Tuesday, August 31, 2010

Menimbang Khawarij ; Menelisik akar Fundamentalisme atas nama Islam


Prolog

Belakangan ini, fenomena penggunaan kekerasan dengan mengatasnamakan islam semakin marak. Teror, peledakan bom, pengrusakan fasilitas umum, pembunuhan rakyat sipil, merupakan salah satu bukti yang menunjukkan eksistensi mereka. Para pelaku tindak kekerasan tersebut, dengan mengatasnamakan Tuhan, berani melakukan aksinya selain sebagai reaksi atas penetrasi sistem dan nilai sosial budaya, politik dan ekonomi asing yang mereka anggap tidak sesuai dengan nilai-nilai yang digariskan islam, juga disebabkan dengan ‘iming-iming’ surga dan pahala akhirat. Selain itu, perbuatan mereka ini lahir juga akibat kesalahan dalam memahami dan menafsirkan Kitab Suci. Petikan-petikan ayat suci dan hadits yang dikemukakan oleh trio pengebom Bali I- Imam Samudera, Muklas dan Amrozi- menunjukkan akan hal itu. Dengan tanpa penyesalan dan menolak meminta maaf kepada keluarga para korban, mereka menyatakan dalam suatu wawancara dengan media cetak bahwa “arti jihad itu ya perang, tidak ada arti lain untuk jihad selain perang, dan perang memang harus dikobarkan kepada kaum kafir Amerika yang telah membantai muslimin di dunia. Perang terhadap kaum kafir ini adalah ibadah yang paling tinggi dalam islam. Bahkan naik haji seribu kalipun tidak dapat menyaingi pahala mujahid yang berperang melawan kafir. Allahu Akbar ...”.

Munculnya kelompok-kelompok pergerakan islam yang membuat para pemuda muslim tertarik untuk bergabung, juga disinyalir banyak menumbuhkan mental berpikir ekstrim dan radikal. Kelompok-kelompok ini memang selalu mengobarkan semangat juang para pemuda, sehingga tidak sedikit pemuda muslim yang memiliki jiwa mujahid kemudian bergabung. Tetapi sayangnya, ilmu pemuda itu tidak setinggi semangat jihad yang mereka miliki sehingga tidak jarang mereka terjerumus ke dalam kelompok yang memiliki akidah menyimpang.


Penggunaan kekerasan, terror dan aksi radikal seperti yang dilakukan Imam Samudra dan kelompoknya ini, sejatinya bukan sebuah fenomena baru dalam sejarah islam. Jika kita tengok ke belakang pada abad 1 H muncul kelompok Khawarij yang menggunakan kekerasan dan pengkafiran terhadap semua orang yang bukan kelompoknya. Kemunculan mereka dengan ideologi kekerasannya telah menimbulkan luka yang cukup dalam terhadap sejarah islam. Pembunuhan, kekerasan atas nama Tuhan, pengkafiran sahabat Nabi dan semua kaum muslim yang tidak sepaham dengan mereka serta pemerkosaan terhadap ayat-ayat Tuhan, sudah menjadi trade mark mereka sejak abad-abad awal perkembangan islam.


Definisi Khawarij

Ibnu Hajar mendefinisikan Khawarij sebagai ‘Mereka yang mengingkari Ali dalam permasalahan tahkim (arbitrase), serta memusuhi dan memerangi Ali, Usman dan keturunannya .

Ibnu Hazm menyatakan bahwa nama Khawarij berarti semua orang yang menyerupai kelompok yang membelot terhadap Ali dalam peristiwa tahkim dan sepakat dengan mereka dalam permasalahan akidahnya .

Sementara Imam Syahrastani mendefinisikan Khawarij dengan definisi umum ( Khawarij berasal dari asal kata kharaja yang berarti keluar, membelot atau memberontak) yang berarti setiap kelompok yang memberontak dan berbuat makar terhadap pemerintah yang sah di setiap zaman, baik ketika zaman sahabat dan khulafaaur rasyidin maupun zaman-zaman sesudahnya .

Dr. Naasir Aql merujuk istilah Khawarij kepada kelompok yang mengkafirkan pelaku maksiat, dan memberontak kepada penguasa yang sah .

Dari beberapa pendapat diatas dapat kita simpulkan bahwa istilah Khawarij dalam pengertian umum merujuk kepada setiap kelompok yang memberontak terhadap penguasa yang sah di setiap zaman, tidak terbatas pada zaman tertentu saja. Sementara Khawarij dalam pengertian khusus berarti kelompok yang membelot dan memberontak kepada Imam Ali dalam peristiwa tahkim, seraya menghukumi kafir kepada pihak-pihak yang setuju diadakannya peristiwa tahkim seperti Muawiyah, Abu Musa Al-Asy’ari, Amr bin Ash dan Imam Ali beserta para pendukungnya.

Selain disebut dengan istilah ‘Khawarij’, kelompok ini juga terkenal dengan berbagai julukan seperti :
 Al-Muhkamah, dikarenakan penolakan mereka terhadap peristiwa tahkim slogan yang sering mereka teriakkan ‘laa hukma illallah’ (tiada hukum kecuali hukum Allah).
 Al-Haruriyah, merujuk kepada suatu tempat di dekat Kufah yang mereka jadikan markas pelarian setelah peristiwa tahkim.
 Asy-Syurrah, karena menurut keyakinan mereka, bahwasanya mereka menjual diri mereka dengan ketaatan kepada Allah dan membelinya dengan surga..
 Al-Maariqah, dikarenakan keluarnya mereka dari agama seperti melesatnya anak panah dari busurnya. Mereka sendiri menolak julukan ini karena tidak merasa keluar dari agama.


Sejarah kelahiran Khawarij

Secara terminologi, kelompok Khawarij baru muncul pada saat pemerintahan Imam Ali, namun cikal bakal kelompok ini dapat ditemui semenjak Rasulullah Saw masih hidup. Ada dua peristiwa yang dapat dijadikan rujukan terkait benih-benih paham Khawarij di zaman Rasul Saw. Pertama, seperti yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudry “Ketika Ali baru pulang setelah diutus Rasulullah dari Yaman dengan membawa harta rampasan, lalu ia membaginya -dengan sepengetahuan Rasulullah Saw- kepada beberapa orang, maka muncullah seorang lelaki seraya berkata kami lebih berhak atas harta itu daripada orang-orang yang kalian bagikan harta itu. Ketika ucapan ini terdengar oleh Rasulullah Saw, lalu beliau berkata ‘apakah kau tidak mempercayaiku, sementara aku adalah orang yang dipercaya oleh langit, Aku didatangi kabar dari langit pagi dan sore’, Lalu lelaki tersebut berkata ‘bertakwalah kepada Allah wahai Muhammad’ lalu Nabi menjawab ‘Celakalah kau, apakah aku atau engkau yang lebih bertakwa kepada Allah’, maka marahlah Khalid bin Walid mendengar hal itu, lalu ia berdiri dan berniat menebas leher lelaki itu, namun dicegah oleh Nabi seraya berkata ‘jangan kau lakukan itu, sesungguhnya ia masih mendirikan sholat’, lalu melanjutkan, ‘Sesungguhnya akan lahir kaum dari keturunannya, mereka membaca al-quran dengan tekun, namun tak sampai melewati tenggorokannya, mereka melesat dari agama seperti melesatnya anak panah dari busurnya’, kemudian menambahkan ‘kalau aku menemui mereka akan kuperangi seperti memerangi kaum 'Ad” .

Kedua, dari Bukhari Muslim diriwayatkan oleh Abu Sa’ad al-Khudry berkata : ‘Ketika kami bersama Rasul sedangkan membagikan harta rampasan perang Hunain, datang Dzul khuwaisiroh, lelaki dari bani Tamim dan berkata, "Adillah hai Muhammad, karena engkau belum adil", dia juga mengatakan bahwa pembagian itu tidak di atas keridhoan Allah. Kemudian nabi menjawab, "Celakalah kamu !! Siapa yang akan berbuat 'adil jika Aku tidak 'adil, jika aku tak berbuat adil maka sungguh merugilah aku." Tatkala Umar hendak membunuhnya, Nabi melarangnya seraya berkata, "Tahan! Sungguh akan keluar dari turunannya orang ini suatu kaum yang kalian merasa shalat kalian itu rendah bila dibanding shalatnya mereka, demikian pula shaum kalian bila dibanding shaum mereka, mereka kaum yang senantiasa membaca Al-Qur`an namun tidak sampai tenggorokannya, mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari bagian tubuh hewan buruan yang telah dibidik bagian tubuh lainnya" .

Sementara yang dimaksudkan dengan Khawarij dengan pengertiannya yang spesifik, muncul pada masa pemerintahan Imam Ali. Pasca pembunuhan Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dibai’at sebagai khilafah. Pengangkatan Ali diwarnai kemelut politik karena penolakan Muawiyah bin Abi Sufyan atas eksistensi kekhalifahan Ali. Kemelut inilah yang melahirkan perang Siffin; perang antara pengikut Ali dan Muawiyah. Perang ini oleh sementara kalangan sejarawan disebut sebagai al-fitnah al-kubra (kekacauan besar) dan berpengaruh besar dalam mewarnai perjalanan panjang sejarah politik umat Islam dari generasi ke generasi sesudahnya.

Secara kronologis, terjadinya perang Siffin antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan disebabkan tuntutan Muawiyah kepada Ali untuk mengadili para pemberontak yang melakukan pembunuhan terhadap Usman bin Affan. Sebenarnya Ali bukannya tidak bersedia memenuhi tuntutan Muawiyah, tetapi Ali ingin lebih dahulu menstabilkan situasi yang masih kacau akibat pemberontakan itu, dan Ali juga menginginkan pengakuan dan bai’at dari Muawiyah. Namun Muawiyah menentang dan menolaknya.

Dalam perang ini, posisi pasukan Ali berada di atas angin. Menyadari keadaan yang tidak menguntungkan, atas imbauan Amr bin ‘Ash, Muawiyah mengajukan opsi perdamaian (arbitrase/tahkim) dengan meletakkan mushhaf al-Quran di ujung tombak. Ali menerima tawaran perdamaian yang diajukan oleh Muawiyah.

Sementara itu, dalam tubuh Ali terdapat sekelompok orang yang tidak menyetujui arbitrase yang dilakukan oleh Ali dan Muawiyah. Kelompok ini kemudian dikenal dengan nama Khawarij. Dalam buku al-Milal wan-Nihal, Asy-Syahrastani mendefinisikan kaum Khawarij sebagai sebuah aliran atau golongan atau sekelompok orang yang pada mulanya setia dan mendukung kepada khalifah Ali bin Abi Thalib, kemudian keluar dan tidak mendukung Ali bin Abi Thalib lalu bergabung dengan kelompok lain kerena tidak setuju dengan kebijakan pemerintahan khalifah Ali bin Abu Thalib. Kelompok Khawarij kebanyakan berasal dari suku Arab Badui yang terkenal keras dan suka memberontak.

Kelompok Khawarij menolak arbitrase karena, menurut mereka, orang yang melakukan arbitrase berarti telah ber-tahkim kepada manusia, bukan kepada Allah. Dengan menyitir ayat “Barangsiapa yang tidak memutuskan hukum sesuai dengan apa yang diturunkan Allah, maka ia termasuk golongan kafir” (QS al-Maidah [5]: 44), mereka lantas melontarkan semoboyan “tidak ada hukum selain hukum Allah”.

Dengan mengambil legitimasi ayat tersebut, mereka mengafirkan lawan-lawan politiknya. Kemudian mereka mengirimkan eksekutor untuk membunuh lawan-lawan politiknya yaitu Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sufyan, Abu Musa al-Asy’ari, dan Amr bin Ash, tetapi mereka hanya berhasil membunuh Ali yang dilakukan oleh Abd al-Rahman bin Muljam.

Khawarij juga berpandangan bahwa orang yang melakukan dosa besar telah kafir. Atas dasar inilah mereka kemudian dengan gampang menghalalkan darah orang di luar kelompok mereka. Tidak hanya itu saja, kaum Khawarij juga mempraktikkan isti’radh, semacam penyelidikan atas keyakinan kaum non-Khawarij.

Orang-orang yang tidak lolos dari isti’radh ini lantas dipandang kafir dan darahnya dihalalkan. Penumpahan darah atas orang-orang seperti ini pun banyak terjadi, tak terkecuali terhadap perempuan dan anak-anak. Menurut Khawarij anak-anak tersebut statusnya sama dengan orangtua mereka.

Melakukan praktik takfir (mengafirkan orang lain) adalah ciri khas kelompok Khawarij. Tanpa ragu-ragu mereka menjatuhkan hukuman mati terhadap orang-orang yang mereka tuduh kafir. Kaum Khawarij benar-benar telah meremehkan kesucian dan kehormatan jiwa manusia. Padahal Allah memuliakan seluruh jiwa manusia (QS al-Isra’ [17]: 70).


Kebijakan Imam Ali dalam meredam pemberontakan Khawarij

Selepas peristiwa tahkim, dibawah pimpinan Asy’at bin Qais, Mus’ar bin Fadaki at-tamimi, dan Zaid bin Hashin at-tha’i mereka dan sekitar dua belas ribu pasukannya menuju ke Harura’, suatu daerah dekat Kufah. Dari sanalah mereka mulai melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Imam Ali, dari mulai menyebarkan pemikiran mereka, menghujat Ali dan yang mendukung peristiwa tahkim, membunuhi penduduk sipil yang tidak sependapat dengan mereka, hingga menghadang kafilah dagang yang meewati daerah mereka. Sementara Imam Ali, dalam menghadapi mereka, bersikap defensif dan berulang kali mengajak mereka untuk kembali, karena kekerasan hati dan kebodohan mereka, ajakan itu selalu ditolaknya.

Tidak putus asa, Imam Ali kemudian mengutus Ibnu Abbas untuk melakukan dialog dengan mereka dan banyak dari mereka (sekitar dua ribu orang –menurut riwayat yang valid-) yang rujuk. keluar menemui mereka, maka mereka pun akhirnya menaati Imam Ali, dan ikut bersamanya ke Kufah, bersama dua orang pimpinan mereka. Kemudian mereka membuat isu bahwa Imam Ali telah bertaubat dari masalah tahkim, karena itulah mereka kembali bersamanya. Sampailah isu ini kepada Imam Ali, lalu ia berkhutbah dan mengingkarinya. Maka mereka pun saling berteriak dari bagian samping masjid (dengan mengatakan): “Tiada hukum kecuali hukum Allah.” Imam Ali pun menjawab: “Kalimat yang haq (benar) namun yang dimaukan dengannya adalah kebatilan!” Lalu Imam Ali berkata kepada mereka: “Hak kalian yang harus kami penuhi ada tiga: Kami tidak akan melarang kalian masuk masjid, tidak akan melarang kalian dari harta fai’, dan tidak akan pula memulai penyerangan selama kalian tidak menyerang kami terlebih dahulu” .

Secara berangsur-angsur pengikut Khawarij akhirnya keluar dari Kufah dan berkumpul di daerah al-Madain. Imam Ali senantiasa mengirim utusan agar mereka rujuk. namun justru utusan tersebut hendak mereka bunuh dan mereka bersepakat bahwa yang tidak berkeyakinan dengan aqidah mereka maka dia kafir, halal darah dan keluarganya.

Aksi mereka kemudian berlanjut dalam bentuk fisik, yaitu menghadang dan membunuh siapa saja dari kaum muslimin yang melewati daerah mereka. Ketika Abdullah bin Khabbab bin Al-Art -yang saat itu menjabat sebagai salah seorang gubernur Ali bin Abu Thalib- berjalan melewati daerah kekuasaan Khawarij bersama budak wanitanya yang tengah hamil, maka mereka membunuhnya dan merobek perut budak wanitanya untuk mengeluarkan anak dari perutnya.

Sampailah berita ini kepada Imam Ali, maka ia pun keluar untuk memerangi mereka bersama pasukan yang sebelumnya dipersiapkan ke Syam. Dan akhirnya mereka berhasil ditumpas di daerah Nahrawan beserta para gembong mereka seperti Abdullah bin Wahb Ar-Rasibi, Zaid bin Hishn At-Tha’i, dan Harqush bin Zuhair As-Sa’di. Dalam pertempuran itu, kaum Khawarij berhasil ditumpas habis hingga hanya tersisa 9 orang, sementara dalam kubu Imam Ali hanya kehilangan 9 orang prajuritnya.

Sisa-sisa Khawarij ini akhirnya bergabung dengan simpatisan madzhab mereka dan sembunyi-sembunyi semasa kepemimpinan Imam Ali, hingga salah seorang dari mereka yang bernama Abdurrahman bin Muljam berhasil membunuh Imam Ali yang saat itu sedang melakukan shalat Shubuh .


Sifat-sifat dan hadits yang berkaitan dengan Khawarij

1. Mudah menghujat dan mengkafirkan orang lain yang tak sepaham dengan mereka
Mereka berani mencela Nabi Saw, mengkafirkan para sahabat dan kaum muslimin serta menghalalkan darah mereka, bahkan terhadap wanita dan anak-anak sekalipun.
2. Keras terhadap kaum muslimin tetapi lunak terhadap kaum kafir
Sabda Nabi Saw. “...mereka membunuh orang muslim akan tetapi bersikap lemah lembut terhadap kaum kafir”.
3. Dangkalnya kadar keilmuan mereka terhadap agama
Seperti diberitakan oleh Nabi Saw “...Mereka membaca al-Qur’an namun tidak melewati kerongkongannya”. Ibnu Umar menjuluki mereka ’seburuk-buruk makhluk’, mereka melemparkan ayat-ayat yang ditujukan untuk kaum kafir kepada umat muslim.
4. Berlebihan dalam beragama
Nabi berkata “Sungguh akan keluar dari turunannya orang ini suatu kaum yang kalian merasa shalat kalian itu rendah bila dibanding shalatnya mereka, demikian pula shaum kalian bila dibanding shaum mereka...”.
5. Meremehkan orang lain dan merasa paling benar
Mereka kagum pada pendapat sendiri dan menafsirkan Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pikiran mereka dengan menolak untuk mengambil pendapat orang lain.
6. Muda Umurnya dan Berakal Buruk
Sabda Nabi “ Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum, umurnya masih muda, sedikit ilmunya, mereka menyatakan diri sebaik-baik manusia...”.
Menanggapi hal ini, al-Hafidz Ibnu Hajar mengomentarinya sebagai berikut: ahdaatsul asnaan artinya mereka itu pemuda , dan yang dimaksud dengan sufahaa al-ahlaam adalah akal mereka rusak . Ditambahkan oleh Imam Nawawi ; Sesungguhnya tatsabut dan bashirah yang kuat akan muncul ketika usianya sempurna, banyak pengalaman serta kuat akalnya.


Aliran-aliran Khawarij

Khawarij terbagi menjadi sebelas besar sekte, dan dari kesebelas sekte besar tersebut masih terbagi lagi dalam sekte-sekte kecil yang jumlahnya sangat banyak. Pepercahan inilah yang membuat Khawarij menjadi lemah dan mudah sekali dipatahkan dalam berbagai pertempuran menghadapi kekuatan militer Bani Umayyah.
 Pertama; al-Azraqiyah, mereka berkata: Kami tidak tahu seorangpun yang mukmin. Dan mereka mengkafirkan kaum muslimin (ahli kiblat), kecuali orang yang sefaham dengan mereka.
 Kedua : Ibadhiyah, mereka adalah aliran moderat dalam Khawarij yang paling dekat kepada Ahlus sunnah. Pengikut mereka juga paling banyak dan masih eksis hingga kini, sebagian kecil berada di Oman dan Maroko.
 Ketiga : al-Tsa`labiyah, mereka berkata : Sesungguhnya Allah tidak ada menetapkan qadha dan qadar.
 Keempat : al-Hazimiyyah, mereka berkata: Kami tidak tahu apa iman itu. Dan semua makhluk akan diberi udzur (dimaafkan karena ketidaktahuaanya).
 Kelima : Khalafiyah, mereka berkata : Pria dan wanita yang meninggalkan jihad berarti telah kafir.
 Keenam : al-Mujarromiyah, mereka berpendapat : Seseorang tidak boleh menyentuh orang lain , karena dia tidak tahu yang suci dengan najis. Dan janganlah dia makan bersama orang itu hingga orang itu bertaubat dan mandi.
 Ketujuh: al-Kanziyah, mereka berpendapat : Tidak pantas bagi seseorang untuk memberikan hartanya kepada orang lain, karena mungkin dia bukan orang yang berhak menerimanya. Dan hendaklah dia hendaklah dia menyimpan harta itu hingga muncul para pengikut kebenaran.
 Kedelapan: al-Syimrakiyah, mereka berpendapat : Tidak mengapa menyentuh wanita ajnabi (yang bukan mahram), karena mereka adalah rahmat.
 Kesembilan: al-Akhnasiyah, mereka berpendapat: Orang yang mati tidak akan mendapat kebaikan dan kejelekan setelah matinya.
 Kesepuluh: al-Muhakkimiyah, mereka berpendapat ; siapa yang berhukum kepada makhluk adalah kafir.
 Kesebelas : al-Maimuniyah, mereka berpendapat: Tidak ada imam, kecuali dengan restu orang-orang yang kami cintai."


Pandangan teologi Khawarij

Sebagai sebuah sekte terpisah dari mainstream ahlus sunnah, Khawarij mempunyai pandangan teologi yang berbeda. Perbedaan ini banyak dilatar belakangi oleh konstruk sosio historis kemunculan sekte ini dan sikap mereka yang keras kepala serta dangkal kadar keilmuannya. Berikut ini beberapa paham keyakinan mereka :
1. Mengkafirkan pelaku dosa , dengan tanpa membedakan antara dosa besar dan dosa kecil, dan menganggap pelaku maksiat itu adalah pendosa yang membawanya kepada kekufuran dan kelak abadi di neraka. Karena menurut mereka orang yang beriman tentu tidak akan melakukan maksiat dan dengan maksiat berarti mengeluarkan pelakunya dari koridor iman. Mereka berargumen dengan firman Allah : “ Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan” (QS : An-nisaa’ 14)
2. Menghujat dan memusuhi para sahabat yang terlibat dalam peristiwa tahkim, seperti Imam Ali, Amr bin Ash, Muawiyah dan keturunan bani Umayyah, serta semua orang yang mendukungnya. Mereka juga menganggap siapa saja yang menentang mereka adalah kafir dan halal darahnya, terhadap orang-orang yang diam, tidak mengambil sikap mereka juga menganggapnya keluar dari agama, karena bagi mereka ‘man lam yukaffirul kaafir fahuwa kaafir’.
3. Khawarij adalah sekte yang sangat serius dalam beragama, namun keseriusan ini tanpa dibarengi dengan pengetahuan yang mumpuni. Hal ini tampak dalam cara mereka menafsirkan nash al-Quran, dimana mereka menafsirkannya secara tekstual begitu saja tanpa dibarengi dengan pemahaman yang benar akan asbabun nuzul ayat ataupun menggunakan kaidah-kaidah ilmu tafsir yang benar. Hal inilah yang menjadikan sikap mereka terhadap kaum muslimin yang tidak berhukum dengan hukum Allah -versi mereka- sangat keras, bahkan sampai menghalalkan darahnya. Sebaliknya mereka juga begitu lunak jika dihadapkan dengan kafir dzimmah, Suatu ketika pernah mereka bertemu dengan Washil bin Atho, pentolan Mu’tazilah, namun mereka membiarkannya dan memperlakukannya dengan baik karena mereka beranggapan bahwa dia adalah kafir dzimmi yang harus dijaga kehormatannya. Lain cerita kalau mereka menganggap Washil bin Atho’ Muslim, maka pastilah langsung dibunuhnya .
4. Seperti yang disampaikan sebelumnya bahwa pengikut Khawarij kebanyakan adalah arab badui yang kurang pendidikan dan berwatak keras kepala, karena itulah bisa dipastikan cekcok dan perselisihan akan sering membayangi mereka. Ekses negatif dari hal ini adalah terpecahnya mereka menjadi banyak aliran kecil yang terpisah, ini menjadikan pemberontakan mereka mudah dipatahkan oleh penguasa. Kalaulah mereka selalu bersatu mungkin penguasa Bani Umayyah akan kerepotan menghadapinya.
5. Dalam konsep imamah, Khawarij berpandangan bahwa semua orang berhak menjadi imam kaum muslim apabila telah mencukupi syarat-syaratnya, tidak terbatas pada suku atau golongan tertentu .
6. Dalam berbagai aspek, cara pandang Khawarij terhadap hukum sangatlah paradoks. Di satu sisi mereka membolehkan menumpahkan darah anak kecil dan wanita selain kelompok mereka, namun di sisi lain mereka mengharamkan memetik korma dengan tanpa membayar sesuai harganya. Khawarij menghalalkan darah Imam Ali, akan tetapi Ibnu Muljam, pembunuh Imam Ali, ketika tertangkap dan akan dipotong lidahnya malah menjerit dan mengatakan bahwa bunuh lah aku tetapi jangan potong lidahku sebab aku khawatir tidak bisa berdzikir kepada Allah .


Mendiskusikan pemikiran dan pandangan teologi Khawarij

Setelah membahas akidah dan pandangan teologi Khawarij serta mengetahui paham-paham yang dianut oleh masing-masing sekte, ada baiknya kita mendiskusikan masalah akidah mereka dalam timbangan akidah ahlus sunnah.

1. Khawarij mengkafirkan pelaku dosa besar dan memvonis pelakunya kekal di neraka

Hal ini disandarkan atas pemahaman mereka atas ayat “(Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” (QS : 2/81).

Dalam pemahaman mereka, bahwasanya tidak ada harapan bagi pelaku maksiat yang mati dalam dosanya untuk mendapatkan rahmat Allah, dan mereka menyangka bahwa dosa itu telah meliputi pelakunya dan menghilangkan segala amal kebaikan yang ada pada dirinya, bahkan imannya juga. Sesungguhnya, ayat ini ditujukan kepada penganut Yahudi yang melakukan dosa syirik dan melenceng dari jalan yang lurus. Sebaliknya, ini malahan menandaskan bahwa pelaku dosa besar adalah tetap mukmin meskipun dosanya meliputi dirinya asalkan dia tidak kufur dan syirik kepada Allah, berdasarkan firman Allah “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selainnya”. Dan diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Said al-Khudri bahwa Nabi bersabda "Tidaklah seorang muslim yang telah mengucapkan la ilaha illaha kecuali masuk surga walaupun pernah mencuri dan berzina" .

2. Pengkafiran Khawarij atas Ustman, Ali dan sebagian besar sahabat

Didasarkan atas tafsir yang serampangan dan ngawur terhadap ayat-ayat al-Qur’an, kaum Khawarij berani memvonis kafir sebagian besar sahabat Nabi Saw. Vonis tersebut tidak hanya semata vonis, tetapi dilanjutkan dengan wajibnya darah mereka untuk ditumpahkan. Akibatnya kemudian, banyak sahabat Nabi yang tewas di tangan mereka. Ali dan Ustman termasuk sahabat yang mengakhiri hidupnya dengan tragis dibawah tebasan pedang Kaum Khawarij. Dalam pandangan mereka, Ustman telah kafir karena memerintah dengan selain hukum Allah dan menempatkan kerabatnya di pos-pos penting dalam pemerintahan. Sementara Ali mereka bunuh lantaran turut serta dalam peristiwa tahkim yang menurut mereka tidak sesuai dengan hukum Allah.

Pengkafiran sebagian besar sahabat Nabi Saw, adalah tindakan yang gegabah dan sembarangan. Agaknya slogan mereka ‘la hukma illa lillah’ yang dijadikan landasan argumen untuk melakukan aksi kekerasan lahir akibat pemahaman dangkal akan ayat-ayat Tuhan. Sedangkan Allah dalam membumikan syariatnya, banyak mewakilkan kepada manusia untuk menerapkan hukum, seperti QS : 5/95, QS : 4/35, 59, 83, 128. Naiknya Ustman dan Ali dalam memegang tampuk pemerintah islam, juga disahkan dengan ijma’ umat, yang berarti mendapat legitimasi oleh rakyat. Dengan demikian pemerintahan Ustman dan Ali adalah sah dan tidak ada dalil yang dapat dijadikan alasan untuk menurunkan mereka, kecuali kebodohan dan sikap keras kepala kaum Khawarij.

Nabi Saw sendiri sangat mengasihi para sahabatnya, dan tidak akan rela melihat para sahabatnya dicaci, apalagi sampai dibunuh. “Kuperingatkan kalian terhadap para sahabatku, barang siapa yang menyakiti mereka berarti menyakitiku, dan barang siapa yang menyakitiku maka menyakiti Allah, maka bertakwalah dan bertakwalah kepada Allah”. “Janganlah kalian mencaci para sahabatku, karena sesungguhnya kalau kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, tidak akan dapat menyaingi (pahala) mereka, bahkan setengahnya saja tidak ”. Dalam al-Qur’an juga banyak ayat-ayat yang menyebutkan keutamaan para sahabat nabi, seperti QS al-Hasyr 108, al-Fath 18-19, al-Hujurat 9, at-taubah 100.

3. Permasalahan Imamah

Imamah merupakan salah satu elan vital pemerintahan islam dan merepresentasikan kekuatan negara islam sehingga mampu mengayomi dan melindungi umat islam di bawah naungannya serta mampu meningkatkan wibawanya di mata dunia. Konsep imamah dalam islam, dipandang sebagai sesuatu yang sangat urgen. Urgensitas konsep tersebut dikarenakan perlunya penegakan hukum atau undang-undang terhadap rakyat (umat islam) yang sesuai dengan nilai-nilai islam. Dengan hadirnya konsep tersebut, diharapkan terciptanya kondisi sosial masyarakat tetap dalam batasan koridor syara’. Dalam hal ini, baik Khawarij maupun ahlus sunnah senada akan pentingnya mengangkat imam (pemimpin).

Sementara dalam permasalahan kepemimpinan suku Quraisy atas bangsa-bangsa lainnya, keduanya tidak sependapat. Berdasarkan hadits Nabi : ‘Imam itu dari Quraisy’, dan ‘manusia itu mengikuti Quraisy baik dalam kebaikan maupun keburukan’. Kaum Khawarij sendiri dalam menyikapi hadits tersebut mempunyai beberapa argumen. Pertama, bahwa hadits tersebut tidak menunjukkan bahwa kepemimpinan selain suku Quraisy adalah tidak sah. Kedua, jika imam dari selain Quraisy dapat melaksanakan pemerintahan dengan baik, maka tidaklah diperlukan imam dari Quraisy. Ketiga, berdasarkan ayat ‘ inna akramakum indallahi atqaakum’ dan hadits ’tidak ada keutamaan arab atas ajam kecuali dalam hal takwa’. Sedangkan dalam tubuh ahlus sunnah sendiri, hal itu masih menjadi perdebatan. Beberapa kaum reformis mantap meniadakan syarat tersebut (imam dari Quraisy) dengan beralasan bahwa hadits-hadits tersebut menunjukkan pemberitahuan (ikhbar) bukan hukum, seperti hadist 'kekhilafaan setelahku 30 tahun......'. Beberapa pemikir yang mengamini gagasan ini diantaranya, Muhammad Abu Zahra, Mahmud Abbas Aqqad dan Dr. Ali Husni . Sementara para fuqaha klasik memandang bahwa perlu disyaratkannya nasab Quraisy dalam konsep imamah, dengan pertimbangan dhohir teks hadits tersebut menunjukan akan hal itu dan tidak ada tafsir lain yang menunjukkan akan makna selainnya. Namun meski demikian mereka (fuqaha klasik) juga membolehkan kepemimpinan non-Quraisy dengan dua syarat. Pertama, tidak ada suku Quraisy yang mampu memegang tampuk imam. Kedua, jika imam non-Quraisy tersebut memerintah dengan adil dan tidak keluar dari koridor syar’i.

Pemberontakan terhadap pemerintah yang berdaulat, menurut pandangan Khawarij adalah sah dan malahan wajib hukumnya jika pemerintahan tersebut dipandang sebagai tiran dan dholim terhadap rakyat, walaupun pemerintah tersebut belum keluar dari islam. Penggunaan senjata dan kekerasan fisik dapat ditoleransi demi melepaskan diri dari kesewenangan penguasa. Jatuhnya korban dari pihak sipil dan rakyat tak berdosa dipandang hanyalah sebagai sebuah ekses dari perjuangan ‘suci’ melawan pemerintahan diktator.

Berlainan dengan ahlus sunnah yang tidak menoleransi apapun bentuk pemberontakan terhadap pemerintah yang sah dan berdaulat, sepanjang pemerintah tersebut masih islam dan tidak menghalangi rakyatnya (umat islam) untuk menjalankan syariat. Mereka menyandarkan pendapat mereka pada hadits Nabi Saw : “ janganlah memberontak kepada imam (penguasa) sepanjang mereka masih islam dan tidak melarang kalian untuk sholat, jika kalian melihat sesuatu yang kalian benci dari imam kalian, maka bencilah akan tetapi jangan menolak untuk taat, selamanya” dan “ Barang siapa melihat sesuatu hal yang buruk pada amirnya, maka bersabarlah dan jangan memberontak, maka barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah (memberontak) maka tidaklah ia mati melainkan dalam keadaan jahiliyah” . Tujuan dari hadits ini tidak lain untuk memelihara kesatuan umat serta mencegah kekacauan yang lebih besar akibat fitnah dan pemberontakan, yang akibat paling besar dan menyedihkan tentu akan ditanggung oleh rakyat kecil yang tak tahu apa-apa.

4. Legalisasi Khawarij untuk membunuh para penentangnya

Khawarij, dengan pemahaman agamanya yang ganjil, membolehkan untuk membunuh siapa saja yang tidak setuju dengan pemahamannya. Ini sangat bertentangan sekali dengan ajaran islam dimana tidak halal darah seorang muslim ditumpahkan kecuali karena tiga hal : rajam untuk pezina muhson, pembunuh, dan orang yang murtad setelah beriman.

Islam sangat menghormati jiwa seorang dan menempatkannya dalam kedudukan yang sangat tinggi. Allah sendiri mengancam siapa saja yang menumpahkan darah tanpa alasan yang dibenarkan. Seperti dalam firmannya “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya (QS : An-Nisaa 93)


Hukum atas Khawarij

Sepanjang pelajaran kita yang telah lalu mengenai Khawarij, bisa dikatakan ada banyak sisi dari mereka yang patut dipuji, selain banyak juga sisi lain yang patut untuk dikritisi. Mereka adalah kaum yang sangat tekun dalam beribadah, Berlebihan dalam ibadah berupa puasa, shalat, dzikir, dan tilawah Al-Qur'an merupakan perkara yang masyhur di kalangan orang-orang Khawarij. Mereka dikenal sebagai qura' (ahli membaca Al-Qur'an), karena besarnya kesungguhan mereka dalam tilawah dan ibadah. Ibnu Abbas berkata :"Aku belum pernah menemui suatu kaum yang bersungguh-sungguh, dahi mereka luka karena seringnya sujud, tangan mereka seperti lutut unta, dan mereka mempunyai gamis yang murah, tersingsing, dan berminyak. Wajah mereka menunjukan kurang tidur karena banyak berjaga di malam hari". Persis seperti yang diramalkan oleh Nabi “Sungguh akan keluar dari turunannya orang ini suatu kaum yang kalian merasa shalat kalian itu rendah bila dibanding shalatnya mereka, demikian pula shaum kalian bila dibanding shaum mereka, mereka kaum yang senantiasa membaca Al-Qur`an namun tidak sampai tenggorokannya, mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya”

Akan tetapi, bersamaan dengan ketekunan mereka beribadah, mereka juga memiliki hati yang buta, jiwa yang keruh dan telinga yang tuli untuk mendengarkan kebenaran. Mereka mentakwil ayat-ayat al-Quran dengan pemahaman yang asal-asalan, dan menyangka mereka berada di jalan yang benar. Ibnu Umar menjuluki mereka ‘makhluk paling buruk’ karena banyak menyematkan ayat-ayat yang ditujukan untuk kaum kafir kepada umat islam. Allah telah memperingatkan kita akan kelakuan kelompok seperti ini : “Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (QS : Al-Kahfi 103-104).

1. Hukum Memerangi Khawarij

Akibat aksi kekerasan dan makar yang acap dilakukan Khawarij terhadap pemerintahan yang berdaulat, maka konsekuensi yang harus mereka tanggung adalah penumpasan kelompok ini sampai ke akar-akarnya, karena keberadaan mereka yang terus mengacau dan merusak stabilitas sosial. Para ulama pun bersepakat akan wajibnya menumpas segala bentuk pemberontakan dan gerakan separatis yang merongrong kekuasaan dan mengancam keutuhan negara. Hal ini berdasarkan QS : Al Hujurat 9
“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”.

Sabda Nabi “ Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum, umurnya masih muda, sedikit ilmunya, mereka mengatakan dari sebaik-baik manusia. Membaca Al-Qur’an tidak melebihi kerongkongannya. Terlepas dari agama seperti terlepasnya anak panah dari busurnya, maka dimana saja kalian menemui mereka maka perangilah, karena dalam memerangi mereka kalian mendapatkan pahala di hari kiamat”. Sedangkan menurut ijma’ para sahabat, mereka bersepakat akan wajibnya memerangi kaum Khawarij dan para sekutunya ahli bid’ah, dan kaum separatis ketika mereka membelot dan memberontak kepada penguasa sah, tentunya setelah menasehati dan memperingati mereka .

2. Hukum mengkafirkan Khawarij

Walaupun para ulama bersepakat akan wajibnya memerangi Khawarij dan menyematkan vonis sesat kepadanya, namun mereka berselisih pendapat dalam masalah kafir tidaknya kelompok ini. Pendapat pertama menyatakan bahwa mereka tidaklah kafir walaupun mereka memberontak. Hukuman atas kelompok ini dijatuhkan atas aksi pemberontakan mereka. Para ulama yang sepakat dengan pendapat ini beralasan bahwa mereka masih mengucapkan kalimat syahadat, tidak adanya sebab yang membuat mereka keluar dari islam, ketekunan mereka dalam menjalankan rukun islam, dan tidak ada salah satu dari sahabat yang menjatuhkan vonis kafir kepada Khawarij, walaupun mereka memeranginya.

Seperti diutarakan al-Khutaby “ para ulama kaum muslim telah bersepakat bahwa Khawarij dengan berbagai kesesatannya adalah masih termasuk firqah dari islam, dan dibolehkan menikahi perempuan mereka dan memakan sembelihan meraka” .

Senada Ibnu Hajar al-Asqolany juga menyatakan “para ulama ushul memutuskan bahwa Khawarij adalah kaum fasiq, akan tetapi hukum islam masih berlaku bagi mereka karena syahadat mereka dan mereka masih menjalankan rukun islam, mereka dihukumi fasiq karena kelakuan mereka yang mengkafirkan kaum muslimin dan takwil mereka yang batil”.

Imam Malik bin Anas juga tidak sampai mengkafirkan Khawarij, hanya menyebutkan bahwa mereka adalah ahli bid’ah, dan agar meminta mereka bertaubat, jika tidak maka perangilah.

Sementara Imam Syatibi melihat muamalah Imam Ali dalam mempergauli Khawarij, menemukan tidak adanya tanda-tanda bahwa Ali mempergauli mereka seperti orang murtad, begitu juga dengan khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Kesimpulan pendapat pertama adalah tidak adanya vonis kafir kepada kelompok Khawarij walaupun aksi mereka sangat anarkis dan meresahkan. Ini menunjukkan berhati-hatinya para ulama dalam menjatuhkan vonis kafir kepada seseorang atau kelompok.

Sementara pendapat kedua menyatakan akan kekafiran Khawarij. Ini berlandaskan pada :
- Hadits “.....keluar dari umat ini.....”, disini arti keluar dari umat berarti keluar dari agama, dan ini dalil yang menunjukkan kafirnya mereka.
- Hadits “‘ ......mereka melesat dari agama seperti melesatnya anak panah dari busurnya’ kata melesat dari agama berarti keluar dari agama, yang berarti kafir.
- Hadits “ Jika aku menemukan mereka akan kuperangi seperti memerangi kaum ‘Ad” atau “kaum tsamud”, mereka semua adalah kaum kafir jadi Khawarij juga berarti kafir.
- Hadits “ merekalah makhluk paling buruk”, mana mungkin makhluk paling buruk dari kaum muslim

Dari kedua pendapat diatas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa pendapat pertama adalah lebih mendekati kebenaran. Seperti para sahabat yanng tidak pernah mengkafirkan mereka, bahkan Abdullah bin Umar dan sahabat yang lain pernah sholat di belakang Khawarij najdah, dan mereka (sahabat) juga masih menyapa, mengajak bicara, memberi fatwa seperti halnya seorang muslim terhadap muslim lainnya.


Epilog

Bangsa yang besar adalah bangsa yang belajar akan sejarah. Tanpa sejarah, mustahil suatu bangsa dapat membangun peradaban yang gilang gemilang. Sejarah adalah pijakan, asas, dan titik tolak untuk membangun peradaban masa depan. Dengan berkaca pada sejarah, kita dapat belajar akan peristiwa-peristiwa masa lalu, memetik pelajaran berharga akan beberapa tragedi kelam ataupun kemenangan gilang gemilang demi menumbuhkan kesadaran bersama dalam jiwa untuk menyusun konsep ideal suatu peradaban.

Demikian halnya yang terjadi pada pelajaran kita akan sekte Khawarij ini. Berkaca pada hal ini, bahwasanya sikap saling mengkafirkan adalah hal yang sangat tabu dan berbahaya, sikap mudah mengkafirkan dapat mengakibatkan musibah dan fitnah besar yang akan menimpa kaum muslim. Oleh karena itu, sikap berhati-hati dan tidak gegabah dalam mengkafirkan orang lain sangat diperlukan agar umat islam tidak terjerumus ke dalam peperangan besar. Wallahul hadi ila as-showab.

______________________________________________________

Makalah ini dipresentasikan pada kajian Lakpesdam Mesir, 26 Oktober 2009, sebagai syarat masuk menjadi anggota tetap
Mahasiswa Universitas al-Azhar
www.jawapos.co.id, tanggal…
al-Asqalany, Ibnu Hajar, Fathul Bari bisyarhi shahih bukhari, Kairo: Maktabah al-Qahirah, 1978, hal. 459

Fasl fil milal wal ahwaa’ wan nihal juz 2 hal 113
As-Syahrastani, Milal wa Nihal, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1992, juz 1, hal.105
Al-Shalabi, Ali Muhammad, Fikr al-Khawarij wal Syi'ah, Alexandria: Dar al-Iman, 2005, hal.16
al-Asqalany, Ibnu Hajar, Fathul Bari bisyarhi shahih bukhari, Kairo: Maktabah al-Qahirah, 1978, juz 12, hal. 290
an-Nawawi, Syarah shahih Muslim , Kairo: Matba'ah al-Misriah, tanpa tahun, juz 7, hal.161-162
As-Syahrastani, Milal wa Nihal, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1992, juz 1, hal.109
Lajnah Penulis, Mausu'ah al-firaq wa al-Madzahib, Kairo: Wizarat al-Auqaf, 2007, hal. 311

Syak'ah, Dr. Musthofa, Islam bila Maczahib, Kairo: al-Dar al-Misriah al-Lubnaniyah, 2008, hal.131
Mahmud, Abdul Halim, al-Tafkir al-Falsafi fi al-Islam, Kairo: Maktabah al-Iman, 2006 , hal.110
Abu Zahra, Muhammad, Tarikh al-madzahib al-islamiah, Kairo: Dar al-fikr al-araby, 1996, hal.

an-Nawawi, Syarah shahih Muslim , Kairo: Matba'ah al-Misriah, tanpa tahun, juz 1, hal.286
Shahih Bukhari Bab. al-Fadhail, No. 347
Abu Zahra, Muhammad, Tarikh al-madzahib al-islamiah, Kairo: Dar al-fikr al-araby, 1996, hal.90
Shahih Bukhari juz 9 hal.52
an-Nawawi, Syarah shahih Muslim , Kairo: Matba'ah al-Misriah, tanpa tahun, juz 7, hal.170
Darwisy, Adil Muhammad dan Subhi, Mustofa Murod, Dirasaat fi al-firaq al-islamiyah, Kairo: Kulliyah Dakwah al-Islamiyah, 2007, hal. 178


0 comments:

Post a Comment