Wednesday, October 6, 2010

Hikayat Raja Hutan dan para Hewan


Alkisah suatu ketika di lembah Nadhier, terjadilah keributan yang berlangsung lama antara Singa sang raja hutan dengan hewan-hewan penghuni lembah. Para hewan tersebut resah karena singa selalu memburu dan memakan mereka satu demi satu. Merasa resah dengan ulah singa, mereka berkumpul dan merencanakan makar kepada sang singa. Ide tersebut berupa daging beracun yang nantinya akan dipersembahkan kepada Singa. Setelah mempersiapkan semuanya dengan matang, mereka berduyun-duyun mendatangi singa. “Wahai Raja Hutan, berhentilah memburu kami, dan tak usahlah engkau bersusah payah mengejar mangsamu. Karena mulai sekarang kami akan menyediakan makanan untukmu setiap hari, sehingga engkau tinggal duduk santai dan tak perlu berburu lagi. Sebagai gantinya, biarkanlah kami hidup damai tanpa harus cemas dengan keberadaanmu”.


Mendengar hal itu Singa berkata sambil menyeringai “Baiklah, aku berprasangka baik pada kalian. Aku berharap kalian termasuk makhluk Tuhan yang tak berniat jahat. Ketahuilah bahwa seburuk-buruk makhluk Tuhan adalah nafsu yang tersembunyi pada diri kita. Segala bentuk kejahatan adalah buah dari kerja nafsu. Karena diriku selalu menanamkan hadist Nabi ‘Seorang mukmin tidak akan menggigit saudaranya’, maka dari itu aku mau menerima tawaran kalian”. 


Mendengar itu, para hewan tadi berkata “Janganlah engkau menyalahkan hawa nafsu, karena pada hakekatnya segala kejadian adalah semata-mata karena takdir Tuhan. Begitu pula hal-hal yang akan menimpamu, kesemuanya itu adalah hasil kuasa mutlak Tuhan yang ditentukan-Nya atas dirimu. Maka tawakallah kepada Tuhan. Berserah dirilah kepada-Nya, dan jadikan dirimu laksana seonggok mayit yang pasrah pada orang yang memandikannya.


Tak mau kalah, Singa menimpali “Ya, kalian benar. Namun jangan lupa bahwa Tuhan juga memberlakukan hukum sebab-akibat atas makhluk-Nya, dan memegang sunnatullah juga merupakan perintah Tuhan. Apakah kalian lupa sabda Nabi ‘Rapatkanlah ikatan tali ontamu, lalu bertawakallah’ ? Janganlah kalian malas bekerja, karena segala sesuatu itu mempunyai sebab-sebab”.


Sontak saja para hewan membantah argumen si Raja Hutan. “Ketahuilah wahai singa, bahwa kasab (bekerja) itu menunjukkan kelemahan makhluk. Engkau adalah makhluk lemah, dan apabila engkau juga berpegangan pada dzat yang lemah pula (kasab) maka sesungguhnya engkau telah berbuat suatu kesalahan yang besar. Tidak ada kasab yang lebih mulia kecuali tawakkal pada Dzat yang maha Kuasa. Apabila engkau merasa dirimu teramat lemah, maka pejamkanlah matamu, dan hanyutkanlah mata hatimu kedalam pusaran ‘mata Tuhan’. Disanalah, niscaya akan kau dapati semua yang kau butuhkan. Coba kau lihat bayi yang masih suci, sebelum mampu menggerakkan tubuhnya sendiri, ia tidak melakukan apapun selain berpegang erat pada pelukan ibunya, yang memberikan rasa aman dan segala yang ia butuhkan. Namun setelah bayi itu dewasa, ia berjalan sendiri di muka bumi, dan sebagai gantinya, ia tertimpa banyak bencana dan malapetaka”.


Kembali sang Raja Hutan menandaskan, “Kalian benar, tapi kalian melupakan satu hal, bahwa sesungguhnya Tuhan telah meletakkan tangga di hadapan kita. Dengan tangga tersebut, para makhluk diharuskan bergerak melangkah setapak demi setapak untuk menggapai atap. Tuhan telah memberi kalian kaki, lantas mengapa kalian membuatnya pincang? Kalian mempunyai tangan, kenapa kalian sembunyikan genggaman tanganmu? Coba kalian pikir, apabila seorang tuan meletakkan sebilah kapak di hadapan abdinya, tidakkah itu berarti sang tuan menginginkan si hamba bergerak menggunakan kapak tersebut? Seperti itulah isyarat Tuhan kepada makhluk-Nya. Kecuali memang kalian telah membutakan mata hati kalian sendiri, sehingga tidak dapat melihat isyarat Tuhan tersebut. Hanya orang-orang picik akal saja yang tak dapat menangkap isyarat Tuhan. Ketahuilah kalian para makhluk telah dibebani amanat oleh Tuhan untuk menjadi khalifah di muka bumi. Demi amanat itu, Tuhan memberikan pada kalian ‘sebilah kapak’ yang dapat kalian pergunakan untuk mengemban amanat tersebut. Kedua tangan dan kaki kalian, adalah nikmat pemberian Tuhan. Dengan menggunakannya berarti kalian telah mensyukuri nikmat tersebut. Sedangkan kalian, wahai para ahli jabar, adalah orang-orang yang ingkar atas nikmat Tuhan. ’Maka nikmat Tuhan mana lagi yang hendak kalian dustakan?’.


Berhati-hatilah wahai para pemalas yang enggan hidup kecuali di bawah rindangnya pohon yang berbuah lebat. Dan kalian hanya berharap angin bertiup menjatuhkan buah-buah itu setiap saat. Camkan hal ini baik-baik wahai pemalas yang tidur di tengah jalan. Selamanya kalian tidak akan sampai di ujung jalan-Nya. Selamanya kalian hanya akan digilas roda angkuh zaman, dan kalian tidak dapat bangun barang sedetik pun. Ketahuilah bahwa kalian sekarang telah menukar akal kalian dengan ekor. Dengan ekor itulah kalian beranggapan telah mensyukuri nikmat Tuhan, padahal sesungguhnya kalian termasuk barisan orang-orang yang ingkar. Dan ganjaran bagi para pengingkar adalah api neraka. Maka pikirkanlah baik-baik !!!”



*Disarikan dari al-Matsnawi, karya Maulana Jalaluddin Rumi.

0 comments:

Post a Comment