Saturday, September 4, 2010

Resensi Buku : I'tirafat al-Ghazali aw kaifa arrakha al-Ghazali nafsahu, Sebuah otokritik atas otobiografi al-Ghazali



"Sesungguhnya al-Ghazali adalah guruku, namun kebenaran dan hakikat lebih layak dikedepankan daripada al-Ghazali" (muallif).



Prolog

Adalah Al-Ghazali, imam besar ahlus sunnah, seorang sufi, teolog dan ahli di berbagai disiplin ilmu yang berkembang di zamannya. Pemikirannya yang unik turut  serta mewarnai jagat pertarungan pemikiran islam waktu itu. Dan sosoknya yang kontroversial tak jarang mengundang decak kagum pendukungnya,  walaupun banyak juga yang mengkritik dan mengecamnya.

Al-Ghazali adalah lautan yang terbentang luas dan dikedalamanya mengandung mutiara yang berharga nilainya. Al-Ghazali bagaikan Al-Syafi'i kedua, Hujjatul Islam, dan maha guru dari para guru. Demikianlah pujian-pujian yang dilontarkan oleh para pengagumnya. Sementara di lain pihak, para pengecam dan pengkritik al-Ghazali menuduhnya telah melakukan kesalahan besar terhadap perjalanan sejarah islam, karena dalam memberikan solusi terhadap problematika umat, lebih cenderung mengajak mereka untuk memasuki jalan tasawuf yang mengabaikan kehidupan dunia dan mengahambat kemajuan masyarakat, karena tenggelam dalam mencari kebahagiaan yang bersifat pribadi dan individualistis.


Disamping itu, para filosof islam juga berpendapat bahwa al-Ghazali, melalui karya-karyanya di bidang teologi dan filsafat, juga turut andil tidak hanya dalam menghancurkan filsafat metafisika, tetapi juga dalam melemahkan umat islam dalam mengadakan riset dan penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan alam.


Untuk menilik lebih jauh silang pendapat mengenai metodologi reformasi yang telah dicetuskan Ghazali, ada baiknya kita mengkaji salah satu karya tulis al-Ghazali, Munqidz min ad-dhalal, suatu kitab yang lebih merupakan memoar pengembaraan intelektual al-Ghazali dalam upaya menemukan 'keyakinan' dan membebaskannya dari kungkungan 'keraguan'. Otobiografi ini ia tujukan kepada para pencari 'hakekat kehidupan' agar selama masa pencariannya itu terus bersungguh-sungguh dan pantang menyerah dapat menggapainya.

Seperti halnya sosok al-Ghazali yang kontroversial,  kitab ini pun memantik reaksi beragam dan mengundang kontroversi. Dikalangan pendukungnya, keberadaan kitab ini bisa dikatakan sebuah peta penunjuk jalan bagi orang-orang yang sedang mencari kebenaran, sementara dilain pihak, oleh para pengecamnya, kitab ini dikatakan sarat akan kejanggalan dan ditengarai al-Ghazali dalam mengarang kitab ini, tidak mengemban amanat intelektual.

Untuk memotret perjalanan hidup al-Ghazali dan pencariannya akan kebenaran  secara lebih jelas dan obyektif, disini penulis sengaja menghadirkan sebuah buku studi kritis, I'tirafat Al-Ghazali- aw kaifa arrakha al-ghazali nafsahu' karya Dr. Abdel Daeem Aboul Atho al-Bagary al-Ansary, sebuah buku yg lebih merupakan otokitrik atas otobiografi al-Ghazali

Sekilas tentang Al-Ghazali

Ia adalah Abu hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Farisi. Dilahirkan pada tahun 450 H / 1058 di Thus, Khurasan, masuk wilayah Iran sekarang. Ayahnya adalah seorang fakir yang soleh. Bekerja sebagai penenun bulu domba (ghazzal) untuk kemudian dijualnya di tokonya sendiri. Sebagai seorang yang soleh, ia gemar menghadiri majelis-majelis dan halaqoh ilmiyah yang kerap di adakan di masjid. Kecintaanyya terhadap para ahli ilmu membuatnya berharap agar suatu saat kelak dikaruniai anak yang soleh dan berilmu. Ayahnya meninggal sebelum Al-Ghazali beranjak dewasa. Akan tetapi sebelum wafatnya, ia sempat berpesan dan menitipkan al-Ghazali dan saudaranya, Ahmad kepada salah seorang sufi di tempatnya.

Al-Ghazali mempelajari dasar-dasar bahasa arab dan ilmu fikh dari ulama di negerinya, Imam Ahmad bin Muhammad ar-Radzikani. Menginjak usia remaja, ia pergi ke Naisabur untuk berguru kepada ulama besar waktu itu, Imam Haramain Abul Maali al-Juwaini. Darinya, Al-Ghazali belajar ilmu mantiq, fikih, ushul dan retorika (jadal). Setelah wafatnya sang guru pada tahun 478 H /1085 M, al-Ghazali pergi menuju Iraq, dan diangkat oleh wazir Nidzam al-Mulk untuk menjadi pengajar di Universitas Nidzamiah Baghdad, salah satu perguruan tinggi yang masyhur pada waktu itu. Disinilah karir akademis dan kapasitas keilmuan al-Ghazali mencapai puncaknya. Pada saat inilah Al-Ghazali, sang pemikir jenius mulai menelurkan karya-karyanya.

Al-Munqidz min al-dhalal, wal wusul ila dzi al-izzah wal jalal

Al-Ghazali mulai menyusun kitabnya ini pada tahun 499 H, setelah menulis sekian banyak kitab-kitab fikih, ushul fikih dan  beberapa buku bantahan atas sekte Ta'limiyah, shufi, dan para filosof. Kitab ini ia selesaikan setelah merampungkan master piecenya Ihya Ulumuddin, yang ia tulis ketika masih berada di  pengasingannya (uzlah) di Syam.

Dalam pergulatan intelektualnya, Al-Ghazali banyak melakukan dialog, tukar pikiran dan perdebatan dengan banyak sekte atau aliran yang  berkembang di masa itu. Setelah mengarungi pemikiran-pemikiran mereka, Al-Ghazali banyak menemukan kecacatan dan kelemahan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencarinya sendiri.

Dalam pencariannya itu, Al-Ghazali menempatkan hakikat atau kebenaran diatas segala-galanya. Baginya, hakikat haruslah selaras dengan rasio dan hati sekaligus. Karena dengan 2 perangkat inilah, Tuhan membedakan manusia dengan makhluk hidup yang lainnya. Ia juga membenci orang-orang yang bertaklid buta, karena sejatinya orang-orang yang bertaklid tidak mengetahui apa yang ia taklidi. Hal ini terbukti tatkala Al-Ghazali
sama sekali tidak melihat perubahan apa-apa pada anak-anak orang Nasrani maupun Yahudi. Mereka akan selamanya tumbuh menjadi Nasrani maupun Yahudi, dan seterusnya. Sebagaimana yang disitir oleh hadits Nabi SAW: “Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah (Bapak) yang telah menjadikan ia Yahudi, Nasrani dan Majusi”.

Dari sini al-Ghazali menarik kesimpulan bahwa ilmu yang didapatkan berasaskan taklid buta bukanlah 'ilmu al-yaqin'. Ia lalu mendifinisikan ilmu al yaqin sebagai suatu ilmu yang dengannya, dapat menyingkap suatu pengetahuan tanpa diiringi dengan keraguan, ataupun ditunggangi kesangsian pada hasilnya. Sampai-sampai walaupun batu berubah menjadi emas, ataupun tongkat beralih menjadi ular, maka keyakinannya tidak akan dapat tergoyahkan.[3]

Salah satu rumusan metodologi al-Ghazali dalam mencapai ainul yaqin adalah dengan 'nadzariah as-Syak' atau teori skeptisime. Dalam membangun teorinya ini, yang  pertama kali dilakukan Al-Ghazali adalah meragukan segala sesuatu yang eksis di dunia ini. Lalu kemudian mencari perangkat yang dapat mengantarkannya pada keyakinan. Maka mulailah ia melakukan percobaan dengan pengetahuan yang didapat dari panca indera (hissiyat/ empirisme),  karena menurutnya hasil dari olah inderawi ini dapat dipertanggung jawabkan. Akan tetapi tak lama kemudian, ia juga menaruh kecurigaan terhadap hasil-hasil dari olah inderawi tersebut. Seperti dalam contoh, bayangan yang kita lihat pada zahirnya tampak diam, padahal yang sebenarnya adalah selalu bergerak mengikuti pergerakan matahari. Atau dalam contoh yang lainnya, bintang yang nampak oleh mata kita adalah seperti butir pasir yang berserakan di pantai, akan tetapi pada kenyataanyya bintang adalah matahari yang besarnya puluhan kali lipat dari bumi[4].

Dari sini Al-Ghazali lantas berpindah kepada pendekatan rasionalisme. Menurut para penganutnya, pendekatan rasionalisme adalah satu-satunya pendekatan yang dapat diterima akal dan dapat mengantarkan kita pada hasil yang valid dan dapat dipercaya. Seperti dicontohkan Al-Ghazali bahwa bilangan 10 lebih besar dari 3, dan nafi dan isbat tidak dapat bertemu dalam waktu yang bersamaan[5]. Pada titik ini pendekatan rasionalisme nampak tidak menemui hambatan dalam membuktikan kevalidan data yang dihasilkannya.

Namun para pendukung empirisme tidak menerima hal ini. Lantaran hasil dari empirisme dapat dibatalkan oleh hasil dari rasionalisme. Bukannya hasil dari Rasionalisme juga kelak dapat dibatalkan dengan suatu pendekatan baru. Di titik ini antara rasionalisme dan empirisme terjadi perang dan saling menyalahkan. Masing-masing saling mengklaim kevalidan data mereka dan tidak dapat dipertemukan.

Pada saat terjadi kebuntuan dan kemandegan ini al-Ghazali lantas memalingkan muka dan berpindah kepada pengetahuan intuitif (mukasyafah). Menurutnya pengetahuan inilah yang dapat mengantarkan pada "ilmul yaqin". Ia mencontohkan pada saat dalam kondisi tidur. Saat itu kita dapat melihat suatu fenomena yang seolah-olah nampak riil. Pemandangan yang kita lihat dalam mimpi tak ubahnya  pemandangan yang kita lihat di dunia nyata, tidak ada bedanya. Dari sini Al-Ghazali percaya bahwa kedudukan fenomena dalam mimpi sama halnya dengan dunia nyata. Untuk memperkuat pendapatnya, ia menyitir hadist Nabi Saw : "An-nasu niyamun, faidza maatu intabahu", Manusia dalam keadaan tidur, maka ketika mati baru dia dalam keadaan terbangun. Hadist ini menyiratkan bahwa kehidupan kita di dunia ini tak ubahnya seperti mimpi yang begitu cepat berlalu, apabila dibandingkan dengan kehidupan di akhirat[6].

Pada saat berada dipuncak keraguannya ini, akhirnya al-Ghazali dapat kembali menemukan ilmul yaqin. Bagaimana ia dapat lepas dari jeratan keraguannya ini? Dan bagaimana ia sampai pada puncak keyakinan yang menurutnya adalah kebenaran? Sayang sekali, nampaknya al-Ghazali melupakan janjinya terdahulu. Sebagaimana yang disebutkan diatas, al-Ghazali berkeyakinan bahwa kebenaran harus dicapai dan didahului dengan premis-premis dan dalil-dalil yang kokoh. Sementara ia sampai pada 'ilmul yaqin' tidaklah melalui dalil dan premis yang mendahuluinya, melainkan dengan 'Nur Ilahi' yang dibisikkan Tuhan melalui hatinya. Nur itulah yang dimaksudkan Tuhan -menurut al-Ghazali- lewat firmannya : "Faman yuridillahu an yashrah shadrahu lil islam" [7]. Dan nur itu yg dimaksud Nabi dalam sabdanya ketika ditanya ttg arti "sharh", maka beliau menjawab : ia adalah nur yg ditiupkan Allah kedalam hati.

Kritik atas Skeptisime al-Ghazali

Seperti yang telah kita ketahui bersama, dalam bukunya munqidz min al-dhalal, al-Ghazali menceritakan secara panjang lebar perjalanan laku spiritualnya, dari mulai keraguannya terhadap segala sesuatu, pencariannya akan kebenaran, hingga akhirnya sampai pada pintu hakikat. Lantas apa yang mendorong al-Ghazali untuk mengemukakan kisah laku suluknya ini?

Jamak diketahui, bahwa seorang cendekiawan yang baik adalah seorang yang pemikirannya tidak membebek pada pemikir sebelumnya. Adanya pembebekan ide (taklid) pada seorang cendekiawan, mengindikasikan kedangkalan ilmunya dan membuatnya tak ubah seperti manusia awam lainnya[8]. Maka dari itu, seorang pemikir yang baik adalah seorang yang mampu menyerap ide-ide dari para pendahulunya, kemudian mengartikulasikan dengan idenya sendiri secara mandiri. Telah mafhum diketahui bahwasanya setiap pemikiran tidaklah muncul dari ruang hampa. Selalu saja ada sisi-sisi sosio historis yang melatarbelakanginya. Hal inilah yang menjadikan tiap tiap ide yang muncul dari para pemikir mempunyai ciri khas dan keunikannya masing-masing, walaupun ada beberapa kesamaan antara satu dengan lainnya.

Hal ini nampaknya berlaku juga pada al-Ghazali. Untuk menegaskan ortodoksinya dalam belantika pemikiran islam dan menunjukkan  keluasan ilmunya, dan sampainya ia kepada hakekat, adalah hasil dari pencariannya dan pemikirannya pribadi. Bahwa apa yang ia peroleh dari pelajaran-pelajaran sekte batiniyah, mutakallimin, filosof dan para sufi, adalah murni pengalamannya sendiri.

Wacana skeptitisme yang diutarakan al-Ghazali, sejatinya bukanlah hal yang benar-benar baru. Jauh sebelum al-Ghazali mengemukakannya, kaum sophist di Yunani sudah ramai membicarakan diskursus ini. Bagi kaum sophist, kebenaran adalah suatu hal yang relatif. Tidak ada suatu standar universal yang dapat menampung kebenaran ini. Masing-masing bangsa, bahkan setiap orang berhak menemukan kebenarannya masing-masing, terlepas dari yang lainnya. Apa yang menurut satu orang benar, tidak dapat dipastikan bahwa orang lain dapat menerima kebenaran yang ia dapatkan. Sampai titik ini, kaum sophist menolak suatu kebenaran universal dan mulai membangun teori skeptisnya yang tersohor itu.

Adapun al-Ghazali, tanpa diragukan lagi mengetahui perihal teori skeptisisme ini, dan mengetahui bahwa kaum sophist adalah termasuk orang-orang pertama yang mempopulerkannya. Bahkan dalam bukunya "Fadhaih al Batiniyah" al-Ghazali sempat mengkritik teori ini. " Bahwasanya kaum Sophist mengingkari keyakinan aksiomatis (dhoruriyat) dan memandang bahwa ia hanya sebatas khayalan belaka. Hal ini diperkuat bahwa salah satu unsur utama keyakinan aksiomatis adalah panca indera, dan telah dibuktikan diatas akan kebatilan panca indera".[9]

Yang menjadi titik tekan dalam permasalahan ini adalah, dalam kitabnya ini (munqidz min ad-dhalal) al-Ghazali nampak dengan sengaja "menyembunyikan" sang empunya teori ini (kaum Sophist), kemudian menisbatkannya kepada dirinya sendiri. Sementara dalam kitab Fadaih bataniyah al-Ghazali menisbatkan teori skeptisisme ini kepada sang empunya. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat posisi al-Ghazali ketika itu berhadapan langsung dengan sekte Batiniyah, dimana filsafat adalah 'makanan' mereka sehari-hari. Dikhawatirkan apabila ia (al-Ghazali) nekat menyembunyikan teori ini, dapat terlacak dan merusak reputasinya. Sedangkan disini (munqidz), posisi al-Ghazali sebagai pembaharu yang memberikan pencerahan kepada manusia, sehingga memungkinkannya untuk menisbatkan fikroh ini kepada dirinya sendiri. Tentunya hal ini secara tidak langsung mempengaruhi kredibilitas kejujuran Ghazali dalam mengemban amanat ilmiah. Bagaimana seorang cendekiawan dan pemikir mengambil suatu ide, lalu menisbatkannya kepada dirinya sendiri[10] !!!.

Sebagaimana telah disebutkan diatas, dalam membangun teori skeptisnya, al-Ghazali pertama kali menyandarkan pada pendekatan empiris. Lalu ia kemudian berbalik menghujat kevalidan data yg diperoleh empirisme karena tidak sesuai dengan pendekatan rasionalis. Begitu juga ketika menggunakan rasionalisme, ia menolak hasil-hasil yang ditelorkannya, karena ia berasumsi bahwa hasil-hasil olah rasio, nantinya dapat dibatalkan oleh pendekatan baru. Begitu pula pendekatan baru, kelak akan dibatalkan oleh pendekatan yang lebih baru lagi. Begitu seterusnya hingga tak terhingga[11].

Dari sini terdapat beberapa kekeliruan yang dilakukan al-Ghazali. Ada sejumlah hal yang kurang diperhatikan dalam membangun pondasi teorinya tersebut. Pertama, asumsinya bahwa hasil daripada pendekatan empiris yang kurang valid hingga dibatalkan oleh pendekatan rasionalis. Padahal sejatinya apa yang ia asumsikan dengan 'pembatalan' akal oleh indera, tidak lain adalah pembatalan indera yang benar atas indera yang salah. Seperti dalam contoh bayangan benda yang ia kemukakan diatas, sejatinya kekhilafan indera dalam menalar bayangan itu disebabkan kurang awasnya indera dalam mengamati. Apabila diamati benar-benar, sesungguhnya indera bisa melihat geraknya bayangan itu. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa yang membatalkan pendekatan empirisme yang salah (hakim hissy khata') adalah pendekatan empirisme yang   benar (hakim hissy showab) dan bukanlah pendekatan rasionalisme (hakim aqli).

Kedua, asumsi al-Ghazali mengenai "hakim" lain yang "membatalkan" hakim aqli. Ia berasumsi bahwa apabila hakim hissy dapat dibatalkan oleh hakim aqli, tentu hakim aqli juga kelak dapat dibatalkan oleh hakim yang lain. Padahal kalau kita lihat, eksistensi hakim lain yang diasumsikan al-Ghazali hingga sekarang tidak pernah benar-benar terbukti. Apa yang dikatakan al-Ghazali mengenai hakim lain tak lain hanyalah berasal dari hipotesanya sendiri.


Skeptisime, antara al-Ghazali dan Descartes

Secara singkat, Descartes membagi syakk yang ia alami dalam beberapa marhalah :

1. Ia mengetahui ada beberapa golongan yang mempunyai pemikiran menyimpang, ia ingin membantahnya, akan tetapi ini adalah sesuatu yang berbahaya apabila tidak diikuti oleh kematangan berpikir dan kebesaran jiwa. Lalu kemudian  ia memutuskan untuk membebaskan dirinya dari segala macam hawa nafsu, syahwat, keinginan-keinginan, dan kesibukan-kesibukan duniawi, serta menjahuhi manusia, sembari menunggu hingga jiwanya matang.

2. Setelah semua itu selesai, ia mencoba untuk melihat kembali pemikiran-pemikiran  itu dengan pandangan yang baru. Ia menemukan bahwa pengetahuan-pengetahuan itu kebanyakan berasal dari panca indera, padahal panca indera itu sangat lemah dalam menganalisis kebenaran.

3. Kemudian  melemparkan pertanyaan, apakah kebenaran itu ada???
Lalu dijawabnya : aku melihat sesuatu dalam mimpiku seolah-olah semuanya nyata, sedangkan sesadarnya aku dari mimpi, maka aku mendapatinya hanyalah khayalan belaka. Akan tetapi aku yakin bahwa yang aku liat ini benar-benar nyata, sama dengan yakinku ketika aku melihat sesuatu dlm keadaan sadar. Jika demikian, maka manakah yg hakikat dan manakah yang palsu??? Oleh sebab itu hendaknya diketahui bahwasanya sesuatu yang kita lihat dalam mimpi itu adalah berasal dari sesuatu yang partikular dan sederhana, yang eksis dalam dunia nyata untuk kemudian dibesarkan oleh khayal dan angan.

4. Sampai sini Decarstes beranggapan bahwa segala sesuatu yang berasal dari suatu hal yang sederhana, bisa terinfiltrasi keraguan. Maka cara terbaik untuk keluar dari itu semua adalah meragukan semuanya, dan menganggap semua yang eksis ini hanyalah khayalan belaka. jadi, tidak ada sesuatu, tidak ada langit, tidak ada bumi, dan seterusnya. Kosong...


5. Karena ketidakmampuan akal untuk mengidentifikasi mana yang merupakan hakekat mana yang khayalan, beralihlah akal pada kehidupan sehari-harinya yang biasa, seperti orang yang habis mimpi indah, kemudian terbangun, pasti ingin tidur lagi untuk melanjutkan mimpi indahnya tersebut. Intinya : akal tidak tahu harus berbuat apa, dan hanya membiarkan dirinya terseret pada arus.

6. Decartes mulai kembali bangkit dari kebimbangannya tersebut. Ia berasumsi bahwa apabila semua yang ada ini mungkin hanya berupa khayalan, maka selama aku terus melakukan dugaan-dugaan dan asumsi-asumsi, maka aku terus ada dan eksis. Dan selama aku terus mengira wujud dan eksistensiku ada maka aku berpikir. So, aku adalah makhluk yang berpikir. Aku adalah makhluk yang memikirkan sesuatu yang tidak mungkin diketahui kecuali dengan berpikir. Jadi aku berpikir, maka aku ada. Cogito Ergo Sum[12]

Dari sedikit gambaran diatas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa ada beberapa hal yang mempunyai kemiripan diantara kedua pemikir besar tersebut, meskipun tidak menafikan juga terdapat beberapa perbedaan. Adapun persamaan diantara keduanya seperti Pertama, Antara keduanya sama-sama mengetahui teori skeptisime ini sebelumnya. Baik al-Ghazali ataupun Descartes sama-sama 'terinspirasi' teori skeptisisme yang dipopulerkan pertama kali oleh kaum Sophist. Kedua, dapat kita mengerti dari uraian diatas, bahwa al-Ghazali, seperti halnya Descartes menaruh keraguan pada hasil-hasil yang diberikan oleh taklid buta, pengalaman empiris, serta pendekatan rasionalitas. Ketiga, dapat kita lihat dalam marhalah skeptisime keempat yang dibangunnya, bahwa Descartes sampai pada titik keraguan mutlak hingga mengantarkannya pada ketidakmampuannya dalam menghukumi sesuatu. Hal ini dialami juga oleh al-Ghazali. Keempat, Seperti yang kita lihat, bagaimana al-Ghazali menetapkan syak-nya dan bagaimana Descartes menempuh jalur yang sama dalam membangun pemikiran syaknya.

Adapun bagaimana keduanya keluar dari keraguan yang semakin memuncak, nampak seperti ada jurang yang menganga diantara keduanya. Al-Ghazali mencampakkan logika Aristotelian yang ia gunakan dalam membangun teorinya, serta mengklaim bahwa ia disambangi oleh nur ilahi yang membawanya keluar dari labirin keraguan. Seklias, nampak tidak ada permasalahan berarti ketika al-Ghazali mewartakan 'nur ilahi'nya. Namun, apabila ditelusuri lebih lanjut, wacana nur ilahi al-Ghazali ini seakan menegaskan ortodoksi kaum sufi atas manusia awam. Bahwa halnya nur yang diceritakan al-Ghazali, sangat jauh untuk digapai oleh kita sebagai orang awam, dan hanya terbatas pada kalangan agamawan ataupun sufi. Jadi kalau memang al-Ghazali telah sampai pada hasil yang tidak dapat digapai semua orang, lantas apa yang dapat kita ambil faedah???

Sementara Descartes nampak lebih konsisten dalam menggunakan logika Aristotelian. Ia menggunakannya dalam membangun teori skeptisnya, pun demikian ketika ia merobohkan skeptisime tersebut. Ia nampak lebih manusiawi ketika menggunakan pendekatan rasio, karena semua manusia dapat mencapainya. Apa yang ia rasakan ketika gundah, apa yang ia rasakan ketika dilanda kegalauan yang memuncak, dan apa yang ia pikirkan untuk keluar dari kegelisahan itu, semuanya dapat dirasakan oleh sekalian manusia, tidak terbatas pada kalangan tertentu saja.


Skeptisisme Ghazali, Antara realita dan khayalan

Dari sedikit elaborasi diatas, dapat kita lihat dan simpulkan beberapa hal berikut ini ;

Pertama, tidak adanya hubungan yang erat antara logika mantik yang dipakainya sewaktu memasuki fase syakk, dengan nur ilahi yg digunakannya ketika ia keluar dari fase tersebut. Kedua, .Jadi apa yang ia asumsikan sebgai nur yang menyambangi hatinya, seolah-olah ia adalah hadiah dari tuhan untuknya, turun dari langit semata-mata untuknya. Itu semua tidaklah lain adalah hasil dari pembacaan al-Ghazali terhadap kalam-kalam para sufi yang mendaku telah sampai pada palung hakekat yang terdalam. Lalu al-Ghazali meminjam ide ini, kemudian merekonstruksinya untuk kemudian ia tuliskan untuk menggambarkan laku spiritualnya. Ketiga, Nur al-Ghazali sejatinya adalah fikroh kaum sufi, yang kemudian ia campurkan fikroh ini dengan sentuhan filsafat, dan memolesnya sedemikian rupa serta dibumbui dengan firman-firman Tuhan, sabda-sabda rasul untuk kemudian disajikan sehingga nampak sebgai 'hidangan yang wah'. Keempat, al-Ghazali hanya berasumsi bahwa ia ditimpa ke-syakk-an, karena ia mengetahui wacana skeptisisme dari kaum sophist yunani. lalu ia juga berasumsi bahwa ia telah sampai pada hakikat keyakinan karena ia mengetahui wacana nur ilahiah yang didengungkan oleh kaum sufi, dan bukan muncul dari hatinya sendiri. Kelima, termuatnya kisah-kisah dan riwayat-riwayat dhaif dan palsu yang banyak bertebaran di Ihya Ulumudin dan beberapa kitab karangannya menunjukkan bahwa apa yang ia katakan dengan mencapai puncak laku spiritulnya itu adalah suatu hal yang tidak dapat dipertanggung jawabkan, artinya laku suluk yang ia lakoni dan mengantarkannya sampai ke puncak makrifat tidak meninggalkan atsar yang berarti dengan termuatnya riwayat-riwayat lemah tersebut. Keenam, dia ingin kita percaya bahwa apa yang ia tulis (fikroh syak dan yaqin) adalah terjadi sebelum ia mempelajari ilmu kalam. Padahal sebenarnya ia menulisnya setelah uzlah dan setelah mempelajarinya, artinya : perjalanan hidup yang ia uraikan (fikroh syakk dan yakin) ini tidak pernah dipikirkan al-Ghazali sebelumnya.

Kesimpulan yang bisa kita tarik dari beberapa hal diatas adalah bahwa al-Ghazali mengkisahkan kisahnya ini, untuk diproyeksikan sebagai muqodimah buku otobiografinya, serta untuk meyakinkan para pembaca bahwa ia benar-benar mengalami fase syakk dan bahwa apa yang ia cari sebetulnya telah ditemukan jawabnya pada para mutashowifin. Dan juga agar bisa membawa pembaca untuk mempercayai bahwa sosok al-Ghazali adalah sosok yang rasionalis, sosok pemikir yang tidak mau mengimani sesuatu kecuali dengan dalil dan premis yang mendahuluinya.


Al-Ghazali dan beberapa sekte yang dikritiknya

Ketika masa hidupnya, banyak sekali berkembang sekte-sekte teologi. Namun dari kesemuanya itu, hanya 4 kelompok saja yang bias diklasifikasikan sebagai sekte yang mandiri. Sementara yang lainnya hanya menginduk atau sempalan dari keempat sekte tersebut. Untuk itulah, al-Ghazali membatasi kebenaran hanya terdapat di salah satu dari keempat sekte tersebut. Sekarang mari kita telaah satu persatu dari keempat sekte tersebut.

  1. Studi al-Ghazali terhadap ilmu kalam

Ia berkata : "Aku mulai mempelajari ilmu kalam ini dan aku menemukan bahwasanya ilmu ini adalah ilmu yg sangat penting untuk menjaga akidah ahlus sunah wal jamaah dari serangan ahli bidah. Akan tetapi ada beberapa kejanggalan yang menghampiriku ketika ada beberapa golongan ahlu kalam menjelek-jelekkan musuh mereka yaitu para filosof hanya karena pemikiran-pemikiran mereka (filosof) tidak sesuai dengan kalam Tuhan dan sabda Nabi Saw, padahal ilmu itu tidak cukup hanya dengan perkataan tuhan ataupun ijma umat Muhammad, akan tetapi juga harus dibuktikan kebenarannya dengan keyakinan aksiomatis. Karena itu bagiku, ilmu kalam tidaklah mencukupi untuk mengungkap kebenaran dan untuk menyembuhkan hati yang terluka. Ya benar, jika dikatakan bahwa ada beberapa orang yang mencapai kebenaran sejati lewat perantaraan ilmu kalam, akan tetapi itu semua terjadi dikarenakan taklid buta saja. dan tidak berpijak pada premis-premis yang benar[13]".

Dari apa yang disampaikan al-Ghazali barusan, bisa kita tarik kesimpulan bahwa ia menolak ilmu kalam hanya karena ;
1.   orang-orangnya muqallid
2.   karena mereka berjalan dibelakang ijma umat islam
3. karena mereka menerima dalil-dalil Al-quran karena hanya merupkan firman Tuhan belaka
4.   karena mereka menerima sabda rasul hanya karena merupakan sabda rasul belaka
5. al-Ghazali menolak taklid dan tidak menerimanya sama sekali serta tidak menganggapnya sebagai sumber dari keyakinan

Ada beberapa hal yang bisa kita kritisi dari beberapa poin diatas ; bahwa dimana al-Ghazali menerima pancaran Nur illahi yang membawanya ke kebenaran sejati adalah nur yang dipancarkan tuhan yang sama dengan tuhan yang ia kritisi sabdanya. Bahwa nur yang menyelamatkannya dari kebingungan teologis adalah nur dari tuhan  yang sama dengan tuhan para mutaklimin yang ia kritisi sebelumnya???? atukah tuhan dari nur ghazali itu adalah tuhan yg lain???

Nur itulah yang dimaksudkan Tuhan -menurut al-Ghazali- lewat firmannya : "Faman yuridillahu an yashrah shadrahu lil islam"  . Dan nur itu yang dimaksud Nabi dalam sabdanya ketika ditanya ttg arti "sharh", maka beliau menjawab : ia adalah nur yang ditiupkan Allah kedalam hati[14].

Nah, berarti Tuhan nur tersebut adalah tuhannya kaum muslim, tuhannya Muhammad Saw dan tentu saja tuhannya para mutakalimin

Lantas, mengapa Ghazali menolak yang ini dan menerima yang itu???
Ya, tidak lain dan tidak bukan hanya karena nur yang dimaksud al-Ghazali adalah fikroh yang muncul dari rahim para sufi. jadi al-Ghazali menerima kebenaran 'Nur ilahiah' hanya karena ia adalah fikroh yang muncul dari kubu yang sejalan dengan dia, yaitu para kaum sufi. Sementara ia menolak ayat-ayat Tuhan yang dilontarkan para mutakalimin hanya karena mereka adalah musuh-musuh ideologisnya.


  1. al-Ghazali dan para filosof

Setelah yakin bahwa kebenaran yang ia cari tidak terdapat pada ilmu kalam, al-Ghazali lantas melanjutkan pencariannya dan beralih ke filsafat. Ia berujar bahwa "ia (filsafat) adalah ilmu yaqini, dan apa yang termaktub dalam kitab-kitab mutakalimin tentang bantahan atas  filsafat adalah rancu dan penuh dengan kontradkisi. Dan seorang pencari tidak dapat mengetahui baik tidaknya suatu ilmu (dlm hal ini filsafat)  kecuali dengan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh dan memahaminya dengan pemahaman yang mendalam. Bahwa untuk membantah madzhab ini (falasifah) sebelum memahaminya dengan baik dan benar sama halnya seperti orang buta yang berjalan tertatih-tertatih dengan tongkatnya[15]".

Al-Ghazali mempelajari filsafat tidak melalui perantaraan seorang guru, melainkan sebatas membaca karya-karya para filosof, hal itu dilakukannya disela-sela kesibukannya mengajar di madrasah Nidzamiyah Baghdad. Dan Ghazali berhasil sampai pada puncak pemahaman akan filsafat dalam waktu kurang dari 2 tahun. Setelah serius mempelajari dan menganalisis fikroh para filosof, Ghazali berkesimpulan bahwa hampir semua filosof terindikasi penyakit bidah dan kafir, meskipun pencarian mereka pada awalnya adalah kebenaran.

Lalu, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah al-Ghazali mempelajari filsafat untuk mencari kebenaran ataukah sengaja untuk mengahancurkannya?
Ada 2 pendapat mengenai hal ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa al-Ghazali menyatakan berkali-kali bahwa ia mempelajari ilmu kalam dan filsafat tak lain adalah untuk menemukan kebenaran. Rasa haus akan kebenaran lah yang membawanya untuk melakukan rihlah keilmuan antara satu madzhab dengan lainnya. Dan pendapat ini pula yang diamini oleh orientalis T.J. de Boer; ia mengatakan bahwa al-Ghazali mempelajari filsafat untuk menemukan jalan dari keadaaan skeptis yg ia rasakan, dan sesungguhnya ia berharap menemukan ketentraman hati dan meraih hakikat yang absolut. Teori ini adalah teori umum.

Pendapat kedua menyatakan bahwa ia mempelajari filsafat untuk meruntuhkannya dan menghancurkan madzhab mereka. Disini ada beberapa catatan yang harus diperhatikan :
1. Dalam muqadimah bukunya 'maqasid falasifah' yang dikarang seblum tahafut, ia berujar bahwasanya ia berkeinginan untuk menyingkap tabir buruk filsafat dan kerancuan pemikiran orang-orang yang berkecimpung di dalamnya.
2. Dalam tahafut ia berujar bahwa ia mempelajari filsafat adalah untuk menghancurkannnya dan membantah dalil-dalil yang dikemukakan para filosof
3. Dalam muqaddimah tahafut bagian 3, karena itu aku ikut masuk dalam dinamika pemikiran mereka adalah untuk membatalkan madzhab mereka dan bukan untuk membelanya
Dan penulis rasa, pendapat kedua ini lebih masuk akal karena didukung oleh bukti-bukti pengakuan langsung dari al-Ghazali.

  1. al-Ghazali dan sekte Ta'limiyah-Batiniyah

Selesai dengan ilmu kalam dan filsafat, al-Ghazali melanjutkan rihlah ilmiahnya ke sekte selanjutnya, yaitu Ta'limiyah-Batiniyah. Awa mula ia mendengar dari salah satu temannya yang mantan pengikut Batiniyah bahwa sekte ini mendapatkan kebenaran tidak dari quran dan sunnah melainkan dari imam mereka yang ma'sum, maka dari itu ia mulai mempelajari kitab-kitab dan literatur mereka. Berselang beberapa lama kemudian, ia sampai pada kesimpulan bahwa dalam literatur-literatur mereka tidak tampak sedikitpun kebenaran yang bisa menyelamtkan manusia dari kegelapan.

Lalu, sama seperti sebelumnya, yang menjadi pertanyaan adalah; apakah al-Ghazali mempelajari sekte ini untuk mencari kebenaran ataukah sengaja untuk membantahnya?

Dalam muqodimah fadhaih batiniyah, disitu al-Ghazali menyebutkan bahwa dirinya diperintahkan oleh penguasa pada waktu itu untuk mengarang suatu kitab yang berisi bantahan atas pemikiran-pemikiran sekte batiniyah. Selain itu, Khalifah juga telah menetapkan hasil dari pandangannya terhadap sekte Batiniyah -yaitu bahwa sekte ini sesat- dan al-Ghazali tinggal bekerja untuk sampai pada hasil yang telah ditetapkan oleh khalifah. Untuk sekedar catatan, ideologi resmi negara pada waktu itu adalah Sunni-Asy'ariyah, jadi secara tidak langsung hal ini menempatkan kelompok-kelompok yang tidak berideologi sama dengan penguasa di barisan musuh negara. Nampaknya hal ini berlaku pula pada sekte Batiniyah, dimana ideologi mereka adalah syi'ah, yang secara otomatis membuat mereka bersebrangan langsung dengan penguasa.

 Jadi, apakah al-Ghazali dalam menyusun kitab ini benar-benar sebagai orang yang haus akan ilmu ataukah karena pesanan khalifah yg ingin meneguhkan kekuasaanya ???

Penulis berkecenderungan untuk mengambil kesimpulan bahwa al-Ghazali menulis kitabnya ini atas dorongan Khalifah, hal ini dilandasi oleh beberapa hal berikut ;
- kedekatan teori ini dengan peristiwa historis yang realitanya telah terbukti.
- penyematan nama kitab ini dengan nama penguasa yang berkuasa pada masa itu, yaitu 'al-mustadzhari'.
- Khalifah membrikan batasan-batasan tema yang akan digarap al-Ghazali, yang menyiratkan bahwa sekte Batiniyah adalah sekte sesat, dan ia tinggal menggarap muqoddimah yang dapat mengantarkan pada hasil seperti yang dikehendaki Khalifah. Jadi dalam hal ini, dimana al-Ghazali menerima pesanan dari khalifah bertindak bukan atas nama seorang pemikir bebas yang haus akan hakikat kebenaran, melainkan seorang pemikir upahan yang bertindak atas pesanan penguasa di belakangnya.


  1. al-Ghazali dan dunia Sufistik

Al-Ghazali menyadari bahwa jalan sufistik tidak dapat dicapi kecuali dengan ilmu dan amal sekaligus. Adapun yang pertama, ia memulainya dengan mempelajari karya-karya para sufi seperti al-Quwyairi, al-Makki, al-Busthomy, al-Junaidy,  as-Syibli dan lain sebaginya. Dari karya-karya mereka al-Ghazali memtik manfaat yang sangat besar dalam mengetahui seluk beluk dunia sufi[16]. Sementara mengenai amal ia menandaskan ;'bahwa itu (jalan sufi) tidak dapat ditempuh kecuali dengan hati, jiwa dan perbuatan, karena para ahli sufi adalah sang empunya perbuatan, bukanya sekedar pengumbar omongan[17]. Kemudian al-Ghazali menambahkan bahwa untuk menggapai kebahagiaan akhirat tidaklah mungkin tergapai kecuali dengan takwa dan pengekangan atas hawa nafsu, serta memutuskan hubungan dengan dunia luar.dan hal itu tidak akan tercapai kecuali berpaling dari segala atribut keduniawian; pangkat, harta, dan semua kesibukan-kesibukan yang sifatnya duniawi[18].

Al-Ghazali mulai merasakan bahwa banyak sekali hambaatn dan rintangan yg menghalangi, salah satunya adalah kesibukannya mengajar. Untuk itu al-Ghazali merasa bahwa aktivitas mengajar tidaklah penting dan tidak memberikan manfaat sedikitpun untuk mencapai kebahagiaan akhirat[19]. Sedangkan niatnya dalam mengajar tidaklah ikhlas karena Allah, melainkan mencari kedudukan dan kemasyhuran[20].

Ia merasakan seakan-akan berada di tepi jurang, jika tidak cepat-cepat menyelamatkan diri niscaya akan jatuh kebwah. untuk itu ia mulai berpikir  -pada saat ini tafkirnya adalah tafkir mukhtar, bukan mudhthorr- untuk menyelamatkan dirinya,. dia mulai berpikir untuk keluar dari Baghdad dan meninggalkan pekerjaannya tersebut, akan tetapi hawa nafsu mulai membujuknya untuk mengurungkan niatnya tersebut. Dari sini al-Ghazali mulai berpikir dengan keras manakah yg hendak dipilihnya. pikirannya  ini terus menghinggapi benaknya dan mengacaukan otaknya. dan hal ini terus  berlangsung sampai 6 bulan lamanya, dan pada puncaknya al-Ghazali merasa tidak dapat berbuat apa-apa. Hatinya sedih, badanya sakit, lidahnya kelu, hingga ia tidak mampu untuk mengajar seperti biasanya. dari sini, al-Ghazali mulai merasakan keterpaksaan (idhtiror) untuk segara menyembuhkan penyakit yg menderanya. Untuk itu ia terpaksa memohon kepada Allah untuk menyembuhkan penyakitnya tersebut. Maka Allah kemudian menyembuhkannya dan memudahkan hatinya untuk menjauh dari kedudukan, harta, keluarga dan teman[21]. Al-Ghazali berujar bahwa kepergiannya untuk uzlah adalah perintah langit[22].

Setelah itu semakin kuatlah tekadnya untuk meninggalkan Baghdad dan menempuh laku spiritualnya. Menjelang keberangkatannya, al-Ghazali mengumumkan kepada khalifah dan masyarakat bahwa ia akan pergi ke Mekkah untuk menunaikan haji, padahal dalam hatinya ia akan melangkah menuju Syam. Hal ini ia lakukan karena khawatir khalifah akan
melarangnya pergi karena ia adalah kesayangan khalifah. kemudaian ia keluar dari Baghdad  seraya bertekad untuk tidak kembali lagi kesana[23].

Ia meninggalkan Baghdad bersama keluarganya menuju Syam dan tinggal  dsana, ia melakukan laku suluk dan mengisi hari-harinya dengan riyadah, mujahadah, tazkiah nafs, dan membersihkan hati[24]. Didalam masa uzlahnya, al-Ghazali merasakan bahwa para sufi adalah orang-orang khos yang berjalan dijalan Allah. Dan bahwa laku mereka adalah sebaik-baik laku, jalan mereka adalah jalan yang paling benar, akhlak mereka termasuk yang paling bersih. Dan dari segala yg mereka lakukan, geraknya, diamya, dhahirnya, batinnya adalah terpancar dari nur nubuah

Al-Ghazali menerangkan cara-cara uzlah sufistik yg baik, " Syarat pertama yang harus dijalani oleh seorang pemula adalah ; 1. menyucikan hati dari selain Allah 2. tenggelamnya hati dengan berdzikir kepada Allah 3. fana' kulliy kepada Allah[25]. Dalam Ihya ia menambahkan " syarat-syaratnya yaitu dengan memutus hubungan dengan dunia secara mutlak, dan mengosongkan hati daripadanya, serta memutus perhatian kepada keluarga, harta, anak, kampung halaman, kedudukan dan ketenaran[26].

Uzlah al-Ghazali ini berlangsung selama kurang lebih 11 tahun, dari tahun 488 H sampai 499H, ketika khalifah memanggilnya kembali dan ia memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Naisabur.


Beberapa Kritik atas kisah uzlah al-Ghazali
Dari kisah yang diuraikan oleh alGhazali diatas, ada beberapa catatan yang penulis garis bawahi ;
1. al-Ghazali melupakan tujuannya yang pertama, yaitu mencari kebenaran hakiki
seperti sebelumnya ketika ia meneliti paham-paham mutakalimin dan para filosof, al-Ghazali juga melontarkan kritik pedas kepada sekte batiniyah, tepat ketika ia selesai membaca literatur-literatur mereka. Bagi al-Ghazali pemikiran-pemikiran yang terdapat pada sekte batiniyah tak ubahnya seperti kedua pendahulunya, yaitu penuh dengan kontradiksi dan tidak dapat mengantarkannya menggapai kebenaran hakiki. Kekritisan al-Ghazali tatkala mengkritik semua paham diatas, mendadak lenyap, ketika ia mulai mempelajari buku2 dunia sufi. Dengan serta merta ia mengklaim telah menemukan kebenaran yang ia cari ada pada para sufi. Hal ini sangat mengherankan sekali, terutama bagi seorang yang sangat kritis seperti al-Ghazali, kecuali jika memang ia sudah mendapatkan jawaban sebelumnya bahwa yang dapat mengantarkanya menuju puncak hakikat adalah tasawuf. Jadi benar demikian, berarti apa yg ia sebut sebagai 'upaya mencari kebenaran' sejatinya tak lain hanyalah 'dongeng' yang ia sendiri sudah mengetahui 'ending'nya.
           
2. Al-Ghazali menuturkan bahwa "uzlah yang baik tidak mungkin tercapai kecuali dengan memutuskan hubungan dengan harta, kedudukan dan kesibukan-kesibukan duniawi".
Sekarang mari kita lihat keadaan al-Ghazali sebelum khalwat.
Adapun harta : al-Ghazali mengajar di Baghdad atas keinginan khalifah dan mendapatkan upah darinya.
pangkat : al-Ghazali menuturkan bahwa niatnya dalam mengajar adalah tidak ikhlas karena Allah, akan tetapi mengejar kedudukan dan kemasyhuran[27] .
kesibukan : al-Ghazali sibuk mengajar murid-muridnya di Baghdad serta mengarang buku di waktu sengangnya, seperti mengarang buku-buku bantahan atas filsafat[28]. Disamping itu al-Ghazali juga berasumsi bahwa ilmu-ilmu syariat tidaklah penting dan tidak memberikan manfaat apapun, karena menurut pandangan sufi yang ia anut itu tidaklah dapat mengantarkan menuju surga Allah dan tidak dapat menjadikan kita dekat kepada Allah. Agaknya ia menyalahi keyakinan gurunya al-Busthomi yang banyak ia nukil pendaatnya di Ihya' dan munqidz sendiri. Al-Busthomi berujar : "kalau kalian lihat seseorang yg mempunyai banyak karomah sampai bisa melayang di udara, janganlah kalian terpana kepadanya sampai kalian mengetahui apakah ia melaksanakan perintah agama dan menjauhi larangannya serta menjaalankan syariat dengan benar "

Jadi paling tidak, selama 38 tahun hidupnya (sebelum ia melakukan uzlah) segala apa yang ia kerjakan, baik aktifitas mengajarnya, menyusun bukunya, dan segala yang ia perbuat adalah atas dorongan syahwat duniawi belaka.

3. al-Ghazali menandaskan bahwa  "Allah memudahkan hatiku untuk berpaling menjauh dari segala macam atribut keduniawian; harta, keluarga, teman, kedudukan, ketenaran". Namun faktanya, meskipun al-Ghazali meninggalkan harta miliknya, ia juga membwa beberapa harta  untuk memberi nafkah keluarganya, yang ia ajak turut serta. Hal ini sangat paradoks dengan pernyataannya sendiri.

  1. Seperti yang telah disebutkan diatas, al-Ghazali menerangkan cara beruzlah yang
 baik adalah dengan  menyucikan hati dari selain Allah, menenggelamkan hati dengan berdzikir kepada Allah kemudian fana' kulliy kepada Allah.

 Sekarang mari kita lihat apa yang dilakukan al-Ghazali ketika dalam masa uzlahnya. ia melakukan laku suluk dan mengisi hari-harinya dengan riyadah, mujahadah, tazkiah nafs, dan membersihkan hati[29].
# al-Ghazali beri'tikaf di  masjid damaskus dan mangurung diri di menaranya sepanjang hari dan mengunci pintunya[30].
# ia masuk ke kubah baitul maqdis setiap hari dan jg mengunci pintunya[31]
# menghadiri majelis-majelis taklim dan menulis ihya'
# menunaikan ibadah haji[32].
# menyuruh anaknya untuk kembali ke kampung halaman[33].
# ia merasa bahwa peristiwa-peristiwa sejarah, perhatianmya kepada keluarganya, penghidupan yang semakin sempit, telah mengacaukan kemurnian uzlahnya[34]
# keadaan khalwatnya tidak membaik kecuali dalam waktu-waktu tertentu saja[35]

Jadi jelas sekali disini al-Ghazali menyelisihi perkataanya sendiri tentang khalwat, dimana harus memutus hubungan dg dunia luar, sementara ia sendiri tidak melakukannya. Jadi khalwat al-Ghazali bukanlah khalwat sufiyah, seperti yang ia jelaskan sendiri.

Epilog

Dari berbagai gambaran diatas, dapatlah kita tarik kesimpulan bahwasanya kitab ini (munqidz min al-dhalal wal muwassol ila dzil 'izzati wal jalal) bukanlah kitab yang benar-benar merepresentasikan pemikiran al-Ghazali yang sebenarnya. Munculnya beragam kontradiksi antara satu pernyataan dengan yang lainnya membawa penulis meyakini apa yang diwartakan al-Ghazali sebagai 'perjalanan menggapai kebenaran' tak lain hanyalah kisah khayalan belaka yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Memang benar jika dikatakan bahwa kisah laku suluk ini betul-betul terjadi secara fisik, namun hal itu tidaklah memberikan pengaruh yang signifikan pada jiwa al-Ghazali. Dalam kisahnya ini, secara tidak langsung al-Ghazali ingin menempatkan dirinya untuk tampil sebagai pahlawan kaum muslimin, seorang yang mendapatkan ilham dari langit untuk melakukan perjalanan spiritualnya, seorang yang pakar akan ilmu syariat dan hakikat sekaligus, seorang juara dalam berdebat dan berdiskusi, serta seorang 'khawasul khawas' yang mendapat kehormatan disambangi oleh 'Nur Illahi'.

Penulis berkata :" Sesungguhnya al-Ghazali adalah guruku, namun kebenaran dan hakikat lebih layak dikedepankan daripada al-Ghazali". Terlepas dari berbagai kekurangannya, tak diragukan lagi al-Ghazali adalah Imam besar umat muslim. Seorang mujaddid agung yang disegani baik oleh kawan maupun lawan. Seorang yang tiada duanya dan sulit tergantikan oleh ulama yang lain. Kitab-kitab buah karya dan pemikirannya masih tetap dijadikan rujukan dan pegangan, tak hanya umat muslimin, namun juga umat non-muslim, khususnya para orientalis yang banyak angkat topi kepadanya. Wallahul hadi ila as-showab.


___________________________

Resensi Buku : I'tirafat al-Ghazali aw kaifa arrakha al-Ghazali nafsahu[1]
Sebuah otokritik atas otobiografi al-Ghazali
Karya : DR. Abdel Daeem Aboul Atho al-Bagary al-Ansary
Oleh : Ahmad Muhammad[2]




[1] Makalah ini dipresentasikan pada kajian regular Ghazalian Center Kairo, 24 September 2009
[2] Mahasiswa al-Azhar
[3] Al-Ghazali, Munqidz min al-Dhalal, hal.8
[4] Ibid., hal.11
[5] Ibid., hal.12
[6] Ibid., hal 13
[7] Ibid.,hal. 14
[8] Abd al-Daeem, I'tirafat Ghazali hal.40
[9] Al-Ghazali, Fadaih batiniyah hal. 21
[10] Abd al-Daeem, Op.Cit., hal. 45
[11] Ibid.,43
[12] Ibid., hal.54
[13] Munqidz., hal.18-19
[14] Ibid.,hal. 14

[15] Ibid.,hal.21
[16] Ibid.,hal.59
[17]  Ibid.,hal. 60-61
[18] Ibid., hal.62
[19]Ibid.,  hal.63
[20]Ibid., hal.63
[21] Ibid.,Hal.65
[22]Ibid., Hal.66
[23] Ibid., hal.66
[24]Ibid., Hal.66
[25]Ibid., Hal.68
[26] Ihya juz 3 hal. 17
[27] Munqidz hal.63
[28]Ibid., hal.22
[29] Ibid.,Hal.66
[30]Ibid., Hal.66
[31]Ibid., Hal 66
[32] Ibid.,Hal.67
[33] Ibid.,Hal 67.
[34]Ibid., Hal 67
[35]Ibid., Hal.67

0 comments:

Post a Comment