Wednesday, October 6, 2010

Sekilas Sejarah Pers Mahasiswa Indonesia


I. Pers Mahasiswa Indonesia

Pers merupakan salah satu elan vital yang menopang berdirinya suatu negara. Eksistensi sebuah negara berjalan beriringan bersama-sama dengan kebebasan yang diberikan kepada warga negaranya untuk mengecap informasi yang benar. Sebagaimana diatur dalam undang-undang 1945 bahwa warga negara mempunyai hak asasi untuk mendapatkan informasi yang akurat, dan negara menjamin tiap-tiap warga negaranya untuk berserikat, berkumpul, dan menyuarakan pendapatnya. Sehingga tidak salah kiranya apabila Mark Twain pernah berkata “There are only two things that can be lightening the world. The sun light in the sky and the press in the earth”, bahwasanya ada dua hal yang bisa menerangi dunia. Matahari dilangit yang memberikan sinarnya pada semesta, dan Pers yang membumikan cahayanya ditengah-tengah peradaban manusia.


Dan mahasiswa sebagai salah satu elemen bangsa, mempunyai andil cukup besar dalam menyajikan informasi kepada khalayak. Mahasiswa ideal adalah mereka yang turut ambil bagian dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat. Lebih-lebih terkait dengan posisinya sebagai agent of change yang merupakan tulang punggung bagi tercapainya iklim demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini wajar apabila kita perhatikan fungsi esensial dari pers itu sendiri, mulai dari education function (fungsi pendidikan) , information (sumber informasi), entertainment (hiburan) dan social control (kontrol sosial).


Bila dirunut ke belakang, geliat pers mahasiswa Indonesia dapat ditemukan embrionya sejak masa penjajahan Belanda. Didahului dengan semangat para pemuda waktu itu yang gerah dengan pemerintahan kolonialis Belanda, muncullah gerakan-gerakan kepemudaan yang mempunyai kesadaran akan arti pentingnya mempunyai sebuah negara yang berdaulat. Akhirnya dari sanalah tumbuh gagasan untuk menuangkan ide-ide mereka melalui wadah bernama media. Dalam era ini bermunculan Hindia Putra (1908), Jong Java (1914), Oesaha pemoeda (1923) dan Soeara Indonesia Moeda (1938) yang secara gigih dan konsekuen mendukung penuh perjuangan rakyat Indonesia meraih kemerdekaan.


Pasca kemerdekaan, pertumbuhan pers mahasiswa didalam negeri bak cendawan di musim hujan, luar biasa subur. Didasari dengan niat tulus mencerdaskan kehidupan berbangsa dan mengawal perjalanan republik yang kala itu baru seumur jagung, diadakanlah konferensi I pers mahasiswa Indonesia. Pada konferensi perdana ini lahirlah dua organisasi yang nantinya merupakan cikal bakal PPMI (Perhimpunan Penerbit Mahasiswa Indonesia), yaitu Ikatan Wartawan Mahasiswa Indonesia (IWMI yang diketuai oleh T. Yacob) dan Serikat Pers Mahasiswa Indonesia (SPMI yang dikomandoi Nugroho Notosusanto). Kedua organisasi ini, nantinya melebur kedalam satu wadah baru bernama IPMI (Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia) pada muktamar kedua yang dilaksanakan tanggal 16-19 Juli 1958.


Masa demokrasi terpimpin (1959-1960) adalah masa revolusi dalam dunia pers mahasiswa Indonesia. Tindakan represif dari penguasa Orde Lama yang banyak melakukan pembredelan kepada media-media yang tidak mencantumkan asas MANIPOL USDEK dalam AD/ART-nya dijawab oleh mahasiswa dengan mendirikan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dengan dua corong utamanya; “Mahasiswa Indonesia” dan “Mimbar Demokrasi”. Bahkan mahasiswa pada saat itu termasuk salah satu elemen penting aliansi segitiga (bersama dengan kalangan militer dan teknokrat) yang secara gemilang berhasil menurunkan rezim otoriter Orde Lama.


Dus, Soekarno pun tumbang diikuti dengan naiknya Mayjen Soeharto memegang tampuk kekuasaan tertinggi republik ini. Sebagai salah satu elemen kunci dari runtuhnya rezim Orde Lama, Soeharto, sebagai penguasa yang baru membalas ‘jasa’ para kuli tinta dikalangan mahasiswa ini dengan pemberlakuan NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus), yang mengharuskan mahasiswa untuk back to campus dan tidak turun ke jalan. Soeharto beralasan bahwa mahasiswa sebaiknya dibatasi ruang geraknya di area sekitar kampus dan tidak terlalu mencampuri urusan dapur negara. Akibatnya, dunia pers mahasiswa yang sempat meraksasa pada era sebelumnya perlahan mulai menyusut. IPMI sebagai wadah persatuan pers mahasiswa pada waktu sempat bereaksi dengan mengadakan kongresnya yang ke IV pada bulan Maret 1976 di Medan. Dalam kongres itu, IPMI belum mampu keluar dari permasalahan hidup antara di luar atau di dalam kampus. Akhirnya, IPMI gagal dan sinar pers mahasiswa meredup. Tak lama setelah itu, kelesuan pers mahasiswa diikuti dengan lesunya media-media umum seperti “Kompas”, “Sinar Harapan”, “Merdeka”, “Indonesia Times” yang diberedel penguasa Orde Baru sebagai respon atas ketakutan pemberitaan media yang kerap menyoroti kinerja pemerintah saat itu.


Medio 90-an, pers mahasiswa memasuki babak baru dalam gelanggang dunia jurnalistik di Indonesia. Berdirinya PPMI (Persatuan Penerbit Mahasiswa Indonesia) pada 15 Oktober 1992, menjadi semacam oase di tengah gersangnya iklim pers kala itu. Dalam tujuan pendirian PPMI, dua tekanan yang hendak dicapai adalah : Pertama, Mewujudkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia seperti yang dimaksud dalam pembukaan UUD 1945. Kedua, Membina daya upaya perhimpunan untuk turut mengarahkan pandangan umum di kalangan mahasiswa dengan berorientasi kemasyarakatan, dan bertanggungjawab kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan dipandegani oleh Tri Suparyanto (Yogyakarta), PPMI memiliki tantangan yang cukup serius untuk menyambung kembali tali transformasi visi dan gagasan yang sempat terputus dari generasi sebelumnya. Untuk mewujudkan hal itu, PPMI beberapa kali menyelenggarakan konferensi yang bertujuan untuk mensosialisasikan urgensi dari pers mahasiswa kepada masyarakat. Konferensi-konferensi tersebut dihelat pada 1993, 1995, 1997, 1998. Demi terwujudnya tatanan kehidupan bernegara yang kondusif, PPMI berupaya merumuskan garis-garis tujuan yang hendak digapai, diantaranya adalah; Pertama, mempertinggi mutu anggota, baik di bidang jurnalistik maupun di bidang intelektual. Kedua, mengantisipasi problematika yang dihadapi oleh perhimpunan. Ketiga, berusaha sendiri atau bekerja sama dengan instansi pemerintah atau swasta atau organisasi-organisasi yang asas tujuannya tidak bertentangan dengan perhimpunan, baik di dalam maupun di luar negeri.


II. Pers Mahasiswa Indonesia di Mesir


Tak mau ketinggalan dengan rekan-rekan sejawatnya di tanah air, Mahasiswa Indonesia yang tengah menuntut ilmu di Mesir juga berupaya menanmkan kesadaran akan pentingnya meneruskan arus informasi dan pengetahuan melalui jendela bernama media. Bermula pada paruh kedua dekade 20-an, Mahasiswa Indonesia kala itu mulai menerbitkan surat kabar sendiri, walaupun dalam bentuknya yang masih sederhana. "Seroean Azhar" adalah surat kabar pertama yang diterbitkan oleh mahasiswa Indonesia di Mesir. Majalah ini pertama kali diluncurkan pada bulan Oktober tahun 1926. Dengan dikomandani oleh Djanan Thaib yang menjabat sebagai Hoofdredacteur (direktur utama), majalah yang terbit tiap sebulan sekali ini menitikberatkan arah perjuangannya kepada seruan agar menuntut ilmu pengetahuan, persatuan dan kemajuan.


Setahun berselang, mengikuti jejak "Seroean Azhar" terbit pula majalah baru bernama "Pilihan Timoer" pada Oktober 1927. Majalah baru ini terbit tiap bulan sekali dengan uang langganan setahun dipatok seharga Rp. 5 (lima rupiah) setahun untuk kawasan Indonesia dan $ 4 ( empat dollar) untuk semenanjung Malaysia. Iljas Ja'coeb adalah Hoofdredacteur majalah yang konon termasuk majalah yang lumayan bagus isi dan teknik penulisannya dibandingkan majalah mahasiswa yang lain.


Tak berapa lama kemudian, tepatnya pada tahun 1930, muncul Majalah "Oesaha Pemoeda" menyusul kedua kompatriotnya yang terbit lebih dahulu. Dengan motto 'Penoentoen Ilmu Pengetahoean jang berdasar Islam', majalah ini rutin menyapa para pembacanya tiap bulan sekali. Kalau kedua majalah yang pertama, "Seroean Azhar" dan "Pilihan Timoer" terbit menggunakan huruf Arab pegon, maka "Oesaha Pemoeda" memilih menggunakan huruf latin dalam setiap edisi terbitannya.


Kemudian setelah itu, pada babakan sejarah selanjutnya bermunculan pula majalah-majalah mahasiswa lain, diantaranya adalah; Suara Mahasiswa (1971), Hikmah (1981), Himmah (1983). Selain itu beberapa kelompok studi juga aktif menerbitkan jurnal hasil kajian regulernya, diantaranya adalah jurnal ISSC (Islamic Study Club Cairo) tahun 1972.


Selang beberapa saat setelah itu, medio 80-an merupakan masa kelam bagi pers mahasiswa Indonesia di Mesir, dimana aktifitas tulis menulis mendadak lesu, dan tak bergairah. Hal ini terus berlangsung hingga awal dekade 90-an, ketika buletin Terobosan mulai hadir menyemarakkan kembali dinamika mahasiswa Indonesia di Mesir. Berturut-turut setalah itu, gegap gempita dunia pers mahasiswa Kairo kembali membahana, dengan suburnya pers-pers mahasiswa baru, diantaranya adalah buletin Prestasi yang diterbitkan oleh Kelompok Studi Walisongo (KSW), Pinisi Wawasan (KKS), Papadaan (KMKM), Mitra (KMM), el-Asyi (KMA), Nuansa dan Afkar (NU), Zuhroh (Wihdah), Perdana (IKPDN), La Tansa (IKPM), Iqra (HKPW), Manggala (KPMJB), al-Ummah (HIMMAH), dan masih banyak buletin-buletin lain yang turut menyemarakkan gairah dinamika mahasiswa Indonesia di Bumi para Nabi ini.



0 comments:

Post a Comment