Tuesday, August 31, 2010

Berguru pada alam


 
Alam yang kita pijak ini merupakan suatu anugerah tak terhingga yang diberikan Tuhan kepada kita. Disamping memberikan segala yang kita butuhkan untuk hidup, seperti air, udara, tanah, alam juga mengajari kita banyak hal tentang hidup dan kehidupan. Banyak sekali pelajaran yang diberikan alam kepada kita jika kita memberikan sedikit waktu untuk melakukan perenungan.  Alam mengajak kita untuk belajar kehidupan setiap saat, dan  memberikan pelajaran kepada kita dengan bekerja tanpa banyak komentar apalagi interupsi.


Dari alam juga, banyak para tokoh dan ilmuwan yang mendapatkan inspirasinya . Sir Isaac Newton, ilmuwan besar penemu teori gravitasi menemukan teorinya itu terinspirasi dari buah apel yang jatuh mengenai kepalanya. Atau pernahkah anda mendengar ungkapan ‘Eureka’? Ungkapan yang sangat masyhur hingga sekarang itu berasal dari bibir Archimedes, orang pintar dari Yunani. Ungkapan itu meluncur ketika ia berhasil menemukan hukum hidrostatika yang terkenal itu, jika sebuah benda dimasukkan ke dalam air, maka air akan dipindahkan (tumpah) sebesar volume benda yang dimasukkan tersebut. Konon hukum itu ia temukan ketika berendam di bak mandi dan mengamati air dalam bak yang sebelumnya terisi penuh meluap tumpah ketika ia masuk kedalam bak tersebut.


Abul Anbiya’, Ibrahim as dalam refleksinya yang menggambarkan perjalanan seorang  pencari Tuhan  juga belajar melalui alam. Ibrahim menganggap bulan adalah tuhannya karena memberi penerang di tengah kegelapan. Namun ketika pagi datang kemudian matahari muncul dengan sinarnya yang lebih terang benderang, kesimpulan Ibrahim pada bulan berubah, kemudian menganggap mataharilah Tuhan yang maha besar itu.
 
Apa yang diharapkan Ibrahim pada matahari ternyata tidak memberi kepuasan batinnya tentang tuhan. Sebab ketika senja datang menenggelamkan matahari keperaduannya, Ibrahim pun berfikir mustahil tuhan menghilang. Masa-masa pencarian tuhan ini membawa Ibrahim pada pergulatan pemikiran yang sangat panjang. Sehingga sampai ia pada suatu kesimpulan bahwa apa yang dilihatnya itu adalah benda-benda yang memiliki pencipta (khalik) yang tak bisa dilihat, tak bisa digambarkan bentuknya, namun bisa dirasakan keberadaannya. Pencipta (Tuhan) inilah yang menjadi tujuan pencarian Ibrahim. Tuhanlah yang menciptakan alam yang luas dan permai ini.


Ketika menengadah keatas langit, perhatikanlah matahari, ia adalah symbol keadilan dan kasih sayang. Ia memberikan terangnya kepada seluruh manusia, tak peduli jahat atau baik, muslim atau non muslim, kaya atau miskin, semuanya mendapatkan sinar yang sama. Ia juga mengasihi makhluk Tuhan lainnya. Membantu terjadinya proses fotosintesis pada tumbuhan, membantu mempertemukan serbuk sari dan putik pada bunga,  menjadikan dirinya pertanda bagi proses migrasi burung. Matahari juga dengan bijaknya selalu setia melaksanakan tugasnya dengan baik, terbit setiap pagi dan kembali ke peraduan pada sore hari. Tanpa protes tanpa keluhan.

Kita juga bisa belajar dari lebah, yang senantiasa bergandeng tangan bahu membahu menghasilkan sesuatu yang manis, bermanfaat bagi orang lain. Bekerja dengan hati yang riang dan semangat membara demi memberikan yang terbaik untuk orang lain.

Dari penguin, kita bisa belajar ketabahan dan pengorbanan. Pejantan penguin bersedia mengerami telur-telurnya di saat badai es dengan ganasnya menyerang, dengan setia ia menjaga bakal penerusnya itu dengan meletakkannya di atas kakinya, diam bergeming, walaupun ia harus menahan lapar dan haus sampai 4 bulan lamanya. Suatu pengorbanan luar biasa sampai-sampai tidak mempedulikan dirinya sendiri.

Bila kita melemparkan pandangan ke lautan yang luas dan tenang, kita bisa petik pelajaran tentang kerendahan hati dan ketenangan. Semua air dari dunia ini, baik itu air comberan, air sungai, atau air limbah yang membawa penyakit semuanya bermuara dan bertemu di laut. Semuanya hidup rukun dan damai menjadi satu. Sementara sang laut mengayomi mereka semua dan rela menjadikan dirinya asin sebagai penawar bagi penyakit dan kotoran yang dibawa oleh mereka. Semua air menuju ke laut dan laut dengan setia selalu menerimanya. Sebagai pelajaran, orang yang merendah dan berlapang dada selalu diterima dan dicintai semua orang, lain halnya dengan orang  yang tinggi hati, orang segan mendekat, jurangnya dalam dan tak semua orang mampu untuk menggapainya.

Dari makhluk Tuhan lain yang katanya tak berakal ini, banyak sekali pelajaran yang dapat kita petik buahnya. Seekor salmon yang mengajarkan pengorbanan sehingga ia mampu menempuh perjalanan bermil-mil jauhnya hanya untuk melestarikan keturunannya. Hujan yang turun ke bumi kehadirannya sangat dinantikan untuk menyejukkan alam yang kering, membasahi bumi dan memberikan kehidupan pada makhluk yang lain, mengajarkan agar selalu melihat ke ‘bawah’ agar bermanfaat kepada yang lain. Dari pohon bambu kita bisa belajar akan ketegaran dan dan keluwesan, sekencang apapun angin yang meniupnya bambu selalu bisa berdiri dan tegak kembali, sedahsyat apapun ujian yang kita hadapi hendaknya selalu berusaha untuk bangkit kembali. Semut kecil yang biasanya kita acuhkan, ternyata juga mencontohkan arti indahnya kerja keras dan gotong royong. Saling tolong saling bantu demi tercapainya tujuan bersama.

“Jadikanlah alam gurumu”, seru William Wordsworth suatu kali. Lewat puisi-puisinya penyair kawakan Inggris yang tenar pada pertengahan tahun 1800-an itu mengingatkan kita agar tak segan berguru pada alam. Imam Al Ghazali berkata, "Berjalanlah kamu di atas dunia ini, maka banyak yang akan kamu lihat". Masih banyak lagi hal lain yang mungkin bisa kita petik pelajaran dari alam. Itu hanya setitik contoh dari lautan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh alam. Dan sekali lagi kita sebagai manusia harus bersyukur. Kita harus berpikir seribu kali atau mungkin berjuta-juta kali atau mungkin seribu juta kali untuk membiarkan alam yang kita tinggali ini rusak oleh tangan kita sendiri. Masih banyak sekali "misteri" di alam kita yang belum kita ketahui. Untuk itu kita harus berusaha memulai dari diri kita sendiri, untuk menjaga agar alam yang kita tinggali ini tidak rusak oleh tangan kita sendiri.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS : Ali Imran 190-191)

0 comments:

Post a Comment