Tuesday, October 26, 2010

Menyelami Metodologi Sejarah George Zaidan


Sebuah Tinjauan Kritis terhadap Potret Sejarah

                                       
Kisah Bermula

Manusia adalah makhluk yang dilemarkan ke dunia, kemudian ia hidup, bekerja, berbicara, dan pada akhirnya mempunyai sejarah. Sejarah merupakan ibu dari pengetahuan manusia dan berusia setua manusia, hanya manusialah yang mempunyai sejarah dan sanggup mempelajari sejarah. Dalam sejarah semacam itu manusia menjadi pencipta sejarah, manusia adalah pencipta dan subyek yang membentuk sejarah. Karena itulah maka sejarah adalah agregasi aktivitas manusia.[1]

Wednesday, October 6, 2010

Identifikasi, Kesadaran dan Dialektika di Era Pasca Kolonial


Medio 90-an, dunia dikejutkan oleh tesis Samuel Huntington. Dalam buku yang menuai banyak reaksi, The Clash of Civilization ia meramalkan akan terjadinya konflik global di masa depan antara peradaban Barat versus peradaban Islam. Sebagai konsekuensi logis dari berakhirnya perang dingin yang ditandai dengan ambruknya Uni Soviet, maka peradaban Barat dengan leluasa melengang sendirian dalam percatuan global dunia. Dengan keberhasilannya meruntuhkan komunisme dan penganut setianya, maka satu-satunya negara yang berpotensi menyaingi supremasi Barat -menurut tesis Huntington- hanyalah negara-negara muslim. Islam dipandang sebagai momok menyeramkan yang perlahan mulai bangkit. Kebangkitan dunia Islam ditandai dengan maraknya teriakan-teriakan jihad yang didengungkan oleh kalangan fundamentalis. Dan Barat, sebagai pemimpin dunia mau tidak mau harus mempertimbangkan dunia Islam, apabila tidak ingin tersaingi. Begitulah kira-kira skenario benturan peradaban yang diramalkan oleh Huntington. Francis Fukuyama menyebut fenomena ini dengan ‘akhir sejarah’. Lantas yang jadi pertanyaan krusial; Apakah benar ada ketegangan antara Barat dengan dunia Islam? Lalu mampukah dunia Islam bangkit kemudian menyaingi Barat, mengingat faktanya dunia Islam masih asyik terlelap dari tidur panjangnya? Apakah benar Islam sebagai sebuah ideologi mempunyai wajah seseram itu?

Sekilas Sejarah Pers Mahasiswa Indonesia


I. Pers Mahasiswa Indonesia

Pers merupakan salah satu elan vital yang menopang berdirinya suatu negara. Eksistensi sebuah negara berjalan beriringan bersama-sama dengan kebebasan yang diberikan kepada warga negaranya untuk mengecap informasi yang benar. Sebagaimana diatur dalam undang-undang 1945 bahwa warga negara mempunyai hak asasi untuk mendapatkan informasi yang akurat, dan negara menjamin tiap-tiap warga negaranya untuk berserikat, berkumpul, dan menyuarakan pendapatnya. Sehingga tidak salah kiranya apabila Mark Twain pernah berkata “There are only two things that can be lightening the world. The sun light in the sky and the press in the earth”, bahwasanya ada dua hal yang bisa menerangi dunia. Matahari dilangit yang memberikan sinarnya pada semesta, dan Pers yang membumikan cahayanya ditengah-tengah peradaban manusia.

Hikayat Raja Hutan dan para Hewan


Alkisah suatu ketika di lembah Nadhier, terjadilah keributan yang berlangsung lama antara Singa sang raja hutan dengan hewan-hewan penghuni lembah. Para hewan tersebut resah karena singa selalu memburu dan memakan mereka satu demi satu. Merasa resah dengan ulah singa, mereka berkumpul dan merencanakan makar kepada sang singa. Ide tersebut berupa daging beracun yang nantinya akan dipersembahkan kepada Singa. Setelah mempersiapkan semuanya dengan matang, mereka berduyun-duyun mendatangi singa. “Wahai Raja Hutan, berhentilah memburu kami, dan tak usahlah engkau bersusah payah mengejar mangsamu. Karena mulai sekarang kami akan menyediakan makanan untukmu setiap hari, sehingga engkau tinggal duduk santai dan tak perlu berburu lagi. Sebagai gantinya, biarkanlah kami hidup damai tanpa harus cemas dengan keberadaanmu”.