Tuesday, August 31, 2010

RAMADHAN DI NEGERI PARA NABI

Berpuasa di negeri orang, memang selalu menyisakan sejuta cerita menarik entah karena melihat adat kebiasaan masyarakat setempat dalam menjalankan puasa, yang tentu saja berbeda dengan budaya kita, maupun merasakan luapan rasa kangen yang membuncah bila ingat kehangatan berpuasa bersama keluarga tercinta. Kamis kemarin, Darul Ifta’ (Lembaga Fatwa) Mesir menetapkan bahwa awal ramadhan jatuh pada hari sabtu, 22 Agustus 2009. Tidak ada perbedaan dalam menentukan awal puasa disini, karena semuanya mengikuti instruksi dari darul ifta’ ,tidak ada isbat (penetapan) awal ramadhan dari organisasi kemasyarakatan maupun lembaga tertentu, karena pihak yang berwenang dalam hal ini hanyalah Darul Ifta’, lembaga fatwa tertinggi di Mesir. Hal ini merupakan sesuatu yang positif mengingat kemaslahatan dan persatuan umat lebih penting daripada rasa egois masing-masing yang malahan berpeluang membingungkan masyarakat seperti yang biasa terjadi di negara kita.



Menjelang ramadhan masyarakat mulai bersiap-siap menyambutnya tentu dengan caranya masing-masing. Para imam masjid menyiapkan materi-materi khutbah yang akan disampaikan, para dosen bersiap untuk menghadiri berbagai seminar dan kajian yang dihelat selama bulan ramadhan, Para ta’mir masjid bersegera menyediakan Iftar Jama’I (buka bersama), biasa dikenal dengan Maidatur Rahman yang diperuntukkan bagi siapa saja yang menginginkannya. Sementara para penduduk menyambutnya dengan membeli buku-buku keagamaan, kaset-kaset ceramah, serta aktif menghadiri halaqoh-halaqoh yang banyak diselenggarakan di masjid-masjid guna mengisi jiwa dengan siraman rohani menyambut bulan nan suci. Adapun para “Fir’aun” wa ahaluhu (dan konconya) yang biasanya banyak berkeliaran mendadak lenyap, hilang begitu saja digantikan dengan “Musa-musa” yang berhati tulus dan bersih. Mesir seakan berubah sepenuhnya, dipenuhi dengan manusia-manusia suci layaknya para nabi, sesuai dengan julukannya ‘ardhul anbiya’ (Negeri para Nabi).



Tak mau ketinggalan menyambut ramadhan, pusat-pusat perbelanjaan, baik pasar tradisional sperti atabah, hay tamin, maupun mall-mall seperti Genena, Sarag dan Star City, semuanya mulai sesak diserbu pengunjung. Layaknya di tanah air, barang-barang yang diborong tidak jauh dari barang keperluan ibadah seperti sajadah, kopiah, jalabiah (jubah) tasbih, mushaf al-Quran, dan buku-buku keagamaan. Disamping juga berbagai barang kebutuhan pokok seperti beras, minyak, gula, tepung, dan sebagainya. Tapi anehnya, meskipun ada momen yang istimewa, tapi tidak terlihat kenaikan harga barang karena semua pedagang sudah diwanti-wanti pemerintah untuk tidak menaikkan harga yang memang sudah semakin tinggi -akibat terjangan badai inflasi yang menimpa beberapa bulan yang lalu- karena dapat mengakibatkan ketidak stabilan ekonomi di kalangan masyarakat. Agaknya himbauan itu dipatuhi oleh para pedagang, kecuali beberapa orang yang ‘nakal’ tetap menaikkan harga.





Kebiasaan kita di tanah air, biasanya menyambut bulan puasa dengan berziarah ke makam Ulama dan Auliya’ dengan mengharapkan berkah sang wali sehingga membuat hidup lebih baik, mujur dan selamat. Dan juga biasanya kita ramai mengunjungi makam kerabat dan sanak saudara yang telah mendahului, biasanya dilakukan dengan membacakan surat Yasin dan tahlil, kemudian dilanjutkan dengan membersihkan makam dari kotoran dan rumput liar. Hal ini tentu berbeda dengan yang dilakukan masyarakat Mesir, dimana mereka terbiasa menyambut ramadhan dengan menghias rumah dengan membentangkan kain besar (terpal) berwarna ceria dan menambahkannya dengan lampion, hiasan, dan lampu kerlap-kerlip. Mereka juga saling bertukar halawah (manisan) kepada tetangga dan sanak famili. Hal ini mempunyai makna bahwa bulan yang indah dan manis akan segera tiba, dan berharap semoga bulan yang manis ini dapat dilalui dengan manis pula.





Menjalankan taraweh di Kairo, seperti halnya di Indonesia, juga terjadi perbedaan jumlah rokaat, sebagian masjid menjalani teraweh ala Muhammadiyah, yaitu dengan 11 rakaat, dan sebgaian lagi ala NU yaitu 23 rakaat. Namun yang terakhir ini sangat jarang seklai ditemukan. Sepanjang pengamatan penulis, hanya Masjid al-Azhar dan masjid Imam Houssen saja yg melaksanakan teraweh ala NU ini.. Perbedaannya dengan Indonesia, disini hampir rata-rata masjid menggunakan Al-Quran (selain juz amma) dalam pembacaannya, dan biasanya merampungkan al_Quran 30 juz selama 30 hari puasa, jadi tiap hari 1 juz, yang dikerjakan secara perlahan dan tenang, tidak terburu-buru layaknya sopir mikrolet mengejar setoran, seperti jamak kita jumpai di Indonesia. Ada lagi satu pemandangan unik mengenai teraweh disini, yaitu ketika selesai 2 salam pertama, maka imam tidak serta merta meneruskannya, melainkan berhenti sejenak memberikan waktu para jamaah untuk istirahat dan imam menyampaikan mauidhoh dan tausyiahnya barang sejenak, setelah dirasa cukup, lalu Imam pun melanjutkan sholat.



Adapun anak-anak, tentu menganggap ramadhan sebagai momen yg spesial, entah apakah mereka mengetahui keistimewaan yang terkandung di dalamnya atau tidak, tapi yang jelas selama bulan ramadhan jam bermain mereka bertambah hingga setelah sholat teraweh. Tatkala orang sedang khusyuk menjalankan sholat teraweh, anak-anak ini sibuk juga denngan beraneka ragam permainannya, seperti saling lempar petasan (petasan banting yang relatif tidak membahayakan), main bola, kejar-kejaran dan sebagainya. Umumnya mereka memainkannya di luar masjid atau di pelatarannya yang agak lapang, karena takmir masjid selalu melarang mereka masuk masjid, dan saya rasa tindakan ini ada benarnya sebagai antisipasi anak-anak ini membuat keributan yang dapat mengganggu kekhusyukan para jamaah. Sejenak saya ingat waktu kecil dulu,bagi saya ramadhan adalah bulan yang penuh berkah bagi anak-anak kecil seperti kami, karena itu berarti ada waktu tambahan buat bermain, dimulai setelah buka, saya biasanya langsung membeli petasan, entah cuman kembang api, petasan “sreng” (yang dapat meluncur seperti roket), maupun petasan yang dapat meledak (mercon). Setelah puas bermain petasan, biasanya saya dan teman-teman langsung bergegas berangkat, bukan berangkat ke masjid untuk sholat teraweh, tapi berangkat ke tempat penyewaan game, disana kami main game sampai selesai shalat tarawih, bahkan kadang lebih lama. Setelah itu pulang ke rumah seakan-akan baru pulang dari masjid. Yah…begitulah dunia anak-anak, Dunia yang tak pernah lepas dengan yang namanya permainan, Karena memang jiwanya masih belum mampu menangkap arti kehidupan yang sesungguhnya.



Berbuka puasa tentulah sebuah momen yang ditunggu-tunggu setiap orang yang berpuasa. Berbuka di Mesir selalu menemukan keunikan, karena kalau kita edarkan pandangan kita niscaya banyak kita jumpai masjid-masjid yang mengadakan Ifthar Jama’i (buka bersama) yang acap disebut Maidatur Rahman (Hidangan dari Dzat yang maha pengasih) disebut demikian karena para muhsinin (dermawan) yang menyisihkan sebagian rezekinya itu berharap dapat meneladani salah satu sifat Allah yaitu ar-Rahman (Maha pengasih). Saling berkasih sayang dan mencintai sesamanya, mengasihi makhluk agar mendapat kasih sayang Sang Khalik.



Hidangan yang disediakan dalam maidatur rahman pun, tidak bisa dianggap ala kadarnya, bahkan cukup istimewa. Sepotong besar ayam, atau ¼ kg daging, selalu menjadi menu utama, ditambah sup, nasi mesir ( nasi yg dibumbui minyak, ditambah campuran mie dan kacang-kacangan), nyaris setiap hari memanjakan lidah para jamaah. Menu seperti ini sudah merupakan hal yang istimewa bagi orang mesir, menengok sehari-hari menu makanan mereka di rumah -untuk kalangan menengah ke bawah- paling-paling hanyalah isy (roti yg terbuat dari gandum, makanan pokok rakyat mesir), full (kacang yang telah dihancurkan lalu di rebus, dimakan bersama ‘isy) dan beberapa sayuran saja, apalagi di tengah kondisi negara yang tidak bisa dikatakan stabil, sangat jarang rakyat dapat menemukan daging dan ayam dengan harga yang terjangkau. Dengan kondisi semacam itu, tentu saja kehadiran ‘Maidatur Rahman’ menjadi semacam berkah tersendiri bagi mereka, karena setidaknya beban kehidupan bisa sedikit terkurangi. Saya jadi teringat akan menu buka puasa bersama di Indonesia. Sangat jarang kita temui masjid-masjid di Indonesia yang mengadakan buka bersama, itupun kalau ada dengan menu layaknya nasi warteg murahan, satu kepal nasi, secuil ikan dan sambal saja. Sangat memprihatinkan !.



Oh ya kalau anda berkesempatan merasakan hidangan maidatur rahman, pasti akan anda jumpai sesuatu yang berbeda, yaitu ayam dengan rasa yang benar-benar ayam atau daging berasa daging. Yah maksud saya adalah anda akan merasakan ayam/daging yang dimasak begitu saja dengan tanpa bumbu apapun, tawar begitu saja. Entah karena tidak tahu cara memasaknya, atau tradisi mereka yang memang seperti itu, sampai-sampai ada pameo “Kalau ingin merasakan ayam dengan rasa ayam maka datanglah ke Mesir, tapi kalau ingin merasakan ayam dengan rasa bumbu maka datanglah ke Indonesia”. Sekilas ada benarnya juga pameo ini, sebagaimana kita ketahui di Indonesia banyak sekali dijumpai makanan dengan rasa yang berbeda, krupuk rasa udang, rasa bawang, roti rasa keju, coklat, ayam rasa kecap, rasa barbeque dan entah apalagi rasanya, menjadikannya sudah tidak asli lagi rasanya. Entah karena tersedianya bumbu masakan yang melimpah di Indonesia, kepolosan orang mesir atau malah menunjukkan tingkat kreatifitas mereka sangat rendah, Ah entahlah….



Lain lubuk lain ilalang, lain negeri lain pula adat kebiasaannya, begitulah sekelumit gambaran berpuasa di negeri para Nabi ini. Banyak hal baru yang menarik untuk dilihat disini, tentunya dengan berbagai sisi plus minusnya yang dapat kita petik untuk dijadikan bahan pelajaran. Akan tetapi bagaimanapun juga menjalankan puasa di tanah air adalah sesuatu yang selalu dirindukan, bersama dengan hangatnya keluarga dan teduhnya suasana kampung halaman yang telah lama ditinggalkan, menjadikaannya kadang sebagai kembang penghias tidur saja.  Ala kulli hal, Kami mengucapkan





Marhaban Yaa Ramadhan

Marhaban Yaa Syahral Shiyam

Taqabbalahhu minna wa minkum

0 comments:

Post a Comment