Tuesday, October 26, 2010

Menyelami Metodologi Sejarah George Zaidan


Sebuah Tinjauan Kritis terhadap Potret Sejarah

                                       
Kisah Bermula

Manusia adalah makhluk yang dilemarkan ke dunia, kemudian ia hidup, bekerja, berbicara, dan pada akhirnya mempunyai sejarah. Sejarah merupakan ibu dari pengetahuan manusia dan berusia setua manusia, hanya manusialah yang mempunyai sejarah dan sanggup mempelajari sejarah. Dalam sejarah semacam itu manusia menjadi pencipta sejarah, manusia adalah pencipta dan subyek yang membentuk sejarah. Karena itulah maka sejarah adalah agregasi aktivitas manusia.[1]


Sejarah adalah gambaran potret diri manusia itu sendiri sepanjang eksistensinya di muka bumi. Dengan usianya yang setua manusia,  panorama kesejarahan meliputi gugusan segala macam fenomena kemanusiaan, dari manusia pertama hingga era kontemporer saat ini. Rangkaian fenomena yang saling berkait kelindan inilah yang nantinya menjadi objek penelitian para sejarahwan.

Pada mulanya, transmisi peristiwa-peristiwa kesejarahan dilakukan secara oral antara satu generasi dengan generasi setelahnya, mengingat ketika itu manusia belum mengenal tulisan sebagai sarana untuk mengabadikan sejarah. Fase ketika manusia belum menemukan tulisan ini dinamai dengan fase pra sejarah. Perlahan beriringnya waktu, beberapa peradaban besar seperti Sumeria, Babilonia, dan Mesir kuno mulai menemukan huruf dan aksara yang digunakan untuk untuk mengabadikan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi kala itu. Selain itu, aksara ketika itu juga digunakan untuk melukiskan ritual dan kepercayaan gaib yang mereka anut, disamping juga kerap digunakan untuk menuliskan cerita-cerita yang terjadi pada peradaban sebelum mereka. Bentuk cerita ini perlahan menjelma menjadi cerita rakyat yang kerap tercampur dengan mitos dan takhayul, seperti cerita kuno tentang peperangan maha dahsyat antara bala kurawa dan pandawa dalam epos Mahabharata. Juga seperti epos Gilgamesh, yang bercerita tentang banjir bandang yang meluluhlantakkan peradaban kuno. Cerita ini masyhur di kalangan masyarakat Sumeria kuno.

Periode inilah yang dikenal dengan masa sejarah. Ketika peradaban manusia mulai mengenal tulisan, ketika itu pula kita dapat melacak dan menganalisa berbagai peristiwa sejarah yang terjadi ketika itu. Hal ini dimungkinkan dengan keberadaan sumber sejarah yang utuk dan otentik. Lain halnya dengan pelacakan akar peristiwa yang terjadi pada era pra sejarah, yang tidak berlandaskan pada pijakan referensial yang kokoh dan dapat dipercaya, karena banyak tercampur cerita-cerita takhayul dan mitos.

Adapun penyusunan sejarah sebagai salah satu disiplin ilmu pertama kali berada di tangan Herodotus, sejarahwan kuno Yunani yang hidup pada abad ke 5 SM. Dalam pengembaraannya untuk mengumpulkan sumber berita, Herodotus kerap berkelana ke daerah-daerah yang menjadi objek kajiannya. 'Nile is the gift of the Egypt' adalah ungkapan yang ditelurkan Herodotus ketika mengunjungi Mesir. Herodotus juga termasuk orang asing pertama yang menyebut-nyebut peradaban Arab dalam tulisannya. Ia  menuliskan mengenai Arab ketika menceritakan peperangan antara Persia dan Mesir yang terjadi di era Qombis pada abad ke-6 SM.[2]

Demikianlah metode penyusunan sejarah banyak berpegangan pada sumber-sumber tertulis seperti prasasti, manuskrip kuno, artefak, dan berbagai peninggalan sejarah yang tersisa dari peradaban-peradaban kuno. Adapun sumber-sumber yang berasal dari tradisi oral meskipun cukup menjelaskan kejadian-kejadian yang tak tertulis, sayangnya sumber-sumber oral kurang otoritatif dalam kajian kesejarahan. Hal ini disebabkan banyaknya penyelewengan dan pencampuran kisah-kisah faktawi dengan mitos dan takhayul yang ahistoris. Oleh karena itu diperlukanlah suatu metode tertentu untuk menyelidiki validitas suatu berita dan membedakannya dengan mitos yang berkembang.[3]

Ibnu Khaldun adalah historian muslim mula-mula yang memperkenalkan metode pendekatan baru dalam menseleksi kabar berita yang akurat. Seperti diutarakan dalam muqaddimah-nya, Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa ilmu sejarah mempunyai dualisme karakter. Pertama secara eksoteris, sejarah tak lebih sekedar transmisi berita tentang peradaban kuno dan kabar mengenai bangsa-bangsa asing. Sementara secara esoteris, sejarah adalah observasi dan analisa mengenai sebab-sebab suatu peristiwa, serta menarik benang merah dari sekumpulan fenomena  partikular untuk kemudian mendudukkannya dalam satu kaedah universal.[4]

Selain itu, jasa besar Ibnu Khaldun dalam merumuskan rancang bangun filsafat sejarah atau ilmu al-'umran al-basyari menurut istilah-nya adalah dengan menawarkan metodologi uji validitas data. Dalam metode tersebut, Ibnu Khaldun  menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang dapat menarik seorang sejarahwan jatuh ke lubang kekeliruan historis.

Diantara faktor-faktor tersebut adalah sentimen sektarian atau fanatisme kemazhaban, kedua adalah kepercayaan penuh terhadap perawi (pemberi kabar) tanpa melalui metode jarh wa ta'dil yang lazim digunakan kalangan ahli hadist dalam memeriksa validitas hadist. Ketiga adalah terjadinya misunderstanding antara pembawa berita dan sejarahwan. Hal tersebut dipicu oleh ketidaktahuan pembawa berita atas maksud dari berita yang ia bawa, sehingga akhirnya banyak terjadi distorsi disana-sini. Faktor keempat adalah anggapan validitas suatu kabar bohong yang disebabkan oleh kealpaan sejarahwan memeriksa sumber berita. Kelima ketidaktahuan sejarahwan mengenai kabar bohong yang berhembus di tengah-tengah masyarakat. Dan para pembawa berita mentransmisikan kabar ini tanpa menyadari kepalsuannya. Keenam adalah faktor kedekatan sejarahwan dengan penguasa, yang memaksa mereka melakukan manipulasi data untuk menyenangkan penguasa. Dan yang terakhir adalah kealpaan sejarahwan dalam menganalisa suatu fenomena dengan mencerabutnya dari latar belakang historisnya. Walhasil, terjadinya satu fenomena hanya dipandang dari lingkaran luar tanpa mengembalikannya kepada konteks historis yang berlaku pada masa tersebut.[5]

Nah, untuk menghindarkan seorang sejarahwan dari faktor-faktor yang acap menurunkan kredibilitas suatu berita, Ibnu Khaldun menyarankan kita untuk menggunakan dua pendekatan; Pertama rasionalitas kabar berita, dalam artian suatu kabar paling tidak dianggap mendekati valid apabila kabar tesebut sesuai dengan nalar logis manusia. Sehingga dari sini, kabar-kabar yang memuat mitos-mitos dari 'dunia lain' wajib ditolak, seperti kabar tentang makhluk laut raksasa berkepala kambing yang kerap mengganggu para nelayan. Sebelum memakan korbannya, makhluk tersebut menengadakan ke langit dan memanggangnya diatas matahari. Cerita-cerita semodel ini tentu saja harus ditolak karena bertentangan dengan logika sehat manusia. Kedua adalah menggunakan metode jarh wa ta'dil yang akrab digunakan ulama muahditsin dalam memverifikasi derajat validitas hadist. Dalam metode tersebut, perawi yang dianggap jujur, amanah, dan kuat hapalannya dianggap sebagai sumber otoritatif dalam meriwayatkan berita.[6]

Demikianlah Ibnu Khaldun menerangkan metode dasar dari ilmu filsafat sejarah. Jasa besarnya dalam meletakkan pondasi dari metode historiografi modern, cukup terawetkan dan mendapat banyak apresiasi hingga era modern. Diantara banyak historian Arab modern yang yang cukup kompatibel dalam menganalisa sejarah peradaban Arab adalah George Zaidan.

Dengan menggunakan perangkat metodologi modern dan kecermatannya dalam menganalisa data-data penting sejarah, sosok George Zaidan bisa dibilang sebagai historian Arab terbesar di era kontemporer. Hal ini dikarenakan Zaidan-lah yang mempelopori gerakan penulisan sejarah Arab dengan menggunakan metode modern. Dalam penulisan buku-buku sejarahnya, Zaidan banyak terpengaruh dengan metode pendekatan yang acap digunakan para orientalis, khususnya Brockelmann, penulis Geschicte der Arabische Litteratur. Pengaruh orientalis asal Jerman ini demikian kentara sehingga buku sejarah yang dituliskan Zaidan sangat ensiklopedis. Dengan menggabungkan dua pendekatan; tradisi transmisi berita secara oral dengan merujuknya pada sumber-sumber klasik kemudian menyeleksinya, serta juga menggunakan manuskrip-manuskrip kuno yang baru ditemukan. Dengan menggabungkan keduanya, Zaidan berhasil menyusun buku sejarah peradaban Arab Islam beserta capaian-capaian gemilangnya dalam berbagai ragam diskursus, serta menyajikannya dengan apik dan renyah kepada pembaca.


Sepintas kilas George Zaidan dan buah karyanya

Situasi politik di Lebanon ketika itu sangat tidak stabil. Dinasti Ottoman, sebagai penguasa kawasan Syam banyak bertindak sewenang-wenang terhadap penduduk pribumi. Demografi penduduk di wilayah-wilayah pendudukan Dinasti Ottoman terbagi menjadi dua bagian; pemerintah dan rakyat jelata. Diantara mereka terdapat perbedaan gaya hidup yang cukup signifikan. Sementara rakyat jelata tinggal di rumah-rumah kumuh, menghadapi kemerosotan ekonomi yang mencekik, dan jauh dari pendidikan. Namun Pemerintah, yang didominasi oleh orang-orang Turki seakan buta tuli terhadap kesengsaraan rakyat, yang mayoritas dari bangsa Arab. Mereka santai saja hidup dalam gelimang kemewahan, di dalam istana-istana megah. Dominasi pemerintah yang menganakemaskan orang keturunan Turki, ditambah dengan lemahnya kontrol sosial dari pemerintah membuat rakyat Lebanon resah dan akhirnya banyak timbul bentrokan berdarah diantara sekte-sekte agama yang ada.

Perlu diketahui bahwa kondisi sosial masyarakat Lebanon, dari masa dahulu hingga sekarang, terdapat banyak sekali sekte-sekte agama yang tumplek bek menjadi satu disana. Tercatat, dari kalangan Islam sendiri terdapat golongan Sunni dan Syiah. Sementara dari Kristen terdapat penganut Kristen Orthodoks, Katholik, Protestan, dan Maronit. Belum lagi ditambah orang Yahudi dan penganut sekte Druze serta beberapa sempalan kepercayaan yang lain. Kondisi semacam ini, apabila tidak diatasi dengan baik tentu saja rawan terhadap gesekan dan sengketa antar sekte.

Pada kondisi sosial politik semacam inilah George Zaidan lahir di Beirut, pada 14 Desember 1861. Ia dilahirkan dari keluarga Kristen Maronit –salah satu sekte Kristen di Lebanon- yang papa. Ayah George adalah seorang Kristen miskin buta huruf yang terpaksa meninggalkan rumahnya waktu kecil akibat tertimpa bencana. Oleh karena itu, Zaidan tidak tahu dengan pasti darimana muasal keluarganya, sebagaimana yang ia ceritakan dalam Mudzakarat-nya.  Menginjak usianya lima tahun, Zaidan mendapatkan pendidikan formalnya yang pertama di madrasah milik pendeta Elyas Syafiq.

Sebetulnya, ayahnya tidak berminat menyekolahkan Zaidan sampai tuntas, namun sebatas bisa baca tulis dan menghitung sehingga bisa membantu keluarga menjaga warung kecil milik ayahnya. Selang 2 tahun setelahnya, Zaidan meninggalkan sekolah dan disuruh sang ayah untuk membantu pekerjaannya menjaga warung. Ketika sedang menjaga warung, ia bertemu dengan Mas'ud Thawil, seorang guru yang kemudian mengajarnya bahasa Inggris. Berkat kecerdasannya, Zaidan mampu menguasai bahasa asing tersebut dalam waktu 5 bulan. Tak lama setelah itu, Zaidan berkenalan dengan para siswa Universitas Amerika. Di sana ia diajak belajar bersama dan mendalami bahasa Inggris.

Tahun 1881, Zaidan muda berkeinginan untuk mempelajari ilmu kedokteran di tempat yang sama. Dalam waktu 2 tahun, Zaidan berhasil menyelesaikan tingkat pertama kuliahnya dengan predikat imtiyaz. Kemudian, ia juga mendalami dunia farmasai dan mendapatkan nilai memuaskan di bidang biologi, geologi, anatomi tubuh, dan kimia. Kehausannya akan ilmu pengetahuan membawanya ke Mesir untuk melanjutkan pendidikan kedokteran di Qasr al-'Ain. Dengan perbekalan seadanya, Zaidan bermimpi untuk menamatkan sekolahnya. Namun kondisi ekonominya yang minim memaksanya berubah haluan. Ia meninggalkan dunia kedokteran dan mulai bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Tahun 1885 ia kembali ke Beirut. Disana ia mempelajari bahasa Suryani dan Ibrani. Setelah mempelajari kedua bahasa tersebut, Zaidan mengarang bukunya yang pertama; al-falsafah al-lughawiyah. Setahun berselang, Zaidan berangkat ke London dan menziarahi museum, universitas, akademi, dan lembaga riset keilmuan serta banyak mempelajari koleksi-koleksi berharga yang ada disana.

Sekembalinya ke Mesir, Zaidan mendirikan majalah bulanan 'Al-Hilal'. Dengan mengusung slogan 'majalah keilmuan, sejarah dan sastra' Zaidan mulai menulis bunga rampai pemikirannya. Majalah tersebut mendapatkan sambutan hangat dari berbagai kalangan di Mesir dan dunia Arab. Tak lama setelah didirikan, majalah ini mengusung beberapa cendekiawan untuk duduk di jajaran redaksional, seperti Husain Mu'nis, Ahmad Zaki, Ali Ra'i. Selain aktif menulis di majalah tersebut, Zaidan juga cukup produktif menelurkan berbagai buku di berbagai disiplin keilmuan semisal sastra, sejarah, budaya, dan biografi.

Diantara karya-karyanya adalah; Tarikh al-Tamaddun al-Islami (5 jilid) yang merupakan karya terbesarnya. Arab Qabl al-Islam, Tarikh Inggaltra, al-Falsafah al-Lughawiah, Lughah Arabiah Kain Hayy, Masyahir al-Syarq Qarn 19, Tarikh Adab al-Lughah al-Arabiah (4 jilid), Ansab al-Arab, Thabaqat al-Umam, Tarikh Misr al-Hadist, Ilm al-Farasah al-Hadist. Disamping itu George Zaidan juga seorang penikmat dan penulis sastra terkemuka. Hal ini bisa dilihat dari buku-buku roman sejarah yang ditulisnya, seperti Fatah Ghassan, Armanusah al-Mishriah, 17 Ramadhan, Ghadah Karbala, Fath al-Andalus, dan lain sebagainya.

Metodologi Zaidan dalam buku sejarahnya

Sejarah peradaban suatu bangsa bukan hanya sebatas sejarah peperangan, penaklukkan, dan keruntuhannya saja. Ada aspek penting yang sering luput dalam amatan sejarahwan dalam membidik peradaban suatu bangsa, yaitu aspek kegemilangan dan kekayaan peradaban tersebut; baik bersifat fisik, seperti arsitektur bangunan, alat-alat peperangan, maupun non fisik, seperti hasil capaian-capaian berbagai diskursus keilmuan; gramatikal, linguistik, matematika, biologi, kimia, fisika, filsafat, penemuan-penemuan ilmiah, dan sistem administrasi kenegaraan.[7]

Nah, tilikan sejarah yang demikian itulah yang menjadi concern utama Zaidan dalam menggarap buku sejarahnya. Tentu saja Zaidan tidak melulu membebek pada sejarahwan islam klasik, karena itu hanya akan melahirkan karya yang diulang-ulang tanpa mendemonstrasikan sesuatu yang baru. Selain itu, analisa sejarah yang dilakukan para sejarahwan klasik, kerap abai terhadap struktur sosial masyarakat islam yang berlaku kala itu, serta sebab-sebab efektif yang melatarbelakangi terjadinya gugusan fenomene kesejarahan. Mayoritas dari mereka, cenderung hanya mencukupkan diri dengan metode transmisi oral saja, yang menumpukan kebenaran pada diri sang perawi semata. Barangkali ini bisa dimaklumi melihat perkembangan metode analisa sejarah dalam islam yang pada mulanya ditempatkan sebagai alat bantu dalam menentukan derajat keshahihan suatu hadist.

Dalam penulisan sejarahnya, Zaidan mendasarkan penelitiannya pada berbagai sumber. Diantaranya adalah buku-buku karya orientalis seperti Carsten Niebuhr, Joseph Halevy, Eduard Glaser, Dussaud, Palgrave dan Brockelmann. Nama terakhir yang disebut inilah yang paling banyak memberikan pengaruhnya pada diri George Zaidan. Selain itu Zaidan juga membaca karya-karya para sejarahwan asing klasik ataupun pengelana yang menuliskan laporan perjalanannya mengenai sejarah Arab. Laporan dari sejarahwan Yunani seperti Herodotus, Theofaras, Proseus, Deodorus dari Sicilia, Prokopious dan Stefanus dari Romawi juga sangat berharga menyingkap banyak sisi yang jarang ditemui oleh para sarjana Islam klasik. Selain dari laporan para pengelana klasik, Zaidan juga dengan tekun meneliti manuskrip-manuskrip kuno yang berasal dari bangsa Arab ataupun non Arab. Kabar-kabar dari Arab meliputi kumpulan syair-syair jahiliah yang banyak tersebar di kalangan masyarakat Arab dahulu. Kisah-kisah dari bangsa Yahudi-Kristen, yang banyak diambil dari kitab suci mereka, Taurat dan Injil.

Berkat kepiawaiannya menguasai berbagai bahasa asing, baik bahasa modern ataupun klasik (Inggris, Perancis, Jerman, Suryani, Ibrani, Aramaic), Zaidan mampu menggali informasi lebih jauh mengenai sumber-sumber asing tertulis, yang tersebar di berbagai literatur dan laporan penemuan para arkeolog modern, khususnya mengenai manuskrip-manuskrip kuno yang baru ditemukan. Seperti artefak kuno dari bangsa Hamiriah yang menggunakan tulisan musnad, naskah kuno dari bangsa Aram yang ditulis menggunakan bahasa Nabatean.

Adapun penemuan manuskrip kuno yang terbesar mengenai sejarah Arab adalah  naskah-naskah yang ditemukan di Hadramaut (Arab Selatan) dan Nabatean (Arab Utara). Laporan dari seorang ahli arkeologi Jerman yang menemukan naskah tersebut, Niebuhr menyatakan bahwa dari kedua kota di Yaman; Dzafar dan Hadafah terserak banyak sekali manuskrip kuno yang tidak dikenali oleh bangsa Yahudi dan Arab. Pada naskah yang ditemukan pada 1764 tersebut, menceritakan tentang pembangunan bendungan Ma'rib, dinasti yang membangunnya dan sebab-sebab kehancurannya.

Joseph Halevy, seorang peneliti Perancis yang melakukan penelitiannya di Ma'rab pada 1869 berhasil menemukan 680 artefak bertuliskan huruf Ibrani. Dari penelitiannya tersebut, Halveyy berhasil menemukan 'Muaiyin', ibukota dinasti Muaiyin yang pernah dilaporkan oleh pengembara klasik Romawi, Ellius Gallus. Selain itu dari naskah tersebut Halveyy juga mengetahui sejumlah besar nama raja-raja Yaman kuno, sesembahan mereka, suku-suku dan sistem kemasyarakatan mereka. Sementara di jazirah Arab bagian utara, serombongan Orientalis berhasil menemukan manuskrip-manuskrip yang berasal dari berbagai bangsa, Nabatean, Aram, Moab, Hamir dan Funisia. Dari penelitian tersebut, para Orientalis banyak menguak berita-berita dari peradaban rumpun bangsa Semit kuno, yang bahkan tidak diketahui oleh bangsa Arab atau Yahudi sendiri, juga tidak pernah tercatat di laporan para sejarahwan klasik Islam.

Selain memanfaatkan berita penemuan manuskrip kuno yang berasal dari Jazirah Arab, George Zaidan juga membolak-balik sekian banyak jejak peninggalan bangsa-bangsa Semit lain yang tersebar di luar kawasan Arab. Kebanyakan jejak literatur tersebut ditemukan berasal dari Babilonia, Funisia, Asyuria, dan Mesir. Walaupun bukan berasal dari tanah Arab sendiri, manuskrip-manuskrip kuno tersebut ternyata banyak menceritakan berita dan keadaan bangsa Arab pada waktu itu. Seperti misalnya satu literatur yang berasal dari Babilonia (kawasan Irak sekarang) yang mewartakan akan berdirinya satu kerajaan besar di jazirah Arab paska keruntuhan Babilonia pada abad 3000 SM.[8]

Disamping merujuk pada sumber-sumber asing, tak lupa Zaidan juga menggali lebih dalam dari tulisan-tulisan para sarjana Islam klasik seperti Fihrist Ibnu Nadim, Abjad al-Ulum karya Shadiq Qanuji, Fawat al-Wafiat Ibnu Syakir, Mu'jam al-Buldan karya Yaqut al-Hamawy, Ibnu Atsir, Tarikh Thabari, Tarikh Ibnu Khaldun, al-Aghany Abu Faraj al-Isfahany, Sirah Nabawiah Ibnu Hisyam, Thabaqat al-Syuara Ibnu Qutaybah, Muruj al-Dzahab al-Mas'udi, al-Mukhtasar fi Akhbar al-Basyar Abul Fada, Nihayat al-Arb fi al-Qabail al-'Arab karya al-Qalqusyandy dan lain sebagainya.

Dengan pijakan referensial yang demikian kaya, maka wajar apabila konklusi akhir yang ditelurkan oleh Zaidan kerap berbeda dengan beberapa sejarahwan, terutama para sarjana Islam yang acap menuduh Zaidan telah melakukan upaya distorsi terhadap sejarah Islam. Seperti tuduhan Sheikh Syibli Nu'mani yang menyatakan bahwa Zaidan sengaja menyelewengkan sejarah Islam untuk meruntuhkan kejayaan umat Islam dan sengaja melakukan itu atas permintaan para orientalis musuh agama.[9] Sebenarnya problem utama dari kalangan fundamentalis adalah ilmu pengetahuan. Biasanya, mereka cenderung merasa menjadi representasi sah dari Tuhan dan menganggap dirinya sendiri adalah orang yang paling tahu akan Islam itu sendiri. Tentu saja dengan referensi bacaan minim dan miskinnya pengetahuan yang mereka miliki membuat orang-orang sok tahu ini dengan mudahnya menuduh orang lain yang berbeda dengan mereka dengan sebutan fasik, zindik, kafir, agen orientalis, dan sebutan-sebutan lain yang tak pantas.

Dalam penulisan sejarahnya, Zaidan terlihat sangat mengapresiasi pendekatan strukturalisme dalam menganalisa sejarah. Metode ini ia dapatkan ketika mengunjungi Inggris dan mempelajari karya-karya para orientalis semisal Margoliouth, Nickholson, De Boer, Gustav Le Bon, Maspero, Valney, Labort dan lain-lain. Dengan menggunakan metode analisa strukturalisme sejarah, membuat  Zaidan tidak sebatas mengamini begitu saja pendapat para sarjana klasik, akan tetapi ia melakukan studi komparasi diantara berbagai literatur tersebut kemudian membedahnya dengan pisau analisa strukturalisme, dimana aktor-aktor sejarah yang bermunculan tidak dipaparkan secara polos dan lugu, tetapi dianggap sebagai bentukan struktur sosial yang berkembang di masanya. Pun demikian halnya dengan suatu peristiwa yang terjadi, tidak secara polos begitu saja dipaparkan melainkan ditekankan pula latar belakang historis munculnya peristiwa tersebut.[10]

Misalnya dalam kasus penaklukan-penaklukan Islam (futuh) terhadap wilayah-wilayah yang menjadi bawahan Imperium Romawi dan Persia. George Zaidan menerangkan bahwa ada beberapa faktor determinan yang membuat bangsa Arab yang notabene bangsa nomaden dan tidak berkebudayaan tinggi mampu menaklukkan kedua dinasti raksasa pada masa tersebut.

Faktor pertama adalah kekuatan akidah islam yang berhasil mempersatukan kabilah-kabilah Arab di bawah satu panji, Islam. Kedua adalah tebalnya rasa keimanan bangsa Arab ketika itu, hal ini nampak pada peristiwa al-Qadisiah; Rustum, Panglima perang Persia mengejek Mughirah "Kalian akan mati seperti yang kalian inginkan". Jawab Mughirah "Orang-orang yang mati diantara kami akan segera masuk surga, sedangkan yang mati dari kalian akan masuk neraka. Dan prajurit kami yang masih hidup akan mengungguli prajurit kalian yang tersisa". Penyebab ketiga adalah melimpahnya kekayaan alam yang terkandung di negara-negara yang hendak ditaklukkan. Banyak dari kabilah-kabilah Arab yang ikut rombongan perang kaum muslimin hanya semata menginginkan harta rampasan perang saja. Fenomena ini biasanya muncul dari kalangan Arab yang masuk islam karena alasan politis. Dan hal ini tidak hanya berlaku di masa penaklukkan, melainkan sudah ada mulai masa Nabi. Seperti yang nampak segera setelah usai perang Hanin dan Thaif, dimana kaum muslimin yang memenangkan peperangan langsung mendesak Nabi untuk segera membagi harta rampasan perang (Ghanimah) kepada mereka.

Selain ketiga faktor diatas, dalam kacamata Zaidan, ada beberapa hal lain yang bisa dikatakan faktor pendukung yang membantu melicinkan penaklukkan Arab, diantaranya adalah; kondisi psikologis bangsa Arab yang terbiasa hidup dalam kemiskinan[11], keyakinan mereka terhadap qadha dan qadar Tuhan[12], kemahiran mereka menunggang kuda dan menembakkan anak panah[13], kehadiran para pembesar dari kalangan sahabat[14], kegigihan dan kesabaran mereka dalam berperang[15], fanatisme kesukuan (ashabiah)[16], perang gerilya[17], memori peperangan Yarmuk dan Qadisiah[18], dan dukungan dari golongan Yahudi dan penduduk setempat[19].

Dengan melakukan analisa komperehensif, Zaidan juga menemukan fakta menarik terkait asal muasal nama daerah atau kota. Dalam terminologi sarjana klasik, nama dari suatu kota biasanya dinisbatkan kepada pendiri atau orang pertama yang babat alas kota tersebut. Seperti misalnya asal dari nama Farisi (Persia), yang dikatakan merupakan nama bapak pendiri negeri tersebut; Faris bin Nasur bin Sam bin Nuh, negara Mesir dari nama Mashrayim, pendiri negeri tersebut, Ashur dari nama Asyiur. Selain itu sarjana klasik juga kerap menisbatkan nama kota dari peristiwa yang terjadi di masa itu, seperti Dimasyq, yang berasal dari Damasyqu binaaha (mereka tergesa-gesa dalam membangunnya), Iraq dari Ariqa al-Qurbah (kantong air yang menetes), Hera dari takhayyur (berputar-putar), dan lain sebagainya.

Faktanya, menurut George Zaidan asal-usul geneologis suatu bangsa tidak melulu berpijakan pada dua kriteria diatas. Masih banyak faktor-faktor lain yang melatar belakangi munculnya nama satu bangsa. Seperti misal Iraq, ternyata setelah diteliti berasal  dari bahasa Persia Iraah yang merupakan satu turunan dengan kata Iran, dalam bahasa Persia. Hera, berasal dari kalimat dalam bahasa Suryani Herata yang berarti keperwiraan.[20]

Model pendefinisian klasik seperi ini, biasanya banyak terpengaruh dari tradisi kaum Yahudi. Talmud, sebagai kitab suci bangsa Yahudi, sering menuturkan hal-hal yang tidak logis dan berbau mitos. Bangsa Arab, sebagai bangsa yang baru mendapatkan 'al-kitab', ketika tidak menemukan perincian-perincian dari cerita yang dikisahkan al-Quran, seringkali bertanya kepada saudara 'tua' mereka dari kalangan Yahudi, utamanya mereka yang baru masuk Islam seperti Wahab bin Munabbih, Abdullah bin Salam dan Ka'ab al-Ahbar. Dengan tradisi yang berkembang kala itu, dimana sejarahwan hanya mencukupkan diri dengan metode transmisional yang menggantungkan validitas data hanya kepada kedudukan perawi, akibatnya kabar-kabar berita yang tidak valid dan notabene berbau takhayul tetap diterima hanya karena perawinya jujur dan amanah. Inilah salah satu pintu gerbang masuknya Israiliyat dalam kajian tafsir, hadist dan sejarah.

Ada satu kritikan dari Syekh Mahmud Showi yang menyatakan bahwa George Zaidan nampak acuh terhadap metode yang merupakan ciri khas peradaban Islam, yaitu metode rantai periwayatan (sanad).[21]

Seperti diterangkan dimuka, bahwa Zaidan memang kurang menaruh perhatian penuh pada metode transmisional. Ia menerangkan bahwa metode sanad memiliki banyak sekali kecacatan-kecatatan fundamental, diantaranya adalah penerima kabar cukup menaruh kepercayaan pada sang perawi saja, walaupun kabar yang diterima terkadang tidak masuk akal. Kedua, dengan menggunakan metode sanad, esensi dari berita itu sendiri terkadang tercampur aduk dengan pemahaman perawi. Hal ini biasanya disebabkan oleh kesalah pahaman perawi terhadap berita yang ia terima. Berita yang tadinya dimaksudkan seperti A teriwayatkan sebagai B akibat salah pengertian. Ketiga, kekuatan hafalan rawi, walaupun seorang perawi misalnya terkenal akan kekuatan hafalannya, tetapi tidak menutup kemungkinan pada suatu ketika ada satu kondisi yang menyebabkan perawi tidak cukup siap untuk menghafalkan berita. Keempat, sebagai pintu gerbang masuknya Israiliyat dalam agama. Mitos-mitos yang berkembang dalam masyarakat, secara tidak langsung adalah akibat terlalu percaya dengan metode transmisional saja, yang menitikberatkan validitas berita pada diri perawi, bukan pada substansi berita. Akibatnya jelas, buku-buku tafsir, hadist, dan sejarah banyak disesaki kisah-kisah khurafat dan takhayul yang tidak jelas jluntrungannya itu. Dari sini kritikan yang dialamatkan kepada George Zaidan tersebab keacuhannya yang tidak mengindahkan sanad, kurang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai alternatif, Zaidan menawarkan metode analitik-komparatif guna menyelesaikan silang sengketa diantara para sejarahwan. Pendekatan ini menitikberatkan pada kodifikasi sekian banyak data-data sejarah yang terserak dalam berbagai referensi guna didudukkan dan ditimbang kevalidannya.[22] Masing-masing data tersebut ditempatkan pada posnya untuk kemudian dilakukan proses analisa terhadap anasir pembentuknya, seperti; latar belakang historis, letak geografis, kondisi sosio politik, fenomena kultural, hubungan kausalitas antar beragam fenomena, dan proses dialektika yang sedang berlangsung. Kesemuanya itu, kemudian diseleksi dengan menggunakan timbangan nalar jernih.

Evolusi ilmu pengetahuan modern dengan segala macam perkembangan mutakhirnya turut memuluskan langkah Zaidan dalam merumuskan rancang bangun teori sejarahnya. Dengan ditemukannya banyak manuskrip kuno yang lama tertimbun di semenanjung Arab, seakan membuka arus informasi yang tidak pernah diketahui generasi klasik. Dimulai dari Champoleon, sarjana Perancis yang berhasil membuka rahasia kode tulisan Hieroglyph di Mesir. Diikuti sarjana-sarjana lain yang juga sukses menguak sandi-sandi paku di peradaban Babilonia, artefak kuno di Petra, Syria dan Hadramaut. Dari penemuan-penemuan tersebut, terkuaklah misteri-misteri sejarah kuno yang selama ini tidak pernah terekspos oleh generasi lalu.


Arabisme George Zaidan

Bagi pembaca yang jeli mengamati karya-karya sejarah Zaidan, akan tercium aroma kental Arabisme yang diusung penulisnya. Nuansa Arabisme ini, seperti hendak diproyeksikan sebagai jawaban atas klaim para orientalis yang menganggap bangsa Arab tidak memiliki peradaban besar. Sentimen ini dipicu oleh gencarnya propaganda Barat yang mengangkat superioritas ras Arya diatas bangsa-bangsa lain, termasuk Arab. Bagi Barat, hanya peradaban mereka-lah yang layak untuk dikategorikan sebagai peradaban maju, dan ini adalah takdir sejarah. Mereka mendasarkan argumennya pada akar sejarah pembentuk peradaban mereka saat ini. Menurutnya, akar sejarah superioritas peradaban Eropa ada pada kedua peradaban besar klasik, Yunani dan Romawi. Sementara bangsa-bangsa lain mengedepankan mitos dan takhayul sebagai unsur pembentuknya, sebaliknya bangsa Yunani dan Romawi membangun peradabannya diatas pondasi logos (rasio). Inilah titik pembeda –dalam kaca mata Barat- antara Eropa dengan bangsa-bangsa yang lain. Ditambah dengan arogansi Eropa yang melakukan kolonialisasi di negara-negara Arab, lengkap sudah kejengkelan Zaidan terhadap orang-orang Barat yang angkuh itu.

Imbasnya, -menurut amatan penulis- sebagai seorang sejarahwan jempolan, Zaidan kerap melakukan simplifikasi berlebihan apabila terkait dengan diskursus Arabisme. Seperti misalnya ketika menceritakan tentang asal-usul geneaologis bangsa Babilonia. Para sejarahwan sepakat bahwa bangsa Babilonia termasuk rumpun bangsa Semit. Dari rumpun bangsa ini menurunkan banyak bangsa-bangsa seperti Arab, Yahudi, Funisia, Aram, Suryani, Assyria, dan sebagainya. Menurut George Zaidan, secara geneaologis, Babilonia adalah peradaban yang dibangun oleh bangsa Arab. Hal ini kentara dengan bahasa yang digunakan pada peradaban yang terkenal sebagai bangsa penggagas hukum undang-undang tertulis pertama di dunia. Dari hasil analisanya, Zaidan sampai pada kesimpulan bahwa terdapat banyak keserupaan antara bahasa yang digunakan pada Codex Hamurabbi dengan bahasa Arab kuno. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat penghuni peradaban Babilonia adalah orang-orang Arab.[23]

Padahal apabila kita teliti lebih lanjut, bangsa-bangsa yang tehimpun dalam  satu ras tersebut mempunyai kedekatan erat antara satu dengan lainnya. Tidak ada perbedaan mencolok antara bangsa-bangsa tersebut satu sama lain, dalam soal budaya, adat, dan struktur sosial. Pun demikian soal bahasa. Kedekatan hubungan diantara bangsa-bangsa Semit, ditambah maraknya kawin silang antar bangsa membuat proses identifikasi dari sub bangsa mana penduduk Babilonia menjadi sangat rumit. Apalagi ditambah pada fase tersebut, identitas kebangsaan masing-masing bangsa belum terlalu berbeda jauh seperti yang kita dapati saat sekarang ini. Sehingga dengan demikian, penisbatan peradaban Babilonia kepada bangsa Arab saja, sungguh-sungguh sangat berlebihan dan cenderung mensimplifikasi wacana. 

Husein Mu'nis memberikan catatan atas pendapat Zaidan tersebut dan mengatakan bahwa hal ini lahir dari spirit nasionalisme Arab yang berlebihan. Tidak ada peneliti dan sejarahwan yang mengamini pendapat Zaidan tersebut, atau kalaupun ada kurang mempunyai reputasi ilmiah yang diakui. Zaidan, menurut Husein Mu'nis seperti ingin membangkitkan rasa kebanggaan akan Arabisme kepada bangsa Arab melalui kajian ilmiah.

Dengan hasil kajiannya tersebut, Zaidan seakan hendak  menunjukkan kepada bangsa Arab bahwa peradaban mereka adalah peradaban yang maju, bukan peradaban mitos seperti yang kerap dipropagandakan oleh Barat. Terbukti dengan kemegahan dan kemajuan peradaban Babilonia yang notabene nenek moyang mereka. Mereka mampu membuat kota-kota teratur, kanal irigasi pada pertanian, seni arsitektur yang memukau, taman gantung Babilonia yang legendaris, hingga penemuan Codex Hamurabbi, Undang-undang hukum tertulis paling tua di dunia. Semua itu adalah cambuk pelecut bagi Arab dan dunia Arab untuk maju dan membangun peradaban madani, sebagaimana nenek moyang mereka dulu melakukannya.[24]

Abed al-Jabri, pemikir muslim asal Maroko memberikan analisa menarik terkait diskursus Arabisme. Dalam bukunya Wijhah Nadhor; Nahwa I'adah Bina Qadhaya al-Fikr al-Araby al-Muashir ia mengatakan bahwa dalam literature turats klasik, jarang sekali ditemukan terma Arabisme, karena identitas bangsa Arab dan bangsa-bangsa yang lain telah melebur ke dalam satu ikatan emosional, Islam, sebagai sebuah agama, kebudayaan, dan peradaban. Kemunculan pertama terma Arabisme ('Arubah) adalah sebagai satu bentuk reaksi atas penetrasi the other (bangsa lain) ke dalam struktur masyarakat Arab pada abad 19.[25]

Eksistensi the other tersebut, yang direpresentasikan oleh bangsa Eropa dan Turki Ustmani menghampiri bangsa Arab dalam bentuk penjajahan, baik budaya maupun pemerintahan. Sebagai penguasa kekhalifaan Islam yang meliputi wilayah yang sangat luas (meliputi Turki, Semenanjung Balkan, Syria, Lebanon, Palestina, Jordan, Mesir dan Iraq) pemerintah Turki Ustmani banyak bertindak represif dan cenderung menganakemaskan bangsa Turki diatas semua bangsa lain. Bangsa Arab sebagai golongan mayoritas terpinggirkan bangkit dan melakukan perlawanan. Pada periode inilah identitas Arabisme menyeruak seiring dengan gencarnya arus perlawanan terhadap penguasa Turki. Identitas Arab digunakan sebagai satu elemen kunci pengikat bangsa-bangsa yang dikuasai dinasti Ottoman. Hal ini mengingat di negara-negara masyriq al-araby, kondisi demografi penduduknya sangat heterogen, terdiri dari beragam agama dan sekte. Identitas Arab dianggap sebagai satu-satunya alat pemersatu bangsa Arab.

Sementara di sisi lain, ekspansi kolonialisme Eropa mulai berusaha mengepakkan sayapnya ke daerah-daerah yang dikuasai Dinasti Ottoman. Dalam posisi demikian, bangsa Arab dihadapkan pada dua lawan asing sekaligus, kolonialisme Eropa dan Penguasa Turki. Jadi dengan demikian, kemunculan terma Arabisme pertama kali bukan lahir dari rahim peradaban Arab-Islam, melainkan ekses dari persinggungannya dengan the other, khususnya Dinasti Ottoman.

Di tengah-tengah suasana konfrontasi seperti itulah George Zaidan hidup. Wajar apabila Zaidan sendiri sedikit banyak terpengaruh oleh gegap gempita arus perlawanan  melawan the other. Jadi terasa janggal apabila ada sebagian kalangan yang menganggap George Zaidan bekerja untuk kepentingan asing (orientalis) dengan mengolok-olok ras Arab. Padahal faktanya, menurut hemat penulis Zaidan malahan kerap mengangkat superioritas ras Arab dan mengunggulkannya diatas ras lainya, seperti yang penulis kemukakan dari contoh kasus diatas. Ditambah dengan motif utama salah satu karya monumentalnya; Tarikh Adab al-Lughah al-'Arabiah adalah untuk memaparkan bagaimana kedudukan bangsa Arab diantara bangsa-bangsa lainnya, dan bagaimana capaian-capaian ilmu pengetahuan yang diraih bangsa Arab sejak jaman bahuela yang tidak kalah dengan bangsa-bangsa beradab lainnya.[26]

Teori Evolusi George Zaidan

Pembahasan seputar teori evolusi menurut George Zaidan tidak hanya berkutat seputar evolusi spesies manusia saja, akan tetapi meluas ke berbagai dimensi lainnya, seperti evolusi bahasa dan peradaban. Perluasan ragam wacana tersebut, adalah hasil dari kejelian dan kecermatan Zaidan dalam menganilisis perkembangan suatu disiplin keilmuan. Untuk itu disini penulis akan mendedahkan teori-teori tersebut satu persatu.

a. Evolusi Spesies Manusia

Charles Darwin selama ini kerap digadang-gadang sebagai bapak penemu teori evolusi. Dalam bukunya The Origin of Species, Darwin mengatakan bahwa seluruh organisme yang ada di muka bumi ini, berasal dari satu nenek moyang yang sama, yaitu satu mikro organisme sederhana bersel tunggal. Adapun keragaman makhluk yang kita lihat sekarang, adalah kelanjutan dari proses evolusi masing-masing makhluk terhadap lingkungan yang ia tempati. Bagian paling mengundang kontroversi dalam teori ini adalah menyatakan bahwa manusia; makhluk sempurna, berasal dari kera; makhluk yang 'nyaris' sempurna. Teori demikian tentu saja bertentangan dengan konsepsi yang beredar di kalangan masyarakat, utamanya para agamawan, yang menganggap manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna, diciptakan secara independen dari makhluk-makhluk Tuhan lainnya.

Sebenarnya, wacana mengenai teori evlolusi sudah jauh-jauh hari dikemukakan oleh para sarjana muslim, beberapa abad sebelum era Darwin. Sathi' al-Hasry pernah membuat kesimpulan mengejutkan. Dalam penelitiannya tentang sosok Ibnu Khadldun, ia menemukan fakta mencengangkan bahwa ternyata, Ibnu Khaldun pernah melakukan pembahasan seputar teori evolusi. Dalam muqaddimah-nya, sejarahwan muslim abad ke 14 M ini  menyatakan bahwa seluruh makhluk yang ada di alam ini, mengalami evolusi gradual dari satu bentuk ke bentuk lainnya[27]. Akhir dari tingkatan jamadat mempunyai potensi aktif untuk berhubungan dan berpindah 'posisi' menjadi tingkatan tumbuhan yang terendah. Sementara evolusi tetumbuhan yang tertinggi sangat potensial untuk berubah bentuk menjadi tingkatan hewan yang terendah. Demikian juga dalam hal ini, kera; sebagai manifestasi tertinggi dunia hewan, mempuyai kekuatan potensial untuk berevolusi menjadi bentuk paling sempurna diantara makhluk lainnya, yaitu manusia.[28]

Sosok Ibnu Khaldun bukanlah sarjana muslim pertama yang mengemukakan hal tersebut. Sebelumnya, Ibnu Miskawaih (abad 11 M), seorang filosof etika pernah berujar hal serupa dalam kitabnya al-Fauz al-Asghar fi al-fashli maratib al-wujud. Dalam buku tersebut ia berujar "Adapun hubungan antara beragam makhluk, itu tak lain berasal dari satu nenek moyang yang sama. Tingkatan tertinggi dari spesies yang lebih rendah (misalnya tanaman) sangat berpotensi untuk berkembang menjadi tingkatan terendah dari spesies yang lebih tinggi (seperti hewan). Namun tetap saja hal itu tidak berarti menafikan adanya hikmah transendental yang diberikan Tuhan kepada makhluknya".[29]

Al-Qazwiny juga sependapat dengan Ibnu Miskawaih. Ia mengatakan dalam buku Ajaib al-Makhluqat wa Gharaib al-Maujudat "Tingkatan terendah dalam alam ini  adalah tanah. Sesungguhnya maadin yang paling rendah adalah tanah dan air, sedangkan yang tertinggi berhubungan langsung dengan tanaman. Tanaman yang tertinggi berhubungan langsung dengan hewan, dan spesies hewan yang tertinggi berhubungan dengan manusia. Sedangkan jiwa manusia berhubungan langsung dengan alam malaikat".[30]

Ada titik perbedaan yang cukup krusial antara teori evolusi dalam pandangan Darwin, dengan apa yang dikemukakan oleh para pemikir muslim dan pandangan kalangan agamawan pada umumnya. Apabila teori evolusi Darwin cenderung menafikan adanya campur tangan  Tuhan dalam mekanisme pembentukan alam beserta isinya[31], maka teori evolusi para sarjana muslim klasik tersebut masih memberikan ruang bagi Tuhan untuk turut serta dalam mekanisme kerja alam.[32]
Bukti-bukti arkeologis yang mendukung teori evolusi sendiri banyak ditemukan oleh para ilmuwan. Diantaranya seperti penemuan rangka yang diduga sejenis spesies manusia purba di situs Trinil dan Sangiran ( Megantrhopus Paleojavanicus) dan (Phitecantrophus Erectus), Beijing (Homo Pekinensis), Neandertal (Homo Neandertalensis). Disamping juga penemuan fosil hewan-hewan purba yang diduga sebagai mata rantai yang hilang dalam rumusan teori evolusi, salah satunya seperti penemuan fosil ikan paus purba yang ditemukan di Wadi al-Hitan, gurun barat Mesir, pada tahun 1902. Penemuan ini memberikan sedikit  informasi penting dalam proses evolusi, dimana bisa sedikit memberikan gambaran rekam jejak kondisi sahara Mesir, yang masih berupa samudera pada dahulu kala.

George Zaidan disini berusaha menggabungkan kedua pendekatan tersebut. Ia menyatakan bahwa ada titik temu antara teori evolusi yang berkembang di kalangan komunitas ilmiah dengan apa yang termaktub dalam teks-teks keagamaan. Zaidan menandaskan bahwa dalam teks primer keagamaan dikatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia dari debu, lalu meniupkan ruh kehidupan di dalamnya. Dan hiduplah manusia itu, dengan pengetahuannya, dengan inderanya, dengan nalurinya dan dengan akalnya. Teks-teks keagamaan sama sekali tidak menjelaskan perihal proses penciptaan manusia secara detail, perihal mekanisme pembuatan, unsur pembentuk, periode-periode pembentukan, lama pembuatan dan lain-lain. Terbuka cukup lebar ruang bagi ilmu pengetahuan untuk turut berperan serta menjelaskan proses penciptaan manusia tersebut.

Disiniliah nampak George Zaidan mengimani apa yang diterangkan kitab suci, sembari tidak menafikan perkembangan mutakhir ilmu pengetahuan. Ia tidak menafikan, bahwa ada kemungkinan bagi teori evolusi untuk menyatakan bahwa manusia berkembang dari nenek moyang serupa kera. Tidak menjadi suatu aib apabila dikatakan manusia adalah bentuk terbaik dari evolusi hewan. Karena ada titik perbedaan yang cukup signifikan diantara keduanya, yaitu akal.[33]

Kesimpulan seperti ini juga penulis temukan pada pendapat Agus Mustofa dalam bukunya "Ternyata Adam dilahirkan" yang menjelaskan bahwa proses penciptaan Adam tidaklah seperti yang kita bayangkan sebelumnya, bahwa Tuhan membuat 'boneka-bonekaan' dari lempung dan tanah liat, kemudian Tuhan meniupkan ruh didalamnya, dan, hiduplah 'boneka-bonekaan' dari tanah tersebut. Agus menjelaskan bahwa proses kelahiran Adam dari rahim makhluk sebelumnya yang 'serupa kera'. Akan tetapi pada diri Adam sendiri terdapat entitas yang membedakannya dengan para 'leluhur', yaitu akal[34]. Teori-teori tersebut memang tidak dapat dipastikan seratus persen kebenarannya, namun setidaknya dengan adanya teori-teori tersebut dapat menjelaskan hal-hal yang memang belum dituturkan secara lengkap oleh agama. Yang terpenting, keyakinan adanya Sang Pencipta harus selalu ditanamkan mengingat tidak ada jawaban paling memuaskan atas proses penciptaan alam selain menyediakan tempat bagi Tuhan sebagai titik akhir dari semua ekspedisi intelektual. Sedangkan bagaimana mekanisme proses penciptaan itu dapat dijelaskan, merupakan wilayah Ilmu pengetahuan untuk sedalam-dalamnya menguak misteri tersebut, termasuk salah satunya dengan teori evolusi.

b. Evolusi Bahasa

Selain mengapresiasi Darwin dengan teorinya mengenai evolusi ras manusia, George Zaidan juga mengimani adanya sebentuk evolusi dalam bahasa yang digunakan manusia. Bahasa, oleh Zaidan adalah suatu entitas yang potensial untuk berkembang (qabilah li al-tathawur), yang digunakan manusia untuk beradaptasi dengan lingkungannya, dalam artian bahasa merupakan alat manusia untuk menyampaikan maksud dari kehendak hatinya kepada lawan bicaranya. George Zaidan menganalogikan bahasa seperti organisme yang hidup, dimana sel-sel dan jaringan penyusun organ tubuhnya selalu mengalami perkembangan dalam setiap detiknya. Sel-sel manusia, misalnya selalu berganti dalam periode waktu tertentu. Sel-sel yang lama mati digantikan sel-sel yang baru. Pergantian sel ini dimaksudkan sebagai proses adaptasi manusia terhadap lingkungan dan upaya untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya.[35]

Pada mulanya, bahasa manusia adalah sebentuk kata-kata sederhana, dengan susunan yang belum rapi, dan tanpa kaedah kebahasaan tertentu. Kata-kata awal tersebut, diambil manusia dari suara-suara alam yang ia dengar di lingkungannya, seperti hembusan angin, gelegar gunung meletus, gemuruh ombak, lolongan binatang buas, dan lain-lain. Namun seiring perkembangan masa, bahasa yang digunakan manusia pelan-pelan berevolusi dari bentuknya yang sederhana menjadi bentuk yang lebih rumit. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor semisal perkembangan kebudayaan manusia, interaksi dengan bangsa-bangsa asing, migrasi ke lingkungan yang baru, kemunculan seorang pemimpin besar (Nabi, Filosof, Pemikir, Panglima perang), penjajahan oleh suatu bangsa atas bangsa lain, dan sebab-sebab aktif lainnya.

Dari sekumpulan faktor tersebut, perlahan mulai terbentuklah pemikiran, adat, budaya, agama, etika, seni, dan pengetahuan yang berkembang melalui perangkat sintesa bahasa dan kebudayaan. Sintesa antara kebudayaan lama dengan kebudayaan pendatang membentuk satu kebudayaan baru yang ditandai dengan munculnya satu kebudayaan baru yang memiliki karakteristik unik yang tidak ada padanannya dalam kebudayaan sebelumnya. Dan kebudayaan yang baru tersebut nantinya juga akan berasimilasi dengan peradaban yang lainnya, demikian seterusnya.

Perkembangan pesat bahasa yang kita saksikan dewasa ini, tak lain adalah buah dari perjalanan sejarah manusia di sepanjang eksistensinya di muka bumi. Para filolog modern menggolongkan bahasa yang ada di dunia kedalam dua bagian. Pertama adalah bahasa yang tidak berkembang. Keberadaan bahasa-bahasa ini, pada era modern tidak mengalami perkembangan yang cukup menggemberikan, bahkan sebaliknya bahasa-bahasa tersebut tengah diambang kepunahan akibat makin sedikitnya jumlah penutur yang menggunakannya. Seperti misalnya bahasa-bahasa yang digunakan oleh suku-suku pedalaman Afrika, bahasa asli penduduk Indian Amerika, Aborigin Australia, suku Maori di Selandia Baru, dan bahasa-bahasa lokal di kepulauan Nusantara. Selain itu, yang dapat digolongkan sebagai ke dalam bagian bahasa-bahasa tidak berkembang adalah bahasa-bahasa kuno yang tidak digunakan lagi saat ini, seperti bahasa Hieroglyph di Mesir kuno, bahasa Ethiopia kuno, Bahasa Kawi di Jawa, dan lain-lain. Keberadaan bahasa-bahasa tersebut, telah punah seiring punahnya peradaban mereka dan hilangnya penutur asli bahasa. Hanya para ahli linguistik saja yang menguasai bahasa-bahasa tersebut.

Sedangkan bahasa-bahasa yang berkembang terbagi menjadi ghair mutasharif (tidak dapat diderivasikan) dan mutasharif (dapat terderivasi). Bahasa-bahasa yang termasuk dalam kelompok  ghair mutasharif seperti bahasa Turki, Mongol, Ukraina, semenanjung Siberia, dan beberapa bahasa turunan dari Turki. Ciri khas dari kelompok bahasa ini adalah terbangun dari kata-kata yang tidak dapat diderivasikan. Untuk menurunkan suatu kata dari kata dasar, digunakanlah partikel tambahan untuk menghasilkan makna baru tanpa merubah kata dasar. Seperti misal dalam bahasa Turki kata 'Yaz' berarti menulis. Untuk merubahnya menjadi fiil madhi, maka ditambahkanlah partikel 'di' sehingga menjadi 'Yazdi'. Apabila dimaksudkan untuk jamak maka dibubuhi partikel 'ler' menjadi 'Yazdiler' (mereka telah menulis). Jika dimaksudkan untuk kalimat negatif maka diimbuhi kata 'medi' menjadi 'Yazmediler' (mereka tidak menulis).

Sementara bahasa-bahasa yang tergabung dalam kelompok mutasharrif terbagi menjadi dua kelompok besar; Arya dan Semit. Kelompok bahasa Arya Selatan menurunkan bahasa-bahasa seperti Sansekerta, Hindi, Persia, Armenia, Nigeria sedangkan golongan Arya  Utara menurunkan rumpun bahasa yang lazim digunakan di Eropa seperti rumpun bahasa Italia; meliputi bahasa Latin, Perancis, Spanyol, Italia dan Portugal, rumpun bahasa Helenia; Yunani kuno dan modern, rumpun bahasa Wendia; bahasa Rusia, Bulgaria dan Bohemian, rumpun bahasa Tetonia; bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Denmark dan negara-negara Skandinavia, rumpun bahasa Galatea; bahasa-bahasa yang ada di kepulauan Britania selain bahasa Inggris, seperti Skotlandia, Wales dan Irlandia.

Adapun kelompok bahasa Semit terbagi menjadi tiga sub bahasa besar; Aramaic, Ibrani, dan Arab. Sub bahasa Aramaic dengan dua cabangnya; Suryani, Kaldea, masyhur digunakan oleh bangsa-bangsa kuno di lembah Mesopotamia hingga abad-abad awal Masehi. Sedangkan bahasa Ibrani dengan kedua cabangnya; Funisia dan Cartago dulunya lazim digunakan sebagai bahasa keagamaan, seperti bahasa yang digunakan pada kitab suci Taurat. Adapun bahasa Ibrani yang digunakan saat ini sudah tidak murni seperti dahulu, melainkan tercampur dengan bahasa Kaldean dan Aramaic.[36]

Khusus mengenai bahasa Arab, George Zaidan membagi perkembangannya dalam tiga periode utama; masa jahiliah, masa islam, dan era kontemporer. Ketika masa jahiliah banyak sekali ditemukan kata-kata serapan dari bahasa asing. Kata-kata tersebut masuk kedalam bahasa Arab melalui jalur perdagangan, peperangan dan interaksi budaya dengan bangsa-bangsa lain, lebih-lebih di Mekkah ketika itu kerap berkumpul bangsa-bangsa Persia, India, Syam, Nebetian, Yaman, Mesir, dan Ethiopia untuk melaksanakan haji, berniaga, maupun mengikuti pameran kebudayaan yang diselenggarakan di pasar Ukadz dan Dzu al-Majah. Dari pertukaran budaya tersbut, maka lahirlah banyak sekali kosakata baru yang adakalanya berbentuk serapan dari bahasa-bahasa asing, dan terkadang merupakan kata-kata baru yang lahir dari proses pertukaran budaya.[37] Misalnya kata-kata ibriq, zanjabil, misik, filfil, khawan, thabaq, yang dipinjam dari bahasa Persia. Dari Yunani; Qisthas, Astrolab, Firdaus, Bithaqah. Dari Ethiopia; Mimbar, Burhan, Misykat, Nifaq, Hawari. Dari  Ibrani sejumlah kosakata terkait masalah keagamaan seperti haji, kahin, asyura'. Dari Sansekerta; subuh, safinah, baha', dhiya', kapur.

Untuk periode paska Islam tidak diragukan lagi, pertumbuhan bahasa Arab sangat pesat berkembang. Keterpengaruhan bahasa Arab oleh Islam sangat kuat hingga sering dikatakan Islam identik dengan bahasa Arab. Pada periode ini, bahasa Arab selain digunakan dalam prosesi liturgi keagamaan ia juga digunakan untuk bahasa administrasi kenegaraan, ilmu pengetahuan, dan bahasa resmi pemerintahan. Kata-kata yang masyhur di masa jahiliah, muncul kembali pada masa Islam dengan maknanya yang baru. Seperti misal iman, doa, shalat, fiqh,dsb. Disamping muncul pula kata-kata baru terkait perkembangan politik dan ilmu pengetahuan saat itu, seperti wazir, imarah, syurtah, qadha, niqabah, jarahah, shaidalah, hisab, riyadhiat, mutsallas, dan sebagainya.

Sementara untuk era modern tidak terhitung banyaknya kata-kata asing yang diserap oleh bahasa Arab. Kata-kata serapan tersebut biasanya terkait dengan masalah administrasi pemerintahan, dan perkembangan ilmu pengetahuan, seperti bank, jumhuriah, histeria, romansa, kahraba', sekertair, kapten, parlemen, dan lain-lain.

Dalam Al-alfadz al-arabiah wa al-Falsafah al-lughawiah, George Zaidan menarik konklusi bahwa bahasa-bahasa yang kita saksikan sekarang ini, mulanya hanya tersusun dari kata-kata sederhana yang sangat terbatas jumlahnya. Proses pembentukan kata-kata tersebut dari hasil pendengaran manusia terhadap suara-suara alam. Pada fase perkembangan berikutnya terjadilah proses asimilasi dan akulturasi antar budaya yang bersama-sama membentuk bahasa baru. Jadi tidak heran apabila banyak sekali ditemukan kesamaan-kesamaan kosakata pada beberapa bahasa, khususnya pada bahasa-bahasa yang serumpun. Untuk menopang konklusinya tersebut, ia mengajukan lima argumen penguat, yaitu pertama bahwa kata-kata yang berdekatan baik secara lafadz atau maknanya berasal dari satu asal kata yang sama. Contohnya lafadz; lathama-lamatha, dhabaha-badhaha, bahlaq-balhaq, tabar'asha-taba'rasha, dsb.

Kedua, kata-kata yang tidak menunjukkan makna pada selainnya, berasal dari sisa kata-kata yang menunjukkan pada arti dirinya sendiri. Misalnya kata "such" dalam bahasa Inggris berarti sama dengan "so-like". Dalam bahasa induknya, yaitu Anglosaxon, Kata tersebut berasal dari kata "swylc" dan dalam bahasa Jerman "solch", demikian juga "like" berasal dari kata Anglosaxon "lic", dalam bahasa Jerman "lich", dalam Swedia "lig" dan dalam bahasa Denmark "lijk". Begitu juga dalam bahasa Ibrani kata " 'im", dalam Suryani " 'am" dan dalam bahasa Arab "ma' ". Semuanya berasal dari makna sama, yaitu berkumpul, sehingga dalam bahasa Arab digunakan sebagai harf al-atthaf, untuk menunjukkan arti berkumpul.

Ketiga, kata-kata yang tidak menunjukkan makna pada dirinya sendiri, dengan melakukan observasi, bisa dirunut pada asal katanya yang berbentuk tsunai, semuanya berasal dari tiruan terhadap suara-suara alam. Pada bagian ini, nampak Zaidan ingin mendobrak kebakuan bahasa Arab yang menganggap bahwa semua isim dan  fi'il berasal dari akarnya yang ruba'i atau tsulasi dan tidak dapat diperkecil lagi. Akan tetapi bagi Zaidan, akar kata dari keduanya dapat diperkecil lagi hingga sampai pada tsunai. Ia memberikan contoh pada kata-kata seperti; qathaba, qattha, qathafa, qatha'a, qathama, qathala. Semua kata-kata tersebut berakar dari dua huruf yang sama, yaitu q-th. Sedangkan  huruf ketiga merupakan huruf ziyadah saja. Adapun perbedaan pada huruf ketiga kata-kata tersebut adalah sebentuk penyesuaian terhadap kondisi ketika 'aksi' tersebut dilakukan. Ini terbukti karena makna dari sekian kata tersebut kurang lebih sama; memotong. Dan dari asal katanya yang q-th, dalam bentuknya yang sederhana merupakan sebentuk tiruan dari bunyi-bunyian ketika aktifitas memotong tersebut dilakukan.

Keempat, setiap kata mutlak bisa dirunut asal katanya dari satu lafadz atau beberapa lafadz sekaligus. Kata mutlak yang dimaksud disini adalah kata yang dapat menunjukkan arti tunggal pada benda atau orang. Yang termasuk dari kata-kata mutlak adalah isim isyarah, isim dhamir dan isim mausul. Para peneliti menyebutkan bahwa apabila dirunut lebih jauh, akan nampak adanya kemiripan pada kata mutlak dalam beberapa bahasa sekaligus, terlebih pada bahasa serumpun. Misalnya saja dalam isim dhamir, pada bahasa Arab bentuk mutakallim wahid ketika rafa' munfashil ditandai dengan kata "ana", demikian juga pada bahasa Suryani juga menggunakan kata yang sama, sedangkan dalam Ibrani menggunakan "anki". Dalam bentuk mutakallim ma'a ghairih ketika rafa' munfashil ditandai dengan "nahnu" dalam bahasa Arab, "hanun" dalam Suryani, dan "anahnu" dalam Ibrani. Lebih jelas lagi pada bentuk mudzakar ghaib ketika rafa' munfashil, ketiga-tiganya menggunakan kata yang sama, yaitu "huwa"

Kelima, kata-kata yang digunakan untuk menunjukkan arti maknawi, pada mulanya dimaksudkan untuk menunjukkan arti inderawi, kemudian digeser pengertiannya kepada arti majazi karena adanya kesamaan bentuk pada benak sang penutur. Misalkan kata syita, dalam bahasa Suryani kata ini bermakna minum. Kemudian bergeser menjadi hujan, dan selanjutnya berubah lagi menjadi musim turunnya hujan. Lafadz 'aqala yang pada mulanya berarti mengikat seperti dalam 'aqala zaid naaqatahu', lalu berubah menjadi mengikat pengetahuan dalam benak (mengerti). Kata adraka mulanya berarti sampai, 'adraka Umar baitah', kemudian bergeser menjadi sampai pengetahuannya.[38]


Akhir Kisah

Mungkin benar apa yang dikatakan Michel Foucault bahwa penyelidikan tentang asal-usul sejarah tidaklah untuk mengokohkan fondasi atau dasar; sebaliknya, ia mengganggu apa yang sebelumnya dianggap tetap. Ia memisahkan apa yang dipikirkan sebagai kesatuan. Ia menunjukkan heterogenitas dari apa yang dibayangkan konsisten dengan dirinya sendiri.[39]

Seperti yang diungkapkan Foucault diatas, bahwa pelacakan akar kesejarahan tidak selamanya bersifat linear, satu arah. Terdapat ratusan, atau bahkan ribuan tilikan sejarah yang luput, belum terendus para sejarahwan. Oleh karena itu, selamanya sejarah tidak dapat dikaji secara objektif, karena meniscayakan hadirnya begitu banyak elemen-elemen pinggiran sejarah yang selama ini dianggap sebagai 'serangga pengganggu' oleh sang Penguasa. Masih banyak kebetulan-kebetulan, penyimpangan-penyimpangan, kesalahan-kesalahan, penilaian-penilaian, pemutarbalikan-pemutarbalikan fakta sejarah yang belum teridentifikasikan dengan baik.

Namun tidak menutup mata akan sumbangsih besarnya, paling tidak apa yang disajikan George Zaidan dalam buku-buku sejarahnya bisa mampu mendekatkan para penghasrat kebenaran untuk sedikit banyak memahami sisi lain dari sebuah sejarah. Patutlah kita apresiasi apa yang telah dicapai George Zaidan, setidaknya, melalui buah penanya, kita disadarkan bahwa tidak selamanya pengetahuan yang telah mapan di benak kita adalah kebenaran mutlak, karena masih banyak kemungkinan-kemungkinan pinggiran yang selama ini kurang diperhitungkan, yang barangkali bisa menjadi sisi lain menarik dari sebuah perjalanan sejarah.  Wallahu a'lam.




[1] Listiyono Santoso, dkk, Epistemologi Kiri, Yogyakarta: Ar-Ruzz Press, 2003, h. 169
[2] George Zaidan, Arab Qabl al-Islam, Kairo: Dar al-Hilal, Cet. 2, 2006, h. 26
[3] Iffat al-Syarqawi, Fi Falsafah al-Hadharah al-Islamiah, Beirut: Dar al-Nahdhah al-Arabiah, 1981, h. 342
[4] Jamil Shaliba, Tarikh al-Falsafah al-‘Arabiyah, Beirut: Syirkah al-‘Alamiah li al-kitab, 1995, hal 574
[5] Zainab Mahmud al-Khudairi, Falsafah al-Tarikh inda Ibn Khaldun, Beirut: Dar al-Tanwir, 2006,  h. 57
[6] Ibid, h. 60
[7] George Zaidan, Tarikh al-Tamadun al-Islami, Beirut: Maktabah al-Hayat, vol.1, h. 8
[8] George Zaidan, Arab Qabl al-Islam, Op.Cit,. h. 34
[9] Sayid Husein al-Affani, A'lam wa Aqzam fi Mizan al-Islam, Jeddah: Dar Majid, h. 476
[10] George Zaidan, Arab Qabl al-Islam, Op.Cit,. h. 24
[11] Dengan bawaan psikologis demikian, bangsa Arab telah terbiasa hidup menahan lapar berhari-hari, sehingga medan laga seberat apapun mampu diatasi oleh mereka. Kondisi ini, tentu saja berbeda dengan para prajurit Romawi dan Persia yang terbiasa hidup bergelimang kemewahan.
[12] Manusia, bagaimanapun juga akan dihampiri kematian, tidak peduli dimanapun dan kapan pun ia berada, termasuk dalam medan perang. Tak pelak dengan keyakinan semacam ini kaum muslimin menjelma menjadi sepasukan tak gentar terhadap musuh sekuat apapun. Toh, kalaupun mereka harus ditakdirkan gugur di hunusan pedang musuh, surga akan menjadi tempat mereka nanti di akhirat.
[13] Bangsa Arab memiliki kemahiran alami menunggang kuda dan melemparkan anak panah. Dengan kelebihan semacam ini, mereka seringkali mengungguli pasukan Romawi dan Persia dalam duel satu lawan satu
[14] Dengan kehadiran para pembesar sahabat yang  memimpin pertempuran, seperti Khalid bin Walid, Abu Ubaidah bin Jarah, Saad bin Abi Waqash, dan lainnya, menjadikan kaum muslimin serasa mendapat suntikan moral yang cukup besar untuk memenangkan perang.
[15] Kondisi semacam ini muncul dari kesulitan hidup yang biasa mewarnai hari-hari bangsa Arab. Dengan kegetiran hidup yang biasa mereka jalani di padang pasir yang gersang, membuat bangsa Arab menjadi sosok bangsa yang tangguh menghadapi sekuat apapun kekuatan musuh.
[16] Dengan dibesarkan di lingkungan yang kerap melahirkan peperangan antar suku, bangsa Arab menjadi bangsa yang gemar sekali terjebak dalam fanatisme primordial yang menekankan kebanggaan terhadap suku, ras atau kabilahnya masing-masing. Dan tidak diragukan bahwa pola pikir semacam ini masih bersemayam di benak banyak bangsa Arab sesudah kedatangan Islam.
[17] Dengan menerapkan strategi gerilya (serang lalu lari), pasukan Islam berhasil merepotkan barisan pertahanan Romawi dan Persia. Padang pasir di belakang mereka menjadi benteng pertahanan alami apabila sewaktu-waktu keadaan mendesak. Karena pasukan Persia dan Romawi tidak terbiasa menghadapi pertempuran di padang pasir, bisa dipastikan musuh tidak akan berani mengejar mereka.
[18] Kedua peristiwa tersebut adalah awal mula bangsa Arab berhasil memenangkan pertempuran melawan Romawi. Imperium Romawi, yang telah lama menjadi momok menakutkan bagi masyarakat Arab ternyata dapat mereka kalahkan. Tentu saja peristiwa ini menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi bangsa Arab.
[19] Penduduk di wilayah-wilayah kekuasaan Romawi dan Persia telah lama menerima perlakuan tidak adil dan lalim dari para penguasa. Oleh karena itu, ketika pasukan muslim mulai memasuki wilayah tersebut dan membebaskan mereka dari penjajahan, maka mengalirlah simpati dan dukungan kepada muslimin. Belum lagi ditambah dengan kebijaksanaan umat Muslim yang memperlakukan penduduk setempat dengan adil dan memberikan kebebasan penuh untuk menjalankan kepercayaan mereka. Lihat; George Zaidan, Tarikh al-Tamadun al-Islami, Op.Cit., h. 75

[20] George Zaidan, Arab Qabl al-Islam, Op.Cit,. h.19
[21] Mahmud al-Showi, Kitabat George Zaidan, Kairo: Dar al-Hidayah, 2000 h. 192
[22] George Zaidan, Tarikh al-Tamadun al-Islami, Beirut: Maktabah al-Hayat, vol. 2, h. 8
[23] George Zaidan, Arab Qabl al-Islam, Op.Cit,. h. 64
[24] Ibid, h. 12
[25] Abed al-Jabri, Wijhah Nadhor; Nahwa I'adah Bina Qadhaya al-Fikr al-Araby al-Muashir, Beirut: Markaz Dirasat al-Wihdah al-Arabiyah, 2004, h. 26
[26] George Zaidan, Tarikh Adab al-Lughah al-'Arabiah, Beirut: Maktabah al-Hayat, 1992, vol.2, h. 8
[27] Zainab Mahmud al-Khudairi, Falsafah al-Tarikh inda Ibn Khaldun, Op.Cit., h.89
[28] Sathi al-Hasry adalah sarjana pertama yang mengemukakan teori evolusi kera menjadi manusia dalam perspektif Ibnu Khaldun. Hal ini disebabkan pada fase sebelumnya terjadi adanya 'distorsi' pada teks-teks asli kitab Ibnu Khaldun, yang memelintir kata 'qirdah' (kera)  menjadi 'qudrah' (kemampuan). Lihat; Ibid, h. 89
[29] Mahmud al-Showi, Kitabat George Zaidan, Op.Cit., h. 216
[30] Ibid h. 217
[31] Darwin dan para evolusionis modern percaya bahwa mikro organisme bersel tunggal yang merupakan muasal dari segala makhluk terbentuk dengan sendirinya. Bahwa senyawa  biokimia kompleks, yang menyusun kehidupan, berasal dari reaksi kimia diantara unsur-unsur biokimia yang menyusun atmosfer bumi di masa purba. Dari reaksi kimia demikianlah terbentuklah mikro organisme pertama yang merupakan nenek moyang dari segala macam penghuni planet Bumi.
[32] Beberapa sarjana muslim walaupun mereka percaya akan adanya bentuk evolusi dari makhluk, namun tetap tidak menafikan keterlibatan Tuhan dalam mendesain bentuk alam semesta
[33] George Zaidan, Tabaqat al-Umam, Kairo: al-Hilal, 1912, h. 13
[34]  Agus Mustafa, Ternyata Adam Dilahirkan, Malang: Padma Press
[35] George Zaidan, Lughah Arabiah Kain Hay, Beirut: Dar al-Jail, 1988, h. 8
[36] George Zaidan, Al-Alfadz al-Arabiah wa al-Falsafah al-Lughawiah, Beirut: St. Georgeous, 1886, h. 6
[37] George Zaidan, Lughah Arabiah Kain Hay, Op.Cit., h.16
[38] George Zaidan, Al-alfadz al-Arabiah wa al-Falsafah al-Lughawiah, Op.Cit., h. 76
[39] Listiyono Santoso, dkk, Op.Cit., h. 169

0 comments:

Post a Comment