Thursday, August 30, 2012

Al-Quran Dan Orientalisme; Memotret Sepak Terjang Orientalis Terhadap Quranic Studies



Sepintas Kilas Orientalisme; Definisi, Sejarah, Motif dan Tujuan

Kata Orientalisme berasal dari kata ‘Orient’ yang berarti Timur. Orientalisme sendiri secara etimologi bermakna studi ketimuran atau studi tentang dunia Timur, yang mencakup berbagai disiplin keilmuan, budaya, adat-istiadat, sejarah dan agama. Sementara dalam pengertiannya secara luas, terma orientalisme disematkan kepada para ilmuwan Barat yang melakukan studi mengenai hal-hal ketimuran secara keseluruhan, baik Timur Jauh (India, Cina, Jepang,dll) atau Timur Dekat (Dunia Arab-Islam) dalam berbagai macam pernak-perniknya. Namun yang hendak dikaji lebih mendalam pada makalah ini ialah makna orientalisme sebagai sebuah gerakan pembelajaran, penerjemahan dan aktifitas ilmiah yang dilakukan oleh para Ilmuwan Barat dalam mengkaji Dunia Arab-Islam secara khusus, yang meliputi ilmu pengetahuan, adat-istiadat, kebudayaan, agama dan sebagainya[1].

Bersamaan dengan pembebasan daerah-daerah di sekitar Jazirah Arab, interaksi dengan orang-orang di daerah taklukan mulai terjalin dengan erat. Tak melulu interaksi yang bersifat keseharian  namun juga dalam sektor ekonomi, politik hingga ilmu pengetahuan dan dogma agama. Keragaman budaya dan agama di daerah taklukkan mau tidak mau memaksa para penduduk disana mempelajari Islam sebagai ajaran yang sama sekali baru buat mereka. Respons mereka cukup beragam. Meskipun mayoritas penduduk menyambut baik kedatangan agama baru ini, namun terdapat segelintir orang yang menaruh kebencian terhadap Islam. Aroma permusuhan ini datang bukan lantaran ada ajaran-ajaran Islam yang tidak baik, namun lebih dipicu oleh faktor politis. Mereka ini umumnya dari kalangan yang merasa dirugikan oleh kedatangan kaum Muslim, seperti para pendeta Kristen dan Rabi Yahudi ataupun penguasa yang merasa terancam kekuasaannya oleh kedatangan umat Islam.
Meluasnya pengaruh Islam di wilayah mereka mengundang kekhawatiran akan eksistensi mereka dan komunitas religiusnya. Mereka khawatir jika hal ini dibiarkan begitu saja maka tidak mustahil mereka akan tersisihkan dari kedudukannya. Maka dari sinilah dimulai gerakan untuk mempelajari ajaran-ajaran Islam, bukan untuk mencari kebenaran melainkan untuk dicari titik kelemahannya untuk dijadikan amunisi menyerang Islam. Mereka inilah embrio dari gerakan penerjemahan dan studi terhadap Islam, yang kelak dikenal dengan istilah Orientalisme.
John of Damascus (676-749 M), seorang pendeta Kristen Nestorian Syria termasuk salah satu orang mula-mula yang mempelajari seluk beluk Islam untuk membentengi dogma Kristen di Syria. John of Damascus juga menulis dalam bahasa Yunani kuno kepada kalangan Kristen Ortodoks bahwa Islam mengajarkan anti-Kristus. Ia berpendapat bahwa Muhammad adalah seorang penipu kepada orang Arab yang bodoh. Berkat kelicikannya, Muhammad bisa memperistri Khadijah untuk mendapatkan harta kekayaannya. Dengan cerdas Muhammad menyembunyikan penyakit epilepsinya ketika menerima wahyu dari Jibril. Muhammad memiliki hobi perang karena nafsu seksnya tidak tersalurkan.[2] Sepanjang hidupnya ia sempat mengarang buku-buku yang menyerang Islam untuk komunitas Kristen, seperti; Muhawarah ma’a Muslim (Dialog dengan Muslim), Irsyadat al-Nashara fi Jadal al-Muslimin (Petunjuk-petunjuk bagi orang Kristen dalam berdebat dengan Muslim). Meskipun John of Damascus ini belum bisa disebut Orientalis karena ia adalah orang Timur, namun upayanya untuk menulis tentang Islam dari sudut pandang Kristen dapat disejajarkan dengan upaya para peneliti Barat yang melakukan hal yang sama di kemudian hari.
Menurut Mahmud Hamdi Zaqzuq, cendekiawan terkemuka asal Mesir menyebutkan bahwa sebagian peneliti berpendapat bahwa awal mula kemunculan Orientalisme pada abad 11 Masehi. Sementara Rudi Paret menyebut bahwa abad 12 adalah pertama kali Orientalisme muncul di Eropa bersamaan dengan rampungnya penerjemahan Al-Qur’an pertama kali ke dalam bahasa Latin. Sebagian peneliti yang lain mengembalikan sejarah awal orientalisme pada abad ke 10. Menurut Naguib Al-Aqiqi, penganut pendapat ini menyandarkan argumennya pada sepak terjang pastor Perancis, Guibert de Oreilak (938-1003) yang belajar Bahasa Arab dan ilmu-ilmu Islam di Sevilla, Cordoba, dan kota-kota lain di Andalusia. Tak lama berselang Gerbert ini menerima mandat diangkat sebagai Paus di Roma dengan gelar Silvester II[3].
Serangan spesifik terbesar pada abad pertengahan barangkali bisa disebutkan megaproyek ambisius dari Kaisar Byzantium Jan Contacozien dalam dua bukunya; Dhid Tamjid al-Millah al-Muhammadiah dan Dhid al-Shalawat wa al-Taratil al-Muhammadiah yang ditulis menggunakan Bahasa Yunani, Suryani, Armenia dan Arab.[4]

Gerakan Orientalisme menemukan momentumnya segera setelah konisili Viena diadakan pada 1312. Ide untuk mengadakan muktamar akbar tersebut digagas oleh ilmuwan terkemuka, Roger Bacon (1214-1294). Ia menyadari bahwa untuk menaklukkan Islam tidak bisa dengan jalan pertempuran fisik karena pasukan Islam ketika itu mempunyai armada militer yang tangguh, namun dilakukan dengan jalan mengadakan perang pemikiran. Salah satu cara untuk mencapai hal tersebut adalah dengan menguasai Bahasa Arab. Pendapat Bacon ini diamini oleh Raymond Lull (1235-1316), seorang cendekiawan Kristen yang getol mendirikan pusat-pusat studi Bahasa Arab.
Pada pertemuan akbar tersebut dikeluarkan keputusan untuk lebih memperdalam lagi studi tentang Arab dan keislaman. Salah satunya adalah dengan menjadikan Bahasa Arab sebagai objek studi kajian di beberapa universitas terkemuka di Eropa seperti; Oxford, Bologna, Paris, Kurie, dan Salamanca[5]. Harapannya, seperti dikemukakan Guillaume Postel (m.1581) dengan mempelajari bahasa Arab maka akan semakin mudah mempelajari kelemahan-kelemahan Al-Quran. Dengan demikian, tujuan utama mereka untuk kristenisasi Umat Islam semakin cepat terealisasikan[6].
Pasca jatuhnya Kostantinopel ke tangan kaum Muslimin, serangan pemikiran terhadap Islam sedikit redup, karena para pendeta dan teolog yang selama ini getol menyerang islam banyak berasal dari daerah Byzantium dan sekitarnya. namun hal itu tak berlangsung lama, di belahan Eropa yang lain, tepatnya di Roma, pusat komunitas Katholik berada Kardinal Nicolai de Coza (1401-1464), atas restu Paus Pius II menulis buku yang mengolok-olok Islam. Dalam Gharbalah Al-Qur’an ia menuduh Al-Quran adalah hasil copy cat dari Injil dan ia juga menegaskan bahwa Islam adalah sekte heretik dari Kekristenan yang menyeleweng sehingga harus dilenyapkan.
Upaya de Coza ini dilanjutkan oleh para Bapa Gereja Dominikan dan Jesuit setelahnya yang banyak menuliskan buku-buku tuduhan terhadap Islam. Seperti contoh; Bapa Denis yang menganggit buku “Kebohongan-Kebohongan Muhammad” (Cologne 1533). Alfonso Seina dalam “Benteng Iman” (1491). Jean de Tierikrimeta “Bantahan terhadap Penipuan-Penipuan Muhammad” (Roma 1606), Louis Veiv “Iman Kristen vis a vis Muhammadinisme”, Michel Nan “Gereja Roman-Greko dan Perannya melindungi Iman Kristen melawan Al-Quran dan Pengikutnya” (Paris 1680).
Barangkali serangan terbesar yang dilancarkan Orientalis pada abad pertengahan adalah apa yang ditulis orientaslis Italia Ludo Figo Marash (1612-1700) dalam buku “Studi Teks Al-Quran”. Kitab ini dicetak di Padova tahun 1698 dalam 2 jilid besar. Di dalamnya ia mengupas kehidupan Nabi Muhammad dengan bersumber -menurut pengakuannya- kepada literatur-literatur Arab yang otoritatif. Dengan kemampuannya menguasai bahasa-bahasa Semit, Arab, Ibrani, Suryani, Marash memasukkan juga dalam bukunya terjemahan-terjemahan Al-Quran berbahasa Latin, kemudian melakukan anotasi-anotasi dan lalu mengkritiknya.
Menurut Abdurrahman Badawi, buku yang ditulis Marash ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan gerakan orientalisme di abad-abad setelahnya. Karena dengan berpedoman pada buku yang ditulis Marash tersebut para orientalis mendasarkan argumen mereka untuk menyerang Islam[7]. Carlo Alfonso Nallino (1872-1938), Orientalis Italia yang telah berhasil menghimpun surat-surat Al-Quran secara kronologis, dengan dilengkapi notasi-notasi penting dan kamus istilah, sekaligus mengkomparasikannya dengan bahasa-bahasa Semit lainnya merupakan salah satu pengagum setia karya-karya Marash.
Menginjak masa Renaissance, image buruk Barat terhadap Islam terus berlanjut. Marlowes Tamburlaine menuduh al-Quran sebagai karya setan. Martin Luther menganggap Muhammad sebagai orang jahat dan mengutuknya sebagai anak setan. Pada zaman Pencerahan Barat, Voltaire menganggap Muhammad sebagai fanatik, ekstremis, dan pendusta yang paling canggih. Biografi Rasulullah SAW beserta al-Quran terus menjadi target
Hal ini terus berlanjut hingga di era kontemporer. Orientalis kontemporer tetap mengusung gagasan orientalis klasik sekalipun dengan kadar, level, cara dan strategi yang berbeda. Intinya sama saja yaitu mengingkari kenabian Muhammad dan kebenaran al-Quran. Penolakan seperti itu adalah common places dalam pemikiran para orientalis. Ini bisa dimengerti karena eksistensi agama mereka tergugat dengan munculnya Islam. Karena hal ini juga, wajar jika kajian mereka kepada Rasulullah SAW dan al-Quran tidak dibangun dari keimanan, sebagaimana sikap seorang Muslim.
Para orientalis peminat kajian Quranic Studies sejak Ignaz Goldzhier, D.S Margoliouth, Alfonso Mingana, DB MacDonald, Theodore Noldeke, hingga R.L Nicholson, H.A.R Gibb, A.J Arberry, Richard J McCarthy, Harry A Wolfson, Shlomo Pines, dan lain-lain mempunyai framework yang hampir sama. Di antara asumsi yang umum mereka pegang erat-erat adalah bahwa Al-Quran bukanlah wahyu dari Allah, melainkan rekaan Muhammad yang dia nukil dari Injil dan Taurat, dengan tujuan untuk mengambil keuntungan dari bangsa Arab yang bodoh.
Mahmud Zaqzuq menggarisbawahi bahwa meskipun mayoritas orientalis memang memandang Islam dengan kacamata kebencian, namun demikian kita tidak dapat melakukan generalisasi begitu saja, karena ada beberapa orientalis yang dapat kita kategorikan sebagai orang-orang netral. Riset mereka terhadap Islam murni dilatar belakangi oleh motivasi ilmiah. Mereka nampak lebih objektif dalam meneliti Islam. Hasil-hasil penelitian mereka sedikit banyak turut menyumbangkan kontribusi penting dalam pengkayaan khazanah keilmuan Islam[8].

Metodologi para Orientalis dalam Quranic Studies
Riset kajian para orientalis terhadap Islam -pada umumnya- dan Al-Quran - secara khusus- banyak dilatar belakangi oleh kepentingan yang beragam. Dalam berbagai kesempatan, metode yang digunakan para Orientalis tersebut berbanding lurus dengan tujuan semula riset tersebut dilakukan. Bagi mereka Orientalis yang concern terhadap Quranic Studies dengan motivasi ilmiah cenderung lebih memperhatikan kaedah-kaedah metodologi riset ilmiah yang berpijakan pada pengembanan amanat ilmiah, validitas data, ketepatan interpretasi teks, koherensi antar premis, dan metode berpikir yang logis.
Hal ini tidak akan kita dapati pada karya-karya Ilmuwan Barat yang mengemban misi-misi tertentu dalam penulisan buah penanya. Sebelum melakukan riset, biasanya mereka cenderung mempunyai pra anggapan-pra anggapan di benak mereka sendiri untuk kemudian didirikan sebuah bangunan argumentatif terhadap dasar tersebut. Premis yang dibangun tidak dimaksudkan untuk menghasilkan satu konklusi ilmiah namun sebaliknya untuk memperkuat pra konsepsi tersebut. Argumen-argumen tersebut, meskipun lemah dan dianggap kurang otoritatif oleh banyak kalangan namun tak menyurutkan langkah mereka dalam melakukan interpretasi terhadap teks-teks pinggiran dan kemudian melakukan jumping conclusion sesuai dengan kepentingannya. Mereka lalu mendaku bahwa metode yang mereka gunakan adalah ilmiah, valid, sehingga dapat menghasilkan kesimpulan yang objektif.
sebagaimana riset ilmiah yang dilakukan Jaston Vieet dalam buku yang berjudul ‘Majd Al-Islam’ yang menceritakan tentang sejarah Islam. Buku tersebut penuh dengan makian dan statement yang menyudutkan Islam. Meskipun si penulis mengklaim bahwa ia memiliki sumber-sumber otoritatif namun setelah ditelusuri ternyata ia hanya mengambil pendapat-pendapat lemah yang sesuai dengan kepentingannya saja.[9]
Begitu pula tuduhan-tuduhan lain yang mengatakan Al-Quran bukanlah wahyu Illahi. Ia tak lain adalah karya Muhammad hasil dari imajinasi liarnya. Tuduhan ini, nampak pada sebagian besar buku-buku karya Orientalis. Misalnya, dapat dilihat pada ‘Preliminary Discourse’ anggitan G. Sale (1899) yang menyatakan bahwa “... Tidak diragukan lagi, Muhammad adalah penulis asli Al-Quran”[10]. Tuduhan serupa dilontarkan oleh Sir William Muir (1905), Champion dan Short (1959), Glubb (1970), dan Robinson (1977). Sebelumnya, Menezes (1911) dalam buku ‘The Life and Religion of Mohamed: The Prophet of Arabia’ menyebutkan bahwa “Tidak ada satu apapun dalam Al-Quran itu selain ciptaan dan rekaan Muhammad dan para sahabatnya”. Hasil pembacaan terhadap Al-Quran terjemahan Stobbart, Bell (1926) dalam bukunya ‘The Origin of Islam and Its Christian Environment’ menyimpulkan bahwa “Al-Qur’an itu mungkin telah ditulis oleh seseorang Arab yang telah terbiasa dengan sejarah Yahudi dan tahu tradisi sejarahnya sendiri serta memiliki sedikit kemahiran kepenyairan”[11]
Suatu aktifitas riset ilmiah murni tidak akan dibarengi dengan cemoohan. Metode riset ilmiah mengedepankan kejujuran dan validitas ilmiah, kebenaran pisau analisa yang dipakai. Celah ilmiah yang sering dilupakan oleh para orientalis adalah dipicu dengan motivasi menguliti Islam. Mengatasnamakan riset ilmiah mereka acap mencari-cari hadist-hadist dhoif, kabar burung, dan catatan-catatan sejarah yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. mereka acap acuh terhadap kabar-kabar riwayat lain yang memiliki pijakan argumentatif yang lebih kuat apabila kabar tersebut bertentangan dengan kepentigannya.

Al-Quran dan Orientalisme
Dari pendahuluan singkat diatas, nampak bahwa kecenderungan orientalis yang melakukan serangan terhadap islam mengantarkan mereka pada satu asumsi dasar, bahwa cara terbaik untuk menaklukkan Islam adalah dengan melakukan serangan kepada sumber utama dari Islam itu sendiri, yaitu Al-Qur’an. Mereka menyadari bahwa pemikiran umat Islam dibangun dari ajaran-ajaran Al-Qur’an. Untuk memuluskan langkahnya, para Orientalis berniat melakukan kajian mendalam terhadap Al-Qur’an. Arah dan varian kajian mereka beragam, tergantung dari motivasi dan kepentingan yang melatarbelakanginya. Orientalis yang menjadi tangan kanan gerakan kolonialisme pemerintah akan memusatkan kajian untuk mengakomodir kepentingan tuannya. Sementara mereka yang objektif akan melakukan pendalaman studinya dengan timbangan-timbangan ilmiah.

Orientalisme Dan Kritik Teks Al-Quran
Ada 3 varian umum yg berkembang seputar diskursus A;-Quran. Pertama adalah pandangan yang menyatakan bahwa Al-Quran adalah Kalamullah, sehingga pendekatan yang digunakan dalam melakukan pemaknaan adalah dengan membiarkannya berbicara apa adanya, penerimaan bulat-bulat tanpa adanya kritisisme lebih lanjut. Kedua adalah mereka yang menjatuhkan vonis bahwa Al-Quran bukanlah pesan Ilahiah dan ia adalah bikinan Muhammad. Pendapat ini digunakan oleh para orientalis radikal. Dalam melakukan riset, umumnya mereka sudah mempunyai asumsi lebih dahulu sehingga penelitian yang mereka lakukan tak ubahnya seperti membangun data-data argumentatif dari kesimpulan yang sudah mereka tetapkan. Ketiga adalah para peminat kajian ilmiah seputar Al-Quran. Mereka adalah para Ilmuwan yang tertarik mengkaji Al-Quran dengan motivasi kajian keilmuan. Mereka lebih objektif dalam memandang Al-Quran, karena mereka melakukan riset terlebih dahulu sebelum menelurkan kesimpulan. Sehingga hasil kajian mereka banyak diterima oleh semua kalangan.
Berikut ini akan dipaparkan beberapa contoh dari tuduhan orientalis terhadap Al-Qur’an:
1. Kritik Otentisitas teks Al-Quran
Ada semacam common platform diantara para orientalis yang menyebutkan bahwa otentisitas Al-Quran patut dipertanyakan. Mereka menuduh bahwa Al-Qur’an bukanlah firman Allah yang azali, melainkan karya rekaan Muhammad dan para pengikutnya. Untuk mendukung gagasan ini, maka dibangunlah banyak argumentasi-argumentasi ‘logis’ yang bisa dijadikan acuan untuk mencapai misi mereka.
Nampaknya ide ini bertitik pangkal dari rasa sakit hati mereka atas statement tegas dalam Al-Quran yang terang-terangan mencela keyakinan mereka. Kritikan-kritikan Al-Quran yang mendakwa Taurat dan Injil sebagai kitab samawi yang tak lagi otentik membuat mereka kebakaran jenggot, yang akhirnya membuatnya ingin melakukan hal yang sama pada Al-Quran dengan berusaha memperlihatkan bahwa Al-Quran itu sendiri juga tidak otentik. Mereka berusaha menggunakan senjata yang sama digunakan Al-Quran ketika mengkritik kalangan Yahudi-Nasrani.
Pertama kali yang dikritik Orientalis adalah pijakan referensial yang digunakan Muhammad dalam Al-Quran. Karena mereka menolak premis bahwa Al-Quran adalah ‘Devine Message’ dari Allah, maka mereka berargumen Muhammad adalah pengarang Al-Quran. George Sale (1736) mengatakan “Bahwa tidak diragukan lagi Muhammad adalah pengarang Al-Quran”.[12] Pandangan yang sama datang dari Richard Bell. Dia berujar “Penyusun Al-Quran adalah Muhammad. Ia menyusunnya dengan berpedoman pada Bibel, khususnya Perjanjian Lama bagian kisah-kisah. Sebagian cerita mengenai kehancuran bangsa-bangsa terdahulu seperti Ad, Tsamud diambil dari sumber-sumber Arab. Namun mayoritasnya berpegangan pada sumber-sumber tradisi Judeo-Christian. Hal itu terjadi lantaran ketika Muhammad berada di Madinah terjadi interaksi yang cukup intens dengan Kaum Nasrani dan Yahudi. Dari sanalah Muhammad mendapatkan informasi mengenai kisah-kisah dalam Perjanjian Lama”. Seirama dengan lainnya, Loth menambahi bahwa diskursus ‘fawatih suwar’ adalah pinjaman dari tradisi Yahudi[13].
Sementara mengenai pengaruh dominasi kekristenan pada ajaran Islam, Bart mengasumsikan bahwa di Mekkah-Madinah pada zaman Nabi penuh oleh sekte-sekte heretik sempalan Kristen. Dogma dan landasan teologis yang mereka anut berbeda dengan kekristenan yang sebenarnya. Seperti oknum Trinitas tidaklah terdiri dari Bapa, Putra, dan Roh Kudus tetapi Allah, Isa, dan Maryam. Dan Muhammad mengambil sumber informasi tersebut dari mereka. Itulah mengapa gambaran oknum trinitas yang ada dalam Al-Quran sangat berbeda dengan tradisi Kekristenan pada umumnya.
Selain itu apabila kita melakukan studi komparasi atas kisah-kisah Al-Quran dengan yang kita temukan pada Perjanjian Lama akan nampak bahwa terdapat perbedaan esensial diantara keduanya. Apabila kisah-kisah Al-Quran dinarasikan dengan tujuan utama agar umat Islam menarik jalinan hikmah yang terajut di dalamnya. Disamping itu Al-Quran meriwayatkan kisah-kisah yang rasional, manusiawi dan menjunjung tinggi nama baik Orang-orang suci.
Sementara itu riwayat-riwayat Perjanjian Lama biasanya cenderung mistis, irasional, penuh dengan takhayul dan khurafat, memperlakukan para Nabi suci dengan tidak senonoh serta tidak mengandung saripati hikmah yang dapat diambil.[14] Seperti misalnya kisah tentang Nabi Luth (Lot) yang memenangi pergulatan dengan Tuhan. Ia juga dituduh telah berbuat mesum dengan kedua anaknya sendiri. Nabi Daud yang digambarkan sebagai orang licik yang mata keranjang. Ia memperalat panglimanya sendiri agar dapat mengawini istrinya. Demikian pula Nabi Ya’kub (Jaqob) yang dituding mengutuki putranya sendiri karena merasa ditipu[15].
Jamak juga diketahui bahwa banyak orientalis yang membesar-besarkan pertemuan Nabi dengan Rahib Syria, Buhaira. Muhammad mengambil referensi penyusunan Al-Quran dari sana. Sebenarnya dasar dari argumen ini sangatlah lemah, karena disamping pertemuan itu terjadi hanya sekali dan ketika itu Nabi masih sangat muda sekali, sehingga untuk mengatakan Nabi mendapatkan pengaruh yang cukup besar dari sana sangatlah tidak masuk akal. Begitu juga tidak ditemukan mata rantai periwayatan (isnad) yang valid yang menyebut Nabi mendapat cukup banyak informasi dari perjumpaan tersebut. Salah seorang orientalis, Howard juga mengakui kelemahan argumen tersebut[16].
Rasyid Ridho, cendekiawan Mesir sekaligus murid pemikir brilian Muhammad Abduh menambahkan bahwa informasi-informasi yang disajikan oleh Al-Quran jauh lebih komplit, akurat, dan otoritatif ketimbang apa yang dikemukakan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Al-Quran datang dengan memberikan kritik tajam dan koreksi-koreksi terkait berbagai diskursus yang dipersengketakan oleh Ahlu Kitab (Pengikut Yahudi-Kristen), seperti wacana kelahiran Yesus, penyaliban, ajarannya, dan lain sebagainya[17].

2. Al-Quran dan 7 Varian Bacaan
Selanjutnya, para orientalis banyak berbicara mengenai kontroversi seputar varian bacaan dalam Al-Quran. Mereka menuduh bahwa variasi bacaan muncul di zaman penuh kebebasan, sehingga setiap orang berhak membaca Al-Quran semaunya dan sekehendak hatinya. Adanya perbedaan dialek diantara suku-suku bangsa Arab adalah salah satu faktor yang, menurut anggapan orientalis membuat setiap suku berhak membacanya sesuai dengan dialek mereka masing-masing.
Mereka berpikir bahwa pembacaan Al-Quran adalah ‘qiraat bil makna’. Mereka mendasarkan pendapat ini pada riwayat lemah yang konon berasal dari Nabi; “Bacalah Al-Quran dan jangan mempersulit diri, kamu berhak membacanya sesukamu asalkan kamu tidak sampai menukar ayat-ayat rahmat dengan adzab dan ayat-ayat adzab dengan rahmat”.
Teori ‘Qiraah bil makna’ ini -menurut klaim orientalis- muncul pada zaman Umawiyah, dan umat Islam menerimanya dengan legowo karena bagi mereka yang terpenting adalah ‘substansi teks’, dan bukan ‘bentuk teks’. Dari sini mereka berpikir bahwa pembacaan Al-Quran adalah bebas. Dan sebagai konsekuensi logisnya adalah terjadinya perubahan teks-teks Al-Quran yang diakibatkan adanya campur tangan manusia.
Demikian, sehingga pada akhirnya diskursus huruf 7 diserahkan pada keinginan personal masing-masing individu, sehingga dengan demikian ragam bacaan yang ada akan terus berkembang seiring dengan berkembangnya zaman.[18]
Memang, perbedaan varian bacaan Al-Quran memang merupakan hal yang ada persedennya dalam Islam. Para Ulama pun sepakat bahwa Al-Quran diturunkan dengan 7 huruf (sab’ah ahruf) berdasarkan riwayat sahih dari Nabi yang menyatakan demikian. Ini bertujuan untuk meringankan beban para sahabat yang berasal dari luar kabilah Quraisy yang mempunyai dialek yang benar-benar berbeda. Namun satu hal yang patut kita cermati bahwa adanya 7 huruf tersebut bukan berarti memberikan kebebasan penuh kepada siapa saja untuk membaca Al-Quran sesuka hatinya. Ketujuh huruf Al-Quran tersebut harus didapatkan dengan jalan ‘talaqqi syafahi’ langsung dihadapan Nabi. Andai saja memang demikian apa yang didakwakan para Orientalis tersebut -setiap individu berhak membaca Al-Quran menurut kehendak pribadi tanpa adanya sanad mutawattir dari Nabi- maka jumlah qiraat yang dapat ditampung oleh mushaf Ustmani meliputi 16110 bacaan[19].

Ilmu qira'at yang benar (ilmu seni baca AI-Qur'an secara tepat) diperkenalkan oleh Nabi Muhammad saw. sendiri, suatu praktik (sunnah) yang menunjukkan tata cara bacaan setiap ayat. Aspek ini juga berkaitan erat dengan kewahyuan AI-Qur'an: Teks Al-Qur'an telah diturunkan dalam bentuk ucapan lisan dan dengan mengumumkannya secara lisan pula berarti Nabi Muhammad saw. secara otomatis menyediakan teks dan cara pengucapannya pada umatnya. Kedua-duanya haram untuk bercerai.
‘Umar dan Hisham bin Hakim ketika berselisih bacaan tentang sepotong ayat dalam Surah al-Furqan walaupun pernah sama-sama belajar langsung dari Nabi Muhammad saw., ‘Umar bertanya pada Hisham siapa yang telah mengajarnya. Dia menjawab, "Nabi Muhammad”. Kejadian serupa dialami oleh Ubayy bin Ka'b. Tidak ada seorang sahabat yang berani mengada-ada membuat silabus sendiri. Semua bacaan sekecil apa pun merupakan hasil dari musyafahah langsung dengan Nabi.[20]
Di sinilah peran mata rantai periwayatan sangatlah urgen. Tradisi sanad merupakan salah satu pilar sentral dalam mempertahankan otentisitas sabda Tuhan, baik dari segi lafadznya  (lafdhan) ataupun maknanya (ma’nan). Dengan demikian tidaklah tepat apa yang didakwahkan orientalis Placer bahwa ide kodifikasi wahyu baru menyeruak tatkala Nabi berada di Madinah.
Sementara kenyataan riil di lapangan menyebutkan bahwa Nabi selalu menyuruh para sahabatnya untuk mencatat wahyu-wahyu yang diterima, sehingga tidak heran bahwa jumlah sekertaris Nabi yang bertugas mencatat wahyu mencapai 29 orang, diantaranya; Zaid bin Tsabit, Khalifah 4, Muawiyah, Said bin Ash, Zubair bin Awam, Amr bin Ash, Ubay bin Ka’ab.
Selain itu, Nabi sendiri setiap satu tahun sekali selalu membacakan Al-Quran di hadapan Jibril, sehingga apabila terdapat kesalahan bacaan maka akan langsung dapat dikoreksi oleh Jibril. Bahkan di tahun wafatnya, Jibril mengoreksi bacaan Al-Quran Nabi sebanyak 2 kali setahun. Ini menandakan bahwa Wahyu Al-Quran memang dijaga betul otentisitasnya oleh Allah Taala, suatu keistimewaan yang tak didapati kitab-kitab samawi sebelumnya.

Penyebab Utama Munculnya Variasi Bacaan Dalam Perspektif Orientalis
Arthur Jeffery, seorang orientalis yang berupaya gigih  membatalkan otentisitas Al-Quran, memandang ada dua faktor yang ditengarai sebagai penyebab utama munculnya ragam bacaan Al-Qur’an. Pertama adalah ketiadaan tanda baca (titik). Dalam bukunya, The Textual History of the Quran, ia mengatakan “Kekurangan tanda titik dalam Mushaf `Uthmani berarti merupakan peluang bebas bagi pembaca memberi tanda sendiri sesuai dengan konteks makna ayat yang ia pahami. Jika ia menemukan kata  بعلمهtanpa tanda titik boleh saja dibaca:
 يعلمه, تعلمه,  نعلمه,
Sehingga dalam Al-Quran kata :              وما كنتم تستكبرون   boleh dibaca     وما كنتم تستكثرون
atau              اذا ضربتم فى سبيل الله فتبينوا      boleh dibaca   اذا ضربتم في سبيل الله فتثبتوا
Kedua, ketiadaan tanda diakritikal (tanda pengenal/ harakat). seperti contoh diatas.
Prof. Azami sangat tidak sependapat dengan argument diatas: “Tampaknya Jeffery benar melupakan tradisi pengajaran secara lisan, satu mandat atau perintah yang hanya melalui seorang instruktur kelas kakap, ilmu Islam dapat diperoleh. Banyak sekali ungkapan Al-Qur an yang dapat secara kontekstual memasukkan lebih dari satu titik dan tanda diakrikital, tetapi dalam banyak hal, seorang ilmuwan hanya membaca dengan satu cara. Ketika perbedaan muncul (dan ini sangat jarang terjadi) kedua kerangka bacaan tetap mengacu pada Mushaf ‘Uthmani, dan tiap kelompok dapat menjustifikasi bacaannya atas dasar otoritas mata rantai atau silsilah yang berakhir pada Nabi Muhammad saw. Atas dasar ini kita dapat menyingkirkan tiap pembaca yang memberi pendapat nyleneh ingin memasukkan titik dan tanda diakritikal menurut selera keinginan dirinya. Walaupun telah banyak fakta dalam teori mereka, hendaknya mau mempertimbangkan jumlah pembaca dan ribuan kerangka (naskah) yang dapat dibaca melalui empat atau lima cara; Jumlah perbedaan tidak mencapai angka ratusan ribu atau mungkin jutaan. Ibn Mujahid (w. 324 H.) menghitung, seluruh Mushaf semuanya hanya ada kira-kira satu ribu multiple bacaan saja. Membandingkan teori dengan kenyataan ini hanya untuk menunjukkan kesalahan hipotesis mereka.[21]
Kemudian ia mengajukan contoh daftar ayat-ayat Al-Quran yang berpotensi untuk dibaca dengan beragam varian, namun pengajaran Nabi hanya mengijinkannya untuk dibaca dengan 1 atau 2 variasi saja.
·         وان يروا سبيل الرشد
·         وهيئ لنا من أمرنا رشدا
·         لأقرب من هذا رسدا
·         ان تعلمن مما علمت رشدا
·         يهدي الى الرشد
·         أم أراد بهم ربهم رشدا
·         فأولئك تحروا رشدا
·         لاأملك لكم ضرا ولا رشدا

Secara kosakata (leksikografi) kedua-dua bentuk adalah sah pada setiap kasus. Secara literal ada ribuan contoh di mana kedua-dua bentuk kata secara kontekstual adalah sah tetapi hanya satu yang dipakai secara kolektif; jadi sebenarnya banyak lagi contoh yang sama dengan yang mereka kemukakan dan malahan mengungguli teori Jeffery dan Goldziher. Setelah meneliti hipotesis keduanya dan menganggap bukti yang tepat, tampaknya tak ada cara lain kecuali meletakkan teori mereka ke pinggiran. Perbedaan yang mereka prediksi sekarang telah diketahui, dalam contoh yang banyak (tidak terkira) di mana sebuah kerangka huruf dapat menerima lebih dari satu set tanda titik dan diakritikal sesuai dengan konteksnya; masalah yang jarang terjadi di mana perbedaan yang diakui dalam qira'at tidak akan membawa pengaruh terhadap makna teks. Goldziher sendiri mengakui ini, sebagaimana pula Margoliouth: ‘Dalam banyak masalah ketidakjelasan skrip yang mengakibatkan bacaan ragam bacaan sangat sedikit sekali konsekuensinya”.[22]

3. Kontroversi Mushaf Ibnu Mas’ud
Ada kontroversi yang berkembang di kalangan orientalis bahwa mereka menemukan riwayat yang menyatakan bahwa Ibnu Mabs’ud, seorang sahabat besar ahli qiraat ditengarai memiliki mushaf yang berbeda dengan mushaf Ustmani. Mushaf ini, selain memiliki tingkat ragam bacaan yang tinggi juga mempunyai urutan susunan surat yang berbeda dengan mushaf Ustmani serta tidak memasukkan tiga surat ke dalamnya.
Terkait dengan susunan mushaf yang berbeda dengan mushaf Ustmani, ternyata para orientalis menyandarkan argumennya pada riwayat yang dinukil dari Ibnu Nadim, mengutip dari al-Fadl bin Shadhan, "Saya melihat susunan surah dalam Mushaf Ibn Mas'ud sebagai berikut: al-Baqarah, an-Nisa', `Ali `Imran...[yaitu, tanpa al-Fatihah]."
Prof. Azami mengomentari pendapat tersebut: “Mengenai Mushaf Ibnu Mas’ud, kita menemukan dua riwayat silang: yang pertama menyebutkan bahwa susunan surah berlainan dengan yang kita miliki, sementara yang lain mengatakan sama. Yang pertama gagal mencapai kesepakatan mengenai urutan surah, dan ternyata riwayat ke dua jauh lebih meyakinkan. Tentunya versi yang lebih konkret akan lebih menarik perhatian kita. Al-Qur'an memperjelas apa yang pernah ia lihat tentang Mushaf Ibn Mas'ud, Ubayy, dan Zaid bin Thabit, dan melihatnya tidak terdapat perbedaan.
Sementara terkait masalah teks yang berbeda dengan mushaf Ustman, beberapa riwayat yang dijadikan landasan argument para orientalis tersebut bersumber dari al­A'mash (w. 148 H.). AI-A'mash bukan saja tidak memberi referensi untuk hal itu - dan yang lebih mengejutkan, kesukaannya melakukan tadlis (menggelapkan sumber infotmasi) - ia juga dianggap memiliki kecenderungan terhadap Syiah.[23]
Ada beberapa riwayat lain yang menyebutkan bahwa Ibnu Mas’ud tidak memasukkan 3 surat ke dalam mushafnya, surat Al-Fatehah, Al-Nas dan Al-Falaq. Riwayat dari AI-A'mash-Abu Islury-'Ahdur-Rahman bin Yazid: Ibn Mas'ud mcnghapus surat Mu'awwidlatain (surah 113 and 114) dari Mushafnya dan mcngatakan bahwa keduanya bukan bagian dart Al-Qur'an.
Ibn 'Uyaynah-`Abdah dan `Asim-Zirr: "Saya berkata pada Ubayy, 'Saudaramu menghapus surah 113 dan 114 dari Mushafnya', yang mana ia tidak menolaknya. Ketika ditanya apakah yang dimaksudkan itu adalah Ibn Mas'ud, Ibn `Uyaynah menjawab dengan nada pasti dan menambah bahwa kedua surah itu tidak ada dalam Mushafnya karena ia menganggap sebagai doa perlindungan Ilahi yang digunakan oleh Nabi Muhammad  untuk cucunya al-Hasan dan al-Husain. Ibn Mas'ud tetap tidak mengubah pendiriannya, sementara yang lain yakin dan memasukkannya ke dalam AI-Qur'an.[24]
Ibnu Hajar menganggap riwayat ini sebagai tuduhan bohong kepada Ibnu Mas’ud. Al-Thabari, Ibnu Hambal menyatakan bahwa barang siapa yang mengingkari seluruh atau sebagian isi dari Al-Quran maka ia telah murtad dari agamanya.[25]
Al-Baqillani sendir sampai pada kesimpulan menyeluruh dan meyakinkan dalam menafikan laporan miring seperti tersebut di alas. la menyatakan bahwa siapa yang menolak surah tertentu yang merupakan bagian dari Al-Qur an, maka ia dianggap murtad atau fasik. Jadi salah satu sifat ini akan terkena pada Ibn Mas'ud kalau riwayat itu benar adanya. Dalam banyak hadith, Nabi Muhammad  memuji kesalehannya dan tidak mungkin berbuat macam­ macam. Orang-orang yang hidup sezaman dengan Ibn Mas'ud juga berkewajiban, kalau mereka melihat sesuatu yang mencemarkan kepercayaannya, mengungkapkannya sebagai penyeleweng atau fasik. Namun faktanya, mereka yang hidup sezaman dengannya sepakat dalam memuji keilmuan yang dimiliki tanpa satu orang pun yang berseberangan. Dalam pandangan al-Baqillani, keadaan itu hanya mempunyai dua implikasi: kemungkinan Ibn Mas'ud tidak pernah menolak status sebenarnya mengenai surah itu, atau para ilmuwan yang mengenalnya lalai dalam mengidentifikasi status riwayat tersebut.[26]

Kesaksian para Orientalis Netral
Salah satu kesaksian yang paling terkenal di kalangan orientalis adalah pengakuan salah seorang orientalis terpandang, Montgommery Watt. Dibandingkan dengan rekan-rekannya sesama orientalis Watt terlihat lebih objektif saat mengkaji Islam. Dalam bukunya, Islamic Revelation in The Modern World Watt bertutur banyak tentang Islam. Buku tersebut ditulis selain berdasarkan hasil riset ilmiah, juga merupakan hasil refleksi personal Watt dalam memandang Islam. Mengenai Al-Quran Watt berpandangan bahwa Al-Quran adalah kalam Tuhan yang ‘diletakkan’ malaikat ke dalam ruang bawah sadar Muhammad (unconscious). Dari pengetahuan di alam bawah sadar inilah ‘kata-kata’ Tuhan itu muncul dalam alam kesadaran Muhammad. Yang jelas bagi Watt, pengalaman Muhammad dalam menerima wahyu sangat beragam. Pertama Muhammad sadar bahwa kata-kata itu ‘hadir dalam hati’ atau pikiran yang sadar. Kedua, ayat tersebut bukan hasil ‘pemikiran sadar’ Muhammad dan ketiga, ayat itu ditempatkan dalam pikirannya oleh Malaikat. Karena itu Muhammad percaya bahwa kata-kata itu barasal dari Tuhan. Ini berarti bahwa penegasan Islam tentang al-Qur’an sebagai wahyu Tuhan yang diberikan kepada Muhammad diterima juga oleh Watt. Al-Qur’an tidak di anggap sebagai produk kesadaran Muhammad, melainkan produk Tuhan yang menyapa alam bawah sadar Muhammad sehingga memantiknya keluar ke dalam kesadaran Nabi.[27]
Orientalis lain yang terhitung netral dalam melakukan kajian mengenai Islam adalah Karen Armstrong, mantan biarawati, lahir di Wildmoor, Worcestershire, England, 14 November 1944 menulis buku tentang Judaisme, Kristen, Islam dan Buddhisme. Dia terlahir dari keluarga keturunan Irlandia yang pindah ke Bromsgrove lalu Birmingham. Ia menguasai teori agama fundamentalis yang merupakan jawaban dan produk dari budaya modern.
Karen Armstrong menyatakan bahwa di dalam Al Qur’an, Tuhan berbicara langsung dengan orang Makkah menggunakan Muhammad sebagai juru bicara-Nya, persis seperti nabi-nabi Ibrani di dalam kitab suci Yahudi. Maka, bahasa Al Qur’an itu sakral karena kaum Muslim percaya.
Al Qur’an merekam kata-kata yang diucapkan dengan cara tertentu oleh Tuhan sendiri. Ketika para pengikut Muhammad mendengarkan suara Tuhan, yang pertama dilantunkan oleh Nabi dan kemudian oleh pembaca Al Qur’an yang terlatih seolah-olah merasakan pertemuan langsung dengan Allah. Seperti setiap kitab suci lain, Al Qur’an dengan demikian menghadirkan perjumpaan dengan yang transenden, menjembatani jurang yang amat lebar antara dunia jasad kita yang lemah dan Tuhan.
Al Qur’an, menurut Karen Armstrong yang paling besar dari semua tanda adalah 
Al Qur’an itu sendiri, yang bagian terkecilnya disebut ayat, mempunyai gaya bahasa yang padat, penuh kiasan dan ungkapan-ungkapan tidak langsung.
Armstrong lebih lanjut juga mengatakan bahwa Al-Quran menggiring kesadaran kaum Quraisy untuk berpaling dari adat-istiadatnya yang bodoh, tak banyak menggunakan akal dan acap merendahkan nilai-nilai kemanusiaan. Al-Quran selalu menekankan perlunya penggunaan akal dalam menguraikan ‘tanda’ atau ‘pesan’ dari Tuhan. Kaum Muslim tidak boleh merendahkan akal mereka, tetapi harus mengamati alam dengan penuh perhatian dan keingintahuan. Sikap inilah yang membuat umat muslim generasi berikutnya mampu membangun tradisi ilmu pengetahuan yang baik, yang tak pernah dianggap sebagai ancaman terhadap agama sebagaimana yang terjadi di dunia Kristen.
Dengan mendekati Al-Quran dalam cara yang benar, kaum Muslim mengakui bahwa mereka betul-betul mengalami rasa transendensi, tentang realitas dan kekuatan tertinggi di balik fenomena dunia fana yang rentan dan sementara.
Al-Quran juga membawa pesan moral yang bertujuan menciptakan masyarakat adil dan setara di mana orang-orang miskin dan lemah diperlakukan secara layak. Janganlah menimbun kekayaan dan mencari keuntungan bagi diri sendiri, tetapi bagilah kemakmuran secara merata dengan menyedekahkan sebagian harta kepada fakir miskin. Ini adalah pesan universal Tuhan kepada hamba-Nya untuk mewujudkan kesentosaan universal bagi seluruh umat manusia.[28]
Walaupun terlihat seperti liliput yang menentang arus besar pemikiran koleganya sesama orientalis, namun jerih payah Watt dan Armstrong layak mendapat apresiasi. Pembacaan mereka secara jujur terhadap Islam dapat dikatakan sebagai entry point menuju ruang dialog antar agama (inter religious dialogue) yang bertendensi untuk mewujudkan toleransi seluas-luasnya antar pemeluk agama yang berbeda. Bukankah agama memang diturunkan kepada manusia untuk menciptakan kedamaian dan ketenangan, bukan kekerasan dan pertumpahan darah.

Epilog; Orientalisme, Hendak kemana?
Dari elaborasi singkat yang kami paparkan diatas, dapatlah kita garis bawahi hal-hal berikut;
1.      Dalam kajiannya tentang Islam, Orientalisme, sepanjang episode sejarahnya yang membentang ditinjau dari segala macam aspeknya, tak pernah lepas dari motivasi awalnya melakukan studi tentang Islam. Benar, apabila di era kontemporer saat ini sudah mulai banyak orientalis yang bersikap netral dalam kajiannya mengenai Islam. Motivasi mereka melakukan riset tentang Islam adalah murni aktifitas ilmiah. Seperti diuatarkan Bart: “Bahwa fenomena orientalisme sejak pertengahan abad 19 bergerak ke arah yang menggembirakan, dimana motivasi utama yang melatarbelakangi ilmuwan Barat mengambil studi tentang Islam adalah motivasi ilmiah”. Para peminat kajian Islam seperti Karen Amstrong, Annemarie Schimmel, Maurice Buchaile, dan lainnya dapat dikatakan sebagai orientalis yang memandang wajah Islam dengan kacamata positif. Namun patut dicatat, orang-orang seperti mereka bisa disebut  minoritas orientalis di tengah ribuan lainnya yang tetap pada pandangan klasik, bersikap sinis terhadap Islam.
Mereka masih belum bisa membebaskan dirinya dari ego superioritas teologi Kristen-Barat atas Timur-Islam. Ada semacam pandangan tak sadar yang bersemayam di benak sarjana Barat bahwasanya terdapat suatu dikotomi antara peradaban Kristen-Barat dan Timur-Islam.

Barat selalu dikesankan sebagai sebuah prototype peradaban unggul, superior, rasional, sementara Timur dianggap hanya sebagai peradaban lemah, inferior, serta dipenuhi dengan mitos dan legenda. Paradigma biner  semacam inilah yang kemudian mendorong Barat merasa layak untuk menganeksasi Timur-Islam, baik secara fisik maupun kebudayaan. Walhasil, pandangan eurosentrisme perlahan mulai didaku sebagai pandangan absah dalam bermacam ragam dimensi kemanusiaan, termasuk dalam kajian ketimuran itu sendiri (orientalisme). Sejarah umat manusia adalah sejarah manusia Eropa, Nilai-nilai humanistik hak asasi manusia adalah seperti apa yang dicanangkan Eropa, demikian juga standar baku kebenaran suatu riset kajian harus membebek pada hasil riset yang dihasilkan oleh ilmuwan Barat, termasuk riset mengenai teologi Islam, Al-Quran, dan Kebudayaan Arab-Islam itu sendiri.

Tentunya masih segar dalam ingatan kita, Paus Benedictus XIV, pemimpin tertinggi umat Katholik sedunia pernah menuduh bahwa Islam disebarkan dengan pedang dan pemaksaan. Bahwa ayat ‘laa ikraha fi al-din (tidak ada paksaan dalam agama)’, menurut Paus asal adalah ayat yang turun pada fase Mekkah, saat kondisi umat Islam masih sangat lemah. Sontak pernyataan Paus yang menggantikan Paus Johannes Paulus II yang ramah terhadap Islam tersebut mendapat protes cukup keras dari umat Islam sedunia. Reaksi yang pada akhirnya memaksa sang Paus untuk meminta maaf pada umat Islam dan menarik pernyataannya.

2.      Para orientalis menyamakan ajaran Islam dengan realitas umat Islam saat ini. Kemunduran umat Islam saat ini ditengarai akibat dari kemandulan Islam dalam memberdayakan pengikutnya. Mereka membandingkan dengan kemajuan yang dicapai Eropa adalah berkat proses sekulerisasi dan liberalisasi di segala bidang. Dan bahwa agama tidak diijinkan tampil di ruang publik. Ia dikebiri sedemikian rupa sehingga dibatasi menjadi sekadar ajaran tentang ritus-ritus ibadah formal saja. Islam yang hakiki, menurut salah seorang orientalis kontemporer, Kissling adalah yang ada pada ajaran tarekat-tarekat sufi dan bersemayam di antara tarian-tarian mistik para darwis.[29]
3.      Orientalis selalu berusaha mengais penafsiran-penafsiran pinggiran terhadap beberapa diskursus yang sudah menjadi kesepakatan publik di kalangan umat islam. Mereka berusaha menggelindingkan wacana yang pada akhirnya bertujuan untuk menggugat otentisitas wahyu Illahi dalam Al-Quran. Ambil beberapa contoh seperti; diskursus varian bacaan Al-Quran, kodifikasi mushaf Ustmani, otentisitas Al-Quran, Mushaf Ibn Mas’ud dan masih banyak lainnya. Dalam semua diskursus tersebut para orientalis selalu saja mendasarkan argumen mereka pada pijakan referensial yang lemah dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Bagi mereka, tidaklah masalah menggunakan sumber referensi lemah, asalkan tujuan utama untuk melemahkan umat islam tercapai, cukup sudah.[30]
Maxim Rodinson mengisyaratkan hal tersebut, ia mengatakan: “Para Orientalis tidak akan memandang Timur-Islam kecuali terhadap hal-hal yang ingin mereka lihat. Mereka memberi perhatian lebih kepada pendapat-pendapat gharib dan syadz yang selaras dengan kepentingannya. Mereka melakukannya karena tidak ingin melihat Timur menyamai prestasi peradaban Barat. Itulah alasannya mengapa mereka hanya mengambil pendapat yang sesuai dengan pemikiran mereka dan memvonis lemah pendapat yang dianut mayoritas umat islam”.[31] 
4.      Selain menulis tentang Islam, banyak sekali orientalis yang juga menelurkan karya dari penelitiannya seputar agama-agama Timur lain seperti Hindu, Budha, Konghucu dan lain-lain. Satu yang menjadi pertanyaan disini adalah, mengapa tatkala menulis tentang agama-agama tersebut mereka mampu bersikap objektif, sesuatu yang jarang sekali kita dapati tatkala mereka menulis tentang Islam. Barangkali hanya Islam satu-satunya agama yang terus saja mendapatkan serangan bertubi-tubi dan berkepanjangan selama lebih dari 1 millenium.
Mungkin statement dari salah satu orientalis terkemuka, William Muir bisa memberikan kita jawaban, “Sesungguhnya Al-Quran dan pedang Muhammad merupakan musuh terbesar yang pernah eksis di dunia ini sampai sekarang. Hal ini dikarenakan Islam adalah agama yang anti peradaban, kebebasan, dan realitas”.
Pernyataan Muir tersebut diamini oleh Van Grunjebawn “Islam adalah satu-satunya fenomena janggal yang tidak ada bandingannya di muka bumi ini. Karena Islam adalah agama yang anti humanisme dan tidak mampu beradaptasi. Islam adalah agama yang amoral, anti ilmu pengetahuan, dan agama otoriter”.[32]
Menurut John Esposito,[33] seorang peneliti kebangsaan Amerika, bahwa kebencian masyarakat Barat terhadap Islam dilatarbelakangi oleh semacam ketakutan personal (islamophobia) yang melanda masyarakat Barat sendiri. Ia menemukan satu mitos yang mengakar kuat di benak masyarakat Barat sejak lama. Itu adalah mitos Eouroarabia raya, suatu mitos  yang mendasari Barat menebarkan aroma permusuhan kepada Islam. Mitos ini menyebutkan bahwa Eropa di masa mendatang akan dikuasai oleh kaum muslimin. Ketakutan ini berlandaskan asumsi bahwa ajaran Islam tidak selaras dengan nilai-nilai etika Barat. Dan Islam, akan menjadi ideologi penguasa tunggal di Eropa melalui jalur imigrasi penduduk dan bertambahnya angka kelahiran masyarakat muslim di Eropa. Mitos ini menjadi semakin besar tatkala para akademisi semisal Bernard Lewis dan Frits Bolkestein angkat suara dengan menyebutkan akhir abad 21 adalah masa dimana Eropa seluruhnya akan menjadi muslim dan disana nanti akan berdiri Imperium Euroarabia Raya. Mitos ini sangat tidak berdasar. Kenyataan di lapangan menyebutkan, dari 450 juta penduduk Eropa saat ini hanya 4 % saja yang menganut agama Islam. Itupun ditambah kenyataan bahwa dari jumlah tersebut, mayoritas umat Islam di Eropa bukanlah muslim yang taat, mereka hanya Islam ‘abangan’ saja.
5.      Terakhir, ada catatan sederhana yang tidak dapat kita lupakan. Bahwasanya peradaban Barat, yang menahbiskan diri sebagai perpanjangan tangan dari tradisi Kekristenan, ternyata dibangun diatas pondasi ajaran seorang laki-laki dari Timur, yaitu Yesus dari Nazareth.

Pun demikian, dengan ilmu pengetahuan yang sekarang didominasi oleh Barat, hadir dari akumulasi unsur-unsur peradaban sebelumnya. Dan di sini, kecemerlangan peradaban Arab-Islam memainkan peranan yang tidak sedikit dalam memberikan sumbangsih pemikiran.

Ini adalah realitas tak terbantahkan. Bahwasanya apa yang diklaim superioritas Barat atas Timur-Islam tak lain adalah omong kosong. Keunggulan peradaban Barat-Kristen atas Timur-Islam bukanlah disebabkan oleh faktor agama dan ideologi. Rasionalisme, etos kerja, pola disiplin ketat, keuletan, dan kerja keraslah yang membuat Barat mampu menegakkan supremasinya diatas peradaban-peradaban lain.

Ironisnya, mereka mendapatkan obor pencerahan tersebut dari warisan kaum Muslimin yang tertinggal. Sehingga dari sini tidak salah apabila Malek Bennabi, pemikir Al-Jazair menyebut kolonialisasi Barat atas negara-negara Islam adalah karena umat Islam itu sendiri yang layak untuk dijajah (qabiliah lil isti’mar). Dan itu adalah hukuman setimpal bagi umat islam karena telah meninggalkan ajaran agamanya sendiri, atau meminjam seruan Syakieb Arslan; “Umat Islam mundur karena mereka meninggalkan agamanya, dan Barat maju karena mereka meninggalkan agamanya”. Wallah A’lam.



















Daftar Pustaka

Hamdi Zaqzuq, Al-Istisyraq wa Al-Khalfiah Al-Fikriah fi Al-Shira’ Al-Hadlari, Kairo: Dar Al-Mannar, tt
Daniel J Sahas, John of Damascus on Islam: "The Heresy of the Ishmaelites", Leiden: E. J. Brill, 1972
Naguib Al-Aqiqi, Al-Mustasyriqun, juz 1, Kairo; Darul Maarif 1981
Abdurahman Badawi, Difa’ an Al-Quran
Zakir Naik, Islam Menjawab Gugatan, Jakarta, Lintas Pustaka, 2004
Dr. Mahmud Madhi, Al-Wahyu Al-Qurani fi Al-Mandhur Al-Istisyraqi wa naqduh, Alexandria: Darul Dakwah, 1996
Dr. Fadhal Abbas, Qadhaya Quraniyyah fi Al-mausu’ah al-Britania, Jordania; Dar al-Basyir, tt,
Abdullah Darraz, Madkhal ila Al-Quran, Kuwait; Dar al-Qalam, 1974
Rasyid Ridha, Al-Wahyu al-Muhammadi, Kairo, 1354 H,
Dr. M. Jabal, Al-Radd ‘alaa Al-Mustasyriq Al-Yahudi Ignaz Goldziher fi Matha’inih ala Al-Qiraat Al-Qur’aniyah, Tanta: Universitas Al-Azhar, 2002
Masduki, Al-Fikra: Jurnal Ilmiah Keislaman, Vol. 7, No. 2, Juli-Desember 2008
Karen Armstrong, Sejarah Tuhan, terj. Bandung: Mizan, 2007
Prof. Dr. MM. Azami, The History of The Quranic Text, Terj. Jakarta: Gema Insani, 2005
Edward Said, Orientalisme,
Dr. Musthofa Syarief, Al-Islam wa Al-Hadatsah, Kairo: Dar Al-Syuruq, 1995, hlm. 83