masing mereka mendaku golongannya lah yang berhak memonopoli kebenaran.
Dengan terpecahnya beberapa sahabat Nabi dalam pertikaian politik, membuat generasi-generasi sesudahnya berbeda pandangan dalam menyikapi perpecahan tersebut, siapa yang berada di pihak yang salah dan siapa yang berdiri di atas kebenaran. Dampaknya, penilaian terhadap para sahabat sebagai pelaku sejarah juga ikut terbelah. Golongan Sunni, yang merupakan representasi dari suara penguasa dan mayoritas umat menyatakan tawaqquf dalam permasalahan ini. “Kami berdiam atas apa yang terjadi di kalangan sahabat” adalah diktum yang lazim disuarakan kelompok Sunni. Bergerak dari diktum ini, mengenai masalah periwayatan hadits Nabi mereka memandang bahwa sahabat adalah orang-orang yang sangat otoritatif. Seluruh sahabat baik itu kibar al-sahabat maupun shighar al-sahabat dianggap setara kedudukannya dan sama-sama statusnya sebagai perawi yang adil. Bahkan sebagian kalangan sampai bertindak ekstrim dengan mengangkat kedudukan sahabat pada tingkatan tidak mungkin berbuat dosa (ma’shum).

Di pihak bersebrangan, lahir pula sikap ekstrim lain yang secara radikal menganggap mayoritas sahabat telah murtad. Kalangan yang didominasi pengikut fanatik Ali (Syiah Ali) ini berhasil meluaskan pengaruhnya, hingga dalam perkembangan berikutnya mereka memiliki rancang bangun pemikiran tersendiri dalam transmisi riwayat dari jalur sahabat-sahabat ‘musuh’ Ali. Sikap inilah yang kemudian melahirkan gerakan penolakan besar-besaran (great refusal) terhadap segala bentuk periwayatan yang datang selain dari jalur Ahlul Bait dan sahabat pengikut Ali.
  
Prolog
Diskursus keadilan sahabat adalah pembahasan klasik, namun masih ramai diperbincangkan hingga saat ini. Hal ini dikarenakan diskursus ini menyangkut salah satu pondasi doktrin utama yang dianut sebagian besar umat Islam. Tidak diragunakan lagi, bahwa sahabat adalah orang-orang yang senantiasa memiliki maqam  istimewa dalam agama Islam. Mereka adalah orang-orang awal yang menjadi pembela Islam, orang-orang yang hadir dalam peperangan sepanjang sejarah penegakan fondasi islam. Orang-orang yang berdiri di samping Rasul dengan segenap harta, daya dan mempertaruhkan nyawa mereka. Yang menjadi perbincangan antar golongan selanjutnya adalah,  apakah sahabat seluruhnya adalah jauh dari dosa, tidak berbuat ma'siat yang besar ataupun yang kecil, yang mulia dan yang tidak sepanjang umurnya? Atau seluruh sahabat otomatis karena kedekatan jarak dan pergaulan dengan rasul, telah menjadi manifestasi Rasul. Ataukah itu semua tergantung wi'ah, qabuliyyat dan isti'dadiyat  mereka terhadap pengajaran, dan hikmah kenabian Rasulullah saw?
Ada dua komentar untuk pandangan di atas, Pertama: seluruh sahabat karena kedekatan dan tenggelamnya mereka dalam cinta dan perkhidmatan kepada Rasulullah saaw. maka secara otomatis rahmat dan kasih sayang Allah swt. menjadikan mereka seluruhnya adil. Penganut pandangan ini mengatakan bahwa para sahabat adalah hukum syar'i  sebagaimana Rasulullah saaw. Pandangan kedua: penerimaan sahabat atas didikan dan pengajaran sekaligus menyerap hikmah-hikmah kenabian, sangat tergantung pada potensi dan kemampuan penerimaan sahabat.
Sahabat terbagai dalam kelompok besar menurut penganut pandangan ini. Sebagian ada yang sampai kepada penerimaan yang sempurna, ada yang hanya sebagian, dan ada yang tidak menerima kecuali sangat sedikit dari hikmah-hikmah kenabian. Golongan ini mengatakan bahwa, sahabat harus dipilah dan pilih, tidak bisa dikategorikan sama. Dan karenanya, mereka dengan Rasul tidak boleh disamakan dalam posisi syar'i.

Definisi Sahabat
Ibnu Manzhur dalam Lisan al-Arab menyebutkan bahwa kata Al-Ashhab, ash-Shahabah, Shahaba, Yashhubu, Shuhbatan, Sahabatan, Shahibun,  bisa berarti : teman bergaul, sahabat, teman duduk, penolong pengikut. As-Shahib artinya kawan bergaul, pemberi kritik, teman duduk, pengikut, teman atau orang yang melakukan atau menjaga sesuatu. Kata ini juga bisa diartikan sebagai orang yang mengikuti suatu paham atau mazhab tertentu. Misalnya, kita bisa bisa mengatakan: pengikut Imam Syafi'I, pengikut Imam Malik dan lain-lain. Dapat juga kita menyatakannya seperti dalam frasa ishthahaba al-qaum, yang artinya, mereka saling bersahabat satu sama lain, atau ishthahaba al-bar, artinya, menyelamatkan unta.[1]
Sementara secara terminologi, sahabat adalah orang yang beragama islam yang berjumpa Nabi SAW atau melihatnya dan mati dalam keadaan islam maka dia tergolong sahabat Nabi. Pendapat ini diutarakan oleh Bukhari dalam Shahihnya dan Ahmad bin Hambal dalam kitab Musnadnya. Abu Mudzoffar al-Sam’ani menuturkan “Para ahli Hadist menyematkan kata sahabat kepada mereka yang berjumpa Rasulullah Saw dan meriwayatkan hadist atau perkataannya”. Kemudian ia melanjutkan, “Secara bahasa, kata sahabat bermakna mereka yang menemani Nabi dan mengikuti ajarannya. Ini adalah metode para Ushuliyin”.
Ibnu Shalah dalam Muqaddimahnya menyatakan “Diriwayatkan kepada kami dari Syu’bah dari Musa As-Sailani, dia berkata Aku mendatangi Anas bin Malik dan berkata kepadanya Apakah ada lagi yang tersisa dari sahabat Rasulullah selain dirimu? Lalu ia menjawab ada seorang Arab Badui yang pernah melihat Rasulullah, sedangkan yang menemani beliau maka tidak tersisa lagi”[2].
Syekh Muhammad Abu Syahbah mengatakan “ Sahabat menurut para Ulama dan Ahli Hadist adalah mereka yang bertemu Rasulullah, beriman kepadanya, dan mati dalam keadaan Islam. Barang siapa yang murtad atau keluar dari Islam maka gugurlah penyematan julukan sahabat kepadanya. Dan barang siapa yang murtad kemudian bertobat maka status sahabatnya kembali seperti semula, seperti Abdulloh bin Abi Sarh.”[3]
Definisi sahabat yang demikian inilah yang disepakati oleh jumhur ulama, seperti Imam Bukhari, Imam Ahmad, Imam Madini, Al-iraqi, Khatib Al-Baghdadi, Al-Suyuti dll. Ibnu Hajar berkata : Inilah pendapat yang paling kuat. Di antara ahli Ushul Fiqih yang berpendapat demikian ialah Ibnu Hajib, Al-Amidi dan lain-lain.
Beberapa Ulama mensyaratkan penyematan gelar sahabat diukur dari durasi waktu interaksinya dengan Nabi, ikut berjuang bersama-sama Nabi dalam peperangan. Namun pendapat ini ditentang oleh mayoritas ulama yang tidak memberikan syarat-syarat tambahan. Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nukhbah Al-Fikr mengatakan bahwa “ Untuk digolongkan sebagai sahabat tidak ada perbedaan bagi mereka yang berperang bersama-sama Nabi, berinteraksi dengan Nabi dalam jangka waktu yang lama, berusia dewasa tatkala berjumpa Nabi, dengan mereka yang tidak pernah mengangkat senjata bersama Nabi, hanya sebatas melihat Nabi tanpa berinteraksi lebih dekat, dan mereka yang masih berusia kanak-kanak ketika berjumpa beliau. Kemuliaan gelar sahabat adalah untuk semua, dan tidak ada pembedaan dalam hal tersebut.[4]
Dari definisi tersebut diatas dapat diketahui bahwa sahabat adalah mereka yang bertemu dengan Rasulullah sekalipun sekejap dan beriman dengannya baik meriwayatkan hadis darinya atau tidak, serta mati dalam keadaan Islam.
Menurut Muhammad Abu Zahw, ada beberapa cara menentukan seseorang ini dimasukkan golongan sahabat atau tidak, yang pertama adalah melalui kabar mutawatir seperti yang terjadi pada khalifah 4, Abu Bakar, Umar, Ustman, dan Ali. Kedua adalah melalui kabar masyhur seperti pada Dhomam bin Tsa’labah dan Ukasyah bin Muhson. Ketiga adalah melalui kabar Ahad persaksian seorang sahabat yang menegaskan bahwa dia termasuk golongan sahabat. Seperti yang terjadi pada Hamamah bin Abi Hamamah Al-Dusi yang meninggal di Isfahan. Abu Musa Al-‘Asyari yang bersaksi terhadapnya bahwa ia termasuk kalangan sahabat dan pernah berjumpa serta mendengar hadist dari Rasulullah. Keempat melalui pernyataan orang yang bersangkutan bahwa ia berjumpa Rasulullah setelah dipastikan bahwa ia adalah orang yang adil dan tsiqoh. Kelima melalui transmisi berita salah seorang tabiin yang menegaskan bahwa orang tersebut adalah sahabat, tentu saja setelah memastikan keadilan pembawa berita tersebut.[5]

Nash-Nash Syar’i  Berkaitan Dengan Keadilan Sahabat
Terdapat banyak ayat Al-Quran yang menyatakan tentang keadilan sahabat, antara lain:
Firman Allah s.w.t.:
Kalian adalah sebaik-baik orang yang dilahirkan untuk manusia, kalian menyuruh dengan makruf dan menegah kemungkaran dan beriman kepada Allah” (QS: Ali 'Imran: 110)
Perkataan kalian di dalam nas di atas sekalipun di tujukan kepada umat Nabi Muhammad s.a.w. namun yang lebih utama adalah kepada para sahabat, karena khitab di dalam nas tersebut adalah kepada mereka sebelum meliputi orang lain.

Firman Allah s.w.t. :
"Demikianlah kami jadikan kalian umat yang pertengahan iaitu umat yang adil supaya kalian menjadi saksi kepada manusia dan Rasul menjadi saksi kepada kalian". (QS: Al-Baqarah : 143)
Di dalam ayat di atas Allah telah menjadikan kalian sebagai satu umat yang diangkat menjadi saksi. Umat yang menjadi saksi adalah merupakan umat yang adil, maksud kalian di dalam ayat di atas sekalipun termasuk seluruh umat Nabi Muhammad s.a.w. tetapi yang lebih utamanya adalah para sahabat karena 'khitab' di dalam ayat di atas sebelum ditujukan kepada orang lain ia adalah di tujukan kepada orang yang berada sewaktu ayat itu di turunkan, mereka itu adalah para sahabat.
Firman Allah s.w.t. :
"Orang-orang Muhajirin dan Ansar yang awal dan orang-orang yang mengikut mereka dengan sebaik-baiknya, Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah.” (QS: Al- Taubah: 100)
Mereka yang pertama kali memeluk Islam dan mengikuti Rasulullah dari kalangan Muhajirin dan Ansar tidak lain dari para sahabat, bahkan mereka ini adalah dari sahabat-sahabat agung. Orang yang mengikut jejak langkah mereka dengan berbuat ihsan pula adalah terdiri dari sahabat-sahabat lain dan juga siapa saja dari kalangan orang-orang mukmin yagn patuh kepada Allah dengan melakukan kebaikan. Di dalam ayat ini Allah telah menyatakan bahawa Dia ridha kepada para sahabat Rasulullah juga kepada orang yang mengikuti jejak langkah mereka dengan sebaik-baiknya. Ini termasuk sahabat-sahabat lain, juga orang mukmin lain yang mengikut jejak langkah mereka.
Firman Allah s.w.t. :
"Orang yang bersegera melakukan kebaikan (dengan sendirinya termasuk orang-orang yang bersegera memeluk Islam, yaitu para sahabat Rasulullah)" (QS: Al-Waqi 'ah 10-11)

Firman Allah s.w.t. :
"Sesungguhnya Allah ridha kepada orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah satu pohon, Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, Allah menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)". (QS; Al-Fath 18)
Orang-orang mukrnin yang melakukan janji setia kepada Rasulullah s.a.w. adalah para sahabat, dengan itu ayat di atas adalah jelas Allah memuji para sahabat yang melakukan baiat kepada Rasulullah. Allah telah menjelaskan bahawa Allah telah ridha kepada mereka.
Firman Allah s.w.t:
Bagi orang fakir Muhajirin yang telah diusir dari kampung halaman dan harta mereka, mereka memohon kelebihan dan keridhaan dari Allah, mereka menolong Allah dan Rasulnya, mereka itulah sebenar-benarnya orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati di negeri Madinah dan beriman sebelum mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada orang-orang Muhajilin. Mereka mengutamakan orang- orang Muhajirin dari atas diri mereka, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang memelihara dirinya dari kekikiran maka mereka itulah orang yang beruntung." (QS: Al-Hasyr: 8)

Di dalam ayat ini Allah s.w.t. telah memberi pujian yang tinggi kepada orang-orang Muhajirin yang sanggup menjadi fakir karena diusir dari kampung halaman dan daripada memiliki harta mereka. Mereka hanya semata-mata menuntut kelebihan dan keridhaaan dari Allah s.w.t. Di dalam ayat di atas juga Allah memberi puiian kepada orang-orang Ansar yang cinta kepada orang Muhajirin. Mereka tidak mempunyai rasa iri dengki terhadap apa yang telah diperoleh sahabat Muhajirin. Mereka pula lebih mengutamakan orang Muhajirin dari diri mereka sendin. Pujian Allah kepada Muhajirin dan Ansar di atas tadi adalah menunjukkan kepada keadilan mereka.

Ini merupakan sebagian dari ayat-ayat Al-Quran yang memuji sahabat Rasulullah s.a.w. yang sekaligus menunjukkan keadilan mereka.
Literatur Hadist yang menceritakan keadilan sahabat juga cukup banyak, diantaranya adalah:
Sabda Rasulullah s.a. w. :
Dari Abu Musa ia berkata: “Kami sholat Maghrib bersama nabi lalu kami berkata, Alangkah baiknya kalau kita menunggu di masjid sampai shalat Isya bersama beliau. Maka kami menunggu beliau sampai beliau keluar kepada kami, maka beliau bertanya, Kalian masih di sini? Kami menjawab, Benar, Ya Rasulullah kami ingin mengerjakan Isya bersamamu. Beliau bersabda, Kalian telah berbuat baik dan benar. Lalu beliau mengangkat wajah beliau menghadap langit dan memang beliau sering melakukan hal itu. Beliau bersabda, Bintang-bintang itu penjaga amanat bagi isi langit, jika ia pergi maka isi langit akan ditimpa apa yang dijanjikan atas mereka. Aku adalah penjaga amanat bagi para sahabatku. Jika aku pergi, sahabatku akan ditimpa apa yang dijanjikan kepada mereka. Sahabatku adalah penjaga amanat bagi umatku, jika sahabatku tiada maka umatku akan ditimpa apa yang dijanjikan kepada mereka.[6]
"Jangan kalian memaki sahabatku, jangan kalian memaki sahabatku, demi Allah yang diriku di dalam kekuasaan-Nya, jika salah seorang dari kalian membelanjakan emas (pada jalan Allah) seperti Gunung Uhud banyaknya, tidak sama satu mud yang dibelanjakan oleh mereka dan tidak sama setengah 'mud' pun yang dibelanjakan oleh mereka."[7]
Sabdanya lagi:
"Sebaik-baik umatku ialah yang berada pada kurunku, kemudian yang selepas mereka, kemudian yang selepas mereka. Kemudian selepas kalian terdapat satu kaum yang menjadi saksi sedangkan mereka tidak diminta menjadi saksi, mereka berkhianat dan tidak amanah, mereka bernazar tetapi tidak menunaikan dan ternyata kepada mereka mendakwa suatu yang tidak ada pada mereka".[8]
Dari Abdullah bin Mughafal al Muzani ia berkata, Rasulullah bersabda; “Takutlah kepada Allah dalam masalah sahabatku (beliau mengucapkannya) 2 kali. Janganlah kalian menjadikan mereka sebagai obyek kritikan sepeninggalku. Barang siapa mencintai sahabatku maka demi rasa cintaku aku mencintainya dan barang siapa membenci sahabatku maka demi rasa benciku aku membencinya. Siapa menganiaya sahabatku maka ia telah menganiayaku, siapa menganiayaku berarti ia telah menganiaya Allah. Dan Allah pasti akan mengadzabnya”.[9]
Dari hadist di atas ternyata kedudukan dan martabat para sahabat yang begitu tinggi di mata Allah dan Rasul-Nya. Dengan kata lain, pengakuan akan kejujuran dan keadilan mereka tidaklah datang dari kaumnya, melainkan langsung dari Allah Swt atas kegigihan, hijrah, peperangan, pengorbanan harta dan jiwa demi tegaknya kalimat Allah di muka bumi. Karenanya  di samping Hadist-hadist yang menunjukkan kepada ketinggian martabat seorang sahabat dan keadilan mereka seperti Hadist yang menunjukkan kelebihan-kelebihan (fadhail) Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, Khadijah, Fatimah, Aisyah dan sahabat-sahabat lainnya sangatlah banyak.
Berkaitan dengan keadilan sahabat ini Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Ishabah jilid 1 hal. 17 mengatakan: Ahlu Sunnah bersepakat bahwa seluruh sahabat adalah 'adil, kecuali dan barang siapa yang menentang ini adalah ahli bid'ah. Khatib Al-Baghdadi berkata: keadilan sahabat dengan legitimasi Allah swt. ‘adalah  sesuatu yang tetap dan telah diketahui. Allah telah memilih mereka (sahabat) dan mengabari tentang kesucian mereka. Kemudian Ibnu Hajar berkata: al-Khatib meriwayatkan dari seorang tokoh termuka di dalam bidang Hadist yaitu Abu Zar’ah Al-Razi berkata:
Jika sekiranya kalian melihat seseorang mencaci salah seorang dari sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w., ketahuilah bahawa ia adalah seorang Zindiq, karena bagi diri Rasul s.a.w. itu adalah haq(benar) dan al- Quran adalah haq(benar). Sesungguhnya sahabat- sahabat Rasulullah s.a.w. menyampaikan al-Qur’an dan al-Sunnah kepada kita. Sesungguhnya mereka (yang mencaci sahabat) ingin mencacatkan penyaksian kita dan membatalkan al-Qur’an- dan al-Sunnah. Mencacatkan mereka itu adalah lebih utama karena mereka adalah zindiq.[10]

Salah Paham Terhadap Konsep Adalah Sahabat
Sering terjadi kesalahan dan kerancuan pemahamab tentang konsep ‘adalah sahabat. Banyak kalangan yang menilai bahwa konsep ‘adalah sahabat ini sama dengan ‘ishmah sahabat (kemaksuman sahabat) sehingga sahabat yang sedianya manusia biasa yang dikaruniai nikmat bertemu Rasulullah terangkat derajatnya hingga menjadi representasi kedudukan Rasul itu sendiri yang maksum, tidak berbuat dosa.
Seperti diterangkan dalam prolog tulisan ini di muka, bahwa terdapat dua kubu bersebrangan dalam menyikapi konsep ‘adalah sahabat. Pertama adalah mereka yang terlalu berlebihan mengagungkan sahabat. Sedemikian ta’dzimnya kepada sahabat sampai-sampai mereka menganggap bahwa sahabat tidak mungkin berbuat dosa dan kesalahan. Walhasil, konsep ‘adalah sahabat yang pada mulanya hanya terkait dengan diskursus periwayatan hadist bermetamorfosa menjadi ishmah sahabat. Segala cela dan aib yang ada dikalangan sahabat mutlak harus disingkirkan kemudian ditutup serapat mungkin.
Golongan kedua adalah mereka yang menganggap bahwa seluruh sahabat sepeninggal Rasulullah telah berpaling dari ajaran Nabi dan hanya menyisakan segelintir sahabat yang masih beriman. Pendapat ini terepresentasikan pada kalangan pengikut Syiah yang secara ekstrim banyak melabeli para sahabat dengan orang munafik, murtad, perampas hak khilafah Ali, dan lain-lain.
Titik sengketa dari konsep ‘adalah sahabat ini sebenarnya sederhana saja. yaitu menilai diri para sahabat Nabi saw. sebagai jalur penyampai yang bisa dipercayai bagi Al Qur`an, hadis-hadis Nabi saw., serta seluk beluk kehidupan Nabi saw. selama beliau hidup, bagi generasi berikutnya.
Hal tersebut tidak berarti memberikan penilaian mereka sebagai sosok yang maksum yang tak mungkin berbuat salah, tidak mungkin lupa, tidak mungkin berbuat dosa, atau melakukan suatu kemaksiatan. Mereka bisa saja melakukan semua itu. Karena sifat maksum atau terhindar dari dosa hanya bagi Nabi saw. saja.
Secara logika, ini sangat diterima. Mengapa? Karena di manapun di dunia ini, ketika orang ingin mengetahui sejarah dan catatan-catatan tentang kejadian sebelum kelahirannya, pasti memerlukan info dari orang yang hidup sebelumnya. Kita bisa saja lebih berpendidikan dari orang tua kita. Tapi kejadian-kejadian di tengah keluarga kita, sebelum kita lahir, atau ketika kita masih balita, pastilah mereka yang tahu. Sepintar dan sesuci apa pun kita melihat diri kita, tidak mungkin kita lebih tahu dari orang tua kita tentang semua kejadian sebelum kita lahir. Di sini, keinginan kita untuk mengetahui sejarah otentik keluarga kita atau masa-masa balita kita, harus meletakkan orang tua kita sebagai sumber informasi yang terpercaya. Kecuali jika mereka terbukti senang berdusta. Karena jika tidak, kemana lagi kita mesti mencari informasi tersebut?
Membatasi sumber informasi, membuat kita menghasilkan gambaran yang tidak otentik terhadap objek yang ingin kita ketahui. Demikian juga dengan keinginan kita untuk mengetahui riwayat otentik Al Qur`an dan sunnah-sunnah Nabi saw. Melalui siapa kita mengetahui semua itu? Tentu jawabnya melalui para sahabat, isteri-isteri beliau dan anak-anak serta menantu beliau yang pernah mengalami hidup bersama beliau atau mendengar suatu riwayat dari beliau.
Di sini kita mesti meletakkan para sahabat sebagai sumber informasi atau riwayat otentik dari Nabi saw. Kecuali jika orang tersebut terbukti pernah berdusta terhadap Nabi saw. Atau Nabi saw. sudah memberikan kata pasti bahwa si A adalah sosok yang tidak bisa dipercayai atau munafik.

Konsep ‘‘adalah Menurut Ulama Ahlus Sunnah
Ibn Taimiah berkata: “Dari kalangan sahabat bisa saja seseorang dari mereka melakukan kesalahan, dan berbuat dosa. Karena mereka bukan orang-orang yang maksum. Namun mereka tidak mungkin sengaja berdusta. Karena siapa yang sengaja berdusta atas nama Nabi saw. niscaya Allah swt akan membongkar dustanya.” Dalil tentang hal itu terdapat dalam Sahih Bukhari (6780) yang berisi tentang seorang laki-laki yang berulang kali dihadapkan ke pengadilan Rasul saw. untuk dihukum dera karena meminum-minuman keras. Kemudian ketika salah seorang sahabat melaknatnya, maka Nabi saw. mencegahnya sambil bersabda:
Jangan kalian laknat dia. Karena demi Allah, aku tahu dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”.[11]
Ibnu Hajar berkomentar: “Dalam hadis tersebut terdapat bantahan bagi orang yang menyangka bahwa pelaku dosa besar otomatis kafir. Karena Rasulullah saw. melarang orang melaknatnya. Sambil memerintahkan untuk mendoakan orang itu. Dari situ juga dipahami bahwa tidak ada unsur saling menafikan antara melanggar larangan dengan keberadaan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dalam hati pelaku dosa itu. Karena Rasul saw. memberitakan bahwa orang itu mencintai Allah dan Rasul-Nya. meskipun orang itu melakukan tindakan yang diharamkan.”
Kasus serupa pernah terjadi pada Hathib bin Abi Balta’ah, dalam hadis yang diriwayatkan dalam Sahih Bukhari (4890) dan Muslim (2494). Ia saat itu dituduh melakukan tindakan memata-matai kaum Muslimin. Namun demikian Nabi saw. tetap tidak memvonis dia sebagai kafir.
Orang yang mempelajari sepak terjang para sahabat niscaya akan mendapati sahabat yang diberitakan pernah melakukan dosa sangatlah sedikit jumlahnya. Dan diantara yang sedikit itupun tidak dapat dibuktikan kesalahannya. Jika kita melihat dengan pandangan jujur, niscaya kita dapati para sahabat yang meriwayatkan sunnah tidak didapati melakukan dosa seperti itu. Sedangkan jika pun ada, ternyata yang melakukannya orang yang statusnya sebagai sahabat masih diperdebatkan, seperti Walib bin Uqbah. Dan begitu pun, Walid bin Uqbah tidak pernah meriwayatkan hadis, setelah meninggalnya Rasulullah saw. Sedangkan namanya disebut pada masa hidup Rasulullah saw. semata untuk kepentingan penjelasan hukum atas kasus yang terjadi, sesuai syari’ah.[12]
Al Alusi berkata dalam kitab Al Ajwibah al ‘Iraqiyah ( hal. 23-24):
Bukanlah maksud perkataan kami: seluruh sahabat ‘uduul, berarti mereka tidak melakukan kesalahan atau dosa sama sekali. Mereka bisa saja melakukan dosa, kemudian yang patut diingat bahwa dari kalangan sahabat yang melakukan dosa, hingga akhirnya dijatuhui hukuman, mereka sangat sedikit jumlahnya, dibandingkan ribuan sahabat yang mulia yang terbukti memegang teguh jalan hidup yang lurus. Dan Allah swt. Menjaga mereka dari dosa dan maksiat, yang besar maupun kecil. Dan yang lahir maupun bathin. Sejarah yang jujur menjadi bukti atas fakta tersebut.
Sedangkan Abu Hamid al Ghazali berpendapat dalam kitab Al-Mustashfa (hal. 189-190) sebagai berikut:
Yang dijadikan pegangan oleh para sahabat dan jumhur: bahwa ‘adalah sahabat diketahui sesuai dengan pemberian sifat ‘adalah itu oleh Allah swt kepada mereka. Serta pujian-Nya bagi mereka dalam Al Qur`an. Ini adalah keyakinan kami tentang mereka. Kecuali jika terbukti secara nyata salah seorang dari mereka melakukan dosa dengan sengaja. Dan hal seperti itu ternyata tidak terjadi. Sehingga terhadap mereka tidak perlu lagi dilakukan uji validitas ke’adalahan.”
Uji Validitas hadist yang diterima oleh Para Ulama Ahlus Sunnah sejatinya tidak ditujukan untuk perawi dari kaum Sunni saja, karena merekapun kerap menerima riwayat dari kalangan selain mereka. Seperti misalnya penerimaan riwayat Aban bin Taghlab Al-Kufi, seorang penganut Syiah Imamiah. Al-Hafidz Dzahabi mengomentarinya: “Dia orang Syiah fanatik akan tetapi ia jujur dalam menyampaikan berita. Baginya ke-Syiah-annya dan bagi kita kejujurannya”[13]
Kegiatan seperti ini bukan dilandaskan atas fanatisme sektarian maupun syahwat menghegemoni kaum liyan, namun lebih jauh semangat untuk mennghormati kedudukan Hadist Nabawi yang merupakan pilar kedua dari Agama setelah Al-Quran. Serta untuk menjaga keotentikan dan membersihkannya dari tangan-tangan kotor yang hendak menodainya.

 Epilog
Dari elaborasi singkat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa konsep ‘adalah yang diusung para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah ‘adalah konsep yang tawashuth (pertengahan), yaitu tidak menganggap para sahabat ma`shum, juga tidak menganggap mereka munafiq sebagaimana kaum Syiah. ‘adalah berarti tidak munafiq, diterima sebagai orang yang punya kredibilitas dan jujur dalam menyampaikan berita.
Larangan mencela sahabat bukan berarti menetapkan mereka ma`shum, yang terjadi justru ulama Sunni membolehkan kritikan kepada sahabat, terutama apabila yang disampaikan terbukti menyelisihi Al-Quran dan Hadist. Namun demikian para ulama menganggap kesalahan ini manusiawi, bukan kemunafiqan atau kefasiqan, bisa karena ijtihad mereka, bisa karena kekhilafan dan hawa nafsu, dan tiada manusia yang ma`shum kecuali Rasulullah saw. Wallah A’lam


















Daftar Pustaka
Ibnu Manzhur, Lisan-al-Arab, Juz 1,
Muhammad Abu Zahw, Al-Hadist wa Al-Muhadditsun, Riyadh: Syirkah Thabaah Al-Arabiah, cet.2, 1984,
Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah,  Difa’ An Al-Sunnah,  Kairo: Maktabah Al-Sunnah, 1989,
Ibnu Hajar, Nukhbah Al-Fikr,
Muslim, Sahih Muslim tahqiq Mohamad Fuad Abdul Baqi, Mesir, ‘Isa al-Babi, 1955,
Al-Bukhari, Sahih Al-Bukhari dalam Fath al-Bari, Jld. 7. Muslim, Sahih Muslim, Jld. 4, 1967
Ibnu Taimiyah, Minhaj As-Sunnah (1/306-307)
Ibnu Hajar, (Fathul Bari: 12/78)
Mushtofa Al-Siba’i, Al-Sunnah wa Makanatuha fi Al-Tasyri’, Kairo: Dar Al-Warraq, 2000