Thursday, August 30, 2012

Ibnu Khaldun: Filsafat Sejarah dan Sosial



1.      Pendahuluan
Ada kecenderungan yang mengatakan bahwa filsafat sejarah dan sosiologi merupakan fenomena abad modern yang muncul di Barat. Beberapa abad sebelum Auguste Comte (1798-1857) yang dianggap sebagai pendiri sosiologi, di belahan dunia lain, tepatnya Afrika Utara muncul Ibnu Khaldun, seorang sarjana pertama yang mengajukan gagasan tentang analisa bentuk interaksi manusia dengan sesamanya. Ibnu Khaldun melakukan studi ilmiah tentang masyarakat, riset empiris, dan meneliti sebab-sebab fenomena sosial. Ia memusatkan perhatian pada berbagai lembaga sosial (seperti lembaga politik dan ekonomi) dan hubungan antar lembaga sosial itu. Ia juga tertarik melakukan studi perbandingan antara masyarakat primitif dan masyarakat modern.[1] Studi tersebut dikembangkan berdasarkan pada dialektika transisi dari kehidupan nomaden menuju kehidupan menetap atau urban. Selain itu, faktor-faktor geografis, ekologi dan ekonomi merupakan kekuatan utama yang menentukan pola lingkaran perubahan sosial dan politik di dunia.[2]
Dalam menjelaskan tentang masyarakat dan sosiologi, Ibnu Khaldun menekankan pentingnya menghubungkan sosiologi dengan observasi sejarah. Pada masa sebelumnya, pemaparan sejarah berkutat pada model naratif-deskriptif, tanpa adanya upaya menguak apa yang ada di balik sebuah fenomena sosial. Filsafat sejarah dan sosiologi bertugas menganalisa latar belakang suatu peristiwa dan hubungannya dengan peristiwa lain di masa sebelum atau sesudahnya. Menurut Ibnu Khaldun, suatu fenomena sosial mustahil muncul dengan sendirinya. Selalu ada faktor pemicu seseorang atau sekumpulan masyarakat untuk melakukan perbuatan tersebut. Selain itu, suatu peristiwa juga pasti memiliki kaitan dengan peristiwa sebelum dan sesudahnya, yang menjadi faktor pemicu dari rangkaian peristiwa tersebut.
            Pemikiran Ibnu Khaldun mengenai filsafat sejarah dan sosiologi ia tuangkan dalam bukunya Muqaddimah. Buku tersebut awalnya ditulis sebagai pengantar al-Ibar, buku sejarah bangsa Arab, Berber dan suku-suku di sekitarnya. Namun di kemudian hari, karena isinya yang memuat teori-teori sosial dan filsafat sejarah dipisahkan dan dijadikan buku tersendiri. Atas kontribusinya tersebut, Ibnu Khaldun diakui sebagai intelektual cemerlang yang berpengaruh signifkan pada perkembangan dunia pengetahuan di era berikutnya.
  
2.      Sketsa Biografis Ibnu Khaldun
            Ibnu Khaldun lahir dengan nama Abu Zaid Waliuddin Abd al-Rahman ibn Khaldun al-Hamdani. Dilahirkan di Tunisia, pada 732 H (1332 M) dan meninggal di Kairo pada 808 H (1406 M). Garis keturunannya bersambung pada Wail bin Hajar, seorang sahabat Nabi terkenal yang meriwayatkan kurang lebih tujuh puluh hadist dari Nabi dan pernah diutus Nabi bersama Muawiyah bin Abi Sofyan ke Yaman untuk mengajarkan Islam dan al-Quran kepada  penduduk setempat.[3] Sebutan Ibnu Khaldun dinisbatkan kepada nama kakeknya yang ke sembilan, Khaldun bin Ustman. Namanya juga sering ditambahi dengan sebutan al-Hadrami, tempat dimana keluarganya berasal, Hadramaut, Yaman.  Masa hidup Ibnu Khaldun sezaman dengan Dinasti Mariniyah di Maroko, Banu Abd al-Wadid di Maghribi Tengah (Aljazair), Hafshiyah di Ifriqiyah (Tunisia), Nashiriyah di Granada (Spanyol), dan Mamluk di Mesir.[4]
            Keluarga Ibnu Khaldun merupakan keluarga terpandang dan memiliki peranan penting dalam hal politik dan ilmu pengetahuan. Kakeknya adalah salah seorang menteri di istana Hafshiyah, Tunis. Sedangkan ayahnya adalah seorang ulama yang ahli dalam ilmu-ilmu agama dan kemiliteran. Salah satu kakeknya, Umar bin Khaldun, terkenal ahli dalam ilmu matematika dan astronomi.
            Ibnu Khaldun muda dididik dalam suatu lingkungan yang sangat dipengaruhi budaya tradisional. Ia pertama kali mempelajari dan menghafalkan al-Quran dari ayahnya. Selain itu ia juga belajar tentang ilmu-ilmu agama seperti, hadist, Ushul, Tafsir, Fikih, Nahwu, Sharaf, Sastra. Disamping juga ia mentelaah buku-buku filsafat, logika, fisika dan matematika.
            Semasa muda, ada dua peristiwa penting yang memberi pengaruh dalam kehidupan Ibnu Khaldun. Pertama adalah mewabahnya penyakit Pes tahun 748-9 H/1348-9 M di sebagian besar belahan dunia, meliputi Samarkand hingga Maghrib, Italia, sebagian besar Eropa hingga Andalusia. Di Tunisia, negeri tempat Ibnu Khaldun setiap harinya lebih kurang 1200 orang meninggal. Akibat wabah ini, Ibnu Khaldun kehilangan orang tua serta guru-gurunya. Kedua adalah diaspora sejumlah besar masyarakat Tunisia ke Maroko untuk menyelamatkan diri dari serangan wabah Pes. Turut serta dalam migrasi penduduk tersebut para sarjana, cendekiawan, dan ulama dimana Ibnu Khaldun belajar. Keadaan yang sulit demikian menyebabkan kehidupan Ibnu Khaldun sulit. Ia mulai konsentrasi mencari kerja untuk bertahan hidup. Kemudian ia putuskan mencari kehidupan lebih baik dan mengembara dari Tunisia ke Maghrib Tengah, Maghrib jauh, Syam, Mesir, dan Granada.[5]
            Tahun  755 H/1354 M, Ibnu Khaldun diangkat sebagai anggota Dewan Ulama Sultan di Maroko. Di sana ia mengabdi selama 8 tahun. Dalam kurun waktu tersebut ia manfaatkan juga untuk belajar dari para ulama yang berkumpul di sekitar Istana Mariniyah. Sebelumnya pada tahun 744 H Ibnu Khaldun memegang jabatan di pemerintahan di Fez. Di Bougie (Aljazair) Ibnu Khaldun menempati jabatan pengurus rumah tangga istana. Atas kepiawaiannya dalam mengemban misi diplomatik, Ibnu Khaldun seringkali diangkat menduduki jabatan pemerintahan.
            Pada tahun 764 H, Ibnu Khaldun bertolak ke Granada dan diangkat menjadi Duta Besar Sultan Granada, Muhammad V, untuk Pedro Sang Zalim, Raja Castille. Ia kemudian kembali ke Maghribi tahun 766 H dan mengambara ke Buogie, Biskara, dan Tlemcen sebelum kembali ke Fez. Selama pengembaraannya yang memakan waktu selama 7 tahun, Ibnu Khaldun berkenalan dengan banyak penguasa setempat dan seringkali dipercaya menduduki berbagai jabatan di pemerintahan. Sebagai seorang politikus, Ibnu Khaldun terlibat langsung dalam pergolakan politik di wilayah Barat Muslim yang berlangsung sepanjang abad 8H/14M. Ia mengalami intrik-intrik istana, dijebloskan ke penjara, menduduki jabatan politik, mendapatkan kekuasaan dan prestige, juga menjalani kehidupan gurun dan pedalaman bersama dengan berbagai suku.[6]
            Perjalanannya ke Mesir dilakukan Ibnu Khaldun pada tahun 784 H. Sebelum mencapai Mesir, nama Ibnu Khaldun telah masyhur di kalangan masyarakat berkat karya Muqaddimah. Di Mesir ia berkenalan dengan Sultan Zahir Barquq yang kemudian mengangkatnya sebagai professor di Madrasah Qamhiyah dan Hakim Agung Maliki di Kairo. Selama masa hidupnya di Mesir, Ibnu Khaldun masih melakukan korespondensi dengan masyarakat Islam di Barat dan menginformasikan kejadian kepada Sultan Fez. Saat terjadi penyerbuan Tatar yang hendak menghancurkan Syria, Ibnu Khaldun menggunakan kepiawaian diplomasinya untuk melobi pemimpin Tatar, Timurlenk (803 H). Upaya tersebut membuat Damaskus selamat dari serangan Timurlenk. Mesir juga berhasil menahan masuknya orang-orang Tatar ke wilayah mereka. Terkesan dengan Ibnu Khaldun, Timurlenk memintanya tinggal di Damaskus dan bekerja untuknya, namun karena tidak tertarik, Ibnu Khaldun menolak permintaan tersebut dan memilih kembali ke Mesir. Tak lama kemudian, Ibnu Khaldun meninggal dunia di Mesir pada tahun 808 H (1406 H).

Pemikiran Ibnu Khaldun
1.      Metodologi Kritik Historis
Dari pengembaraannya ke berbagai negara dan pengalamannya menduduki jabatan politik di setiap negara yang ia singgahi, menmbuat Ibnu Khaldun memiliki pandangan luas. Rangkaian kejadian sejarah yang ia alami sepanjang hidupnya mendorong Ibnu Khaldun untuk berpikir bahwa peristiwa kesejarahan bukan terjadi sejarah kebetulan. Pun juga bukan terpisah dari peristiwa lainnya. Menurutnya, seluruh rangkaian peristiwa tersebut berhubungan satu sama lain. Satu peristiwa pasti berkaitan dan memiliki pengaruh kepada peristiwa lain meskipun tidak secara langsung.[7] Ibnu Khaldun berpendapat bahwa pasti terdapat hukum kausalitas dan determinasi yang berada di belakang setiap peristiwa. Dengan menemukan mekanisme kerja hukum tersebut, maka akan memungkinkan seorang sejarahwan untuk menganalisa bentuk-bentuk fenomena yang terjadi pada masyarakat. Hasil analisa tersebut berguna untuk memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa mendatang.
Dalam kajiannya untuk memahami gejala sosial, Ibnu Khaldun melakukannya dengan dua tahap; pertama  adalah dengan melakukan pegujian dan observasi historis, meliputi pengamatan empiris-inderawi dan pengamatan sejarah terhadap gejala-gejala sosial. Dengan kata lain, bahwa keseluruhan pembahasan yang dilakukan, dan data-data yang didapatkan berdasarkan fakta sejarah dan hasil pengamatan. Kedua adalah memusatkan pikirannya atas materi-materi utama tersebut, kemudian menjelaskannya dalam satu gambaran besar rangkaian potret sejarah, dengan menemukan hukum-hukum universal yang mengikat gejala-gejala sosial tersebut.[8]
Menurut ilmuwan yang juga menguasai filsafat dan teologi tersebut, setidaknya ada beberapa poin penting yang luput dari amatan sejarahwan ketika itu. Para sejarahwan seringkali lupa atau tidak mengetahui akan hukum universal yang mengatur setiap tindakan manusia. Selain itu juga kealpaan tersebut disebabkan oleh ketidaktahuan mereka terhadap watak alami setiap bangsa. Karena itu setiap sejarahwan harus memperhatikan faktor-faktor penyebab kesalahan tersebut, sehingga dengan demikian dapat memilah kabar mana yang merupakan sebuah kebenaran dan mana yang bukan. Beberapa faktor tersebut adalah: Pertama seorang peneliti harus mampu mengontrol emosi pribadinya ketika menerima suatu kabar. Tingkat emosi seorang peneliti harus dalam kondisi stabil dan tidak dipenuhi oleh rasa sentimen atau fanatisme kesukuan dan sektarian. Jika mampu melakukan hal tersebut maka seorang peneliti kemungkinan besar dapat memilah kebenaran dari suatu berita yang datang[9]. Seorang sejarahwan yang memiliki rasa fanatisme kepada satu suku atau sekte tertentu secara otomatis akan meriwayatkan kabar-kabar yang baik tentang suku tersebut. Sebaliknya, ia akan meriwayatkan hal-hal buruk mengenai suku atau sekte yang tidak disukainya. Hal itu merupakan watak alami seorang manusia.
Kedua, tidak adanya kritisisme dan seleksi terhadap berita yang masuk. Hal ini disebabkan seorang peneliti yang menaruh kepercayaan berlebih kepada si pembawa berita. Sehingga tak peduli apakah kabar tersebut merupakan kebohongan, maka akan diterimanya. Demikian pula sebaliknya, peneliti yang kurang percaya pada kapasitas si pembawa berita akan rentan menyangsikan berita yang dibawanya, meskipun itu benar.
Ketiga, adanya mispersepsi dan misunderstanding antara maksud berita yang disampaikan si pembawa dengan pemahaman si peneliti. Meskipun hal tersebut terjadi di luar kesengajaan, namun akibatnya sangat fatal, apabila tidak diperhatikan serius oleh peneliti. Hal ini kemudian menyebabkan kabar yang seharusnya benar dan akurat menjadi tidak valid. Dalam poin ini terdapat juga kemungkinan mispersepsi yang terjadi berasal dari pihak si pembawa berita. Ini bisa terjadi apabila dia tidak menyeleksi validitas berita yang terjadi di masyarakat. Selalu ada kemungkinan bahwa berita yang menjadi konsumsi masyarakat merupakan berita bohong dan itu diriwayatkan secara tidak sengaja kepada si peneliti.
            Keempat, kealpaan mereka terhadap hukum alam yang terjadi dalam masyarakat serta melupakan rasionalitas dalam menyampaika suatu kabar. Maraknya mitos dan tahayul yang disampaikan oleh para sejarahwan menjadi sasaran kritik Ibnu Khaldun. Seperti misalnya berita riwayat Ibnu Mas’udi yang mengatakan jumlah tentara Bani Israel pada jaman Nabi Musa mencapai enam ratus ribu pasukan. Angka ini terkesan berlebihan. Sebab lama waktu Bani Israel menempati Mesir saat itu hanya 120 tahun. Secara logis tidak mungkin jumlah Bani Israel dapat mencapai angka 600 ribu dalam kurun waktu yang demikian singkat.[10]
            Kelima, kecenderungan hiperbolik yang kerap diperagakan manusia ketika mendengar suatu berita. Kecenderungan tersebut biasanya muncul berkenaan dengan  berita yang memuat perbendaharaan angka. Seperti misalnya seseorang akan menyebut angka yang lebih besar dari sebenarnya ketika menceritakan jumlah kekayaan raja, jumlah kekuatan prajurit perang, jumlah tawanan, jumlah harta rampasan, dan sebagainya.
            Keenam, analogi peristiwa yang terjadi di masa lalu kepada jaman sekarang secara mutlak. Dengan melakukan analogi tersebut, berarti si peneliti melakukan penyeragaman faktor-faktor pemicu sebuah fenomena, akibat yang timbul,  dan aktor-aktor yang terlibat. Padahal jelas konteks historis, momen, kontur geografis, formasi demografis antara  suatu peristiwa berbeda dengan peristiwa lain, meskipun tidak dapat dipungkiri masih terdapat kesamaan dalam kedua peristiwa tersebut. Tugas seorang peneliti adalah melihat aspek kesamaan tersebut sehingga dapat dijadikan tolak ukur peristiwa yang terjadi di masa mendatang.[11]
            Setelah mengemukakan kesalahan-kesalahan yang jamak dilakukan peneliti, Ibnu Khaldun menawarkan 2 solusi agar kesalahan tersebut dapat diminimalisir di kemudian hari. Solusi pertama adalah menggunakan metode jarh wa ta’dil yang dikembangkan dalam tradisi periwayatan hadis. Secara singkat metode ini ditempuh dengan melakukan verifikasi akan kondisi perawi maka kabar yang disampaikan diandaikan sebagai kabar yang benar.  Namun Ibnu Khaldun memberi catatan bahwa metode jarh wa ta’dil tidak sesuai diterapkan seluruhnya pada diskursus sejarah. Hal ini karena berita akan satu peristiwa sejarah  dapat dikatakan benar apabila memang sesuai dengan fakta empiris yang terjadi di lapangan, dan bukan tergantung pada kondisi personal si perawi. Jadi Ibnu Khaldun merekomendasikan verifikasi sejarah ditinjau dari keselarasan berita dengan fakta empiris.
            Solusi kedua adalah melihat kemungkinan terjadinya peristiwa tersebut menggunakan kacamata rasionalitas. Apabila suatu kabar bertentangan dengan rasionalitas, maka kabar tersebut tidak dapat dipercayai kebenarannya. Seperti misalnya cerita yang diriwayatkan al-Mas’udi mengenai monster laut yang menghalangi Alexander membangun kota Alexandria.[12] Selanjutnya menurut Ibnu Khaldun, bahwa ilmu al-Umran al-Basyari tersebut memberikan dua manfaat terhadap mereka yang mempelajarinya, yaitu mengetahui hukum universal yang mengatur fenomena masyarakat dan menjauhkan mereka dari kesalahan dalam menelaah setiap peristiwa.[13]

2.      Filsafat Sejarah dan Teori Sosial
The Nature of Civilization
            Secara alamiah, manusia adalah makhluk sosial (homo social). Ia tidak dapat hidup dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Untuk itu manusia selalu membutuhkan kepada sesama untuk mempertahankan eksistensinya.[14] Bentuk organisasi sosial dengan demikian menjadi suatu kebutuhan yang mendesak.[15] Ibnu Khaldun menaruh perhatian khusus pada interaksi antara faktor alami dan faktor non-fisik yang mendasari budaya manusia yang pada gilirannya mengandaikan organisasi politik dan sosial yang berpusat pada kekuasaan negara. Daya dorong di balik proses historis tersebut ada dalam semangat kelompok (ashabiyah).[16] Semangat kelompok tersebut kemudian dilengkapi dengan alat-alat peradaban untuk mendukung eksistensi mereka.
            Selain itu mereka juga mengangkat seorang pemimpin yang diandaikan sanggup mempertahankan kelangsungan hidup mereka. Mengingat watak alami manusia yang egois, keberadaan pemimpin diperlukan untuk mengatasi perselisihan yang kerap muncul diantara anggota masyarakat.[17] Pemimpin tersebut haruslah orang yang paling baik dan berkualitas diantara mereka. Ia juga harus kuat dan memiliki otoritas, karena dengan kekuatannya sanggup mengalahkan musuh, dan dengan otoritasnya ia mampu mengatur masyarakat yang ada di bawahnya. Pemimpin tersebut juga harus memiliki karisma sehingga mampu membuat rakyatnya tunduk dan loyal kepadanya. Kualifikasi pemimpin yang tertinggi adalah Nabi, yang mendapatkan panduan langsung dari Allah. Dari sini, Ibnu Khaldun hendak menyatakan bahwa konsep kenabian merupakan keniscayaan. Karena kehadiran seorang Nabi sanggup membawa masyarakat tak hanya makmur di dunia, tetapi bahagia juga di akhirat.[18]

            Ilmu al-Umran al-Bashari    
            Al-Umran al-Bashari adalah terma yang diajukan Ibnu Khaldun untuk merujuk kepada ilmu sosial yang mempelajari hubungan antar manusia dengan alam dan manusia dengan sesamanya dalam satu komunitas yang sama ataupun dengan komunitas lainnya. Mengenai hubungan manusia dengan alam tempat tinggalnya, Ibnu Khaldun menyatakan bahwa belahan bumi yang memiliki iklim bersahabat cenderung ditinggali lebih banyak orang daripada daerah yang beriklim ekstrim. Letak geografis memberikan pengaruh signifikan dalam membentuk watak masyarakat. Hal ini dapat kita lihat dari kecenderungan watak manusia yang tinggal di daerah beriklim panas biasanya lebih mudah tersulut emosi, keras kepala, pemberani, dibandingkan mereka yang ada di tempat relatif sejuk.[19]
Ibnu Khaldun seringkali menggunakan istilah thabai’ al-umran untuk menunjukkan karakteristik unik yang dimiliki suatu kelompok masyarakat dalam kurun waktu tertentu dan tidak dijumpai pada kelompok lain.[20] Watak masyarakat yang tinggal di kota sama sekali berbeda dengan mereka yang berada di desa. Begitu pula mereka yang mendiami wilayah pantai berlainan dengan masyarakat yang menggunakan media sawah sebagai mata pencaharian utama mereka. Jadi menurut Ibnu Khaldun setiap kelompok masyarakat berlainan satu sama lain bergantung pada pola interaksi mereka dengan kondisi geografis daerah yang mereka tinggali, sehingga memunculkan pola mata pencaharian, kebiasaan, dan budaya yang khas. Pola-pola tersebut tidak tetap dan berubah-ubah mengikuti perubahan waktu.  
Adapun mengenai bentuk komunitas masyarakat, Ibnu Khaldun membaginya menjadi dua; Badui dan Hadlari. Komunitas Badui merupakan asal mula dari bentuk komunitas hadlari yang merupakan kelanjutan perkembangan dari Badui. Manusia Badui menjalani kehidupan mereka dengan lebih sederhana. Mereka masih menggunakan pola hidup tradisional untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Pola hidup mereka berpindah-pindah, mencari daerah baru yang subur dan dekat dengan mata air. Mata pencaharian mereka terbatas pada beternak unta, kambing atau domba. Karena keterbatasan sumber daya alam dan ketiadaan keterampilan, umumnya kehidupan mereka miskin. Dengan demikian kebutuhan mereka sangat sederhana, hanya berkisar soal kebutuhan pokok (makan, minum, tempat tinggal, bertahan dari serangan musuh). Kesadaran akan ilmu pengetahuan hampir tidak pernah ditemukan pada masyarakat Badui.[21]
Sedangkan masyarakat hadhari dicirikan dengan tempat tinggal yang berada dalam kota-kota yang maju dan berperadaban. Dalam kota tersebut, masyarakat tinggal dengan makmur, tersedia berbagai macam fasilitas pemuas kebutuhan mereka. Sektor perdagangan, industri, pusat kebudayaan, pusat pemerintahan dan aparatur negara selalu ditempatkan di dalam kota.[22] Dari sinilah seluruh proses administrasi dan kekuasaan negara dijalankan. Ilmu pengetahuan dan seni hanya berkembang pesat dalam komunitas yang telah maju.[23] Hal itu karena ilmu pengetahuan itu sendiri tidak dapat terlepas dari keberadaan fasilitas penunjang; sekolah, universitas, perpustakaan, buku-buku, komunitas ilmuwan, perindustrian, yang kesemuanya itu hanya dapat ditemukan di kota. Ilmu Pengetahuan yang berkembang pesat dapat kita temukan di pusat-pusat peradaban Islam di Baghdad, Kairo, Cordova, Granada, Samarkand.

Teori Evolusi Peradaban
Ibnu Khaldun berpendapat bahwa evolusi adalah suatu keniscayaan. Evolusi tersebut tidak hanya dalam diskursus kehidupan sosial peradaban namun meliputi seluruh aspek ciptaan Tuhan, termasuk evolusi spesies manusia.[24] Penulis tidak akan berbincang banyak mengenai hal ini, karena bukan merupakan topik diskusi kita kali ini yang menilik diskursus filsafat sejarah dan sosial.
Dalam pembahasan mengenai evolusi peradaban, menurut Ibnu Khaldun, faktor utama berkembangnya peradaban adalah ashabiyah. Solidaritas kesukuan tersebut diperlukan untuk memberi ikatan emosional sebagai saudara senasib dan seperjuangan diantara anggota komunitas masyarakat. Jika ikatan ashabiyah yang terjalin lemah, bisa dipastikan umur peradaban tersebut tidak akan lama. Sebaliknya, semakin kuat rasa solidaritas, perkembangan bangsa tersebut akan mengalami siklus naik. Selanjutnya Ibnu Khaldun menunjukkan bahwa ashabiyah adalah faktor determinan bertahannya suatu negara. Faktor ashabiyah bahkan menurut Ibnu Khaldun mengalahkan faktor nubuwah. Negara bisa saja tetap tegak berdiri meskipun ikatan keagamaan melemah, asalkan tidak diikuti dengan melemahnya juga ikatan solidaritas. Ikatan agama memang bisa menjadi salah satu faktor pemerkuat negara, namun itu bergantung pada ikatan solidaritas. Suatu gerakan keagamaan tidak akan berhasil apabila tidak dilandasi dengan semangat solidaritas.[25]
Selain faktor ashabiyah dan agama, perkembangan sebuah negara juga dipengaruhi faktor-faktor lain seperti ekonomi (industri, sumber daya alam, pajak dan upeti), letak geografis, dan sosial (sumber daya manusia, kepemimpinan, solidaritas, taklid, pembangkangan dan kesetiaan).[26]
            Selanjutnya Ibnu Khaldun memiliki pandangan bahwa negara memiliki usia empat generasi atau sekitar 120 tahun. Masing-masing generasi mencapai umur sekitar 30 tahun. Namun Ia memberi catatan bahwa berdasarkan pengamatannya tentang kondisi bangsa Arab dan Berber ketika itu, prakiraan usia ini bukan hukum universal.[27]
 Generasi pertama hidup dalam keadaan badawah yang penuh perjuangan keras. Kehidupan saat itu jauh dari kemewahan. Eratnya solidaritas diantara anggota masyarakat menyatukan mereka dan memberikan kekuatan untuk menaklukkan bangsa lain. Generasi kedua, berhasil meraih tampuk kekuasaan dan memperoleh kejayaan dari hasil kerja keras mereka sebelumnya. Generasi ini ditandai dengan peralihan dari kehidupan badawah ke hadlarah. Meskipun menikmati kemewahan kekuasaan, generasi ini masih menjadi saksi kegemilangan perjuangan pendahulunya, sehingga ikatan emosional untuk berjuang demi kejayaan negaranya masih terjaga. Generasi ketiga, mulai tenggelamnya mereka dalam kubangan kemegahan kekuasaan. Karena tidak menyaksikan langsung perjuangan para leluhurnya, mereka mulai lupa akan kerasnya kehidupan badawah dimana leluhur mereka berasal. Pada masa ini ikatan ashabiyah telah berkurang drastis. Mereka disimbolkan Ibnu Khaldun dengan penunggang kuda tanpa kecakapan dan keberanian yang merupakan prasyarat utama. Generasi keempat merupakan generasi terakhir yang terpisah dengan leluhurnya. Generasi ini ditandai dengan merebaknya syahwat para pemimpinnya, yang menjalani kehidupan mewah tanpa mau bekerja keras. Uang kerajaan hanya dihamburkan untuk pesta pora. Solidaritas telah hilang, penguasa kehilangan dukungan, rakyat marah, dan pada akhirnya terjadi pemberontakan yang menggulingkan penguasa.[28]
            Mengenai negara dan perkembangannya, Ibnu Khaldun membagi menjadi lima tahapan. Negara beralih dalam berbagai perkembangan dan kondisi-kondisi yang silih berganti. Perkembangan dan kondisi negara umumnya tidak lebih dari lima tahap :
1.      Tahap pendirian negara. Tahapan ini ditegakkan atas unsur ashabiyah. Dengan solidaritas kelompok, rakyat akan bersatu memperjuangkan tujuan yang sama dan menghadapi musuh yang sama. Dengan ikatan solidaritas yang kuat mereka bisa menggulingkan Dinasti yang berkuasa.
2.      Tahap pemusatan kekuasaan atau disebut dengan tahap tirani. Menurutnya tahap kedua ini diwarnai oleh adanya kemapanan kekuasaan, sehingga timbul keinginan penguasa untuk memonopoli kekuasaan.
3.      Tahap kekosongan dan kesantaian. Pada tahapan ini penguasa tinggal menikmati jerih payah leluhurnya, dengan menumpuk kekayaan, mengabadikan peninggalan serta meraih kemegahan. Tahap ketiga ini merupakan masa dimana negara berada di puncak kejayaannya.
4.      Tahap ketundukan dan kemalasan. Penguasa meniru tradisi dan lembaga negara yang dibentuk para pendahulunya. Periode ini ditandai dengan kepuasan penguasa terhadap prestasi yang telah dicapai generasi sebelumnya.
5.      Tahap pembubaran dan keruntuhan negara. Selama tahap ini, penguasa menghambur-hamburkan uang untuk melampiaskan kesenangan diri dan pendukungnya. Moral telah merosot, perilaku penguasa dikendalikan syahwat, loyalitas dibangun berdasarkan paksaan, kepercayaan masyarakat telah hilang dan dalam situasi tersebut, akhirnya keruntuhan negara menjadi suatu keniscayaan.[29]

3.      Kesimpulan
Sejarah bukanlah rangkaian perstiwa yang terjadi tanpa makna. Sejarah adalah hasil dari proses dialektika manusia dengan sesamanya serta dengan alam tempat ia tinggal. Sejarah juga bukan melulu kabar burung tanpa dapat dibuktikan kebenarannya. Sebaliknya, ia adalah realitas empiris yang benar-benar terjadi dan berbeda dengan mitologi.
Manusia adalah makhluk sosial, untuk itu ia membutuhkan sesamanya. Dalam bentuknya yang sederhana masyarakat badui terikat dengan ikatan solidaritas sosial yang kuat. Dengan ikatan tersebut, masyarakat mampu mempertahankan keberadaan mereka dan menggapai tujuan mereka bersama-sama. Apabila solidaritas masyarakat melemah, akan menyebabkan kehancuran negara. Ikatan solidaritas itu pula yang merupakan faktor determinan jatuh bangunnya peradaban. Jamaknya, ikatan ashabiyah tersebut semakin melemah seiring dengan pergantian generasi. Semakin jauh satu generasi dari leluhurnya, semakin menipis pula ikatan emosional yang melandasinya.
Ibnu Khaldun memberikan kontribusi besar dalam perkembangan filsafat sejarah. Ia adalah orang pertama yang memberikan pendekatan baru dalam studi sejarah. Teori-teorinya tentang nature of civilization, evolusi peradaban, relasi inter-sosial, siklus negara, yang dianggit menggunakan metode kritik historis menjadi isnpirasi para sarjana Barat untuk mengembangkan ilmu sosiologi modern seperti yang kita kenal saat ini.



Referensi
George Ritzer- Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, terj. Cet. 3, (Jakarta: Kencana, 2011).
John Esposito (Ed.), Sains-Sains Islam, terj. (Jakarta: Inisiasi Press, 2004).
Firdaus Syam, Pemikiran Politik Barat, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007).
Seyyed Hossein Nasr- Oliver Leaman (Ed.), Ensiklopedia Tematis Filsafat Islam, terj. (Bandung: Mizan, 2003).
Taha Hussein, Falsafah Ibnu Khaldun al-Ijtimaiyah, (Kairo: Maktabah Usroh, 2006).
Jamil Shaliba, Tarikh al-Falsafah al-Arabiyah, (Beirut: Dar al-Kitab al-Alamy).
Muqadimah, translated into English by Franz Rosenthal, Edited by Franz Rosenthal, Cet. 9, (Princeton: Princeton Univ. Press, 1989).
Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara, (Jakarta: UI-Press, 1990).
Umar Faroukh, Tarikh al-Fikr al-Araby ila Ayam Ibn Khaldun, (Beirut: Dar al-Ilm li al-Malayin, 1972).
Nurchalis Majid, Khazanah Intelektual Islam, Cet.2 (Jakarta: Bulan Bintang, 1984).
Zainab Mahmud al-Khudairi, Falsafah al-Tarikh inda Ibn Khaldun, (Beirut: Dar al-Tanwir, 2006)
Biyanto, Teori Siklus Peradaban: Perspektif Ibnu Khaldun, (Surabaya: LPAM, 2004).