Tuesday, August 31, 2010

Menikmati musim panas di Mesir


Minggu ini, Kairo mulai memasuki musim panas, dan itu berarti saya sudah bisa sedikit melupakan musim dingin yang menyebalkan. Jaket tebal, mantel, sarung tangan maupun selimut tidur sudah siap untuk dikandangkan, menunggu sampai tahun depan untuk digunakan kembali. Jam untuk musim panas pun sudah dimajukan 1 jam (Daylight Saving), menyesuaikan akan waktu terbit tenggelamnya matahari. Musim panas di kairo, adzan subuh berkumandang pukul 03.40 sementara waktu maghrib tiba pukul 07.35.  Masih hampir sama dengan di Indonesia memang, tapi cahaya matahari yang datang tidak ada lagi istilah diskon. Cerah. Bahkan sangat cerah.


Dalam 1 tahun, terdapat 4 musim di mesir, musim dingin, semi, panas dan gugur. Namun karena sebagian besar wilayahnya berupa gurun pasir, menjadikan perbedaan di masing-masing musim tersebut hanya berupa suhu udara dan angin saja, tidak ada salju, warna-warni daun di musim semi, maupun pepohonan yang berguguran daunnya di musim gugur. Perpindahan antar musim biasanya ditandai dengan hujan debu dengan volume yang lumayan banyak. Membuat mesir seolah-olah berkabut seperti di puncak-puncak pegunungan di Indonesia.


Memasuki musim panas, biasanya suhu berkisar antara 26 derajat sampai 33 derajat, kemudian akan terus bertambah setiap harinya. Dan mencapai puncaknya sekitar bulan Juli-Agustus, pada saat itu suhu udara bisa mencapai 43 derajat. Lumayan, tapi setidaknya tidak seperti Negara-negara arab teluk, dimana musim panasnya bisa mencapai suhu 55 derajat. Gilaa. Saya tidak sanggup membayangkan hidup dalam cuaca seperti itu, 43 derajat saja sudah sangat menyiksa apalagi ini 55 derajat, seperti hidup di atas tungku kompor saja.



Untuk mahasiswa (utamanya mahasiswa al-Azhar program S1), awal musim panas ini berarti juga awal ujian term kedua. Ujian yang berlangsung selama 1 bulan ini  biasanya dimulai pertengahan Mei hingga pertengahan Juni. Karena al-Azhar masih belum menggunakan metode sks, maka ujian dilaksanakan 2 kali setahun, yaitu pada akhir desember (term 1) dan pertengahan Mei ( term 2). Misalkan ada 15 mata kuliah, maka biasanya 6 mata kuliah diujikan di term 1, sedangkan sisanya dilaksanakan di term 2. Oleh karenanya ujian di term 2 sangat menguras energi dan pikiran, apalagi ditambah sistem ujian di al-Azhar yang lebih menitikberatkan pada daya hapal diktat kuliah, mengharuskan siswanya benar-benar konsentrasi penuh, kalau tidak mau tinggal kelas dan mengulang lagi setahun kemudian.


Begitu selesai ujian, aaah leganya… Seperti habis keluar dari penjara. Pikiran serasa plong, badan serasa ringan meminta untuk dimanjakan bersenang-senang setelah 1 bulan terkurung dan tersiksa. Kini saatnya kita memanjakan otak barang sejenak. Libur musim panas kira-kira berlangsung dari akhir Juli hingga awal Oktober. Panjang memang. Karena itulah waktu liburan ini banyak dimanfaatkan untuk mengadakan berbagai kegiatan, mulai yang sifatnya ‘happy-happy’ sampai yang serius, seperti kajian, symposium, dan seminar. Tapi yang terakhir ini biasanya sepi peminat. “habis meres otak sebulan, masak mau mikir yang berat-berat lagi sih, capek deh…”, begitulah mungkin jawaban teman-teman pas ditanya alasan malas ikut kegiatan seperti itu.  Kebanyakan dari mereka kalau tidak pulang ke Indonesia, ya  ramai mengadakan rihlah musim panas ke tempat-tempat menarik di Mesir. Pantai Matrouh, Agiba, Sharm el sheikh dan Dahab bisa dijadikan pilihan tepat bagi yang menginginkan berlibur di pantai. Sementara bagi yang tertarik dengan  wisata sejarah, banyak tempat yang bisa dijadikan alternatif. Tempat-tempat seperti Piramida, puncak Sinai,  Hamam Cleopatra, Museum Tahrir, Kuil Hatshepsut, layak ditempatkan di urutan teratas daftar tempat yang mau dikunjungi, disamping masih banyak seabrek tempat menarik lainnya di Mesir yang layak untuk dikunjungi, sampai-sampai kalau kocek anda tidak mau diajak kompromi, anda masih bisa melepaskan jenuh di dalam kota, seperti di taman-taman kota yang banyak tersebar di Kairo, atau berjalan-jalan di pinggir sungai Nil di down town yang konon banyak memberikan inspirasi bagi siapa saja saat memandangnya.


Apapun kegiatannya, yang jelas musim panas selalu menyisakan kenangan tersendiri. Karena kuliah libur kita bebas mengekspresikan diri kemana saja yang kita sukai. Sepanjang itu positif dan tidak melampaui batas, maka tidak ada salahnya bukan, kalau kita menikmatinya. Ya musim panas seperti halnya musim dingin di Mesir, pasti akan membawa suasana baru.



0 comments:

Post a Comment