Friday, August 31, 2012

Manusia dan Ilmu; Sebuah Refleksi Filosofis terhadap Makna Dasariah Manusia


Manusia adalah makhluk multidimensional. Sebagai produk sejarah, manusia adalah makhluk yang lahir, berkembang, berketurunan, berkebudayaan dan kemudian mempunyai sejarah. Manusia juga makhluk materialis, sebab ia terikat oleh hukum-hukum yang berkenaan dengan materi. Sama seperti benda-benda material lainnya, manusia terkenai gaya gravitasi bumi, hukum kekekalan energi, hukum kausalitas dan sebagainya. Namun demikian, menurut Plato manusia  ternyata juga makhluk spiritual, yang selalu rindu akan realitas adi kodrati. Meskipun raga wadagnya terkungkung dunia material namun jiwanya acap terbang ke alam transendental. Manusia menurut Aristoteles adalah makhluk yang berpikir (animal rationale). Ia adalah makhluk yang berbahasa (animal loquens), seru Louis Leahy, Makhluk pertanda (animal symbolicum) kata Ernst Cassirer, Makhluk yang berkehendak (volo/aku ingin) ujar Mains de Biran.

Banyak definisi lain yang muncul untuk merumuskan karakteristik khas dari makhluk bernama manusia. Ia adalah an ethical being, an aestethical being, a metaphysical being, dan a religious being. Manusia berwajah plural. Sebagai makhluk etis ia dihadapkan pada persoalan baik-buruk, dan moralitas yang layak-tak layak. Dari sisi estetika, manusia diklaim sanggup mengenali entitas indah-buruk, bernilai rendah-tinggi. Sekalipun mempunyai dimensi material, ia sekaligus juga makhluk religius, dimana realitas tertinggi selalu menjadi terminal terakhir dari perjalanan hidupnya.

Strategi Nuklir Pakistan dalam Konfrontasi dengan India


 
Pendahuluan
Dalam bentuknya yang klasik, strategi kerap dikaitkan dengan perang. Sun Tzu seorang penasihat kerajaan yang hidup di masa China kuno mengaitkan strategi sebagai seni para jenderal. Hal itu dapat dimaklumi karena konsep dasar strategi saat itu adalah ajang adu kecerdikan para jenderal untuk mencapai kemenangan, yang kebanyakan ditentukan di medan perang. Carl Von Clausewitz, seorang ahli strategi Prusia yang hidup di era Napoleon mengatakan bahwa strategi adalah alat untuk mencapai tujuan. Strategi digunakan dalam peperangan sebagai alat mencapai tujuan-tujuan politis. Perang sebagai alat, tidak dapat dipisahkan dari tujuan utamanya, yaitu pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan oleh para pembuat kebijakan. Dengan demikian kemenangan dalam pertempuran tidak dapat dianggap kemenangan apabila tidak mampu mencapai tujuan politis yang lebih tinggi.  Pada perkembangan selanjutnya, Michael Porter mengembangkan studi strategi ke medan bisnis. Melalui bukunya, What Is Strategy? Porter menjelaskan bahwa startegi adalah bagaimana menggunakan cara yang berbeda dengan rival untuk memenangkan sebuah kompetisi. 
Dengan kata lain studi strategi mengalami perubahan dari masa ke masa.. Dari evolusi konsep strategi diatas, bisa dikatakan bahwasanya dalam bentuknya yang lebih luas, inti dari studi strategi adalah sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan lebih tinggi menghadapi perubahan dunia yang ambigu dan tak menentu.
Peristiwa besar yang terjadi pada perang dunia II mengubah pandangan dunia tentang strategi. Dua bom atom ‘Little Boy’ dan ‘Fat Man’ yang dijatuhkan awak pesawat tempur Amerika Serikat, secara telak meluluh lantakkan Hiroshima dan Nagasaki menyadarkan dunia bahwa era baru dimulai, era Nuklir. Pada masa yang disebut nuclear age ini, terjadi perubahan cara berfikir dan metode analisis tentang perang yang telah beralih dari perang konvensional menuju ke arah perang nuklir. Dengan daya hancurnya yang luar biasa, kehadiran nuklir bisa menjadi instrumen penting yang dapat mempengaruhi arah kebijakan luar negeri suatu negara. Hadirnya nuklir, mampu menciptakan Balance of Power yang menekan terjadinya perang. Hal ini disebabkan masing-masing negara yang memiliki teknologi nuklir ini akan berpikir ribuan kali untuk mulai menyerang negara lain yang mempunyai  kemampuan nuklir yang setara. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet saat perang dingin membuktikan hal ini. Sadar akan efek nuklir yang mengerikan, keduanya menggunakan prinsip deterrence yang mengandalkan kemampuan mereka untuk menahan diri untuk tidak menyerang terlebih dahulu.
Dari gambaran sekilas mengenai perkembangan studi strategi dari masa klasik hingga di era nuklir serta perbedaan substansial diantara keduanya, muncul kemudian pertanyaan; Apakah ada strategi nuklir?

Operation Uphold Democracy di Haiti


Menurut banyak kalangan, misi perdamaian yang digelar PBB dan negara-negara besar sepanjang tahun 1990-an banyak menuai kegagalan. Beberapa negara yang menjadi sasaran misi perdamaian malah menjadi negara gagal. Ribuan orang terbunuh, ribuan lainnya terpaksa mengungsi akibat konflik bersenjata yang terus berlangsung. Konflik di, Somalia, Burundi, Angola, Rwanda, Kongo, Liberia,  adalah contoh-contoh misi perdamaian yang dianggap gagal menghentikan pembantaian besar-besaran yang terjadi. Dari banyak misi perdamaian yang berlangsung sepanjang 1990-an hanya beberapa misi yang bisa dibilang sukses mempromosikan perdamaian, seperti misi di Timor-Timur, Kosovo, Sierra Leone, dan Haiti.
Menentukan indikator kesuksesan dan kegagalan suatu misi perdamaian masih menjadi pekerjaan yang ambigu. Ada banyak variable yang harus dipertimbangkan untuk mengukur tingkat kesuksesan suatu misi. Apa makna sukses? kesuksesan menurut siapa? Atas dasar apa dianggap sukses? adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab untuk menentukan sukses tidaknya suatu misi. Menurut Paul Diehl (2008) ada tiga perspektif utama dalam menentukan kesuksesan suatu misi. Tiga persepsi itu adalah berdasarkan siapa, berapa lama misi tersebut dilangsungkan, dan apakah misi itu sesuai dengan tujuan awal dan standart yang digunakan dalam proses operasi tersebut.
Dalam analisa tingkat kesuksesan sebuah misi perdamaian, penulis di sini akan menggunakan kasus operasi perdamaian di Haiti.

Thursday, August 30, 2012

Pengaruh Globalisasi terhadap Kebangkitan Kembali Identitas Berber di Maroko



Pendahuluan
Berber adalah etnis grup yang hidup tersebar di kawasan Afrika Utara, mulai dari oasis Siwa di Mesir, sepanjang garis pantai Mediterania, Gunung Atlas di Maroko, di sepanjang sungai Niger, hingga di Kepulauan Canary. Keberadaan mereka ditemukan sebelum kedatangan orang-orang Arab di wilayah tersebut. Pasca penaklukan oleh Arab yang membawa Islam, proses asimilasi dan akulturasi kebudayaan dimulai. Masyarakat Berber berduyun-duyun masuk Islam dan mulai mengadopsi Bahasa Arab menggantikan dialek lokal mereka. Orang Berber-Islam bahkan sempat mendirikan dinasti Islam Al-Moravid dan Al-Mohed yang memerintah dari daerah Maghrib (Maroko) hingga Semenanjung Iberia (Portugal) dan Andalusia (Spanyol).
Di era post-kolonial, pemimpin yang berkuasa di wilayah tersebut memproklamirkan negara mereka sebagai negara Arab dan hanya mengakui Bahasa Arab sebagai satu-satunya bahasa resmi negara. Identitas Berber semakin terpinggirkan. Di Libya, Pemerintahan Khadafi melarang menggunakan Bahasa Berber atau memberi nama anak dengan nama Berber. Di Maroko,  identitas Berber tidak pernah diakui oleh pemerintah, kendati mayoritas orang Maroko beretnis Berber. Sementara di Aljazair terjadi bentrokan hebat antara kalangan Islamis yang berasosiasi kepada Arab dan kelompok masyarakat yang menuntut pengakuan pemerintah atas warisan kebudayaan mereka.
Laju Globalisasi 2 dekade terakhir membawa angin segar bagi para aktivis Berber.  Perkembangan teknologi informasi, khususnya internet membuat mereka leluasa menyebarkan pesan-pesan mereka ke seluruh dunia. Para aktivis tersebut menyatakan bahwa identitas mereka bukanlah Arab seperti yang selama ini banyak disangka. Mereka juga mempromosikan budaya Berber dan memperjuangkan hak-hak mereka melalui situs-situs internet. Sebelum era teknologi global, identitas Berber masih menjadi urusan internal masing-masing negara, dalam artian komunitas Berber di Maroko tidak mengenal ‘saudara’ mereka di Aljazair, Libya, Tunisia, atau Mali. Mereka terkotak-kotakkan menjadi sub grup yang terpencar-pencar (seperti Riffians, Shluh, Tuareg, dan Kabyle) dan tidak memiliki signifikansi terhadap komunitas Berber lainnya.
Pandangan umum yang beredar adalah bahwa globalisasi membawa dampak negatif mengabaikan dan menekan budaya lokal hingga titik terendah.  Akan tetapi tulisan ini mencoba menampilkan efek positif dari booming-nya globalisasasi terhadap kemunculan kembali budaya lokal yang telah lama terpinggirkan. Apakah identitas lokal Berber dapat bangkit kembali di era globalisasi sekarang ini? Ataukah ia tetap pada posisinya semula, terpinggirkan oleh dominasi penguasa Arab?

Humanitarian Intervention in Libya and Syria; a Comparative-Analysis Study



Abstraks
Secara normatif intervensi kemanusiaan merupakan penggunaan kekuatan yang dilakukan untuk mencegah tragedi kemanusiaan yang terjadi di dalam teritori negara lain tanpa seizin pemerintah negara bersangkutan. Namun pada tataran aplikatif,  intervensi kemanusiaan tak luput dari berbagai motif yang mendasarinya, termasuk motif pragmatis seperti kepentingan ekonomi. Perbedaan proses intervensi yang terjadi di Libya dan di Suriah menunjukkan bahwa setiap negara yang akan melakukan intervensi memiliki pertimbangan-pertimbangan tertentu sebelum memutuskan untuk melakukan aksi tersebut. Banyaknya variabel yang berperan dalam suatu konflik di negara tertentu dijadikan pertimbangan dalam proses pelaksanaan intervensi. Karena itulah mengapa kebijakan intervensi yang diambil pada masing-masing negara berbeda satu sama lain. Semua itu tak lepas dari kritik. Dari semakin banyaknya pengalaman intervensi yang dilakukan, semakin banyak pula pelajaran yang bisa diambil guna merumuskan suatu rumusan baku intervensi kemanusiaan. Dengan demikian, kontroversi yang biasanya mengiringi intervensi kemanusiaan dapat diminimalisir.

Nasionalisme Burma vis a vis Narsisme Identitas Rohingya; Upaya Merumuskan Jalan Keluar


Abstrak
Nasionalisme muncul bagai pisau bermata dua. Satu sisi memang nasionalisme dapat menjadi instrumen bagi sekelompok komunitas yang memiliki persamaan nasib dan arah tujuan yang sama, untuk menentukan nasib mereka sendiri tanpa campur tangan unsur asing. Namun di balik itu, nasionalisme rentan disalahgunakan penguasa untuk memasang sekat-sekat identitas demi keuntungan sepihak. Orang Rohingya terjangkit syndrom narsisme minoritas yang merasa bukan bagian dari masayarakat Burma lainnya. Mereka menggunakan identitas “Rohingya” untuk meraih simpati dunia Internasional terkait penderitaan mereka. Sebaliknya Pemerintah Burma dengan dalih identitas yang tak sama melakukan tindakan anarkis-diskriminatif terhadap orang Rohingya. Tulisan ini mendiskusikan bahwa pendekatan yang berpijak pada identitas nasionalisme tidak membawa kepada cita-cita adiluhung peradaban umat manusia, yaitu keadilan dan kesejahteraan. Oleh karena itu perlu dirumuskan pendekatan baru yang memandang manusia tidak dari kacamata identitas primordial mereka, namun dari sudut pandang humanitarian.

Keywords : Nasionalisme, Identitas, Narsisme Minoritas, Burma, Rohingya, Humanitarian

Yamaha Motor Indonesia; dari Manajemen Strategis menuju Tata Kelola Strategis



Abstrak
Manajemen strategis dinilai lebih cenderung ke manajemen daripada strategi. Hal tersebut karena manajemen strategis menyediakan blue print perencanaan, proses implementasi, kontrol, dan evaluasi operasional perusahaan. Implikasinya, manajemen strategis terjebak pada proses perancangan strategi yang dikerjakan secara mendetail dan kaku karena kurang mempertimbangkan dinamika iklim ekstenal yang kerap berubah sewaktu-waktu. Dengan demikian karakter strategi yang merupakan respon unik terhadap satu fenomena tertentu menjadi hilang. Inilah inti yang membedakan manajemen strategis dengan strategi itu sendiri.
Tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan paper ini adalah memverifikasi bahwa manajemen strategis lebih cenderung ke arah manajemen daripada strategi. Untuk membuktikan tesis tersebut, diajukan studi kasus Yamaha Kencana Motor Indonesia. Selama kurang lebih 3 dekade, Yamaha Indonesia menggunakan manajemen strategis yang secara konsisten meluncurkan produk di kategori motor 2-tak yang mengutamakan kecepatan. Perubahan iklim eksternal membuat Yamaha merumuskan ulang strategi mereka untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis yang tak dapat diprediksi. Pada akhirnya, Yamaha memutuskan beralih ke segmen motor 4-tak dan matik, serta meninggalkan bidang garapan tradisional mereka. Strategi ini berhasil membawa Yamaha mencapai tingkat profitabilitas luar biasa dan menggoyang kemapanan Honda sebagai market leader perusahaan motor di Indonesia.
Keywords: manajemen strategis, tata kelola strategis, dinamika iklim eksternal, tingkat profitabilitas

Marshall Plan; Konsep, Klaim, dan Kontroversi



Abstraksi
Pasca Perang Dunia II ekonomi dunia ambruk. Negara-negara Eropa  tidak memiliki kapasitas untuk membangun kembali perekonomiannya. Di saat itulah Amerika Serikat menawarkan program bantuan untuk proses recovery ekonomi Eropa. Program yang terkenal dengan sebutan Marshall Plan tersebut diberikan kepada 16 negara Eropa Barat. Hasilnya, ekonomi Eropa mencetak pertumbuhan luar biasa. Sejumlah pihak menyebutnya keajaiban. Akan tetapi keberhasilan Marshall Plan tak luput dari kritik. Oleh kritikusnya, Marshall Plan tidak berpengaruh signifikan terhadap kebangkitan Eropa. Justru negara Eropa sendirilah yang sebenarnya mendorong kebangkitan mereka. Marshall Plan hanya kedok bagi Amerika untuk memasarkan produknya di Eropa. Tulisan ini ingin menunjukkan bahwa Marshall Plan, bersama sejumlah faktor pendukung lainnya  turut serta berkontribusi memicu pertumbuhan ekonomi Eropa, walaupun tidak seperti klaim pendukungnya yang percaya bahwa Marshall Plan adalah keajaiban.

Peranan INGO Dan PSCs Sebagai Agent Of Aid, Studi Kasus: The Asia Foundation Dan Chemonics



Pendahuluan
Secara konseptual, Brown dan Korten (1991) membedakan wilayah operasi tiga sektor yang ada dalam masyarakat; pemerintah, komersial, dan NGO. Sektor komersial memiliki ketergantungan pada transaksi modal di pasar. Modal yang dimiliki oleh seseorang ditukar dengan barang yang dibutuhkan melalui aktifitas perdagangan. Orientasi utama dari aktifitas pada sektor ini adalah profitabilitas, bagaimana mendapatkan keuntungan besar dari transaksi yang dilakukannya. Sedangkan sektor pemerintah bergerak dalam public services melalui pertimbangan-pertimbangan politik dan harus melalui prosedur biokrasi yang rumit.
Sementara sektor ketiga diperankan oleh NGO (non-government organization). NGO sendiri dicirikan sebagai organisasi independen yang bergerak di luar area pasar dan otoritas negara. Target operasional yang dituju oleh NGO adalah masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah. Dari segi motivasi, NGO merupakan organisasi nirlaba yang tidak menjadikan profitabilitas sebagai tujuan utama mereka. Sektor NGO bergerak berdasarkan nilai-nilai sosial yang menjadi pegangan dalam aktifitas operasi mereka. Singkatnya, NGO dapat dikenali sebagai organisasi yang bergerak di sektor public services yang tidak dilandasi oleh semangat profit oriented. Untuk mendukung operasional kegiatan, NGO bekerja sama dengan lembaga donor untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pada tahap operasional, NGO mengajukan rancangan program pelayanan masyarakat, untuk kemudian mencari donor yang bersedia mendukung program yang mereka canangkan.

Pengungsi Rohingya di Bangladesh: Problem dan Alternatif



Pendahuluan
Masalah pegungsi merupakan salah satu isu sentral dalam perkembangan hubungan internasional dewasa ini. Hingga tahun 2010, jumlah pengungsi dan orang-orang terusir dari negaranya mencapai 10,549,686 orang yang tersebar di berbagai wilayah di dunia. Perang sipil, gerilya, konflik etnik, terorisme, tekanan rejim penguasa merupakan beberapa sebab terusirnya orang-orang dari negara asalnya. Mayoritas dari mereka mencari perlindungan dan suaka ke negara-negara tetangga. Tidak semua negara tetangga yang menjadi destinasi tujuan para pengungsi adalah negara maju, yang memiliki kapasitas untuk menangani masalah pengungsi. Seringkali, negara-negara tersebut sama bermasalahnya dengan negara asal para pengungsi. Hal ini dapat kita lihat ke negara-negara seperti Bangladesh, Ethiopia, Pakistan yang menampung para pengungsi korban konflik dari Myanmar, Sudan, dan Afghanistan bukanlah negara yang bebas masalah internal. Perhatian mereka tersedot mengurusi masalah dalam negerinya masing-masing, sehingga perhatian terhadap nasib para pengungsi bisa dibilang sangat minim. Tak jarang kehadiran mereka menimbulkan masalah baru di negara tujuan.
Etnis Rohingya di Myanmar merupakan salah satu pengungsi yang terpaksa meninggalkan negaranya akibat tekanan junta militer. Salah satu negara tujuan yang menampung pengungsi Rohingya dalam jumlah cukup besar adalah Bangladesh. Namun kedatangan orang Rohingya tak lantas membuat permasalahan usai, karena ternyata banyak sekali permasalahan baru yang muncul. Lantas yang menjadi pertanyaan adalah; bagaimana aksi kemanusiaan dalam menangani masalah pengungsi Rohingya? Apa kesulitan terbesar dalam menangani masalah pengungsi Rohingya?