Tuesday, August 31, 2010

Antara Tuhan dan wanita-wanita hebat di sekelilingku

Dulu sewaktu kecil, aku menganggap bahwa Tuhan adalah sesosok algojo sangar dengan mata merah menyala-nyala sembari membawa palu godam raksasa, siap dihujamkan kepada hambanya yang lalai akan perintahnya dan terlena akan kehidupan dunia fana. Gambaran itu, terus membayangi benakku sampai beberapa masa lamanya. Itulah mengapa ketika aku kecil, setiap kali habis mengumpat aku selalu memukulkan tangan ke mulutku 10 kali, berharap ucapanku tadi segera diampuni Tuhan dan tidak memasukkanku ke Neraka-Nya yang konon lebih panas dari kompor api tukang las. ‘Plok...plok...plok 10x, wes aman; ga duso maneh’  (aman, sudah ga dosa lagi), begitu leganya perasaanku waktu itu setelah menghujamkan kepalan tanganku ke mulut yang tadi berbuat dosa. Semakin keras semakin baik dan semakin terbuka kemungkinan Tuhan mengampuniku. Ga lucu deh kayaknya kalau aku yang waktu itu super duper imut plus lugu kok harus mendekam di neraka yang panasnya amit-amit sembari menikmati cemeti api ‘amar rasuli’ milik Tuhan, hanya gara-gara mengumpat. Tapi apalah daya gambaran sosok Tuhan seperti itulah yang berkembang di lingkungan sekitarku, -minimal menurut apa yg aku tangkap- dalam benak orang tua, teman-teman, keluarga, dan tetangga sekitarku. “Cepetan sholat, biar masuk surga”, “Ga boleh bohong, ntar kalo suka bohong dimasukkan neraka”, “Ayo belajar ngaji, biar ntar dapet pahala yang banyak” ungkapan-ungkapan seperti itu setiap kali terngiang-ngiang di telinga, perlahan-lahan membatu, membentuk persepsiku tentang bagaimana Tuhan bertindak dan memperlakukan hamba-hambanya. Ya, Tuhan ‘preman’ yg bertindak semau gue itulah yang selalu kutakuti, yang kutaati perintahnya hanya karena aku ingin masuk surga yang ‘adem pake AC’, banyak coklat dan makanan enak disana. Sementara aku berusaha menjauhi larangannya cuma agar ga masuk neraka yang, amit-amit dah pokoknya ga enaknya.


Namun apa yang kupikirkan ketika itu, berbanding terbalik dengan apa yang kurasakan sendiri. Pengalamanku dengan beberapa wanita hebat telah mengubah sudut pandangku dalam mengenal Tuhan dan dunia. Syahdan, saat malam mulai larut dan aku kecil waktu itu sudah terlelap tidur, tiba-tiba suara petir menggelegar di daun telingaku, disusul bunyi hujan deras mengguyur bumi yang sontak mengagetkanku, membangunkanku dari tidur. Suara geledek yang menyambar-nyambar dan pekatnya malam ditambah paduan suara katak dan hewan malam saling bersahutan bagiku terdengar seperti gerakan sekelompok hantu yang hendak menculik anak kecil seperti aku. Membuat keadaan semakin mencekam. Panik, tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Spontan saja aku berteriak memanggil ‘Bu...bu...bu’. Tak berapa lama, pintu kamarku terbuka dan ibuku masuk, menanyakan keadaanku, lalu menemaniku tidur disampingnya. Aneh. Saat itulah tiba-tiba aku merasa diriku diliputi rasa aman, tidak khawatir sebesar apapun ‘hantu’ yang akan menculikku, toh aku sudah mempunyai ‘dewi pelindung’. Dipelukannya, aku merasa tentram, dalam dekapannya ada damai disana. Meskipun setelah itu ibuku terlelap tidur, sedangkan aku masih berkedip-kedip belum bisa memjamkan bola mataku, aku merasakan nyaman. Aku seolah merasakan ada pancaran energi luar biasa disana, energi dimana mampu dengan sedemikian mudah merubah suasana yang tadinya horor menjadi tenang, yang tadinya membuatku ketakutan setengah mati menjadi serasa berada di taman kedamaian. Itulah energi kasih sayang ibu kepada anaknya. Disitulah aku benar-benar seperti merasakan kehadiran Tuhan. Tuhan yang memberikan pancaran kedamaian kepada makhlukNya, bukan Tuhan bengis bin egois yang meminta semua perintahnya untuk dipatuhi dan menyiksa siapa-siapa yang mencoba melanggarnya, tanpa ampun, tanpa belas kasihan.


Ketika aku merengek minta dibelikan mainan yang tergolong mahal, ibuku menurutinya. Ia membelikanku mainanku yang pertama berupa kucing-kucingan –yg lumayan mahal harganya ketika itu- yang bisa bergerak otomatis. Sebagai gantinya, aku sukses merusakkannya selang 2 hari kemudian. Tak kapok, aku minta lagi dibelikan lagi mainan yang baru. Kali ini robot pesawat terbang, dan lagi-lagi ibu menurutinya. Seperti sebelumnya, mainan inipun hanya berumur sebentar saja, karena aku tidak kuasa menahan hasratku untuk tidak mempretelinya. Dengan sabar, ibu terus menurutiku, membelikanku mainan-mainan yang baru, memberiku sepeda roda tigaku yang pertama kali, menghadiahiku video game selepas khitan, dan terus menuruti apa saja keinginanku, seakan tidak rela melihat anaknya tidak bisa bermain sesuai dengan keinginannya. Namun di balik semua itu, Ibu selalu berpesan, supaya tidak terlalu sering bermain dan tidak mengabaikan belajar. Dasar akunya yang terlalu bandel, nasehat itu hanya kuanggap angin lalu saja, alih-alih mengindahkan, apa yang dinasehatkan saja kadang aku lupa. Tak hirau sama sekali, karena asyik dengan duniaku sendiri. Akibatnya, ketika giliran aku sakit karena terlalu banyak bermain, giliran ibu pula orang yang paling repot mengurusiku. Meskipun sambil memarahiku namun aku sadar, ia marah bukan karena benci padaku, sebaliknya ia khawatir dengan keadaanku yang memang sudah sering sakit-sakitan sewaktu kecil. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpaku.


Persis, kekhawatiran ibuku tadi kurasakan mirip sekali dengan kekhawatiran Tuhan –yang baru bisa kurasakan baru-baru ini saja- kepada umat-Nya. Dia tidak ingin umat-Nya terjerumus kepada kemusyrikan; menyembah dan meminta-minta kepada dzat lain yang lemah dan tiada kuasa memberikan apapun. Sebagai gantinya ia bersedia memberikan apapun yang diminta hamba-Nya, karena Dia dzat yg maha kaya dan memiliki segala. Ia menggariskan perintah-Nya untuk ditaati, bukan sebagai perlambang superioritas Sang Khalik atas makhluk-Nya, melainkan demi kebaikan si hamba sendiri. Dia melarang minuman keras, karena yang satu itu biang keladi rusaknya akal manusia, yang dianugerahkan Tuhan sebagai pembeda antara manusia dan hewan. Dia melarang zina, karena ia menghancurkan martabat manusia, sebagai akar dari merebaknya berbagai penyakit sosial; jasmani ataupun rohani. Lewat sosok ibuku ini, aku pertama kalinya mengenal kasih sayang Tuhan kepada makhluk-Nya.


Sosok wanita berikutnya yang mengajariku untuk mengetahui kemurahan hati Tuhan adalah alm. nenekku. Wanita sederhana –kalau tidak bisa dibilang tak berpunya- yang sangat bersahaja ini mengajariku akan arti indahnya kedermawanan. Tempaan kehidupan yang keras -sepeninggal sang suami yang mangkat muda- harus mengasuh anak-anaknya sendirian tak membuat ia enggan berbagi dengan orang lain. Walaupun tidak mempunyai penghasilan tetap, dan untuk sekedar menyambung hidup hanya mengandalkan santunan dari anak-anaknya ataupun pemberian murid-muridnya yang tak seberapa itu ia adalah pribadi paling pemurah yang sampai sekarang mempengaruhiku. Dulu ketika dimarahi ibu dan dihukum tidak diberi uang jajan, aku mesti lari ke rumah nenekku, sekedar untuk meminta uang padanya. “Mbah, njaluk duwe’e aku mbah, aku ga dike’i ibu mbah” (mbah, minta uangnya dong, aku ga dikasih ibu uang), rajukku kala itu dengan muka memelas. Kontan saja mendengar permintaan si cucu ia kalang kabut mencari uangnya yang tersisa. Membongkar lemari, mencari-carinya di sela-sela tumpukan pakaian, terkadang sampai meminjam ke saudara yang lain hanya karena tidak ingin cucunya kecewa. Kadangkala, setelah mencari kesana kemari dan tidak menemukan apapun, dengan raut menyesal ia menggelengkan kepalanya seraya berjanji lain kali akan memberikanku uang jajan yang lebih banyak dari yang kuminta. Sungguh, suatu pelajaran kemurahan hati yang indah.


Karena aku adalah laki-laki normal dan dibesarkan dengan pola pendidikan selayaknya anak kecil seusiaku, maka otomatis aku juga pernah merasakan yang namanya cinta. Yah walaupun pada waktu itu cuma sebatas apa yang dinamakan orang-orang pinter sebagai cinta monyet, kingkong, simpanse dan kawan-kawannya yang sebangsa dan setanah air. Namun yang terpenting adalah bagaimana rasa ketertarikanku pertama kali pada lawan jenis itu mulai menyihirku. Sejak kecil (dan sampai sekarang) aku memang selalu amatir soal cinta. Selalu saja ketika gadis yang kutaksir lewat didepanku tiba-tiba persendianku lemas tak bertenaga, jari-jari tanganku gemetar tak karuan, dan tentu saja diiringi dengan lidah kelu dan bibir yang mengatup rapat tanpa mau diajak kompromi sama sekali. Aku tidak dapat berbuat apa-apa kecuali hanya memandang makhluk indah ciptaan Tuhan itu. Bulu mata lentik yang jelita itu; seperti ekor merak yang selalu mekar dengan warna-warnanya yang cerah, pancaran matanya penuh pesona; seperti aroma cuaca di musim semi yang selalu ceria, bersemangat setelah beberapa bulan alam muram tersihir gelapnya musim dingin. Hidungnya, bibirnya, kerlingan matanya, senyumnya, yang ah tak tahulah aku bagaimana lagi harus menggambarkannya. Sering telah kusiapkan diri berhari-hari beberapa patah kata untuk sekedar berbincang padanya. Tapi setiap kali melihat sinar bola matanya, semua kata yang kusiapkan pun ikut sirna, menguap bersama lembut tatapannya. Ya aku memang selalu amatir soal cinta. Namun setidaknya pengalaman jatuh cinta untuk pertama kalinya itu memberiku sekeping pelajaran, bahwa Tuhan telah menciptakan banyak keindahan di jagat raya ini. Percikan keindahan Tuhan, yang Dia titipkan pada makhluk yang bernama wanita, sukses dengan telak membuat aku tidak berdaya, hanya bisa termangu bak kerbau dungu yang terseret ombak samudera yang bergulung-gulung.


Dunia cinta memang dunia yang misterius. Misteri cinta layak disandingkan dengan misteri-misteri terbesar dunia yang sampai sekarang belum ditemukan jawabannya. Segitiga bermuda, kota misterius Machu Pichu, Ufo, Crop Circle, Ramalan Nostradamus, Stonehage, dan seabrek misteri lain di alam ini seakan tidak berarti apa-apa dibandingkan dalamnya misteri cinta. Ia membuat dunia tiba-tiba menjadi serba baik. Ia memberikan semacam kejutan listrik dan energi misterius bagi mikro kosmos yang ada dalam diri kita. Beruntunglah dunia Tuhan telah menciptakan cinta. Beruntunglah Tuhan menciptakan wanita, sebagai pasangan sepadan laki-laki, bukan sebagai makhluk rendahan kelas dua, atau sebaliknya makhluk pesaing pria dalam perjuangan hidupnya mencari nafkah. Sekali-kali bukan. Akan tetapi ia adalah pendamping laki-laki, yang diciptakan Tuhan dari ‘nafs’ yang sama. Sebagai cerminan tajalli Tuhan pada alam raya. Tajalli yang, terus menerus ditampakkan Tuhan pada semesta, sebagai representasi dari diri-Nya, sebagai manifestasi keindahan-Nya, sebagai jalan untuk mengenal-Nya, sebagai wasilah untuk meleburkan diri kita pada samudera makrifat-Nya. Wallah a’la wa a’lam....



* sekedar uneg2 ringan dan berantakan

0 comments:

Post a Comment