Thursday, November 25, 2010

Kebaikan dan Keburukan dalam Perspektif Al-Ghazali


(Sebuah Studi Analitik Deskriptif)
 
Ketahuilah Allah adalah sumber dari segala sumber kebaikan, karena ia adalah wajib al-wujud yang mewujudkan eksistensi mumkin al-wujud, dari keburukan menjadi kebaikan, yaitu dari tiada (‘adam) menjadi ada (wujud). Dan ketahuilah bahwa tidak ada dzulmah yang lebih berat daripada ketiadaan” (Al-Ghazali)

Prolog

Kebaikan dan keburukan adalah sebentuk tatanan nilai yang digunakan sebagai piranti bagi manusia dalam menentukan perbuatannya. Rumusan tatanan ini, berlaku sebagai parameter manusia dalam memandang Tuhan, alam, dan dirinya sendiri. Sebelum melakukan aksinya (yang mengandung baik-buruk) di dunia nyata, manusia dituntut untuk memahami terlebih dahulu bentuk-bentuk teoritis dari kebaikan dan keburukan itu sendiri. Sebab, kebaikan dan keburukan adalah basis epistemologis dari satu kerangka utuh bangunan hukum moral yang akan kita lakukan. Tanpa adanya nilai-nilai baik-buruk manusia tidak dapat membedakan perbuatannya, apakah bernilai positif sehingga layak diganjar pahala, ataukah negatif yang mengharuskannya mendapatkan dosa. Jadi, secara singkat dapat kita pahami bahwa kebaikan dan keburukan adalah aspek teoritis dari  apa yang kita kenal dengan etika, pada ranah praksisnya.

Menelisik Konsep Etika Sufis-Filosofis Al-Ghazali


Jalan Panjang menuju Kebahagiaan


Prolog

Manusia secara fitrah adalah makhluk sosial yang tercipta dengan memiliki watak ketergantungan terhadap yang lain. Interaksi sosial diperlukan manusia untuk memenuhi berbagai hajat hidupnya, karena mustahil bagi manusia untuk memenuhi segala macam kebutuhannya sendiri. Dalam proses berinteraksi dengan sesama, manusia mutlak membutuhkan pengetahuan tentang tata cara bergaul, berdialog, dan bertukar pikiran agar dapat diterima di tengah-tengah masyarakat. Bagaimana menggunakan kata-kata yang baik, belajar menerima kritik dari orang lain, bagaimana menempatkan diri di tengah-tengah komunitas sosial, semua itu adalah pokok bahasan ilmu etika.   Jadi Ilmu etika adalah ilmu yang digunakan untuk mengetahui nilai-nilai kebaikan dan keburukan dalam diri manusia, serta metode-metode efektif untuk mengontrol dan memoderasinya dengan baik[1]. Reformasi moral juga merupakan salah satu misi utama yang diemban oleh Nabi Muhammad.  Sebagaimana diriwayatkan dalam salah satu hadist yang terkenal; "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik".

Tuesday, October 26, 2010

Menyelami Metodologi Sejarah George Zaidan


Sebuah Tinjauan Kritis terhadap Potret Sejarah

                                       
Kisah Bermula

Manusia adalah makhluk yang dilemarkan ke dunia, kemudian ia hidup, bekerja, berbicara, dan pada akhirnya mempunyai sejarah. Sejarah merupakan ibu dari pengetahuan manusia dan berusia setua manusia, hanya manusialah yang mempunyai sejarah dan sanggup mempelajari sejarah. Dalam sejarah semacam itu manusia menjadi pencipta sejarah, manusia adalah pencipta dan subyek yang membentuk sejarah. Karena itulah maka sejarah adalah agregasi aktivitas manusia.[1]

Wednesday, October 6, 2010

Identifikasi, Kesadaran dan Dialektika di Era Pasca Kolonial


Medio 90-an, dunia dikejutkan oleh tesis Samuel Huntington. Dalam buku yang menuai banyak reaksi, The Clash of Civilization ia meramalkan akan terjadinya konflik global di masa depan antara peradaban Barat versus peradaban Islam. Sebagai konsekuensi logis dari berakhirnya perang dingin yang ditandai dengan ambruknya Uni Soviet, maka peradaban Barat dengan leluasa melengang sendirian dalam percatuan global dunia. Dengan keberhasilannya meruntuhkan komunisme dan penganut setianya, maka satu-satunya negara yang berpotensi menyaingi supremasi Barat -menurut tesis Huntington- hanyalah negara-negara muslim. Islam dipandang sebagai momok menyeramkan yang perlahan mulai bangkit. Kebangkitan dunia Islam ditandai dengan maraknya teriakan-teriakan jihad yang didengungkan oleh kalangan fundamentalis. Dan Barat, sebagai pemimpin dunia mau tidak mau harus mempertimbangkan dunia Islam, apabila tidak ingin tersaingi. Begitulah kira-kira skenario benturan peradaban yang diramalkan oleh Huntington. Francis Fukuyama menyebut fenomena ini dengan ‘akhir sejarah’. Lantas yang jadi pertanyaan krusial; Apakah benar ada ketegangan antara Barat dengan dunia Islam? Lalu mampukah dunia Islam bangkit kemudian menyaingi Barat, mengingat faktanya dunia Islam masih asyik terlelap dari tidur panjangnya? Apakah benar Islam sebagai sebuah ideologi mempunyai wajah seseram itu?

Sekilas Sejarah Pers Mahasiswa Indonesia


I. Pers Mahasiswa Indonesia

Pers merupakan salah satu elan vital yang menopang berdirinya suatu negara. Eksistensi sebuah negara berjalan beriringan bersama-sama dengan kebebasan yang diberikan kepada warga negaranya untuk mengecap informasi yang benar. Sebagaimana diatur dalam undang-undang 1945 bahwa warga negara mempunyai hak asasi untuk mendapatkan informasi yang akurat, dan negara menjamin tiap-tiap warga negaranya untuk berserikat, berkumpul, dan menyuarakan pendapatnya. Sehingga tidak salah kiranya apabila Mark Twain pernah berkata “There are only two things that can be lightening the world. The sun light in the sky and the press in the earth”, bahwasanya ada dua hal yang bisa menerangi dunia. Matahari dilangit yang memberikan sinarnya pada semesta, dan Pers yang membumikan cahayanya ditengah-tengah peradaban manusia.

Hikayat Raja Hutan dan para Hewan


Alkisah suatu ketika di lembah Nadhier, terjadilah keributan yang berlangsung lama antara Singa sang raja hutan dengan hewan-hewan penghuni lembah. Para hewan tersebut resah karena singa selalu memburu dan memakan mereka satu demi satu. Merasa resah dengan ulah singa, mereka berkumpul dan merencanakan makar kepada sang singa. Ide tersebut berupa daging beracun yang nantinya akan dipersembahkan kepada Singa. Setelah mempersiapkan semuanya dengan matang, mereka berduyun-duyun mendatangi singa. “Wahai Raja Hutan, berhentilah memburu kami, dan tak usahlah engkau bersusah payah mengejar mangsamu. Karena mulai sekarang kami akan menyediakan makanan untukmu setiap hari, sehingga engkau tinggal duduk santai dan tak perlu berburu lagi. Sebagai gantinya, biarkanlah kami hidup damai tanpa harus cemas dengan keberadaanmu”.

Saturday, September 4, 2010

Rekonstruksi Maqashid al-Syari’ah dalam Perspektif Thahir bin ‘Asyur


(Sebuah Upaya mendialogkan kembali syariat dengan realitas)

Oleh : Ahmad Muhammad

   I. Abstraksi

Fikih klasik, sebagai sebuah produk hasil penalaran dan ijtihad para ulama dimasa silam, kerap disalah artikan dan didudukkan sebagai entitas yang bersifat absolut. Kedudukan fikih, sebagai sebuah penafsiran agama yang  relatif, seringkali disamakan dengan agama itu sendiri, yang mutlak, bebas dari kesalahan. Implikasinya, setiap problem yang muncul di realitas kekinian, harus selalu merujuk pada kekuatan magis fikih klasik dalam mencarikan jalan keluar. Dan akibatnya jelas, semua fenomena yang terjadi di era kontemporer harus selalu patuh pada otoritas tunggal masa silam. Inilah mengapa banyak produk fikih yang dihasilkan menjadi mandul dan terkesan mengawang diatas cakrawala peradaban masa silam. Hal inilah yang kemudian menjadi biang keladi dari banyak kegagalan fikih klasik dalam berdinamika dan berdialog dengan anak-anak zaman sekarang.

Pemahaman yang menyeluruh terhadap sejarah fikih klasik sangat mungkin akan melahirkan kesadaran betapa pentingnya mengedepankan

Resensi Buku : I'tirafat al-Ghazali aw kaifa arrakha al-Ghazali nafsahu, Sebuah otokritik atas otobiografi al-Ghazali



"Sesungguhnya al-Ghazali adalah guruku, namun kebenaran dan hakikat lebih layak dikedepankan daripada al-Ghazali" (muallif).



Prolog

Adalah Al-Ghazali, imam besar ahlus sunnah, seorang sufi, teolog dan ahli di berbagai disiplin ilmu yang berkembang di zamannya. Pemikirannya yang unik turut  serta mewarnai jagat pertarungan pemikiran islam waktu itu. Dan sosoknya yang kontroversial tak jarang mengundang decak kagum pendukungnya,  walaupun banyak juga yang mengkritik dan mengecamnya.

Al-Ghazali adalah lautan yang terbentang luas dan dikedalamanya mengandung mutiara yang berharga nilainya. Al-Ghazali bagaikan Al-Syafi'i kedua, Hujjatul Islam, dan maha guru dari para guru. Demikianlah pujian-pujian yang dilontarkan oleh para pengagumnya. Sementara di lain pihak, para pengecam dan pengkritik al-Ghazali menuduhnya telah melakukan kesalahan besar terhadap perjalanan sejarah islam, karena dalam memberikan solusi terhadap problematika umat, lebih cenderung mengajak mereka untuk memasuki jalan tasawuf yang mengabaikan kehidupan dunia dan mengahambat kemajuan masyarakat, karena tenggelam dalam mencari kebahagiaan yang bersifat pribadi dan individualistis.


Disamping itu, para filosof islam juga berpendapat bahwa al-Ghazali, melalui karya-karyanya di bidang teologi dan filsafat, juga turut andil tidak hanya dalam menghancurkan filsafat metafisika, tetapi juga dalam melemahkan umat islam dalam mengadakan riset dan penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan alam.

Imam Malik bin Anas; Sebuah Biografi


 
Prolog

Tidaklah mudah berbicara mengenai kebesaran seorang tokoh secara menyeluruh dan komperehensif tanpa dilakukan studi yang mendalam. Pembelajaran yang sepotong-sepotong malah akan menimbulkan pemahaman dan persepsi yang keliru.  Oleh karena itu dibutuhkan pembacaan secara menyeluruh dan kaafah yang akan mendekatkan kita pada realitas yang sebenarnya tanpa didasari oleh sikap fanatik sempit ataupun permusuhan.

Demikian pula dalam konteks ini,   jika kita mempelajari imam malik yang notabene seorang ahli hadits dan fikih tanpa menilik metode yang digunakan beliau dalam meriwayatkan hadits dan meng-istimbat hukum maka salah-salah kita malah menjauh dari realitas obyektif sosok beliau yang sebenarnya.

Tuesday, August 31, 2010

Menimbang Khawarij ; Menelisik akar Fundamentalisme atas nama Islam


Prolog

Belakangan ini, fenomena penggunaan kekerasan dengan mengatasnamakan islam semakin marak. Teror, peledakan bom, pengrusakan fasilitas umum, pembunuhan rakyat sipil, merupakan salah satu bukti yang menunjukkan eksistensi mereka. Para pelaku tindak kekerasan tersebut, dengan mengatasnamakan Tuhan, berani melakukan aksinya selain sebagai reaksi atas penetrasi sistem dan nilai sosial budaya, politik dan ekonomi asing yang mereka anggap tidak sesuai dengan nilai-nilai yang digariskan islam, juga disebabkan dengan ‘iming-iming’ surga dan pahala akhirat. Selain itu, perbuatan mereka ini lahir juga akibat kesalahan dalam memahami dan menafsirkan Kitab Suci. Petikan-petikan ayat suci dan hadits yang dikemukakan oleh trio pengebom Bali I- Imam Samudera, Muklas dan Amrozi- menunjukkan akan hal itu. Dengan tanpa penyesalan dan menolak meminta maaf kepada keluarga para korban, mereka menyatakan dalam suatu wawancara dengan media cetak bahwa “arti jihad itu ya perang, tidak ada arti lain untuk jihad selain perang, dan perang memang harus dikobarkan kepada kaum kafir Amerika yang telah membantai muslimin di dunia. Perang terhadap kaum kafir ini adalah ibadah yang paling tinggi dalam islam. Bahkan naik haji seribu kalipun tidak dapat menyaingi pahala mujahid yang berperang melawan kafir. Allahu Akbar ...”.

Munculnya kelompok-kelompok pergerakan islam yang membuat para pemuda muslim tertarik untuk bergabung, juga disinyalir banyak menumbuhkan mental berpikir ekstrim dan radikal. Kelompok-kelompok ini memang selalu mengobarkan semangat juang para pemuda, sehingga tidak sedikit pemuda muslim yang memiliki jiwa mujahid kemudian bergabung. Tetapi sayangnya, ilmu pemuda itu tidak setinggi semangat jihad yang mereka miliki sehingga tidak jarang mereka terjerumus ke dalam kelompok yang memiliki akidah menyimpang.

Berguru pada alam


 
Alam yang kita pijak ini merupakan suatu anugerah tak terhingga yang diberikan Tuhan kepada kita. Disamping memberikan segala yang kita butuhkan untuk hidup, seperti air, udara, tanah, alam juga mengajari kita banyak hal tentang hidup dan kehidupan. Banyak sekali pelajaran yang diberikan alam kepada kita jika kita memberikan sedikit waktu untuk melakukan perenungan.  Alam mengajak kita untuk belajar kehidupan setiap saat, dan  memberikan pelajaran kepada kita dengan bekerja tanpa banyak komentar apalagi interupsi.

Antara Tuhan dan wanita-wanita hebat di sekelilingku

Dulu sewaktu kecil, aku menganggap bahwa Tuhan adalah sesosok algojo sangar dengan mata merah menyala-nyala sembari membawa palu godam raksasa, siap dihujamkan kepada hambanya yang lalai akan perintahnya dan terlena akan kehidupan dunia fana. Gambaran itu, terus membayangi benakku sampai beberapa masa lamanya. Itulah mengapa ketika aku kecil, setiap kali habis mengumpat aku selalu memukulkan tangan ke mulutku 10 kali, berharap ucapanku tadi segera diampuni Tuhan dan tidak memasukkanku ke Neraka-Nya yang konon lebih panas dari kompor api tukang las. ‘Plok...plok...plok 10x, wes aman; ga duso maneh’  (aman, sudah ga dosa lagi), begitu leganya perasaanku waktu itu setelah menghujamkan kepalan tanganku ke mulut yang tadi berbuat dosa. Semakin keras semakin baik dan semakin terbuka kemungkinan Tuhan mengampuniku. Ga lucu deh kayaknya kalau aku yang waktu itu super duper imut plus lugu kok harus mendekam di neraka yang panasnya amit-amit sembari menikmati cemeti api ‘amar rasuli’ milik Tuhan, hanya gara-gara mengumpat. Tapi apalah daya gambaran sosok Tuhan seperti itulah yang berkembang di lingkungan sekitarku, -minimal menurut apa yg aku tangkap- dalam benak orang tua, teman-teman, keluarga, dan tetangga sekitarku. “Cepetan sholat, biar masuk surga”, “Ga boleh bohong, ntar kalo suka bohong dimasukkan neraka”, “Ayo belajar ngaji, biar ntar dapet pahala yang banyak” ungkapan-ungkapan seperti itu setiap kali terngiang-ngiang di telinga, perlahan-lahan membatu, membentuk persepsiku tentang bagaimana Tuhan bertindak dan memperlakukan hamba-hambanya. Ya, Tuhan ‘preman’ yg bertindak semau gue itulah yang selalu kutakuti, yang kutaati perintahnya hanya karena aku ingin masuk surga yang ‘adem pake AC’, banyak coklat dan makanan enak disana. Sementara aku berusaha menjauhi larangannya cuma agar ga masuk neraka yang, amit-amit dah pokoknya ga enaknya.

Menapak Jalan, Menuju Peradaban Ideal

Syahdan ribuan tahun silam, Plato sang begawan pemikiran agung dari Yunani pernah berujar; ”Di alam ini terdapat 2 fadhilah, yang pertama adalah fadhilah aamah, yaitu fadhilah yang membuat sang empunya hanya bertindak sebagai muqollid, pengekor yang hanya berbuat mengikuti apa yang menjadi kebiasaan di lingkungan sekitarnya. Hal ini terepresentasikan dalam koloni-koloni semut dan lebah, dimana sang semut yang baru dilahirkan hanya bertindak mengikuti apa yang telah menjadi konsensus umum dalam koloninya, tanpa kreasi, miskin inovasi, tetap stagnan semenjak ribuan tahun yang lalu. Sedangkan fadhilah yang kedua yaitu fadhilah falsafiah, dimana ia mendorong sang empu melakukan suatu perbuatan tidak hanya sebatas membebek adat yang berkembang dalam masyarakat, akan tetapi didasari oleh pertimbangan-pertimbangan nalar yang memungkinkannya membedakan antara yang baik dan yang buruk”.

RAMADHAN DI NEGERI PARA NABI

Berpuasa di negeri orang, memang selalu menyisakan sejuta cerita menarik entah karena melihat adat kebiasaan masyarakat setempat dalam menjalankan puasa, yang tentu saja berbeda dengan budaya kita, maupun merasakan luapan rasa kangen yang membuncah bila ingat kehangatan berpuasa bersama keluarga tercinta. Kamis kemarin, Darul Ifta’ (Lembaga Fatwa) Mesir menetapkan bahwa awal ramadhan jatuh pada hari sabtu, 22 Agustus 2009. Tidak ada perbedaan dalam menentukan awal puasa disini, karena semuanya mengikuti instruksi dari darul ifta’ ,tidak ada isbat (penetapan) awal ramadhan dari organisasi kemasyarakatan maupun lembaga tertentu, karena pihak yang berwenang dalam hal ini hanyalah Darul Ifta’, lembaga fatwa tertinggi di Mesir. Hal ini merupakan sesuatu yang positif mengingat kemaslahatan dan persatuan umat lebih penting daripada rasa egois masing-masing yang malahan berpeluang membingungkan masyarakat seperti yang biasa terjadi di negara kita.

Menikmati musim panas di Mesir


Minggu ini, Kairo mulai memasuki musim panas, dan itu berarti saya sudah bisa sedikit melupakan musim dingin yang menyebalkan. Jaket tebal, mantel, sarung tangan maupun selimut tidur sudah siap untuk dikandangkan, menunggu sampai tahun depan untuk digunakan kembali. Jam untuk musim panas pun sudah dimajukan 1 jam (Daylight Saving), menyesuaikan akan waktu terbit tenggelamnya matahari. Musim panas di kairo, adzan subuh berkumandang pukul 03.40 sementara waktu maghrib tiba pukul 07.35.  Masih hampir sama dengan di Indonesia memang, tapi cahaya matahari yang datang tidak ada lagi istilah diskon. Cerah. Bahkan sangat cerah.