Saturday, September 4, 2010

Imam Malik bin Anas; Sebuah Biografi


 
Prolog

Tidaklah mudah berbicara mengenai kebesaran seorang tokoh secara menyeluruh dan komperehensif tanpa dilakukan studi yang mendalam. Pembelajaran yang sepotong-sepotong malah akan menimbulkan pemahaman dan persepsi yang keliru.  Oleh karena itu dibutuhkan pembacaan secara menyeluruh dan kaafah yang akan mendekatkan kita pada realitas yang sebenarnya tanpa didasari oleh sikap fanatik sempit ataupun permusuhan.

Demikian pula dalam konteks ini,   jika kita mempelajari imam malik yang notabene seorang ahli hadits dan fikih tanpa menilik metode yang digunakan beliau dalam meriwayatkan hadits dan meng-istimbat hukum maka salah-salah kita malah menjauh dari realitas obyektif sosok beliau yang sebenarnya.

Hal ini disebabkan oleh karena kita tidak membicarakan seseorang yang biasa seperti halnya manusia lainnya pada umumnya,   tetapi kita mempelajari seorang ulama yang 'istimewa',   yang mempunyai keluasan ilmu dan kedudukan tinggi dimata manusia. maka langkah awal dalam mengkaji beliau adalah dengan cara menelisik pemikiran dan pribadi beliau terlebih dahulu kemudian diikuti pembacaan setting sosio-historis dan konstruk politik,  kultural dan ekonomi.

Pembacaan dengan cara tersebut –insya Allah- akan semakin mendekatkan kita pada realitas sosok beliau yang sebnarnya tanpa dibumbuhi oleh fanatisme yang membabi buta ataupun sikap sinis yang berlebihan karena beranggapan akan kebenaran madzhabnya sendiri.

Dengan langkah-langkah yang demikian,  konflik perpecahan antar madzhab,  ketegangan dan pemaksaan para pengikut suatu madzhab atas madzhab yang lain,  dapat dieliminasi seminimal mungkin. Karena dengan pembacaan yang kritis dan obyektif terhadap para pendiri madzhab dapat mengantarkan kita kepada sikap beragama yang menjunjung tinggi semangat keberagaman dan toleransi,  disamping peluang untuk mengadakan dialog dan rekonsiliasi semakin terbuka lebar.


Sekilas biografi Imam Malik

1. Kelahiran dan Nasab beliau

Abu Abdillah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir al-Asbahi al-Yamani dilahirkan di Madinah,  tepatnya di sebuah desa bernama wadil quraa,  pada tahun 93 H menurut versi terkuat.  Para pengikut fanatik malikiyah meriwayatkan bahwasanya imam malik berada dalam kandungan ibunya selama 3 tahun.  Dan tentu saja hal ini tidak logis dan terkesan dilebih-lebihkan,  karena secara medis, durasi maksimal bayi didalam kandungan adalah satu tahun.  Riwayat seperti ini nampaknya sengaja dibuat oleh para pengikut fanatik malikiyah untuk mengesankan keistimewaan dan keajaiban Imam mereka atas manusia  lainnya, dalam hal ini terlihat dari keajaiban cara beliau dilahirkan.

Adapun nasab beliau sampai kepada kabilah dari Yaman, dzu Asbah, yang merupakan bagian dari kabilah Himyar.  Malik bin Amir, kakek beliau hijrah dari Yaman ke Madinah menghindar dari kezaliman penguasa Yaman waktu itu.  Sementara ibu beliau bernama bernama Aliyah bintu Syarik bin Abdurrahman al-Qahthaniyah al-Azdiyyah.  Ada pendapat kedua yang mengatakan bahwa ibu beliau adalah Thulaihah at-Taimiah,  maula (budak) Abdullah bin Muammar,  akan tetapi hal ini ditolak oleh Imam Malik  sendiri dan menjelaskan bahwa ibu beliau bukanlah budak.

2. Pertumbuhan dan Jenjang studi Malik bin Anas

Malik bin Anas tumbuh di lingkungan keluarga yang kondusif dan sangat mengapresiasi ilmu hadist dan fatwa para sahabat.  Kakeknya,  Malik bin Amir termasuk ulama terkemuka dari golongan Tabiin yang mengambil hadist dari Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Talhah bin Ubaidillah,  dan dari Aisyah ummul mu'minin.  Dan yang meriwayatkan darinya Anas- ayah imam malik-,  Rabi',  dan nafi' al-Makni serta Abi Suhail.  Kakaknya, Nadhar terkenal sebagai seorang yang mumpuni ilmunya sehingga  banyak dikunjungi oleh para murid yang ingin mengambil ilmu darinya.  Sementara pamannya Nafi' bin Malik meriwayatkan hadist dari ibnu Umar dan Anas dan tercatat sebagai perawi yang tsiqoh (dapat dipercaya).

Stimulasi dan dorongan dari kondisi lingkungan yang demikian membuat Malik 'kecil' sangat haus akan ilmu agama.  Sebelum baligh ia sudah menghafal al-Quran dan setelahnya juga mulai menghafal hadist . Semangat Malik dalam menuntut ilmu sangat luar biasa, sampai-sampai pernah ia menjual kayu atap rumahnya untuk digunakan menuntut ilmu.

Peran serta sang ibu mengantarkan Malik bin Anas pertama kali belajar kepada Rabi'ah bin Abdurrahman.  "Pergilah kepada Robi'ah dan pelajarilah adabnya sebelum kau pelajari ilmunya", pesan sang Ibu kepada Malik, sambil memakaikan pakaian yang bagus kepada anaknya.

Dari Rabiah Malik belajar adab dan fikih rasional, yang banyak sekali menggunakan analogi (qiyas) dalam memutuskan suatu perkara. karena itulah Rabiah mendapat julukan ar-Ra'yu, sesuai dengan keahliannya menganalogikan masalah.

Setamatnya belajar dari Rabiah, Malik berguru hadist kepada Ibnu Shihab az-Zuhri dan darinyalah Malik banyak meriwayatkan hadist yang kemudian dibukukannya dalam 'al-Muwatha'.

Malik mempunyai dua guru yang bernama Nafi', yang pertama adalah Nafi' bin Sarjas maula (budak) Abdullah bin Umar, darinya Malik mengambil ilmu hadits yang kemudian jalur periwayatan keduanya dikenal dengan silsilah dzahab (rantai emas), karena terkenal akan ke-tsiqoh-an para perawinya. Sementara Nafi' yang kedua adalah Abu Ruwaim Nafi' bin Abdurrahman bin Abi Na'im,  salah satu imam qiraah sab'ah yang terkenal. Darinya, malik belajar salah satu ragam bacaan qiraat al-Qur'an.

Ibnu Harmaz adalah guru yang menyumbangkan pengaruh paling  besar dalam perkembangan intelektualitas Malik bin Anas. Hal ini disebabkan eratnya hubungan keduanya , bahkan Malik belajar secara intensif dan khusus kepada Ibnu Harmaz (mulazamah) tanpa disambi belajar di tempat lain selama 7 tahun atau malah 13 tahun menurut versi kedua (walaupun para ulama banyak yang melemahkan riwayat ini). Seringnya Malik menjawab pertanyaan dengan kalimat "la adri" (saya tidak tahu) konon juga  dipengaruhi oleh Ibnu Harmaz. Tidak diketahui dengan pasti apa yang Malik pelajari dari Ibnu Harmaz. Malik sendiri tidak pernah mengungkapkannya dengan jelas, hanya  sedikit menyiratkan bahwa gurunya itu adalah orang yang paling ahli dalam membantah aliran sesat dan menjelaskan hal-hal yang diperselisihkan banyak orang. Dengan kata lain, dapat ditarik kesipulan bahwa Ibnu Harmaz adalah seorang pakar teologi dan ilmu kalam yang darinyalah Malik belajar teologi .

Dari Yahya bin Sa'ad al-Ansory, Malik belajar Fikih Ra'yu dan belajar Fikih Riwayat dari Abu Zinad, seorang mawali yang berasal dari Hamdan.

Guru-guru Malik bin Anas konon mencapai lebih dari seratus orang, beberapa diantaranya disebutkan oleh Malik sebagai guru-guru yang berperan besar dalam menentukan kecenderungan arah pemikirannya, yaitu adalah : Ibnu Harmaz, Yahya bin Sa'id al-Ansory, Rabi'ah dan Ibnu Shihab al-Zuhri. Selain itu Malik juga kerap mendatangi majlis-majlis ulama di tanah kelahirannya, Madinah selain juga mendatangi para ulama di Makkah ketika musim haji ataupun mengambil ilmu dari kitab dan buah karya para ulama lainnya.

3. Fase kematangan

Setelah merampungkan pelajarannya pada beberapa ulama, Malik mulai membuka majlis dan mengajar di Masjid Nabawi. Para pengikut fanatik Malikiyah konon mengatakan bahwa fase kematangan wawasan keagamaan Malik ini adalah pada umur tujuh belas.  Namun pendapat ini ditentang oleh banyak kalangan karena dipandang bertujuan melebih-lebihkan kemampuan Malik dan menciptakan image bahwa kecerdasan Malik berada di luar kebiasaan khalayak. Mereka menyebutkan beberapa alasan ditolaknya kebenaran  dugaan ini, diantaranya adalah :

  1. Di Madinah banyak ulama terkemuka yang bermukim disana, maka aneh jika manusia mendatangi seorang 'bocah kemarin sore' untuk mengambil pelajaran darinya.
  2. Dari riwayat yang sahih disebutkan bahwa Malik belajar secara intensif (mulazamah) kepada Ibnu Harmaz adalah selama tujuh tahun, maka sungguh mustahil jika dikatakan Malik mulai mengajar pada umur tujuh belas tahun, kapan ia belajar pada guru selainnya?
  3. Disebutkan bahwa Malik mulai mengajar setelah rampung menyelesikan pelajarannya pada lebih dari tujuh puluh gurunya. Bagaimana bisa ia belajar dan mendapatkan "ijazah al-tadris wa al-ifta`" atau izin mengajar dan
    berfatwa dari tujuh puluh gurunya dalam waktu yang singkat dan bersamaan.
  4. Dalam riwayat yang sahih mengatakan bahwa Malik mulai mengajar setahun setelah kematian gurunya, Nafi'.  Adapun gurunya itu wafat pada tahun117 H,  jadi dapat disimpulkan bahwa usia Malik ketika mulai mengajar sekitar 25 tahun,  dan bukannya 17 tahun seperti yang diklaim para pengikutnya yang fanatik .


Malik bin Anas mengambil tempat untuk pengajian beliau di masjid Nabawi persis di tempat yang dulunya digunakan Umar bin Kahttab untuk bermusyawarah dan tempat yang ditempati para tabiin untuk mengeluarkan fatwa. Tidak diragukan lagi bahwa berduyun-duyun manusia dari segenap penjuru mendatangi majlis ilmu yang dibuka Malik bin Anas. Disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa Majelis pengajian Malik lebih besar dari majlis para gurunya yang juga membuka tempat pengajian di masjid Nabawai, seperti majelis Ibnu Shihab. Keluasan ilmu dan kematangan beliau masyhur di seluruh negeri sampai khalifah Harun ar-Rasyid sendiri juga ikut 'nimbrung' di majlis Malik untuk sekedar mencicipi hidangan ilmu yang disajikan beliau.

Malik sangat berhati-hati dalam mengeluarkan fatwa dan memberikan jawaban pertanyaan yang diajukan kepadanya. Sebelum menjawab dan berfatwa, Malik biasa menelaah permasalahan yang diajukan dengan seksama dan hati-hati, bahkan tak jarang ia baru mengeluarkan fatwa setelah beberapa bulan. Kalaupun memberi jawaban juga dengan jawaban yang ringkas dan tidak bertele-tele sehingga melebarkan permasalahan yang ada.  Sering juga ia menjawab pertanyaan dengan perkataan 'la adri' (saya tidak tahu). Ia juga melarang muridnya untuk bertanya sesuatu yang tidak pernah terjadi dan hanya menanyakan tentang masalah-masalah yang memang sudah terjadi pada waktu itu. Tiap kali hendak mengeluarkan fatwa ia mulai dengan perkataan "masya Allah laa quwata illa billah" dan ayat al-quran :

. . . . . . . . . . . ان نظن الا ظنا وما نحن بمستيقنين  )  الجا ثية 32)

Kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya). ’”

Abu Mush`ab berkata,  ”Aku mendengar Malik berkata,  ”Aku berfatwa hingga 70 orang bersaksi bahwa aku layak berfatwa. ”

Abdurrahman bin Mahdi berkata,  ”Kami berada di sisi al-Imam Malik bin Anas,  tiba-tiba datang seorang kepadanya seraya berkata,  ’Aku datang kepadamu dari jarak 6 bulan perjalanan,  penduduk negeriku menugaskan kepadaku agar aku menanyakan kepadamu suatu permasalahan. ’ Al-Imam Malik berkata,  ’Tanyakanlah!’ Maka orang tersebut bertanya kepadanya suatu permasalahan.

Al-Imam Malik menjawab,  ’Aku tidak bisa menjawabnya. ’ Orang tersebut terhenyak,  sepertinya dia membayangkan bahwa dia telah datang kepada seseorang yang tahu segala sesuatu,  orang tersebut berkata,  ’Lalu apa yang akan aku katakan kepada penduduk negeriku jika aku pulang pada mereka?’ Al-Imam Malik berkata,  ’Katakan kepada mereka,  Malik tidak bisa menjawab. ”

Khalid bin Khidasy berkata,  ”Aku datang kepada Malik dengan membawa 40 masalah,  tidaklah ia menjawabnya kecuali 5 masalah saja. ”

Sikapnya ini bukan dilakukannya dengan tanpa alasan,  Malik sangat berpegang teguh pada al-Kitab dan al-Hadist, . Karena ia berpendapat bahwa mengeluarkan fatwa adalah cobaan dan ujian bagi seorang ulama yang hanya digunakan untuk meluruskan masyarakat dan membawanya ke wilayah dien al-hanif.

Berlalu beberapa masa, Malik mulai digerogoti penyakit yang membuatnya tidak bisa lagi keluar dari rumah. Maka ia pun memutuskan untuk memindahkan majlis pengajiannya dari Masjid Nabawi ke rumahnya hingga akhir hayatnya. ada beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa sakit yang diderita beliau adalah beser (kencing manis), tapi kita tidak bisa memastikan kebenaran riwayat ini karena Malik tidak pernah menyebutkan jenis penyakitnya itu dengan jelas.



Setting Sosio- Historis

Madinah di masa Malik bin Anas

Adalah Madinah,  tempat hijrah Rasulullah SAW,  tempat turunnya semua hukum syariat (kecuali masalah akidah dan shalat),  disanalah Nabi memerintah di tengah kaum muslimin,  menegakkan keadilan,  memutuskan perkara,  dan mendirikan pemerintahan yang pertama di antara orang-orang yang beriman,  yang kemudian dilanjutkan oleh 3 khalifahnya yang pertama (Abu Bakr, Umar, Ustman).  Akibat ketidakstabilan kondisi politik negara,  Ali bin Abi Thalib memindahkan pusat pemerintahan ke Kufah. Di masa dinasti Umayyah,  banyak dari para tabi'in yang menyingkir ke Madinah menghindari kesewenang-wenangan rezim pemerintah. Mereka lebih memilih berada disamping kubur Rasul,  membuka majlis Ilmu di masjid Nabi,  dan membantu menerangkan perkara-perkara agama kepada masyarakat.

Madinah bukanlah satu-satunya tempat tersebarnya ilmu hadist dan fikih, akan tetapi tidak diragukan lagi bahwa disanalah terdapat sumber ilmu-ilmu tersebut,  karena di Madinah lah ribuan sahabat dan tabi'in tinggal,  para ulama terkemuka banyak mengamalkan ilmunya,  serta para agamawan besar yang terus 'stand by' memecahkan berbagai persoalan umat.  Dari sekian banyak para agamawan terkemuka yang tinggal dan mengajar di Madinah pada masa tabiin,  terdapat 7 orang ulama yang dipandang mempunyai andil paling besar dalam mengajarkan ilmu dan menyebarkan hadits Rasulullah yang masyhur dengan sebutan "Fuqaha as-Sab'ah",  mereka adalah  :

  1. Sa'id bin Musayyab

Ahli fikih garis depan pada masa tabiin,  mengambil ilmu dari sebagian besar para sahabat,  mempelajari keputusan-keputusan hukum dari Abu Bakr,  Umar,  Ustman,  Zaid bin Tsabit,  mengambil riwayat hadits dari mertuanya,  Abu Hurairah.   Berkata Ja'far bin Rabiah : "Aku bertanya kepada Irak bin Malik : Siapa orang yang paling ahli dalam fikih di Madinah?",  dia menjawab " Adapaun orang yang paling faqih,  dan paling tahu tentang ketetapan Rasulullah SAW,  keputusan Abu Bakr,  Umar dan Ustman,  serta paling tahu mengenai apa yang telah lalu di kalangan manusia,  maka Said bin Musayyab-lah orangnya".

Said bin Musayyab banyak mengambil atsar Umar bin Khattab dalam masalah pengambilan ketetapan hukum dan fikih,  maka hal itu sangat mempengaruhi corak fikihnya,  karena Umar banyak menggunakan ra'yu-nya dalam mengambil keputusan yang tidak terdapat dalilnya di teks keagamaan.

  1. Urwah bin Zubaer bin Awwam

Adalah saudara kandung Abdullah bin Zubair dan keponakan Ummul Mu'minin Aisyah binti Abu Bakr,  mengambil banyak hadits dari sebagian sahabat,  lebih-lebih dari bibinya,  Aisyah,  sehingga dikatakan ia adalah orang yang paling tahu hadits-hadits yang diriwayatkan Aisyah. Kalau Sa'id bin Musayyab adalah orang yang paling tahu mengenai Qadhaya (keputusan hukum) Rasulullah dan para sahabat,  maka Urwah bin Zubaer adalah ulama  paling prolifik di bidang hadits.

  1. Abu Bakr bin Abdurrahman bin Harits      

Dijuluki Rahib dari Quraisy,  karena kezuhudan dan kewara'annya,  meriwayatkan hadits dari Aisyah dan Ummu Salamah.  Meskipun ia seorang fakih dan perawi hadits,  akan tetapi tidak sesering Sa'id bin Musayyab dalam berfatwa. Corak fikihnya banyak dipengaruhi oleh atsar para sahabat .  Wafat pada tahun 94 H.

  1. Al-Qosim bin Muhammad bin Abu Bakr

Keponakan Ummul Mu'minin Aisyah,  banyak mengambil hadits dari bibinya,  dan dari Ibnu Abbas. Merupakan ulama jempolan yang berhasil menggabungkan disiplin ilmu hadits dan fikih.  Seperti dikatakan dari Abu Zinad - salah satu guru Malik bin Anas- "Aku tidak pernah melihat seorang fakih yang lebih hebat dari al-Qosim,  dan aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih mengetahui sunnah Rasulullah darinya".

  1. Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas'ud

Meriwayatkan dari Ibnu Abbas,  Aisyah,  dan Abu Hurairah. Guru Umar bin Abdul Aziz yang palin berpengaruh dalam kehidupannya. Disamping seorang ahli hadits dan fikih ia juga kerap melantunkan Syair. Wafat pada sekitar tahun 94-99 H.

  1. Sulaiman bin Yassar

Bekas maula (budak) sayyidah Maimunah,  isteri Nabi. Meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit,  Abdullah bin Umar,  Abu Hurairah,  Ummahatul Mu'minin Maimunah, Aisyah Serta Ummu Salamah.  Meninggal pada tahun 100 H

  1. Kharijah bin Zaid bin Tsabit

Seorang pakar Fikih Rasional dan ahli dalam ilmu faraidh,  seperti Ayahnya,  Zaid. Tidak banyak meriwayatkan hadits. Pada mulanya adalah seorang ulama yang sering memberikan fatwa dan banyak berinteraksi dengan manusia. Akan tetapi, pada akhir hayatnya pergi menyendiri dan beruzlah. Oleh karena itu corak Fikihnya tidak banyak berkembang di masa selanjutnya.  

Madinah,  Keutamaan dan Dinamika Intelektual didalamnya

Cukuplah dalam pembahasan ini kami ketengahkan beberapa hadits mengenai keutamaan Madinah.

Dari Anas bahwa Rasulullah berdoa : "Ya Allah Jadikanlah madinah kota yang berkah,  seperti engkau berkahi Makkah"

Dari Aisyah Nabi berkata :  "Kota lain dibuka dengan pedang,  sementara Madinah dibuka dengan al-quran"

Dari Abu Hurairah Nabi berdoa  : "Ya Allah aku berdoa untuk madinah seperti Ibrahim kekasihmu berdoa untuk Makkah "

Ilmu penduduk Madinah

Berkata Zaid bin Tsabit : "Jika kau lihat penduduk Madinah melakukan sesuatu,  Maka ketahuilah bahwa itu adalah sunnah".

Ibnu Umar berfatwa : "Kalau saja muncul fitnah diantara manusia,  maka serahkanlah perkara kepada penduduk madinah".

Dari Malik : "Umar bin Abdul Aziz banyak menulis surat ke banyak kawasan islam untuk mengajari mereka sunnah dan fikih,  dan menulis surat kepada penduduk Madinah untuk menanyakan perihal apa yang ada di antara mereka.

Berkata Abdullah bin Umar : "Ibnu Zubair dan Abdul Malik bin Marwan menulis surat kepadaku,  keduanya mengajakku untuk bermusyawarah,  maka kukatakan kepada keduanya : "Jika kalian menginginkan musyawarah,  maka bergegaslah menanyakanlah kepada ahlul-madinah.

Abu Naim berucap :"Aku bertanya kepada Malik mengenai sesuatu,  maka dia berkata kepadaku : jika kamu menginginkan ilmu,  maka menetaplah di sini ( di Madinah) karena sesungguhnya Quran tidak diturunkan di Furat.

Mus'ab berkata : "Aku katakan kepada Habib bin Abi Tsabit : manakah yang lebih mengetahui sunnah dan fikih ; penduduk Hijaz atau Irak? Dia Menjawab : Penduduk Hijaz.


Sepeninggal Rasulullah,  banyak dari sahabat beliau yang memilih untuk menetap di Madinah. Di antara mereka adalah para 'Khulafa al-Rasyidin',  para ulama dikalangan sahabat,  serta para perawi hadits. Di sisi mereka terdapat ilmu dari al-Kitab dan sunnah Rasulullah,  mereka menghapalnya didada mereka dan berpegang teguh pada keduanya.  Apabila menghadapi permasalahan,  mereka segera mendapatinya  di al-quran dan hadits nabi dan jika tidak mendapati di keduanya maka mereka akan segera mendapatkan jawabannya dari para sahabat,  yang sebagian men-takhrij-nya dari al-quran sebagian lagi ber-istimbat dari hadits Rasulullah,  dan sebagian lagi menggunakan ijma' sahabat, dikarenakan banyak sahabat yang bermukim disana.

Seusai era sahabat,  para tabiin pun banyak yang menetap di Madinah,  mereka belajar sunnah dan atsar dari para sahabat,  sehingga mengetahui cara-cara untuk berijtihad dan mendapat berbagai macam ilmu. Diantara para tabiin,  terdapat 7  ulama yang mendapat julukan 'fuqaha al-sab'ah' karena keluasan dan kedalaman ilmunya. Mereka kerap berijtihad,  menganalisis suatu masalah serta menganalogikannya dengan  masalah lain yang sudah ada nashnya.

Bertolak dari berbagai kelebihan dan keutamaan Madinah dan penduduknya,  maka Imam Malik menjadikan "amal ahlul madinah" sebagai salah satu dasar metodologi istimbatnya,  kendati banyak mendapat kritik dan tentangan dari ulama lainnya karena menilai tidak semua amal penduduk madinah dapat dijadikan landasan hukum.



Konstruk Politik dan Kultural


Malik bin Anas dilahirkan di masa pemerintahan Walid bin Abdul Malik dari dinasti Umayyah dan wafat ketika khalifah Abasiyah, Harun ar-Rasyid memerintah. Ia hidup 40 tahun dimasa dinasti Umawiyyah dan 46 tahun di masa Abassiyah. Masa kejatuhan dinasti Umayyah adalah masa awal kematangan intelektualitas dan kesempurnaan ilmunya. Karena Malik hidup di kedua masa pemerintahan dinasti Umayyah dan Abassiyah, maka tentunya ia juga mengalami masa konstelasi situasi politik dan huru-hara yang terjadi saat kejatuhan kekhalifaan bani Umayyah.

Seperti yang telah lalu, Malik dilahirkan di masa kekhalifahan Walid bin Abdul Malik, yang ketika itu baru saja selesai memadamkan huru-hara politik sehingga kestabilan negara mulai terjaga. Kesejahteraan  dan kemakmuran negara mencapai masa puncaknya ketika khalifah Umar bin Abdul Aziz memegang tampuk kekuasaan (99-101 H). Sebagai ulama yang selalu mengamati perkembangan kondisi umat islam, Malik mengetahui fitnah dan persoalan-persoalan pelik yang terjadi di tengah-tengah umat. seperti apa yang terjadi antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, Kekejian rezim Yazid bin Muawiyah yang memasuki kota Madinah dan membantai penduduknya. Dan ia juga mengetahui fitnah yang terjadi antara Abdullah bin Zubair dengan Abdul Malik bin Marwan,  serta kerusakan yang ditimbulkan akibat pertikaian keduanya.

Kekacauan lain yang disaksikan oleh Malik bin Anas adalah pemberontakan Khawarij, yang  keluar dari umat seperti anak panah yang meluncur lepas dari busurnya. Mereka menafsiri teks keagamaan secara tekstual serta mencap kafir dan fasiq orang-orang selain mereka, yang halal ditumpahkan darahnya. Salah satu puncak peristiwa pemberontakan Khawarij adalah ketika pasukan Abi Hamzah menyerang Madinah,  membunuh penduduknya,  dan menduduki Madinah.

Tidak pernah terlintas di pikiran Malik untuk merelakan pemberontakan Khawarij. Baginya, berbelok dari pemerintahan yang sah tidak akan menimbulkan kemaslahatan, melainkan malah akan menyebabkan kerusakan yang lebih besar. Hal ini bukan juga berarti ia rela dengan kekuasaan dinasti yang berkuasa karena bagi Malik kekuasaan mereka bukanlah khilafah seperti di masa khulafa ar-asyidah, akan tetapi mengedepankan kemaslahatan umat adalah diatas segalanya, dengan pertimbangan mengambil resiko yang lebih kecil.

Masa peralihan kekuasaan kepada dinasti Abbasiyah adalah saat-saat kekacauan politik mencapai puncaknya. Perebutan kekuasaan antara dua dinasti telah mengakibatkan perang saudara yang berkepanjangan dan memakan banyak korban tak berdosa.  Melayangnya ribuan nyawa kaum Muslimin dengan sia-sia menjadikan hati Malik tersyat dan tidak pernah sudi merestui kejadian ini. Dari sini ia mulai berpikiran bahwa kemaslahatan umat harus dikedepankan, ia mengeluarkan fatwa yang mengecam segala bentuk gerakan separatis dan pemberontakan menentang kekuasaan, walaupun penguasa tersebut lalim.

Disamping aktif mengeluarkan fatwa yang menentang penggulingan kekuasaan yang sah, Malik juga rajin mendatangi para penguasa untuk menasehati dan memberikan petuah bijak kepada mereka.  Kedekatannya dengan penguasa ini berlangsung baik di masa pemerintahan bani Umayyah maupun Abassiyah. Bahkan tercatat, Malik bin Anas pernah menerima hadiah 3000 dinar dari khalifah Harun al-Rasyid.  Dengan sikap seperti itu, Malik pun menjadi ulama yang sangat disukai oleh para penguasa, karena dapat memuluskan langkah mereka untuk melanggengkan kekuasaan daripada kebanyakan ulama lain yang sering mengkritisi kebijakan pemerintah. Pun demikian, Malik memandang perbuatannya ini tidak lain hanyalah untuk kebaikan umat yang terlalu lama menanggung penderitaan akibat perebutan kekuasaan di tingkat elite pemerintah.

Semakin meluasnya kekuasaan pemerintah islam di masa itu – membentang dari Spanyol di sebelah barat hingga perbatasan Cina di sebalah timur - mengakibatkan persoalan yang dihadapi umat semakin pelik. Persentuhan antara agama dan peradaban islam dengan budaya setempat di negeri jajahan pun tak terelakkan. Untuk pertama kalinya teks-teks suci keagamaan harus beradaptasi dengan setting sosial-budaya kawasan taklukkan yang cukup bervariasi.  Persinggungan budaya seperti ini menyebabkan semakin bervariasinya penafsiran teks keagamaan. Corak penafsiran yang berkembang antara satu kawasan dengan yang lainnya juga semakin beragam, seperti Hasan Basri yang lebih ahli dalam  permasalahan seputar akidah dan filsafat karena di kota tempat tinggalnya,  Basrah disemarakkan oleh banyaknya sekte dan aliran yang berkembang disana. Sementara di Kufah konstruk fikihnya dibangun diatas pondasi yang diletakkan Ibnu Masud dan pemikiran rasionalisme Ibrahim an-Nakha'i serta semakin berwarna dengan kehadiran Abu Hanifah yang mengusung fikih Spekulatifnya (Taqdiri),  Damaskus dengan ragam fikih bil ma'tsur, yang digawangi oleh al-Alauza'i. adapun di Madinah, selain dikarenakan banyaknya atsar para sahabat dan tabi'in, juga terdapat ragam pemikiran rasional yang dikembangkan para sahabat seperti Umar bin Khattab dan Zaid bin Tsabit,  sehingga memunculkan perpaduan yang unik antara sunnah, atsar dan ra'yu.


Munculnya banyak sekte teologi dengan beragam wacana baru juga semakin menambah runyam keadaan.  Perdebatan seputar ilmu kalam seperti mengenai konsep irodat manusia (meliputi Qadariah dan Jabariah), Qadha dan qadar, sifat-sifat Tuhan, murtakibul kabair (pelaku dosa besar) serta masalah melihat Tuhan di akhirat juga mulai hangat diperbincangkan. Gencarnya kegiatan penerjemahan buku-buku asing juga turut menyumbang saham berkembangnya beragam pemikiran asing (seperti filsafat Yunani,  tradisi Persia dan budaya India) yang belum pernah dikenal sebelumnya. Konsep ide dari peradaban asing tadi spontan banyak diserap dan mempengaruhi para pemikir islam hingga tak aneh jika para ulama terkemuka pada saat itu sudah mulai akrab memperbincangkan wacana 'Hukum kekekalan alam semesta' ala Aristoteles,  maupun konsep  'wihdatul wujud ( bersatunya tuhan dan manusia)' yang berasal dari tradisi kebudyaan India.

Pandangan Teologi Malik bin Anas

Malik bin Anas dikenal sangat berpegang teguh pada sunnah Nabi dan atsar para sahabat,  dan itu menjadikannya sangat alergi terhadap banyak wacana yang dimunculkan oleh para teolog. Malik berpendapat bahwa tidak ada gunanya memunculkan wacana yang demikian,  karena langkah tersebut tidak pernah ditempuh oleh para "salafus-shalih" sebelumnya dan tidak memberi kemaslahatan bagi muslimin pada umumnya,  malah sebaliknya dapat membawa kaum muslimin ke jurang perdebatan dan saling bantah yang akhirnya berujung pada perpecahan umat islam.

Ketika menafsirkan teks keagamaan yang memancing perdebatan,  Malik cenderung mendekati ayat al-Quran dan Hadits secara tekstual dan tidak menafsirkannya lebih jauh. Seperti dikatakan oleh Sofyan bin Uyainah,  ketika datang seorang laki-laki menanyakan perihal ayat 'ar-Rahmaanu 'alal 'arsyi istawa',  Malik terdiam sejenak lalu mengatakan "istiwa itu ma'lum,  dan bagaimana  istiwa itu tidak diketahui,  menayakan perihal ini adalah bid'ah dan iman kepadanya adalah wajib,  karena itu kulihat kamu adalah seorang yang sesat".

Dalam permasalahan iman,  Malik memandang bahwa iman bukanlah i'tikad dan perkataan saja melainkan juga disertai dengan amal perbuatan sehingga sholat adalah bagian dari iman,  puasa bagian dari iman,  dan taat menjalankan perintah Allah juga bagian dari iman. Mendirikan sholat akan menjadikan imannya bertambah,  sementara meninggalkannya bakal mengurangi kadar iman.

Wacana 'irodat manusia' yang memancing perdebatan apakah ia 'murni kehendak manusia' seperti diklaim kelompok Qadariah ataukah 'kehendak Tuhan tanpa peran serta manusia' seperti kata para pengkut Jabariah,  tak pelak membuat Malik gerah. Ia sangat alergi dengan wacana kelompok Qadariah yang menganggap bahwa manusia bebas menentukan nasibnya sendiri tanpa terikat dengan Tuhan. Begitu sangat kebenciannya sehingga menyebut bahwa kelompok Qadariah tak lain adalah segerombolan orang-orang tolol dan melarang pengikutnya untuk menikahi seseorang dari kelompok Qadariyah, melarang
menshalati dan mengawal jenazah orang Qadariyah.  Sedangkan terkait
dengan wacana fatalistik Jabariyah,  Malik dikatakan tidak pernah sejalan dengan pikiran mereka.

Dalam persoalan 'murtakibul kabair' (pelaku dosa besar),  Malik nampak sejalan
dengan Abu Hanifah bahwa pelaku dosa besar adalah mukmin fasiq.
Dengan pandangan seperti ini,  Malik dan Abu Hanifah lebih condong
sejalan dengan kelompok Murji`ah moderat dan sekaligus berseberangan
dengan Muktazilah dengan ide al-manzilah bayn al-manzilatayn- nya dan
dengan Khawarij yang mengafirkan pelaku dosa besar.

Klaim tentang ke-makhluk-an al-quran yang didengungkan para pengikut Mu'tazilah tidaklah mendapatkan tempat dihati Malik. Ia mengatakan "Al-quran adalah kalam Allah,  maka barang siapa mengatakan al-Quran makhluk agar dicambuk dan dipenjarakan sampai ia mau tobat".

Resistansi Malik dan Mu'tazilah juga berlanjut dalam permasalahan " ru'yah Allah" (melihat Allah) kelak di akhirat.  Anggapan Kelompok Mu'tazilah akan ketidakmampuan manusia dalam melihat Allah,  lagi-lagi ditentang oleh Malik yang mengatakan bahwa manusia akan  melihat Allah dengan kedua matanya –atas penafsirannya secara literal ayat "wujûhun yawmaidzin nâdhirah,  ila rabbiha nâdhirah".
 
Sementara dalam persoalan politik dan kekhalifa-an,  Malik hanya menempatkan Ali  sebagai manusia biasa yang derajatnya setara dengan manusia lainnya dan secara hirarkis berada di bawah strata tiga Khalifah lainnya,  yaitu Abu Bakar,  Umar,  dan Utsman.  Dengan pandangan politik seperti ini,  Malik dipandang lebih cenderung memihak kelompok Umawiyin.  Malik berapologi bahwa Rasulullah memilih Abu Bakr untuk memimpin sholat –ketika beliau sakit-,  kemudian Abu Bakr memilih Umar sebagai penggantinya dan Umar menjadikan Ustman salah satu dari 6 calon yang akan menggantikannya,  sementara Ustman tidak pernah menunjuk atau mengisyaratkan kepada Ali untuk menjadi calon penggantinya.  

Pandangan Malik ini berbeda dengan Abu Hanifah dan al-Syafi'i.  Abu Hanifah memandang derajat Ali ra di atas manusia lainnya dan sederajat dengan tiga Khalifah yang lain,  bahkan secara hirarkis Abu Hanifah menempatkan Ali ra di atas Utsman.  Sementara al-Syafi'i mengungkapkan kecintaannya kepada Ali ra.  dan menegaskan bahwa Muawiyyah dan pengikutnya adalah Bughat.  Dengan pandangan politik seperti ini,  al-Syafi'i pernah dituduh sebagai orang Syi'ah.


Fikih Malik bin Anas

Rancang-bangun Fikih Malik bin Anas tidak mendadak muncul dalam kehampaan konteks partikular,  melainkan mewujud sebagai produk pemikiran yang
terkonstruksi oleh dialektika dan interaksi antara teks-teks keagamaan dengan fenomena sosial,  politik,  ekonomi,  dan kultural.  Sebagai sebuah konsep hukum,  tentunya fikih Malik mempunyai landasan pokok yang dijadikan pegangan dalam mengafirmasi hukum (Istimbat).  Karena Malik sendiri tidak pernah menjelaskan secara gamblang bagaimana cara kerja dan metodologi-nya dalam beristimbat,  maka para pengikutnya-lah  yang bekerja mensistemasi kerja ijtihad Malik bin Anas yang berserakan di al-Muwatha'.

Sebagian ulama berbeda pendapat mengenai landasan pokok fikih Malik.  Al-Qadhi `Iyadh mencatat secara hirarkis bahwa istinbath Malik berdasarkan al-Qur`an,  Sunnah,  `amal ahl al-madinah,  dan qiyâs (analogi).  Sementara al-Qarafi,  dalam al-Tanqîh,  menjelaskan dasar ijtihad Malik terdiri atas al-Qur`an,  Sunnah,  ijma',  `amal ahl al-madinah,  qiyâs,  qawl al-shahâby,  mashâlih al-mursalah,  al-`urf,  sad al-dzarâ`i',  
al-istihâb,  dan istihsân. Dalam uraian berikut ini,  insya Allah akan kami jelaskan sedikit dari landasan pokok fiqih Malik bin Anas,  menurut apa yang dikemukakan al-Qarafi.

  1. Al-Kitab
Untuk Al-Kitab,  Malik memandang bahwa ia adalah sumber dari segala sumber hukum,  pilar utama penyokong agama,  ayat risalah,  dan cahaya yang menunjuki kegelapan. Karena itu Malik tidak pernah mempertanyakan kredibilitas al-quran,  mempermasalahkan ke-makhlukannya ataupun mengkritik al-quran dengan barometer nalar,  Baginya al-quran adalah final. Sedangkan dalam mengambil hukum dari al-quran,  Malik mengedepankan dhahir teks terlebih dahulu,  apabila tidak ditemukan dalam dhahir teks,  maka dari persetujuan konsep (mafhum al-muwafaqat),  seperti dalam ayat 'walaa taqul lahumaa uff',  yang juga mencakup larangan memukul orang tua,  kemudian dari perselisihan konsep (mafhum al-mukhalafat),  misalnya ayat "khurrimat alaikum ummahatukum wa banatukum. . . . . dst" –ayat tentang orang-orang yang dilarang untuk dikawini-,  yang dapat dipahami bahwa selain dari mereka yang disebut di ayat tersebut,  boleh untuk dinikahi.

      2.   As-Sunnah
 Ada 3 fungsi dasar As-Sunnah berkenaan dengan al-quran. Pertama,  as-sunnah berperan sebagai penguat hukum yang sudah tertera didalam al-quran. kedua,  as-sunnah sebagai penjelas atas hukum al-quran yang masih bersifat global. ketiga,  al-sunnah memuat hukum-hukum yang belum dijelaskan oleh al-quran. Nah,  disini yang menjadi permasalahan adalah apabila as-sunnah itu sendiri bertentangan dengan dhahir teks al-quran,  manakah yang akan didahulukan ?.

Dalam kondisi seperti ini,  Malik bin Anas sependapat dengan Abu Hanifah yang lebih cenderung untuk memungut hukum dari dhahir teks al-quran dan melemahkan banyak hadits yang bertentangan dengan dhahir teks,  seperti ketika ia melemahkan hadits yang menyebutkan bahwa "rasul melarang memakan segala burung yang mempunyai kukur/cakar" hal itu dikarenakan bertentangan dengan dhahir ayat  :

(قل لآ أجد فى ما أوحي الي محرما على طاعم يطعمه الا أن يكون ميتة أو دما مسفوحا أو لحم خنزير. . . . . ) الأنعام   145.

"Katakanlah,  tiada aku peroleh dari wahyu yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya kecuali bangkai,  darah yang mengalir,  atau daging babi……. . "

Dalam masalah periwayatan hadits,  Malik terkenal sebagai ulama yang banyak menerima khobar ahad  dan mengambilnya untuk beristimbat. Malik berapologi bahwa khabar ahad tidaklah membuat suatu riwayat menjadi lemah,  dan bahkan mewajibkan untuk beramal dengannya.

Mengenai hadits mursal (putus sanadnya),  Malik juga sependapat dengan banyak ulama lain semasanya seperti Hasan Bashri,  Sofyan bin Uyainah,  dan Abu Hanifah yang menyetujui penerimaan hadits mursal untuk pengambilan hukum,  seperti dalammuwatho'-nya tersebut  hadits mursal yang berbunyi "berkata Malik dari Ja'far bin Muhammad dari bapaknya bahwa Rasulullah Saw telah menetapkan keputusan tentang saksi dan sumpah"   disitu tidak disebutkan perawi dari kalangan sahabat,  sehingga sanadnya putus. Lalu faktor apa yang mendorong Malik untuk menerima hadits mursal? Malik menegaskan  bahwa ia tidak menerima semua hadits mursal secara mutlak,  akan tetapi hanya mengambil periwayatan dari para perawi yang benar-benar tsiqoh dan dapat percaya. Adapun dari para perawi yang diketahui kurang tsiqoh dan tidak dapat dipercaya,  maka Malik otomatis menolak riwayat darinya.

Sering kali para peneliti memposisikan Malik bin Anas sebagai raksasa klasik yang menjadi representasi dari Fikih yang yang berkutat-kutat di sekitar hadits,
tradisi sahabat serta tabi'in,  dan jauh dari rasionalitas,  sementara
Fikih Abu Hanifah digambarkan sebagai representasi Fikih rasional-
progresif.
 Pandangan seperti ini mungkin benar kalau dialamatkan kepada Abu Hanifah,  tetapi tidak benar kalau dinisbatkan kepada Malik. Ke-rasionalitas-an Malik bin Anas tidakl kalah dengan Abu Hanifah,  Ibnu Qutaybah sendiri menyebut Malik sebagai faqih ra'yu dan menempatkannya sejajar dengan Rabiah ar-ra'yu dan Yahya bin Said. Rasionalitas Malik bin Anas dapat dilihat ketika ia memasukkan perangkat –perangkat  seperti,  qiyâs,  mashâlih al-mursalah,  al-`urf,  sad al-dzarâ`i',  al-istishâb,  dan istihsân sebagai alat untuk menggali dan mengeluarkan hukum itu sendiri. Malik juga dikabarkan acap mendahulukan qiyas atas khabar ahad,  dengan didasari pertimbangan bahwa alasan peng-kiyasan adalah untuk kemaslahatan (mashalih al-mursalah) dan mencegah kerusakan (sad al-dzaraii'),  seperti penolakannya atas khabar "barang siapa mati dan mempunyai tanggungan puasa,  maka hendaklah keluarganya berpuasa untuknya". Argumen Malik dalam hal ini disandarkan pada pengkiasan bahwa orang ditimbang sesuai dengan amal perbuatannya sendiri,  dan bukan orang lain,  dengan mengacu kepada ayat ألا تزر وازرة وزر أخرى                        

  1.  Qaul al-shahaby
Malik,  bersama Ahmad bin Hanbal adalah salah dua imam yang sangat menjunjung tinggi dan mengapresiasi perkataan dan fatwa para sahabat.  Bagi Malik sendiri,  berpegang teguh pada perkataan para sahabat merupakan suatu keharusan. Hal ini disebabkan karena para sahabat adalah generasi pertama umat islam,  mereka adalah pembantu Rasulullah dalam berjuang, hidup mereka selalu disamping Rasulullah Saw,  mereka adalah golongan yang paling tahu tentang agama,  mereka adalah generasi yang dipuji dan diabadikan Allah di dalam al-quran (was saabiquunal awwaluna minal muhajirin wal ansar. . . ),  serta masih banyak kelebihan lain yang dimiliki oleh para sahabat.

Tak pelak lagi hal itu yang menjadikan Malik menerima qaul al-sahaby,  sebagai pijakan hukum dan menganggap perkataan mereka adalah sunnah. Sementara untuk fatwa dan perkataan tabiin,  Malik baru menjadikannya hujjah dan dasar hukum jika selaras dan tidak menyalahi perkataan para sahabat.
           
  1. Konklusi (Ijma')
Diantara para imam mazhab yang lain,  agaknya dapat dikatakan Malik-lah yang paling banyak menggunakan ijma',  sebagai dalil dan hujjah. Hal itu akan kita dapatkan apabila kita buka di lembaran al-muwatho',  seperti dalam permasalahan waris untuk saudara ibu.  Di al-muwathho',  Malik menyebutkan bahwa menurut ijma' (para ulama di masa Malik) saudara dari pihak  ibu tidak mewarisi jika bersama anak (lk) ataupun anak (lk) dari anak (lk),  baik itu laki-laki atau perempuan.  Dan juga tidak mewarisi jika bersama ayah,  kakek,  mereka baru dapat warisan jika bersama selain yang disebutkan diatas.  Adapun pembagiannya adalah apabila sendiri mendapatkan 1/3 dan jika lebih dari seorang akan mendapat 1/6,  dengan tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan.

Di dalam karya monumentalnya tersebut,  Mallik sering menggunakan kata "al-amru al-mujtama' alaihi 'indana".  Beberapa ulama berbeda pendapat dalam memaknai perkataan Malik tersebut.  Al-Ghazali dalam 'al-musttashfa' menyebutkan bahwa dalam pandangan Malik,  hujjah hanya dapat ditemukan dalam ijma' ahl al-madinah saja,  dengan menafsirkan kata "al-mujtama' sebagai "mujtama" dimana Malik tinggal,  yaitu Madinah.

Sementara ulama lain berpendapat bahwa kata "mujtama" di situ bermakna mujtama muslimin seluruhnya,  dan tidak hanya terbatas pada mujtama' madinah saja.  Apapun penafsiran para ulama tentang pandangan Malik bin Anas mengenai ijma',  yang jelas ia menempatkan posisi ahl al-madinah di kedudukan yang tinggi.

    5.  Amal ahl al-Madinah
Ini adalah landasan pokok fikih Malik yang paling kontroversial. Pasalnya Malik menjadikan semua perbuatan dan ijma' penduduk Madinah untuk dijadikan dasar hukum. Sering kali dalam perkataannya ia menyebutkan kata " al-amru mujtama' alaihi 'indana ",  yang menunjukkan keteguhan Malik dalam berpegangan pada amal penduduk Madinah,  dan tidak diperbolehkan menyelisihi apa yang telah mereka perbuat. Ia mengemukakan argumen bahwa al-quran – sumber pokok landasan hukum-  dan sunnah,  adalah turun di sana,  dan para penduduknya adalah masyarakat pertama yang dikenai taklif,  mereka jugalah yang di-khitob pada banyak ayat al-quran,  merkalah yang mula-mula menegakkan agama,  dan mereka pula yang hidup bersama-sama Nabi dan melihat serta mentaati segala yang beliau perbuat dan perintahkan. Setelah Nabi wafat,  amalan dan sunnahnya terus dihidupkan oleh para sahabat hingga tidak aneh jika Malik menganggap bahwa segala yang mereka perbuat dan putuskan tak lain adalah sunnah Nabi Saw.

Ia juga kerap mendahulukan amal ahl al-madinah daripada khobar ahad,  karena apa yang masyhur dilakukan penduduk Madinah tak lain adalah sunnah ma'tsurah sehingga harus didahulukan dari khobar ahad,  yang hanya bersifat dzanni.

Tak pelak lagi keberanian Malik menjadikan amal penduduk Madinah sebagai dalil,  mendapat sorotan dan kecaman dari berbagai pihak,  termasuk Imam Syafi'i,  muridnya sendiri Bagi mereka yang mengkritik,  Arabisme Malik bin Anas telah mengakibatkannya berambisi menjadikan tradisi dan segala aktivitas Madinah sebagai undang-undang.  `Amal ahl al-madinah sejatinya hanyalah tradisi dan kultur Madinah yang kemudian diberi label Islami dan dianggap sebagai bagian dari agama Islam itu sendiri.  `Amal ahl al-madinah tidak lebih sekadar produk interaksi masyarakat Madinah dengan konstruksi sosio-ekonomi pada waktu itu yang diasumsikan oleh Malik sebagai Sunnah Nabi.  Ringkasnya,  para pengkritik itu hanya hendak menyatakan bahwa `amal ahl al-madinah hanyalah undang-undang Arab yang kemudian diberi merek Islami oleh Malik bin Anas.                                                                                      

     6.   Analogi (qiyas)
Para imam mazhab sepakat dalam penggunaan qiyas dalam penggalian hukum,  hanya saja frekuensi penggunaanya,  berbeda pada tiap-tiap imam mazhab. Abu Hanifah tercatat sebagai imam yang paling banyak menggunakan qiyas,  diikuti oleh Malik dan as-Syafii,  kemudian baru disusul oleh Imam Ahmad di urutan terakhir .  Nabi sendiri pernah mengisyaratkan penggunaan metode qiyas. Seperti dalam satu riwayat ketika sahabat Umar bin Khatab mengadu kepada Nabi bahwa ia mencium istrinya di siang hari bulan Ramadhan. Lantas Nabi bertanya apakah batal puasanya apabila ia berkumur,  Umar pun lantas menjawab tidak.  Dari riwayat ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa Nabi mengkiyaskan satu permasalahan dengan yang lainnya karena adanya kesamaan illat.

Sedikit berbeda adalah jalan yang ditempuh malik dalam mengkiyaskan suatu permasalahan,  ia kerap mengkiyaskan suatu hukum dengan hukum yang juga merupakan hasil pengkiyasan,  pendapat ini banyak ditentang para ulama yang berpendapat qiyas tidak dapat dilakukan kecuali berdasarkan al-kitab,  sunnah,  dan ijma' saja,  bukan seperti kata Malik. Penggunaan qiyas dengan hukum yang juga hasil dari pengqiyasan baru bisa dilakukan apabila suatu permasalahan tidak dapat ditemukan di kitab,  sunnah dan ijma'.  Malik beralasan bahwa hal itu bisa saja dilakukan sepanjang  terdapat kesamaan illat pada permasalahan tersebut.

  1. Istihsan
Konsep isitihsan yang digunakan Malik,  semakin membuktikan kerasioanalan-nya,  sebab konsep ini tidak dipakai oleh imam yang lain selain Abu Hanifah. Malik bahkan menganggap bahwa istihsan adalah sembilan per sepuluh (9/10) ilmu. Ia mencontohkan bahwa konsep ini dapat diterapkan (setelah tidak ditemukan di  al-kitab dan sunnah),  apabila qiyas yang digunakan sebelumnya tidak mengandung maslahat dan mencegah dari kerusakan (dar'u al-mafasid).  Seperti dibolehkannya saksi yang tidak adil,  apabila hakim jarang menemukan orang yang adil di daerah tersebut,  dan dibolehkannya meminjam uang dengan riba –dengan kadar yang sedikit- apabila tidak ada lagi yang bersedia meminjamkannya uang,  sementara kebutuhan mendesak.

Malik menerangkan bahwa esensi konsep istihsan yang sebenarnya adalah sebuah pengecualian atas suatu hukum partikular (hukm juz'i) terhadap hukum asal yang universal (asli kulli),  dengan bertujuan untuk mencegah kesulitan dan kerusakan. Esensi istihsan yang dikemukakan Malik ini hampir sama dengan konsep masalih al-mursalah,  hanya saja istihsan ini merupakan pengecualian saja terhadap hukum asal,  dan berbeda pada masalih al-mursalah.  

Penerapan konsep istihsan oleh Malik ini tak pelak mengundang kritik oleh banyak kalangan termasuk muridnya sendiri,  as-Syafi'ie. Bahkan ia sampai mengarang satu
kitab "Ibthal al-Istihsan" yang diproyeksikan mencounter konsep Istihsan yang dianut Malik karena dipandang kelewatan dalam menggunakan barometer nalar

     8.    Istishab
Merupakan salah satu sumber peng-afirmasi-an hukum fikih (istimbat),  yang membedakannya dengan sumber yang lain adalah,  karena ia adalah sumber negatif (ashl salbi) bukan sumber positif (ashl ijabi),  dalam artian ia bukanlah sumber untuk menetapkan hukum dengan dalil-dalil yang menetapkannya,  melainkan sumber untuk menetapkan hukum dengan dalil-dalil yang menunjukkan ketiadaan perubahan hukum asal. Ibnu qayyim mendefinisikan istishab sebagai : 'suatu keadaan yang eksis atau berlangsung tetaplah eksis,  dan suatu keadaan yang tidak ada atau non-eksis tetap tidak ada sepanjang tidak adanya dalil yang menunjukkan keadaannya telah berubah'

Contoh kongkritnya,  misalnya seseorang yang hilang –tidak diketahui keberadaannya- dalam waktu yang cukup lama (katakanlah 20 tahun). Maka orang tersebut dihukumi masih hidup sepanjang tidak ada dalil yang membuktikan ia sudah meninggal,  dalam hal ini maka tidak diperbolehkan membagi-bagi hartanya kepada ahli warisnya. Dalam menetapkan istishab sebagai sumber hukum,  kali ini Malik tidak sependapat dengan Abu Hanifah,  yang menolak memasukkan istishab sebagai dasar hukum metodologinya.

       9.      Mashalih al-mursalah dan Sad al-dzarâ`i'
 Seluruh ulama (termasuk Malik) sepakat bahwa Allah menurunkan syariat (aturan hukum) tiada lain selain untuk mengambil kemaslahatan dan menghindari kemadaratan (jalbul mashalih wa dar’ul mafasid).  Dengan bahasa yang lebih mudah,  aturan-aturan hukum yang Allah tentukan hanyalah untuk kemaslahatan manusia itu sendiri.   kemaslahatan ini terbagi kepada tiga bagian penting yaitu dharuriyyat (primer),  hajiyyat (skunder) dan tahsinat (tersier, lux).

Maslahat Dharuriyyat adalah sesuatu yang mesti adanya demi terwujudnnya kemaslahatan agama dan dunia.  Apabila hal ini tidak ada,  maka akan menimbulkan kerusakan bahkan hilangnya hidup dan kehidupan seperti makan,  minum,  shalat,  shaum dan ibadah-ibadah lainnya.  Yang termasuk maslahat atau maqashid dharuriyyat ini ada lima yaitu: agama (al-din),  jiwa (al-nafs),  keturunan (an-nasl),  harta (al-mal) dan aqal (al-aql).


       10.  'Adat dan 'Urf
Universalitas Islam menjadikan dirinya sanggup terbuka bagi unsur apa pun.  Keuniversalan bukan hanya berarti kapan saja,  di mana saja bisa berlaku; namun juga kapan saja di mana saja ia cukup terbuka bagi kearifan lokal.  Keuniversalan dalam arti ini berarti terdapatnya sejumlah skema umum dalam ajaran Islam yang sanggup menyesuaikan dan menempatkannya menjadi bagian dari sistem ajarannya,  miliknya. .
'Urf ialah sesuatu yang telah dikenal oleh masyarakat dan merupakan kebiasaan di kalangan mereka baik berupa perkataan maupun perbuatan.  'urf bisa disebut adat (adat kebiasaan),  sekalipun dalam pengertian istilah hampir tidak ada perbedaan pengertian antara 'urf dengan adat,  namun dalam pemahaman biasa diartikan bahwa pengertian 'urf lebih umum dibanding dengan pengertian adat,  karena adat disamping telah dikenal oleh masyarakat,  juga telah biasa dikerjakan di kalangan mereka,  seakan-akan telah merupakan hukum tertulis,  sehingga ada sanksi-sanksi terhadap orang yang melanggarnya.  
Bahwa 'urf shahih (yang sesuai dengan syara') dapat dijadikan dasar hujjah selama tidak bertentangan dengan syara'.  Malik terkenal dengan pernyataannya bahwa amal ulama Madinah dapat dijadikan hujjah,  demikian pula Abu Hanifah menyatakan bahwa pendapat ulama Kufah dapat dijadikan dasar hujjah.  Imam Syafi'i terkenal dengan qaul qadim dan qaul jadidnya.  Ada suatu kejadian tetapi beliau menetapkan hukum yang berbeda pada waktu beliau masih berada di Mekkah (qaul qadim) dengan setelah beliau berada di Mesir (qaul jadid).  Hal ini menunjukkan bahwa ketiga madzhab itu berhujjah dengan 'urf.  Tentu saja 'urf fasid (yang tidak sesuai dengan syara') tidak mereka jadikan sebagai dasar hujjah.


Epilog

Demikianlah yang sedikit ilustrasi mengenai gambaran umum sosok ulama dar al-hijrah ini. Adapun yang dapat kita ambil dari sosok Imam Malik adalah contoh beliad merupakan ulama yang sangat berhati-hati dalam mengeluarkan fatwa, banyak mendasari mazhabnya dengan basis religius al-Quran dan Sunnah, menghargai tradisi leluhur yang baik (salaf al-salih), dan yang tak kalah pentingnya Malik bin Anas adalah orang yang sangat respek terhadap peran aktif akal dalam merumuskan suatu kaedah atau putusan hukum.

Belajar dari Malik, kita dapat menemukan sikap moderat dan menjunjung tinggi asas pluralitas budaya. Hal ini nampak kentara apabila kita menengok sikapnya yang tidak membiarkan sang Khalifah untuk menggantung karya monumentalnya, al-Muwatho' di depan pintu Ka'bah. Hal ini tidak lain untuk menjaga perasaan ulama atau pengikut mazhab lainnya yang mempunyai pemikiran yang tak sama. Apabila sikap dari sang pendiri mazhab Maliki ini kita ambil, fanatisme golongan, dan konfrontasi antar pengikut mazhab berbeda tidak akan menemukan bentuknya. Intinya, sikap saling respek dan menghargai adalah suatu keniscayaan untuk membentuk kembali kesatuan dan persatuan umat yang kerap terkoyak. Wallahu a'la wa a'lam.


                                                                                                                                         

                                                                                                                    Kairo, 14 Ramadhan 1428 H

0 comments:

Post a Comment