Tuesday, August 31, 2010

Menimbang Khawarij ; Menelisik akar Fundamentalisme atas nama Islam


Prolog

Belakangan ini, fenomena penggunaan kekerasan dengan mengatasnamakan islam semakin marak. Teror, peledakan bom, pengrusakan fasilitas umum, pembunuhan rakyat sipil, merupakan salah satu bukti yang menunjukkan eksistensi mereka. Para pelaku tindak kekerasan tersebut, dengan mengatasnamakan Tuhan, berani melakukan aksinya selain sebagai reaksi atas penetrasi sistem dan nilai sosial budaya, politik dan ekonomi asing yang mereka anggap tidak sesuai dengan nilai-nilai yang digariskan islam, juga disebabkan dengan ‘iming-iming’ surga dan pahala akhirat. Selain itu, perbuatan mereka ini lahir juga akibat kesalahan dalam memahami dan menafsirkan Kitab Suci. Petikan-petikan ayat suci dan hadits yang dikemukakan oleh trio pengebom Bali I- Imam Samudera, Muklas dan Amrozi- menunjukkan akan hal itu. Dengan tanpa penyesalan dan menolak meminta maaf kepada keluarga para korban, mereka menyatakan dalam suatu wawancara dengan media cetak bahwa “arti jihad itu ya perang, tidak ada arti lain untuk jihad selain perang, dan perang memang harus dikobarkan kepada kaum kafir Amerika yang telah membantai muslimin di dunia. Perang terhadap kaum kafir ini adalah ibadah yang paling tinggi dalam islam. Bahkan naik haji seribu kalipun tidak dapat menyaingi pahala mujahid yang berperang melawan kafir. Allahu Akbar ...”.

Munculnya kelompok-kelompok pergerakan islam yang membuat para pemuda muslim tertarik untuk bergabung, juga disinyalir banyak menumbuhkan mental berpikir ekstrim dan radikal. Kelompok-kelompok ini memang selalu mengobarkan semangat juang para pemuda, sehingga tidak sedikit pemuda muslim yang memiliki jiwa mujahid kemudian bergabung. Tetapi sayangnya, ilmu pemuda itu tidak setinggi semangat jihad yang mereka miliki sehingga tidak jarang mereka terjerumus ke dalam kelompok yang memiliki akidah menyimpang.

Berguru pada alam


 
Alam yang kita pijak ini merupakan suatu anugerah tak terhingga yang diberikan Tuhan kepada kita. Disamping memberikan segala yang kita butuhkan untuk hidup, seperti air, udara, tanah, alam juga mengajari kita banyak hal tentang hidup dan kehidupan. Banyak sekali pelajaran yang diberikan alam kepada kita jika kita memberikan sedikit waktu untuk melakukan perenungan.  Alam mengajak kita untuk belajar kehidupan setiap saat, dan  memberikan pelajaran kepada kita dengan bekerja tanpa banyak komentar apalagi interupsi.

Antara Tuhan dan wanita-wanita hebat di sekelilingku

Dulu sewaktu kecil, aku menganggap bahwa Tuhan adalah sesosok algojo sangar dengan mata merah menyala-nyala sembari membawa palu godam raksasa, siap dihujamkan kepada hambanya yang lalai akan perintahnya dan terlena akan kehidupan dunia fana. Gambaran itu, terus membayangi benakku sampai beberapa masa lamanya. Itulah mengapa ketika aku kecil, setiap kali habis mengumpat aku selalu memukulkan tangan ke mulutku 10 kali, berharap ucapanku tadi segera diampuni Tuhan dan tidak memasukkanku ke Neraka-Nya yang konon lebih panas dari kompor api tukang las. ‘Plok...plok...plok 10x, wes aman; ga duso maneh’  (aman, sudah ga dosa lagi), begitu leganya perasaanku waktu itu setelah menghujamkan kepalan tanganku ke mulut yang tadi berbuat dosa. Semakin keras semakin baik dan semakin terbuka kemungkinan Tuhan mengampuniku. Ga lucu deh kayaknya kalau aku yang waktu itu super duper imut plus lugu kok harus mendekam di neraka yang panasnya amit-amit sembari menikmati cemeti api ‘amar rasuli’ milik Tuhan, hanya gara-gara mengumpat. Tapi apalah daya gambaran sosok Tuhan seperti itulah yang berkembang di lingkungan sekitarku, -minimal menurut apa yg aku tangkap- dalam benak orang tua, teman-teman, keluarga, dan tetangga sekitarku. “Cepetan sholat, biar masuk surga”, “Ga boleh bohong, ntar kalo suka bohong dimasukkan neraka”, “Ayo belajar ngaji, biar ntar dapet pahala yang banyak” ungkapan-ungkapan seperti itu setiap kali terngiang-ngiang di telinga, perlahan-lahan membatu, membentuk persepsiku tentang bagaimana Tuhan bertindak dan memperlakukan hamba-hambanya. Ya, Tuhan ‘preman’ yg bertindak semau gue itulah yang selalu kutakuti, yang kutaati perintahnya hanya karena aku ingin masuk surga yang ‘adem pake AC’, banyak coklat dan makanan enak disana. Sementara aku berusaha menjauhi larangannya cuma agar ga masuk neraka yang, amit-amit dah pokoknya ga enaknya.

Menapak Jalan, Menuju Peradaban Ideal

Syahdan ribuan tahun silam, Plato sang begawan pemikiran agung dari Yunani pernah berujar; ”Di alam ini terdapat 2 fadhilah, yang pertama adalah fadhilah aamah, yaitu fadhilah yang membuat sang empunya hanya bertindak sebagai muqollid, pengekor yang hanya berbuat mengikuti apa yang menjadi kebiasaan di lingkungan sekitarnya. Hal ini terepresentasikan dalam koloni-koloni semut dan lebah, dimana sang semut yang baru dilahirkan hanya bertindak mengikuti apa yang telah menjadi konsensus umum dalam koloninya, tanpa kreasi, miskin inovasi, tetap stagnan semenjak ribuan tahun yang lalu. Sedangkan fadhilah yang kedua yaitu fadhilah falsafiah, dimana ia mendorong sang empu melakukan suatu perbuatan tidak hanya sebatas membebek adat yang berkembang dalam masyarakat, akan tetapi didasari oleh pertimbangan-pertimbangan nalar yang memungkinkannya membedakan antara yang baik dan yang buruk”.

RAMADHAN DI NEGERI PARA NABI

Berpuasa di negeri orang, memang selalu menyisakan sejuta cerita menarik entah karena melihat adat kebiasaan masyarakat setempat dalam menjalankan puasa, yang tentu saja berbeda dengan budaya kita, maupun merasakan luapan rasa kangen yang membuncah bila ingat kehangatan berpuasa bersama keluarga tercinta. Kamis kemarin, Darul Ifta’ (Lembaga Fatwa) Mesir menetapkan bahwa awal ramadhan jatuh pada hari sabtu, 22 Agustus 2009. Tidak ada perbedaan dalam menentukan awal puasa disini, karena semuanya mengikuti instruksi dari darul ifta’ ,tidak ada isbat (penetapan) awal ramadhan dari organisasi kemasyarakatan maupun lembaga tertentu, karena pihak yang berwenang dalam hal ini hanyalah Darul Ifta’, lembaga fatwa tertinggi di Mesir. Hal ini merupakan sesuatu yang positif mengingat kemaslahatan dan persatuan umat lebih penting daripada rasa egois masing-masing yang malahan berpeluang membingungkan masyarakat seperti yang biasa terjadi di negara kita.

Menikmati musim panas di Mesir


Minggu ini, Kairo mulai memasuki musim panas, dan itu berarti saya sudah bisa sedikit melupakan musim dingin yang menyebalkan. Jaket tebal, mantel, sarung tangan maupun selimut tidur sudah siap untuk dikandangkan, menunggu sampai tahun depan untuk digunakan kembali. Jam untuk musim panas pun sudah dimajukan 1 jam (Daylight Saving), menyesuaikan akan waktu terbit tenggelamnya matahari. Musim panas di kairo, adzan subuh berkumandang pukul 03.40 sementara waktu maghrib tiba pukul 07.35.  Masih hampir sama dengan di Indonesia memang, tapi cahaya matahari yang datang tidak ada lagi istilah diskon. Cerah. Bahkan sangat cerah.