Saturday, September 4, 2010

Rekonstruksi Maqashid al-Syari’ah dalam Perspektif Thahir bin ‘Asyur


(Sebuah Upaya mendialogkan kembali syariat dengan realitas)

Oleh : Ahmad Muhammad

   I. Abstraksi

Fikih klasik, sebagai sebuah produk hasil penalaran dan ijtihad para ulama dimasa silam, kerap disalah artikan dan didudukkan sebagai entitas yang bersifat absolut. Kedudukan fikih, sebagai sebuah penafsiran agama yang  relatif, seringkali disamakan dengan agama itu sendiri, yang mutlak, bebas dari kesalahan. Implikasinya, setiap problem yang muncul di realitas kekinian, harus selalu merujuk pada kekuatan magis fikih klasik dalam mencarikan jalan keluar. Dan akibatnya jelas, semua fenomena yang terjadi di era kontemporer harus selalu patuh pada otoritas tunggal masa silam. Inilah mengapa banyak produk fikih yang dihasilkan menjadi mandul dan terkesan mengawang diatas cakrawala peradaban masa silam. Hal inilah yang kemudian menjadi biang keladi dari banyak kegagalan fikih klasik dalam berdinamika dan berdialog dengan anak-anak zaman sekarang.

Pemahaman yang menyeluruh terhadap sejarah fikih klasik sangat mungkin akan melahirkan kesadaran betapa pentingnya mengedepankan

Resensi Buku : I'tirafat al-Ghazali aw kaifa arrakha al-Ghazali nafsahu, Sebuah otokritik atas otobiografi al-Ghazali



"Sesungguhnya al-Ghazali adalah guruku, namun kebenaran dan hakikat lebih layak dikedepankan daripada al-Ghazali" (muallif).



Prolog

Adalah Al-Ghazali, imam besar ahlus sunnah, seorang sufi, teolog dan ahli di berbagai disiplin ilmu yang berkembang di zamannya. Pemikirannya yang unik turut  serta mewarnai jagat pertarungan pemikiran islam waktu itu. Dan sosoknya yang kontroversial tak jarang mengundang decak kagum pendukungnya,  walaupun banyak juga yang mengkritik dan mengecamnya.

Al-Ghazali adalah lautan yang terbentang luas dan dikedalamanya mengandung mutiara yang berharga nilainya. Al-Ghazali bagaikan Al-Syafi'i kedua, Hujjatul Islam, dan maha guru dari para guru. Demikianlah pujian-pujian yang dilontarkan oleh para pengagumnya. Sementara di lain pihak, para pengecam dan pengkritik al-Ghazali menuduhnya telah melakukan kesalahan besar terhadap perjalanan sejarah islam, karena dalam memberikan solusi terhadap problematika umat, lebih cenderung mengajak mereka untuk memasuki jalan tasawuf yang mengabaikan kehidupan dunia dan mengahambat kemajuan masyarakat, karena tenggelam dalam mencari kebahagiaan yang bersifat pribadi dan individualistis.


Disamping itu, para filosof islam juga berpendapat bahwa al-Ghazali, melalui karya-karyanya di bidang teologi dan filsafat, juga turut andil tidak hanya dalam menghancurkan filsafat metafisika, tetapi juga dalam melemahkan umat islam dalam mengadakan riset dan penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan alam.

Imam Malik bin Anas; Sebuah Biografi


 
Prolog

Tidaklah mudah berbicara mengenai kebesaran seorang tokoh secara menyeluruh dan komperehensif tanpa dilakukan studi yang mendalam. Pembelajaran yang sepotong-sepotong malah akan menimbulkan pemahaman dan persepsi yang keliru.  Oleh karena itu dibutuhkan pembacaan secara menyeluruh dan kaafah yang akan mendekatkan kita pada realitas yang sebenarnya tanpa didasari oleh sikap fanatik sempit ataupun permusuhan.

Demikian pula dalam konteks ini,   jika kita mempelajari imam malik yang notabene seorang ahli hadits dan fikih tanpa menilik metode yang digunakan beliau dalam meriwayatkan hadits dan meng-istimbat hukum maka salah-salah kita malah menjauh dari realitas obyektif sosok beliau yang sebenarnya.