Tuesday, August 31, 2010

Menapak Jalan, Menuju Peradaban Ideal

Syahdan ribuan tahun silam, Plato sang begawan pemikiran agung dari Yunani pernah berujar; ”Di alam ini terdapat 2 fadhilah, yang pertama adalah fadhilah aamah, yaitu fadhilah yang membuat sang empunya hanya bertindak sebagai muqollid, pengekor yang hanya berbuat mengikuti apa yang menjadi kebiasaan di lingkungan sekitarnya. Hal ini terepresentasikan dalam koloni-koloni semut dan lebah, dimana sang semut yang baru dilahirkan hanya bertindak mengikuti apa yang telah menjadi konsensus umum dalam koloninya, tanpa kreasi, miskin inovasi, tetap stagnan semenjak ribuan tahun yang lalu. Sedangkan fadhilah yang kedua yaitu fadhilah falsafiah, dimana ia mendorong sang empu melakukan suatu perbuatan tidak hanya sebatas membebek adat yang berkembang dalam masyarakat, akan tetapi didasari oleh pertimbangan-pertimbangan nalar yang memungkinkannya membedakan antara yang baik dan yang buruk”.


Akal adalah anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada manusia, karena dengannya manusia dapat dibedakan dengan makhluk-makhluk tuhan yang lain. Berakal juga salah satu syarat utama yang dijadikan pertimbangan syara’ dalam meng-khitab manusia, sehingga orang-orang gila dan anak kecil yang belum mampu menggunakan akalnya dengan matang tidak terkena taklif dalam syara’. Manusia yang paling ideal adalah manusia yang mampu mendayagunakan segala potensi akalnya secara optimal, sehingga ia mampu menghidar dari jurang taklid dan pembebekan.


Dalam buku autobiografinya, Al-Munqidz min al-dhalal, wa alwusul ila dzi al-izzah wa al-jalal, Ghazali terang-terangan mengkritik orang-orang yang bertaklid. Baginya orang yang bertaklid sejatinya adalah orang mati, karena ia berpikir menggunakan jalan pikiran orang lain dan menafikan peran akalnya sendiri dalam melakukan suatu perbuatan. Hal ini terbukti tatkala Al-Ghazali sama sekali tidak melihat perubahan apa-apa pada anak-anak orang Nasrani maupun Yahudi. Mereka akan selamanya tumbuh menjadi Nasrani maupun Yahudi, dan seterusnya. Sebagaimana yang disitir oleh hadits Nabi SAW: “Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang telah menjadikan ia Yahudi, Nasrani dan Majusi”. Dari sini al-Ghazali menarik kesimpulan bahwa ilmu yang didapatkan berasaskan taklid buta bukanlah 'ilmu al-yaqin'. Ia lalu mendifinisikan ilmu al yaqin sebagai suatu ilmu yang dengannya, dapat menyingkap suatu pengetahuan tanpa diiringi dengan keraguan, ataupun ditunggangi kesangsian pada hasilnya. Sampai-sampai walaupun disodorkan kepadanya ‘keajaiban’ batu yang bisa berubah menjadi emas, ataupun tongkat beralih menjadi ular, maka keyakinannya tidak akan dapat tergoyahkan.


“Akal adalah pemberian Tuhan yang paling adil dibagikan kepada manusia, karena ia tidak mengenal batasan-batasan geografis, budaya maupun agama”, ujar Ibn Rusyd suatu ketika. Agaknya, adagium inilah yang mendasari teori-teorinya untuk lebih mengapresiasi pendekatan-pendekatan nalar daripada sumber pengetahuan lain, seperti intuisi, tafsir tekstualis atas teks, maupun mitos-mitos rakyat yang tidak logis. Langkah ibn Rusyd yang memberikan porsi ekstra kepada nalar- seperti pendapatnya yang membolehkan takwil atas dhohir teks yang tidak sesuai dengan akal sehat dan keyakinannya bahwa akal adalah satu-satunya asas makrifat yang dibawakan oleh syara’- layak diikuti. Karena dengan demikian, Ibn Rusyd seakan membuka kran progresifitas ilmu pengetahuan ke arah kemajuan. Jamak diketahui pasca serangan pasukan Tatar ke jantung peradaban islam di Baghdad, umat islam nyaris terperosok ke jurang kemunduran yang sangat akut, alih-alih bangkit kembali membangun peradabannya, umat islam malah termanjakan oleh buaian tarekat-tarekat shufiyah yang membawa mereka kearah kemunduran, dengan menyodorkan obat penawar luka yang bernama tasawuf. Dengan melakukan suluk-suluk sufi, umat islam diklaimnya dapat lepas dari keresahan hidup dan keguncangan jiwa akibat kekalahannya atas bangsa Tatar, dengan berasumsi bahwa semua yang terjadi adalah mutlak kehendak Tuhan yang telah digariskan, mereka seakan mencari pembenaran dan enggan bangun dari keterpurukan.


Hal inilah yang menjadi sumber keresahan Ibnu Rusyd tatkala melontarkan kritik pedasnya kepada kaum sufi. Ia menolak anggapan mereka yang mendapuk ma’rifat shufiyah-‘irfaniyah (gnostis-intuitif) sebagai satu-satunya pendekatan yang dapat mengantarkan manusia kepada kebenaran mutlak. Malahan sebaliknya, hakikat kebenaran menurut Ibnu Rusyd haruslah dicapai melalui pendekatan nalar paripatetis (burhani), yang mengapresiasi pertimbangan-pertimbangan nalar dalam merumuskan duduk permasalahan dan kemudian memberikan jalan penyelesaian yang solutif. Ia kemudian membagi beragam tipologi pendekatan yang digunakan untuk menemukan hakikat kebenaran. Pertama adalah menggunakan nalar retoris (jadali), nalar yang acap digunakan oleh para fuqoha dan mutakallimin untuk beretorika terhadap musuh-musuh ideologisnya serta membungkamnya dengan menggunakan senjata mereka sendiri. Nalar jenis ini hanya berkutat pada perdebatan panjang dan berputar-putar yang hanya bertujuan untuk meneguhkan pendapat masing-masing, dan bukan untuk mencari kebenaran. Sementara yang kedua adalah nalar gnostis-intuitif (irfani) yang lebih menitikberatkan pada peran hati dalam menyingkap tabir penghalang antara manusia dan Tuhannya. Al-Ghazali menuturkan mengenai suluk sufistik ; “'bahwa itu (jalan sufi) tidak dapat ditempuh kecuali dengan hati, jiwa dan perbuatan, karena para ahli sufi adalah sang empunya perbuatan, bukanya sekedar pengumbar omongan”. Kemudian ia menambahkan “untuk menggapai kebahagiaan akhirat tidaklah mungkin tergapai kecuali dengan takwa dan pengekangan atas hawa nafsu, serta memutuskan hubungan dengan dunia luar, dan hal itu tidak akan tercapai kecuali berpaling dari segala atribut keduniawian; pangkat, harta, dan semua kesibukan-kesibukan yang bersifat duniawi” (munqidz). Dengan lantang Ibnu Rusyd menolak mentah-mentah pendekatan kaum sufi ini, seraya menyatakan bahwa kalaupun benar suluk sufiah dapat menyingkap hakikat kebenaran, maka itu pun sifatnya sangat personal, artinya; puncak hakikat yang dapat dicapai oleh kaum sufi tidak dapat dinikmati oleh para awam, yang hanya kebagian tempat sebatas mendengarkan kisah-kisah akan capaian-capaian para sufi yang terkadang ‘khariq al-adat’ tersebut. Justru hal inilah yang berpotensi meninabobokan umat serta membuatnya terlena akan tugasnya untuk melakukan aksi riil di dunia nyata. Sedangkan yang terakhir adalah pendekatan nalar paripatetis (burhani) yang diimani oleh Ibn Rusyd sebagai jalan yang dapat mengantarkan manusia kepada hakikat kebenaran. “ jika filsafat itu suatu ibarat dari merenungi makhluk sebagai manifestasi untuk memahami wujud Tuhan, maka tidak diragukan lagi bahwa syara’ memerintahkan manusia untuk melakukannya lewat perantaraan akal”. (fasl al-maqal fi ma baina as-syaria wa al-hikma min al-ittisal)


Sejatinya, apa yang dikritisi ibnu Rusyd diatas bukanlah semata-mata dipengaruhi oleh fanatisme sektarian yang bertendensi untuk lebih meneguhkan hegemoni madzhabnya diatas golongan umat muslim yang lain. Akan tetapi ia lahir dari rahim kegelisahannya untuk melihat umat muslim bergerak maju, ketimbang hanya meratapi kegagalan masa lalu. Spirit kritisisme, harus terus menerus dipupuk dan diledakkan dalam dada umat islam untuk memilih dan memilah mana yang baik dan buruk, karena tak selamanya apa yang dikreasikan generasi terdahulu (baca; salaf) adalah kebenaran mutlak yang selalu sejalan dengan nilai-nilai zaman, begitu juga sebaliknya apa yang terdapat pada generasi belakangan (khalaf) tidaklah selalu identik dengan bid’ah yang harus dienyahkan. Sejatinya, spirit kritisisme merupakan suatu elan vital yang sangat penting dalam pengembangan kebudayaan suatu peradaban. Urgensi kritik, dapat disamakan dengan pondasi bangunan yang menopangnya untuk dapat tegak berdiri. Karena dengannya suatu peradaban bisa terus menerus mengembangkan tradisinya sekaligus melakukan perbaikan-perbaikan dalam beberapa aspek yang dirasa tidak lagi sesuai dengan semangat zaman yang senantiasa bergerak dinamis.


Tak dapat dipungkiri lagi bahwa peradaban yang mandiri sama sekali tidak ada wujudnya di dunia nyata. Apa yang diklaim sebagian khalayak sebagai peradaban yang turun dari langit, tak lain hanyalah realita utopis di benak mereka saja dan terbukti tidak eksis di realita nyata. Suatu peradaban tidaklah lahir dari realita transenden yang sekonyong-konyong turun dari langit berupa sepaket kotak pandora yang dapat menyelesaikan problematika umat. Hal ini sama saja dengan menegasikan peran aktif peradaban sebelumnya yang turut memberikan sumbangsih tidak sedikit dalam membentuk peradaban yang ada sekarang. Pada tataran praksisnya, unsur borrowing and influence di setiap peradaban dapat dipastikan selalu ada, sehingga setiap peradaban pada hakikatnya adalah hasil akumulasi dari pengaruh-pengaruh peradaban sebelumnya yang kemudian diartikulasikan dengan prinsip-prinsip fundamental peradaban tersebut. Dari sini, sikap keterbukaan akan capaian-capaian kaum liyan mutlak diperlukan guna mewarnai dinamika sosial dan geliat pemikiran. Memang, apa yang telah dicapai oleh peradaban lain tak selalu sejalan dengan nilai-nilai yang digariskan agama, namun menolaknya mentah-mentah juga bukanlah suatu sikap yang mencerminkan kedewasaan peradaban. Disinilah spirit kritisisme memainkan peranan penting untuk menerima hasil olah kebudayaan kaum liyan yang tidak berbenturan secara langsung dengan kebijaksanaan agama, dan menolak segala hal yang tidak dapat dikompromikan lagi dengan pandangan umum agama. Mengenai hal ini Ibnu Rusyd -ketika mensyarah karya-karya Aristoteles- berkomentar; “Marilah kita mempelajari buku-buku pemikiran mereka (para filosof Yunani), apabila terdapat kebenaran didalamnya hendaknya kita terima dan berterima kasih kepada mereka, dan jika terdapat banyak kesalahan marilah kita berhati-hati agar tak terjerumus kedalamnya”.(al-kasyf an manahij al-adillah fi aqaid al-millah)


Dari sedikit elaborasi diatas, inti yang hendak penulis sampaikan adalah urgensi ibda’ nadhrah jadidah (merumuskan perspektif baru) dalam memandang segala sesuatu, baik pemikiran yang berangkat dari tradisi keagamaan maupun yang berasal dari peradaban bangsa lain. Saat ini, struktur tradisional pemikiran islam terjebak dalam glorifikasi dan romantisme yang cenderung mengagungkan masa lalu. Akibatnya, segala hal yang baru (hadatsaat) harus selalu diukur menggunakan parameter pemikiran masa lalu, seolah hasil peradaban masa lalu adalah prototype ideal yang layak diaplikasikan sepanjang zaman, sehingga terkesan untouchable dan tidak dapat dikritisi. Pelbagai kecenderungan untuk dinamisasi kebudayaan yang muncul untuk keluar dari kerangkeng kejumudan dan konservativisme ditolak habis-habisan, terkadang juga disertai embel-embel bid’ah. Apabila hal ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin peradaban islam selamanya hanya duduk sebagai penonton dalam belantika kebudayaan global dunia.


Ada beberapa konklusi dari tulisan singkat ini yang perlu diperhatikan; pertama, melakukan rekonstruksi struktur tradisional pemikiran Islam dengan tetap berpijak pada instrumen tradisi (turats) yang didekati dengan pembacaan baru sehingga dapat melampaui tradisi lama yang telah “membatu”, yang mengantarkan kepada perubahan cara pandang dan memahami sesuatu, tentunya dengan tetap tidak meninggalkan karakteristik fundamental tradisi islam itu sendiri, yaitu al-Quran dan sunnah. Masa lalu tidak bernilai, selama ia tidak menjadi kekuatan untuk menjadi bagian masa depan kala ia dimanfaatkan secara inovatif. Kedua, menaruh respek terhadap kebudayaan bangsa lain dan mengapresiasinya dengan mengambil unsur-unsur progresif dan mengesampingkan anasir negatif yang berpotensi merusak kebudayaan islam itu sendiri. Ketiga, membebaskan diri dari taklid buta dan pembebekan, karena sebagaimana disinggung dimuka bahwa manusia yang bertaklid sejatinya manusia yang mati, karena ia berpikir tidak menggunakan nalarnya sendiri dan hanya mengekor apa yang dipikirkan orang lain. Kemandirian pemikiran merupakan syarat mutlak terwujudnya eksistensi manusia, karena ia tercipta sebagai makhluk yang berpikir, sehingga tanpanya manusia itu bisa dianggap tidak ada atau mati. Kemandirian pemikiran disini bukanlah tanpa adanya pengaruh dari luar, karena mustahil manusia itu melampaui kodratnya sebagai homo social dengan tidak melakukan kontak sosial dan interaksi dengan orang lain. Yang dimaksud kemandirian berpikir disini adalah kemampuan manusia memberikan alasan-alasan logis yang melatarbelakangi tindakannya serta melakukan analisa yang mendalam mengenai realita yang ada, tentunya diiringi dengan pertimbangan-pertimbangan nalar yang masuk akal. Keempat, memupuk semangat rasionalisme dan kritisisme, yang diharapkan bisa digunakan untuk melakukan pembacaan ulang terhadap tradisi sendiri, maupun tradisi bangsa lain, sehingga dapat menumbuh kembangkan kebudayaan baru yang lebih segar, inovatif dan dinamis. Wacana pengkotakan antara ilmu “dunia” dengan ilmu “akhirat” sebenarnya tidak ada persedennya dalam dunia islam. Hal ini sebagaimana ditekankan al-Ghazali “ sebagian besar ilmu syariat adalah rasional bagi mereka yang mengetahui, dan mayoritas ilmu-ilmu rasional adalah syar’i bagi yang memahami”. (maarij al-quds). Kesemua hal tersebut tentunya hanya dapat dicapai apabila iklim kebebasan dan kesetaraan dibuka lebar-lebar serta diiringi kerja keras dan gotong royong dari semua elemen masyarakat. Marilah kita mulai dari diri kita !!! Kalau bukan kita yang memulai, lantas siapa???

0 comments:

Post a Comment